
Vandam keluar dengan keadaan marah. apa yang Ia takutkan terjadi, Nilam kembali marah dan membencinya.
Vandam mencari keberadaan Riki dan Ia menemukan Riko sedang makan dikantin klinik.
"Nilam udah sadar?" tanya Riki saat Vandam sudah duduk didepannya.
"Udah, lagi di cek sama suster."
Riki meletakan sendoknya, menghentikan makan dan segera minum. Riki berdiri hendak meninggalkan Vandam namun tangannya ditahan oleh Vandam.
"Mau kemana?"
"Ketemu Nilam, gue mau tanya siapa yang udah ngehamilin dia, dasar gadis nakal, bisa bisanya dia hamil padahal masih sekolah!" umpat Riki.
"Duduk lagi, sekarang bukan waktunya." pinta Vandam membuat Riki menurut dan langsung duduk.
"Maksud Lo?"
"Tadi pas Nilam sadar, dia juga shock tahu hamil, jangan bikin adik Lo tambah shock, Lo harus semangatin dia bukan malah bikin dia down apalagi sampai ketakutan." nesehat Vandam.
"Ck, gue udah nggak peduli lagi sama tuh bocah. Dia udah fitnah Anjani juga."
Vandam mengerutkan keningnya tak mengerti, "Fitnah gimana?"
"Masa Nilam bilang kalau dia lihat Lo lagi sama Anjani dikamar, gila banget kan dia? Mana tahu juga dia rumah Lo." ungkap Riki dengan nada kesal.
Vandam menelan ludahnya, Ia tak menyangka jika Nilam berani mengadukan hal itu pada Riki, beruntung Riki tidak mempercayai aduan Nilam itu.
"Nilam bilang gitu sama Lo? Kok bisa?" Vandam pura pura bodoh.
"Makanya itu gue heran, mungkin karena Nilam nggak suka sama Anjani makanya dia fitnah Anjani seperti itu."
Vandam menepuk bahu Vandam, "Dah bro nggak usah di pikirin lagi yang penting sekarang Lo mikir gimana caranya biar nyokap Lo nggak tahu Nilam hamil, tahu sendiri kan Nyokap Lo kalau sampai tahu bakal gimana." kata Vandam.
Riki mengangguk setuju, "Kalau gitu gue balik dulu aja. Biarin dah si Nilam itu disini sendiri." kata Riki dengan nada kesal.
"Ya udah, gue juga mau balik." kata Vandam.
"Eh anterin gue dulu!" pinta Riki.
Vandam mengangguk, menuruti Riki berjalan keluar klinik.
Sebelum melajukan mobilnya, Vandam sempat mengirimkan pesan pada anak buahnya agar menjaga Nilam dari luar ruangan serta meminta suster untuk menjaga didalam.
"Lo kok sekarang sering libur?" tanya Riki saat Vandam sudah melajukan mobilnya.
"Iya, ada urusan disini."
"Gue penasaran, Lo punya cewek?"
Vandam tersenyum dan mengangguk,
__ADS_1
"Gila, kenalin ke gue lah."
Lagi lagi Vandam tersenyum, "Nantilah."
Keduanya sampai dirumah bersamaan dengan Marni dan Anjani yang juga baru kembali jajan diluar.
Vandam terkejut saat melihat dress yang dipakai Anjani. Itu dress yang Ia belikan untuk Nilam, kenapa bisa dipakai Anjani pikir Vandam.
"Eh ada Vandam." sapa Marni ramah.
Seperti biasa Vandam mencium punggung tangan Marni, meskipun rasanya Ia kesal dan marah namun Vandam tidak ingin memperlihatkan perasaannya itu saat ini.
"Nilam mana?" tanya Anjani celinggukan didalam mobil namun kosong tidak ada Nilam disana.
"Masih di klinik, harus dirawat dulu."
Tidak ada rasa kekhawatiran Marni, wanita tua itu malah berdecak kesal, "Cari uang dimana buat bayar biaya klinik? kan Ibu tadi bilang biarin aja!"
Riki menghela nafas panjang, "Kalau dibiarin aja bisa bisa Nilam mati, soalnya dia..." hampir saja Riki kelepasan, beruntung Ia ingat dan tidak melanjutkan ucapannya.
"Dia kenapa? Parah banget emang?" tanya Anjani dengan suara meremehkan membuat Vandam bertambah emosi hingga mengepalkan tangannya.
"Udahlah nggak usah bahas lagi, aku capek mau istirahat!" kata Riki langsung memasuki rumah tanpa memperdulikan Marni yang masih penasaran.
"Ck, aneh banget. Emang dibawa ke klinik mana?" tanya Marni pada Vandam.
Vandam hanya menggelengkan kepalanya,
"Tanya aja sama Riki Bu, kalau perlu kita kesana trus seret dia pulang kerumah. Bisa bisa habis uang Riki buat bayar biaya perawatan Nilam." adu Anjani.
Kini tinggalah Anjani dan Vandam diluar,
"Nggak masuk?" tawar Anjani.
Bukannya menjawab, Vandam malah bertanya hal lain, "Lo yang udah nyiksa Nilam?"
Anjani tertawa, "Gue cuma ikut ikutan aja, lagian itu anak bandel banget. Bisa bisanya dia jajan soto sementara dirumah nggak ada makanan buat aku sama Ibu."
Vandam menatap Anjani tak percaya, "Cuma masalah sepele kayak gitu kalian siksa Nilam?"
Anjani berdecak, "Kayak gitu nggak bisa dibilang sepele, anak itu emang harus dikasih pelajaran!"
Vandam kembali mengepalkan tangannya tanpa sepengetahuan Anjani, "Ngomong ngomong baju Lo bagus."
Anjani tersenyum girang, "Ya dong, baju ini lebih cocok dipakai gue dari pada Nilam."
Anjani menatap Vandam dengan genit lalu masuk kerumah.
Sementara Vandam memilih kembali ke klinik. Ia harus menyelamatkan Nilam lebih dulu sebelum membalas perbuatan Anjani dan Marni.
Didalam rumah, terlihat Marni sedang mengintrogasi Riki dengan banyak pertanyaan namun Riki hanya diam dan pura pura tidur.
__ADS_1
"Kamu bawa Nilam kemana?"
Riki masih pura pura tidur membuat Anjani jengah dan duduk disamping Marni.
"Biar aku aja Bu, aku tahu caranya supaya Riki mau bilang." kata Anjani yang langsung diangguki oleh Marni.
Marni keluar dari kamar Riki, kini tinggalah Anjani dan Riki yang berada dikamar berdua.
"Baby, aku tahu kamu pura pura tidur." kata Anjani dengan suara lembut penuh rayuan.
Riki masih pura pura tidur membuat Anjani tak punya pilihan lain selain menggoda Riki dengan cara lain.
"Duh gerah banget nih, lepas baju lah." celetuk Anjani dan berhasil, Riki membuka matanya untuk melihat ke arah Anjani yang ternyata hanya menipu dirinya.
"Dasar cowok, giliran lepas baju aja bangun!"
Riki tersenyum memperlihatkan giginya, karena tidak ada Ibunya, Riki menarik tangan Anjani membawanya ke pelukan.
"Lepas, sekarang aku mau tanya serius sama kamu!" Anjani meronta, mencoba melepaskan diri dari Riki.
"Kalau tanya masalah Nilam, aku nggak bakal jawab."
Anjani mengerutkan keningnya penasaran, "Kok aneh? Pasti ada sesuatu."
Riki hanya diam, Ia sebenarnya ingin menceritakan pada Anjani namun mengingat Anjani sering membela Ibunya membuat Riki mengurungkan niatnya untuk bercerita.
"Sebenarnya si Nilam kenapa? Mati?"
Riki berdecak, "Jangan bilang gitu Beb!"
"Salah sendiri kamu nggak jawab, sekarang dia lagi di klinik mana?"
Lagi lagi Riki hanya diam.
"Kalau nggak jawab, kita putus aja!"
Seketika Riki panik dengan ancaman Anjani hingga akhirnya Riki memberitahu klinik tempat Nilam dirawat.
Setelah memberi jatah untuk Riki hingga pria itu terlelap, Anjani keluar untuk mencari Marni.
"Aku udah tahu kliniknya Bu." kata Anjani.
Marni tersenyum mengembang, keduanya akhirnya memesan ojek online untuk pergi ke klinik tempat Nilam dirawat.
Marni ingin membawa Nilam pulang agar tidak menghabiskan uang Riki.
Namun sampai disana Marni dan Anjani dibuat kecewa karena ternyata Nilam sudah dipindahkan kerumah sakit.
"Bagaimana bisa dipindahkan tanpa persetujuan keluarganya?" protes Anjani pada suster yang berjaga.
Suster itu terlihat kebingungan, "Yang memindahkan pasien bukan kami tapi suaminya."
__ADS_1
"Haaaa suaminya?" Anjani dan Marni terkejut bersamaan.
Bersambung