NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
48


__ADS_3

Nilam baru saja keluar dari kelasnya, Ia sudah menyelesaikan semua kelasnya untuk hari ini.


Kini Nilam tengah berdiri dihalte, menunggu bus yang akan mengantarnya sampai toko kuenya.


Nilam menunggu sambil membaca buku, hingga tak sadar jika ada yang berdiri didepannya.


"Fandi... Ngapain?" Heran Nilam melihat Fandi berdiri didepannya.


"Aku anter mau?" tawar Fandi.


Seperti biasa, Nilam menggelengkan kepalanya, "Nggak usah, aku naik bus aja."


Jika biasanya Fandi akan pergi setelah ditolak oleh Nilam tapi kali ini tidak, Fandi justru mengenggam tangan Nilam dan mengajak gadis itu masuk ke mobilnya.


"Aku nggak mau Fan, jangan gila!" omel Nilam dengan wajah marah.


Fandi tidak memperdulikan amarah Nilam, Ia memaksa Nilam untuk memasuki mobilnya, melihat halte sepi menjadi kesempatan Fandi untuk menculik Nilam.


Sedikit lagi berhasil membuat Nilam masuk ke mobilnya, usaha Fandi gagal setelah ada yang menepuk bahunya.


"Siapa Lo!" teriak Fandi dengan suara lantang melihat pria berbadan kekar yang berdiri dibelakangnya.


Melihat Fandi lengah, kesempatan Nilam untuk melepaskan genggaman tangan Fandi.


Nilam berlari, menjauhi Fandi dan seorang pria yang menyelamatkannya.


"Kalau cewek udah bilang nggak mau jangan dipaksa." kata pria itu santai.


"Lo nggak usah ikut campur!"


Pria itu tersenyum, "Sayangnya gue harus ikut campur."


Fandi tak terima ingin memberikan bogeman pada pria itu namun dengan cepat, pria itu menghindar.


Pria itu menarik tangan Fandi lalu mendorongnya hingga Fandi jatuh tersungkur.


"Sekali lagi Gue lihat Lo deketin cewek itu, habis Lo!" ancam Pria itu membuat Fandi bergindik dan akhirnya pergi dari sana.


Setelah Fandi pergi, Nilam menghampiri pria yang sudah menolongnya, "Terimakasih banyak sudah menolong saya."


Pria itu tersenyum, "Tidak masalah, sudah tugas saya menjaga No-" pria itu menghentikan ucapannya karena hampir saja Ia keceplosan.


Nilam mengerutkan keningnya, "Apa maksudnya?"


Pria itu menggelengkan kepalanya, "Tidak ada."


Pria itu segera pergi meninggalkan Nilam yang masih kebingungan.


"Aneh, kenapa dia bilang seperti itu. Apa mungkin dia polisi?" gumam Nilam lalu menggelengkan kepalanya.


Nilam kembali menunggu bus, Ia akhirnya memesan taksi karena takut Fandi mendatanginya lagi.

__ADS_1


"Aduh jalannya macet kalau lewat sini, saya lewat jalan merak nggak apa apa ya non?" tanya Sopir taksi pada Nilam.


"Nggak apa apa pak, lewat mana saja yang penting sampai tujuan." balas Nilam.


Taksi akhirnya melaju, melewati jalan kota yang jarang dilewati oleh Nilam.


Mata Nilam tertuju melihat ke gedung apartemen terbesar dikota ini dimana Ia pernah tinggal disana sebelumnya.


Ya apartemen milik Arga.


Setelah melewati gedung apartemen, kini taksi itu melaju melewati club malam milik Arga yang masih tutup.


"Apa dia masih disana?" gumam Nilam hingga matanya tak sengaja melihat Vandam keluar dari club dan akan memasuki mobil.


"Pak berhenti sebentar!" teriak Nilam dengan tiba tiba.


Sopir taksi yang terkejut itupun menghentikan laju mobilnya, "Ada apa Non? Mau beli sesuatu?"


Nilam menggelengkan kepalanya, matanya masih menatap ke arah Vandam terutama ditangan Vandam yang tidak ada perban sama sekali padahal tangan Vandam tengah terluka.


"Dia benar benar!" omel Nilam mengeluarkan uangnya lalu Ia berikan pada sopir taksinya, "Saya turun sini saja pak." kata Nilam segera keluar dari taksi.


Nilam berlari ke arah Vandam yang hampir saja memasuki mobil.


Vandam tentu saja terkejut melihat Nilam berdiri didepannya.


"A apa yang kau lakukan disini?" tanya Vandam gugup sekaligus terkejut.


Nilam tak menjawab, Ia malah melihat pergelangan tangan Vandam yang terluka.


Vandam tak menjawab, hanya diam dan tersenyum melihat Nilam yang tampak mengkhawatirkan dirinya.


Nilam melepaskan tangan Vandam, menatap ke arah Vandam yang juga menatapnya, "Jika kau khawatir, kenapa tidak memberikan perban pada luka ku ini?"


Nilam berbalik memunggungi Vandam, "Tidak, aku sama sekali tidak khawatir."


"Baiklah jika begitu, biarkan saja lukanya seperti ini." kata Vandam lalu membuka pintu mobilnya.


"Tunggu!" teriak Nilam, "Apa didalam ada perban?"


Vandam tersenyum penuh kemenangan. Entah mimpi apa Ia semalam hingga membuatnya bisa bertemu dengan Nilam seperti ini.


"Ayo ke ruanganku." ajak Vandam namun Nilam terlihat ragu.


Vandam tersenyum tahu apa yang Nilam pikirkan, "Aku tidak akan melakukan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman."


Nilam masih menatap Vandam, terlihat ragu membuat Vandam tertawa, "Baiklah jika kau tidak mau, tidak masalah. Aku akan pergi sekarang. Tidak perlu khawatir dengan luka ini pasti akan mengering dengan sendirinya." kata Vandam santai.


"Baiklah, baiklah. Ayo kita masuk sekarang." kata Nilam akhirnya menyerah.


Dan lagi lagi Vandam tersenyum penuh kemenangan.

__ADS_1


Keduanya memasuki club yang masih sepi, Vandam langsung mengajak Nilam masuk ke ruangannya.


Vandam mengambil kotak p3k lalu membiarkan Nilam mulai merawat lukanya yang sama sekali tak Ia pedulikan.


"Semalam aku-"


"Aku sudah tahu." potong Nilam.


Vandam mengerutkan keningnya, "Kau tahu jika semalam aku datang lagi?"


Nilam mengangguk, "Bahkan sebelumnya aku juga tahu karena aku sudah memasang cctv."


Seketika tawa Vandam membuncah, "Kau lebih pintar dari yang ku duga." kata Vandam lalu mengelus kepala Nilam.


Vandam menarik kembali tangannya setelah Nilam menatap ke arahnya, "Maaf, aku tak sadar."


Nilam mengangguk kembali membersihkan luka lalu memberi obat dan terakhir Nilam memberikan perban agar luka tidak infeksi.


"Sudah selesai."


Vandam mengangguk, "Terima kasih."


Nilam kembali memasang tas punggungnya, bersiap untuk pergi, "Jika ingin bertemu, kenapa harus diam diam? Kenapa tidak datang saat siang?" tanya Nilam.


"Aku tidak yakin kau mau bertemu denganku. kau membenciku, aku takut jika-"


"Terima kasih..." potong Nilam membuat Vandam keheranan.


"Jika bukan karena Kak Vandam, mungkin hidupku tidak akan seperti ini."


Vandam menatap Nilam tak percaya. Nilam berterimakasih padanya bahkan Nilam memanggilnya Kak.


"Aku tidak mengerti kenapa kau berterima kasih seperti ini. Bukankah aku menyakitimu?"


Nilam tersenyum, "Karena Kak Vandam, aku memiliki toko kue yang selama ini ku impikan, aku juga tahu jika Kak Vandam yang menjaga toko kue ku, mengusir para preman yang dulu sering datang dan meminta uang. terima kasih kak." ucap Nilam.


Vandam tersenyum, Ia tak menyangka jika Nilam mengetahui usahanya selama ini. Ya usaha untuk membuat hidup Nilam lebih baik.


Apapun yang Vandam lakukan selama 2 tahun terakhir ini hanya untuk membuat Nilam bahagia dan memiliki kehidupan yang layak.


Vandam baru ingin memeluk namun Nilam berjalan mundur membuat Vandam paham jika Nilam masih belum menginginkan hal lain.


Vandam mencoba mengerti dan bersabar sebentar lagi.


"Aku akan mengantarmu pulang."


Nilam mengangguk setuju.


Keduanya keluar dari ruangan Vandam dan terkejut saat ada pria berdiri didepan ruangan Vandam.


Pria yang Nilam kenali dan sama terkejutnya melihat Nilam baru saja diruangan Vandam.

__ADS_1


"Bukankah kau yang menolongku tadi?"


Bersambung....


__ADS_2