NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
41


__ADS_3

Anjani keluar hotel dengan tubuh sangat lemas, Ia merasa kecewa karena tubuhnya hanya dihargai 10 juta padahal Ia melayani 5 pria sekaligus dan semalaman.


Anjani tak terima dan mencoba menghubungi Frans namun pria tua itu tak menerima panggilannya.


"Benar benar sial!"


Sebelum pulang kerumah, Anjani menyempatkan pergi ke bank untuk mencairkan ceknya. Ia tidak terlalu senang melihat uang cash 10 juta itu karena yang Ia inginkan saat ini 100 juta.


Anjani keluar bank dan menunggu taksi lewat didepan bank, Ia dikejutkan oleh 2 pria pengendara motor yang tiba tiba berhenti didepannya lalu dengan cepat menarik tasnya.


Sedetik dua detik Anjani baru sadar jika Ia dijambret hingga akhirnya Ia berteriak meminta tolong.


Semua orang mendekat untuk menolong Anjani namun sayang, pria yang mengambil tas berisi uang 10 jutanya sudah tak terlihat lagi.


Tubuh Anjani pun lemas hingga Ia terjatuh. Uang hasil kerja kerasnya semalaman kini sudah lenyap. Ia merasa sia sia sudah mengotori tubuhnya dan sekarang uang itu lenyap.


Sementara itu Riki kekasih Anjani masih merasa patah hati karena melihat gadis yang Ia cintai tega menjual tubuh hanya demi uang, Anjani benar benar sudah mengkhianati cintanya.


Riki merasa tak bersemangat saat ini bahkan pekerjaannya pun berantakan karena pikirannya kacau.


"Kau ini kenapa? Hanya membuat data saja salah semua seperti ini!" omel bos Riki.


"Maaf pak, saya akan perbaiki."


"Seharian ini pekerjaanmu sangat buruk, sudah 3 kali salah dan ini yang terakhir, jika salah lagi sebaiknya kau pulang saja!"


Riki menundukan kepalanya, "Maafkan saya pak, jangan pecat saya."


"Aku tidak bisa janji jika kau terus seperti ini!"


"Baiklah pak."


Riki kembali ke mejanya, Ia mengulang data yang Ia buat dengan hati hati agar tidak salah lagi namun sayang, saat Ia kembali keruangan bosnya, lagi lagi data yang Ia buat salah.


"PULANG!"


"Tidak pak, maafkan saya. Jangan pecat saya." pinta Riki.


"Sudah pulang saja, mulai besok jangan kembali kesini. Aku akan mentransfer gaji terakhir dan pesangonmu."


Riki mengepalkan tangannya, Ia tidak memiliki pilihan lain selain pergi dari ruangan bosnya. Ia benar benar sudah dipecat sekarang.


Melihat Riki sudah pergi dari ruangannya, Bos Riki mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Sudah ku pecat, jangan lupa bawakan aku gadis cantik dari club malam mu jika kau kembali ke sini."

__ADS_1


Setelah mendapatkan jawaban, Bos Riki tersenyum lalu mengakhiri panggilan.


Sementara itu dikota,


Tidur siang Vandam terusik karena mendapatkan panggilan dari seseorang. Panggilan yang membuat Vandam tersenyum puas karena akhirnya Ia bisa membalaskan perbuatan jahat orang orang yang pernah menyiksa Nilam.


Vandam meletakan ponselnya, melihat Nilam tidak ada disampingnya. Sejak Ia pulang pagi tadi memang belum bertemu dengan Nilam karena gadis itu tadi sibukmemasak didapur dan Ia kelelahan jadi memilih tidur tanpa sarapan lebih dulu.


Vandam keluar dan melihat Nilam asyik bermain ponsel dibalkon apartemen.


"Kau sudah sarapan?" tanya Vandam duduk disamping Nilam.


Nilam mengangguk, "Sudah ku siapkan dimeja untukmu."


Vandam tersenyum, "Apa yang kau lihat? Resep masakan lagi?"


Nilam mengangguk, "Tuan sangat menyukai masakan ku, membuatku bersemangat untuk mencari resep masakan yang berganti setiap harinya." kata Nilam sambil tersenyum dan itu membuat Vandam kesal.


"Apa hanya Tuan saja yang kau pikirkan? Bagaimana dengan aku?" tanya Vandam.


Nilam diam, Ia menatap Vandam yang juga menatapnya.


Karena bingung harus menjawab apa, Nilam memilih masuk meninggalkan Vandam.


Ia pun berdiri dan menyusul Nilam ke kamar.


"Kenapa ikut kesini? Tidak sarapan?" tanya Nilam saat melihat Vandam masuk ke kamar.


"Bagaimana jika sarapan denganmu lebih dulu." ucap Vandam dengan senyuman nakal.


"Jangan gila, aku belum sembuh." sentak Nilam mulai ketakutan.


"Benarkah? Aku sudah menghubungi dokter dan dia mengatakan jika kau sudah sembuh dan kita bisa melakukannya lagi."


Nilam menggelengkan kepalanya, "Tidak, jangan lakukan itu lagi. Aku tidak mau hamil lagi." pinta Nilam dengan wajah pucat ketakutan.


Nilam mencoba keluar dari kamar namun Vandam menahan tangannya dan langsung mendorong tubuh Nilam di ranjang.


"Aku akan berteriak!" ancam Nilam.


Vandam tertawa, "Teriak saja, kamar ini kedap suara dan jika pun Tuan tahu, Ia tak akan peduli."


Vandam merangkak ke atas tubuh Nilam, memulai permainan yang sudah beberapa minggu ini Ia tahan dan sekarang Ia bisa melampiaskan pada Nilam meskipun dalam keadaan emosi.


Nilam hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan kasar Vandam hingga pria itu puas dan meninggalkannya.

__ADS_1


Vandam keluar dari kamar mandi, tubuhnya sudah terasa ringan dan segar sekarang. Ia melihat Nilam masih meringkuk dengan tubuh polos yang tertutup selimut.


"Kau mau jalan jalan keluar?" tawar Vandam.


Nilam hanya diam tak menjawab.


Vandam berdecak, Ia memilih keluar untuk menikmati sarapannya karena perutnya sudah mulai lapar.


"Masakannya memang enak, pantas Tuan suka." gumam Vandam menghabiskan sepiring sarapannya tanpa sisa.


Vandam duduk dibalkon sambil merokok, Ia memikirkan perasaannya akhir akhir ini yang sering merasa galau karena tahu Nilam menyukai Arga meskipun Ia sadar jika Arga tak mungkin membalas rasa suka Nilam namun tetap saja, Ia tak suka Nilam memberikan senyum manisnya untuk Arga.


Vandam mengerus rokoknya lalu kembali masuk ke kamar dimana Ia melihat Nilam sudah beranjak dari ranjang. Rambutnya basah menandakan jika Nilam baru saja mandi.


Vandam memeluk Nilam dari belakang. Bau harum khas gadis itu benar benar membuat Vandam tenang.


Tanpa berkata sepatah pun Nilam mencoba melepaskan tangan Vandam yang memeluknya.


"Biarkan seperti ini, hanya sebentar saja." bisik Vandam namun Nilam tak peduli, Ia terus melepaskan tangan Vandam hingga akhirnya Vandam mengalah dan membiarkan gadis itu keluar dari kamar.


"Masakan mu benar benar sangat enak Nila." puji Arga saat makan siang bersama.


Nilam tidak menjawab hanya tersenyum manis dengan kedua pipi yang merona, benar benar membuat Vandam kesal saat melihatnya.


"Tapi nanti malam jangan masak lagi." pinta Arga membuat Nilam menatap Arga khawatir.


"Kenapa Tuan?"


"Aku dan Vandam berangkat sore jadi mungkin akan makan malam diluar."


"Jika begitu saya akan membuatkan bekal untuk makan malam Tuan." kata Nilam dan lagi lagi tersenyum manis.


"Jangan memaksa jika Tuan sudah mengambil keputusan!" kata Vandam dengan nada kesal.


"Sudah biarkan saja Vandam, lagipula tidak masalah jika kita membawa bekal." kata Arga memperingatkan.


Vandam mengepalkan tangannya, selesai makan, Ia menyeret Nilam untuk masuk ke kamar.


"Aku harus membereskan meja makan." protes Nilam.


Vandam mendorong Nilam ke dinding lalu mengukungnya disana, "Jangan mencoba merayu Tuan, kau pikir Tuan mau denganmu?"


Nada ucapan Vandam terdengar sinis dan mengejek membuat Nilam kembali membenci Vandam.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2