
Vandam meminta Nilam membawa keluar donatnya lalu Vandam membagikan pada anak anak yang ada disana.
Beruntung donatnya cukup, tidak kurang jadi semua anak mendapatkan donatnya.
"Mas Vandam..." Sapa seorang wanita yang Nilam yakini jika itu Ibu panti.
"Selamat siang Bu, maaf jika kedatangan saya membuat anak anak tidak tidur siang." kata Vandam dengan suara lembut dan sopan.
Nilam benar benar dibuat terkejut dengan apa yang dilakukan Vandam kali ini.
Rasanya Ia masih tak menyangka, pria yang Ia sebut kejam nyatanya memiliki hati malaikat seperti ini.
"Tidak masalah, anak anak terlihat senang dan bahagia." kata Ibu panti itu dan menatap ke arah Nilam, "Lalu ini... Apakah ini..."
Vandam merangkul Nilam, "Kekasih saya Bu, doakan kami berjodoh." ungkap Vandam membuat Nilam menunduk malu sementara Ibu panti itu malah tertawa.
"Apa dia tidak malu memperkenalkan aku?" batin Nilam melihat Ia kini masih mengenakan seragam sekolah.
"Pertama kalinya mas Vandam bawa pacar kesini, siapa namanya?"
"Saya Nilam Bu." balas Nilam sopan.
"Saya Rini, pemilik panti asuhan disini, jangan sungkan saat berada disini, anggap seperti rumah sendiri." kata Rini yang langsung diangguki oleh Nilam.
"Eh si boss kesini bawa cewek cantik." sapa seorang pria muda yang baru keluar dari rumah panti.
"Biasa ya gus..." kata Vandam memberikan kode pada pria muda itu.
"Wah siap boss!"
Nilam memperhatikan pria muda itu yang kini membuka bagasi mobil Vandam, dan Nilam kembali dibuat terkejut karena bagasi mobil Vandam penuh dengan bahan makanan.
Ada beras 3 karung, mie 4 kardus dan masih banyak lagi.
"Paling seneng kalau angkat ginian." celetuk pria itu membawa satu persatu sembako yang ada di mobil Vandam.
Anak anak juga terlihat senang dan ikut membantu membawa masuk makanan mereka.
"Terimakasih banyak mas Vandam, sudah sering membantu kami." ucap Bu Rini.
"Tidak masalah Bu, selama saya bisa saya akan melakukan apapun untuk membuat anak anak senang."
Bu Rini mengangguk, lalu mempersilahkan Nilam dan Vandam memasuki rumah panti.
Vandam mengajak Nilam berkeliling panti setelah itu keduanya bermain dengan anak anak panti.
__ADS_1
Pukul 3 sore, Vandam dan Nilam pamit untuk pulang.
"Kapan kapan kesini lagi ya kak." teriak anak anak pada Nilam.
Nilam mengangguk, Ia tersenyum dan melambaikan tangan pada anak anak panti.
Vandam melajukan mobilnya meninggalkan panti, sepanjang perjalanan diam diam Nilam memperhatikan Vandam.
"Jika ingin melihat, lihat saja jangan pura pura tidak melihat seperti itu." cibir Vandam membuat Nilam malu karena ketahuan.
"Kak Vandam sudah lama melakukan ini?" tanya Nilam akhirnya.
"Melakukan apa?"
"Menjadi donatur panti asuhan."
"Dulu sewaktu masih kecil, ayahku yang menjadi donatur tetap dan aku selalu diajak kesana tapi setelah Ayah meninggal, aku tidak pernah kesana. Setelah aku mendapatkan pekerjaan tetap, barulah aku kesana lagi untuk melajutkan menjadi donatur seperti Ayah."
Nilam tersenyum, semakin mengenal Vandam Ia semakin dibuat jatuh cinta oleh Vandam.
Mobil Vandam memasuki kawasan sebuah apartemen dan Ia memarkirkan mobilnya dibasement apartemen.
"Ini salah satu ide yang ku maksud, setiap hari kau masih membuat donat hanya saja kau tidak perlu menjual donatmu tapi bawa saja ke panti itu dan untuk uang setorannya..." Vandam mengeluarkan sebuah kartu di dalam dompetnya.
"Ambil disini untuk diberikan pada Ibumu." kata Vandam mengulurkan kartu atm untuk Nilam.
"Anggap saja aku memborong donatmu untuk anak anak panti." kata Vandam lagi yang akhirnya diangguki setuju oleh Nilam.
Nilam menerima kartu atm milik Vandam.
"Good girl, sekarang ikutlah denganku." ajak Vandam keluar dari mobil dan diikuti oleh Nilam.
Keduanya menaiki lift hingga sampai di apartemen nomor 203.
"Kau harus ingat nomor apartemen ini." kata Vandam yang kembali diangguki oleh Nilam.
Vandam terlihat menyetel ulang sandi pintu apartemen, "Berikan salah satu jarimu." pinta Vandam.
Nilam mengulurkan jarinya dan menempelkan 2 kali hingga pintu berhasil dibuka.
"Hebat sekali." puji Nilam belum pernah melihat hal seperti ini sebelumnya.
Vandam tersenyum, merangkul Nilam dan membawa gadis itu masuk ke apartemen, "Ini adalah apartemenku, kau sudah mendapatkan akses masuk jadi setiap hari kau bisa datang kesini untuk belajar."
Nilam menatap Vandam tak percaya, rasanya semua ini seperti mimpi saja. Apapun yang Ia inginkan, dengan mudahnya Vandam mengabulkan untuknya.
__ADS_1
"Aku tidak tahu lagi kak harus mengatakan apa, kenapa Kak Vandam bisa sebaik ini padaku?"
Vandam tersenyum, Ia duduk disofa lalu menarik tangan Nilam hingga gadis itu jatuh ke pangkuannya.
"Karena aku mencintaimu, aku akan melakukan apapun untuk membuatmu bahagia." ucap Vandam yang meluluh lantahkan hati Nilam seketika.
Vandam mengelus pipi Nilam, mendekatkan bibirnya lalu menyatukan bibir mereka.
Nilam yang sudah terbuai oleh rayuan maut Vandam pun terlihat pasrah dan menikmati permainan bibir Vandam.
Tak hanya sampai disitu, tangan Vandam mulai nakal masuk ke dalam baju Nilam, menyentuh area sensitif Nilam, memberikan sensasi yang membuat Nilam menginginkan lebih.
"Aku belum mandi kak." ucap Nilam saat Vandam ingin membuka kancing baju Nilam.
"Persetan dengan mandi, ada yang lebih penting dari ini." ucap Vandam melanjutkan permainannya dan Nilam terlihat pasrah.
Tak cukup hanya sekali, setelah bermain disofa, Keduanya kembali bermain dikamar mandi dan terakhir mereka mengakhiri permainan diranjang.
Vandam mengecup kening Nilam yang terlihat lemas dan kelelahan.
Vandam melihat ke arah jam dinding dan sudah pukul 5 sore.
"Rasanya aku tidak ingin mengantarmu pulang." ucap Vandam.
"Tapi aku harus pulang kak." balas Nilam dengan suara lemas.
"Ya kau harus pulang karena aku tidak mau kau di pukuli oleh ibumu lagi."
Nilam hanya tersenyum masam,
Setelah istirahat sebentar, Nilam bergegas bangun untuk mandi karena Ia harus pulang sebelum pukul 7 malam.
Vandam mengantar Nilam, sebelum itu Vandam membawa Nilam ke atm terdekat untuk mengambil uang setoran donat.
Disana Vandam mengajari Nilam cara mengambil uang.
"Kak Vandam kembali ke kota malam ini?" tanya Nilam yang langsung diangguki oleh Vandam.
"Jangan menungguku, aku tidak tahu kapan bisa pulang lagi, jika ada kesempatan aku akan pulang untuk menemui mu." ucap Vandam.
Nilam terdengar sedih mendengar ucapan Vandam namun ini sudah menjadi resiko Nilam mengingat Vandam bekerja diluar kota.
"Aku pulang dulu kak." pamit Nilam saat mobil Vandam berhenti didepan gang masuk rumah Nilam.
Sebelum keluar, Vandam menahan tangan Nilam lalu mencium bibir Nilam sekali lagi, "Jangan biarkan ada pria lain yang menyentuhmu, kau milik ku, hanya milik ku!"
__ADS_1
Bersambung...