NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
06


__ADS_3

Marni baru saja pulang dari arisan, Ia memasuki rumahnya yang terlihat sepi, tidak ada satu orangpun dirumah mengingat Nilam tengah berkemah dan Riki masih bekerja.


Perut Marni keroncongan, Ia merasa lapar. Marni meletakan tasnya disofa lalu berjalan ke dapur, membuka tudung saji dan tidak ada apapun disana.


"Aku lupa jika Nilam tidak dirumah," gumam Marni sedikit kesal karena Ia sudah sangat kelaparan.


Marni menutup kembali tudung sajinya lalu pergi keluar untuk membeli lauk yang sudah matang agar Ia bisa segera makan.


Ditengah perjalanan, Marni berpapasan dengan Tika, salah satu teman sekolah Nilam.


Marni mengerutkan keningnya heran melihat Tika disini.


"Eh Tika..." panggil Marni membuat Gadis seumuran Nilam itu berjalan mendekati Marni.


"Ada apa Budhe?"


"Kamu kok disini, nggak ikut kemah?" tanya Marni.


Tika terlihat kebingungan, "Kemah? Kemah kemana Budhe?"


"Lho, kemaren si Nilam dapet surat dari sekolahan diminta ikut kemah." jelas Marni yang membuat Tika semakin kebingungan.


"Enggak tahu aku Budhe, tapi kayaknya nggak ada acara kemah disekolahan."


Marni langsung mengepalkan tangannya, Ia kini sadar jika Nilam sudah membohonginya, lalu kemana perginya gadis itu?


"Kamu yakin nggak ada acara kemah?" tanya Marni sekali lagi.


"Yakin Budhe, kalaupun ada pasti aku juga ikut."


Marni semakin dibuat yakin dengan ucapan Tika.


"Ya sudah mungkin kemarin Budhe salah baca." kata Marni berjalan meninggalkan Tika yang masih terlihat kebingungan.


Marni pulang kerumah setelah mendapatkan lauk matang yang baru Ia beli. Ia menutup pintu dengan kasar hingga menimbulkan suara.


"Ibu dari mana? Kok pulang malah marah gitu?" tanya Riki yang ternyata sudah pulang.


"Ibu kesel banget, kamu tahu nggak Riki, si Nilam sekarang udah berani bohong sama kita."


Riki terlihat bingung, "Bohong gimana?"


"Nggak ada acara kemah di sekolahannya."


Riki terkejut dan terlihat tak percaya, "Nggak mungkin Bu."


Mata Marni langsung melotot menatap Riki, "Kamu nggak percaya sama Ibu? Kalau gitu kita kerumah Bu Gladis saja, kita tanya sama Bu Gladis." ajak Marni yang langsung diangguki oleh Riki.

__ADS_1


Riki khawatir terjadi sesuatu pada adik tirinya dan Riki tidak mau adik tirinya itu jatuh dalam pergaulam bebas para remaja.


Meskipun hanya adik tiri namun Riki sangat menyayanggi Nilam.


Riki segera menyalakan motornya, setelah ibunya naik, Ia melajukan motornya kerumah Bu Gladis, guru Nilam yang masih satu kampung dengannya.


"Kemah? Nggak ada acara kemah Bu." kata Bu Gladis saat Marni sudah sampai disana dan bertanya.


"Oh begitu Bu, soalnya Nilam itu kemarin-"


"Kemarin pengen pergi kemah tapi disekolahan nggak ada acara kemah." potong Riki tak ingin ibunya menceritakan pada Bu Gladis jika Nilam sudah berbohong.


Bu Gladis tersenyum, "Sekarang sedang musim hujan jadi mungkin nggak ada acara kemah." jelasnya.


"Ya sudah Bu kalau begitu, terima kasih atas infonya, kami pamit dulu." kata Riki lalu mengajak Ibunya keluar dari rumah Bu Gladis.


"Kamu kenapa masih belain Nilam!" omel Marni saat sudah berada dimotor perjalanan pulang.


"Nggak belain Bu, Cuma kasihan Nilam kalau sampai semua orang tahu kalau dia bohong, bisa bisa dibully sama temennya."


"Biarin aja, siapa suruh dia bandel!" omel Marni lagi.


Riki hanya bisa menghela nafas panjang mendengar omelan ibunya sepanjang perjalanan, Ia kini khawatir dengan keberadaan Nilam dan berharap adiknya itu baik baik saja.


...****************...


Tiga hari tiga malam berada di Villa bersama Nilam bukan satu hal yang buruk untuk Vandam. Bisa dikatakan sangat menyenangkan.


Vandam ingin terus melakukan bersama Nilam tidak peduli dengan Nilam yang masih saja menangis tidak merasakan nikmat sama sepertinya.


Vandam sudah seperti psyco yang sudah melecehkan anak gadis dibawah umur.


Vandam menarik selimut agar menutupi tubuh Nilam yang polos dan kini sudah terlelap karena ulahnya membuat gadis itu kelelahan.


Vandam hendak masuk ke kamar mandi untuk mandi namun langkahnya terhenti kala mendengar suara ponselnya yang berbunyi.


"Riki..." Vandam mengerutkan keningnya heran saat melihat Riki yang menghubunginya.


Tak menunggu lama, Vandam segera menerima panggilan dari Riki.


"Bisa bantuin gue nggak bro." ucap Riki dari dalam telepon.


"Bantuin apaan?"


"Cariin detektif handal buat nyariin Nilam adik gue!"


Vandam tersenyum lebar mendengar Riki sudah tahu tentang kebohongan Nilam.

__ADS_1


"Nilam? Emang pergi kemana si Nilam?" tanya Vandam pura pura tidak tahu.


"Masalahnya itu Bro, kemarin bilangnya ada acara camping disekolahnya dan tadi nyokap gue lihat temennya dijalan, langsung ketahuan kan nggak ada acara camping disekolahan.


Gue khawatir terjadi sesuatu sama adik gue bro." jelas Riki dan dari nada bicara Riki terdengar jelas jika pria itu sangat mengkhawatirkan Nilam.


"Tungguin aja sampai seminggu, kalau dia belum pulang, gue bantuin nyari."


"Oke deh bro, thanks buat bantuan Lo." ucap Riki lalu mengakhiri panggilan.


Vandam tersenyum puas sambil memandangi ke arah Nilam yang masih terlelap.


"Adek Lo baru gue pinjem bro, tapi gue nggak yakin bakal balikin utuh." kata Vandam lalu berbalik meninggalkan Nilam memasuki kamar mandi.


Paginya...


Tidur nyenyak Nilam terusik kala ada yang menciumi pipinya.


Nilam membuka matanya, Ia melihat pria yang menciuminya tersenyum ke arahnya.


Tanpa membalas senyumannya, Nilam berbalik memunggungi pria brengsek yang tak lain adalah Vandam.


"Bangunlah Baby, segera mandi dan kita akan keluar untuk berjalan jalan." ajak Vandam.


Nilam hanya diam tak bergeming,


"Ayolah baby, hari ini terakhir kita berada disini. Aku ingin mengajakmu keluar." ajak Vandam masih belum menyerah.


Nilam masih diam, tidak bergeming dan tak menjawab membuat Vandam gemas dan mengendong gadis itu ke kamar mandi.


"Aku bisa mandi sendiri!" sentak Nilam saat Vandam ingin memandikan Nilam.


"Baiklah Baby, aku akan menunggumu diluar." kata Vandam tersenyum tengil tak lupa mencium bibir Nilam juga sempat meremas gundukan gunung kembar Nilam.


Saat ini Nilam benar benar sudah mati rasa dengan segala perlakuan Vandam padanya.


Pria itu benar benar tak punya hati karena memperlakukan dirinya seperti sampah.


Nilam keluar dari kamar mandi hanya berbalut handuk, Vandam melihat ke arahnya dan tersenyum nakal. Nilam sudah menduga apa yang akan dilakukan Vandam padanya, pria itu pasti akan melecehkannya lagi namun dugaan Nilam salah karena Vandam hanya memberikan baju ganti untuk Nilam.


"Aku akan menunggumu diluar baby." ucap Vandam lalu pergi keluar lebih dulu.


Nilam mengenakan dress floral pemberian Vandam, Ia segera keluar setelah selesai bersiap.


Keduanya sarapan bersama sebelum pergi jalan jalan.


Setelah empat hari Nilam dikurung dikamar, hanya melayani nafsu bejat Vandam kini akhirnya Ia bisa berjalan jalan dipantai menikmati deburan ombak dan angin pantai yang sedikit membuatnya tenang.

__ADS_1


"Ayo kita naik itu." ajak Vandam sambil menunjuk sesuatu yang membuat bibir Nilam melengkungkan senyuman untuk pertama kalinya.


Bersambung...


__ADS_2