NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
18


__ADS_3

Nilam baru saja menyelesaikan pekerjaannya, bersamaan dengan Vandam dan Anjani yang akan pulang.


Sebelum pulang, Vandam menemui Nilam yang masih ada didapur.


"Pikirkan lagi tentang tawaranku."


Nilam mengerutkan keningnya tak mengerti, "Tawaran tentang kau ikut denganku ke kota." jelas Vandam menambahkan.


"Aku tidak tahu kak." balas Nilam terlihat bingung.


"Pikirkan lagi, kapanpun kau siap, aku akan langsung menjemputmu," ucap Vandam "Aku harus pergi sekarang." pamit Vandam sempat mengelus kepala Nilam sebentar sebelum akhirnya Ia pergi meninggalkan Nilam.


"Aku ingin ikut kak tapi aku tidak mau meninggalkan rumahku karena disini ada banyak kenangan ku bersama Ayah dan Bunda." gumam Nilam dengan tatapan sedih.


Vandam keluar dari rumah Nilam bersiap untuk pulang dan Ia melihat Riki tengah berusaha menyalakan motornya untuk mengantar Anjani.


"Macet lagi macet lagi!" omel Anjani terlihat kesal.


"Gojek aja yang Beb." tawar Riki yang langsung di tolak mentah mentah oleh Anjani.


"Nggak mau! Makanya kamu beli motor baru dong!"


"Iya iya nanti beli kalau si Nilam udah lulus sekolahnya."


Anjani berdecak, "Kamu itu terlalu mikirin masa depan Nilam sampai tidak peduli sama masa depan kamu sendiri!" omel Anjani lagi.


"Ya gimana dong Beb, dia adik aku."


"Bukan adik kandung jadi nggak harus peduli!"


"Ini ngapain malah pada bertengkar disini." timpal Vandam yang baru mendekat namun Ia sudah mendengar sedari tadi.


"Nih motornya mogok lagi, masa iya aku suruh naik ojek!" adu Anjani pada Vandam.


"Bareng gue aja nggak apa apa."


Mata Anjani langsung saja berbinar senang, "Serius boleh bareng?"


Vandam mengangguk, "Tapi Lo izin dulu deh sama Riki."


"Udah sana bareng aja nggak apa apa, motor gue lagi ngadat juga." kata Riki tak merasa curiga sedikit pun.


Vandam dan Anjani akhirnya memasuki mobil, Vandam sempat melihat Nilam mengintip dijendela kamarnya sebelum akhirnya Ia melajukan mobilnya meninggalkan pekarangan rumah.


"Mobil Lo bagus." puji Anjani.


"Masih bagusan mobil bos gue." balas Vandam acuh.


"Nggak nyangka Lo sekarang sukses kayak gini."


Vandam hanya tersenyum, entah mengapa Ia merasa tak senang seperti dulu saat bersama dengan Anjani padahal Anjani cinta pertamanya.


"Coba aja Riki nggak biayai sekolah adiknya, mungkin dia juga udah punya mobil kayak Lo." ungkap Anjani mendadak membuat Vandam kesal.


"Ya harusnya Lo cari lah cowok yang naiknya mobil." saran Vandam.

__ADS_1


"Siapa juga yang mau sama gue."


"Gue mau." kata Vandam yang langsung membuat mata Anjani berbinar penuh harap.


"Tapi bohong." Vandam tertawa lepas setelahnya.


"Lo ngeselin banget sih!" Anjani terlihat marah.


"Ya gimana dong, Lo aja pacarnya sahabat gue masa iya gue embat."


Anjani malah tersenyum, "Kalau gue putus sama Riki?"


"Sorry, gue nggak nerima bekas sahabat gue!" tandas Vandam yang membuat Anjani semakin geram dan malu hingga akhirnya memutuskan untuk diam.


Vandam tertawa puas melihat kekesalan Anjani, entah mengapa perasaan nya pada Anjani sekarang sudah berubah.


Dulu saat Vandam masih menyukai Anjani, Ia selalu memperlihatkan yang baik agar Anjani kagum padanya namun sekarang Ia sudah tidak peduli lagi pada Anjani, entah apa yang membuatnya seperti itu.


"Sebelah mana rumahmu?" tanya Vandam saat memasuki kawasan perumahan milik Anjani.


Anjani hanya menunjuk ke arah sebuah rumah berwarna biru.


Vandam menghentikan laju mobilnya, membiarkan Anjani keluar tanpa mengatakan apapun lagi.


Vandam kembali melajukan mobilnya meninggalkan Anjani yang masih terlihat kesal. Anjani bahkan menghentak hentakan kakinya berkali kali untuk melampiaskan kekesalannya.


"Bukankah dulu dia menyukaiku? Kenapa dia jadi menjengkelkan seperti ini!" ucap Anjani mengingat dulu Riki pernah mengatakan hal itu pada Anjani semasa sekolah namun Anjani lebih memilih Riki.


"Aku akan menggodanya lagi, aku akan membuatnya kembali menyukaiku dan bertekuk lutut padaku!" ucap Anjani lagi penuh percaya diri.


Pagi hari Vandam sampai dikota, Baru saja sampai dikota, Vandam sudah kembali dilanda rindu, Ia ingin bertemu dengan Nilam lagi. Melakukan sesuatu yang menyenangkan, yang membuatnya candu.


"Setelah ini kita akan ke paris." kata Arga saat Vandam baru saja memasuki ruang kerja diclub malam milik Arga.


"Baiklah Tuan, saya akan mempersiapkan segalanya."


Arga mengangguk, "Bagaimana dengan temanmu? Apa dia baik baik saja?" tanya Arga sebelum Vandam akan keluar ruangan.


Vandam terlihat gugup, Ia tak mau ketahuan jika berbohong pada Arga.


Ya Vandam berbohong, kemarin Ia mengatakan pada Arga jika Ia izin libur kerja untuk menjenguk temannya yang sakit padahal Ia libur hanya untuk menemui Nilam.


"Keadaannya sedikit parah Tuan karena dia menabrak pembatas jalan." jawab Vandam.


"Kasihan sekali, aku turut prihatin."


"Terima kasih banyak Tuan, kalau begitu saya permisi agar bisa segera mengurus keberangkatan Tuan."


Arga mengangguk dan membiarkan Vandam keluar dari ruangannya.


Vandam menghela nafas lega, ini kali pertamanya Ia berbohong pada Arga, sebelumnya Ia tak pernah sekalipun berbohong pada Arga.


"Dia benar benar membuatku gila!" gumam Vandam.


Setelah mempersiapkan segalanya, Arga dan Vandam siap berangkat ke paris.

__ADS_1


"Berapa lama kita berada disana Tuan?" tanya Vandam saat keduanya sudah berada dipesawat.


"Aku belum memastikan, mungkin 3 bulan."


Mata Vandam langsung saja melotot mendengar ucapan Arga.


"3 bulan Tuan? Kenapa lama sekali kali ini?'' heran Vandam karena biasanya mereka hanya pergi seminggu dan paling lama 1 bulan.


"Ya ada banyak yang harus diurus, kenapa kau terkejut? Tidak mau?"


"Bu bukan begitu Tuan, saya baik baik saya hanya saja sedikit heran karena biasanya kita tidak pergi selama itu." ungkap Vandam yang langsung membuat Arga tersenyum.


"Entahlah, aku hanya ingin sedikit menggoda gadis gadis yang ada disana, kau bisa menikmatinya seperti biasa." kata Arga.


Setiap kali mereka pergi, tidak hanya Arga yang mencari gadis namun juga Vandam.


"Mungkin saya sudah tidak berminat Tuan."


Arga menatap Vandam penuh keheranan, "Ada apa denganmu, tidak biasanya seperti ini?"


"Saya tidak tah Tuan, hanya saja saya sedang tidak ingin melakukannya."


Arga tertawa, "Lihat saja setelah kau berada diparis, kau akan menemukan gadis cantik yang mengembalikan hawa inginmu."


Vandam hanya tersenyum.


Sesampainya diparis, Ada banyak gadis cantik nan seksi yang menggoda Vandam namun sedikitpun Vandam tidak tergoda. Dipikirannya sudah penuh berisi tentang Nilam, kecantikan dan keseksian Nilam yang tidak bisa Ia lupakan meskipun Nilam masih dibawah umur namun Nilam sudah menjadi candu untuknya.


"Kau yakin? Mereka benar benar menarik Vandam!" kata Arga penuh semangat.


"Tidak Tuan,"


Arga keheranan dengan sikap Vandam, "Ada apa denganmu? Apa kau sudah memiliki seorang gadis?" tanya Arga.


"Tidak Tuan, bukan begitu." Vandam tidak ingin Arga tahu.


"Jangan Vandam, jangan sampai kau jatuh cinta. Kau akan sangat bodoh jika membiarkan wanita mengendalikan dirimu." kata Arga.


Dan ucapan Arga sama sekali tidak bisa dipercaya karena baru beberapa hari berada diparis, Arga sudah dibuat jatuh cinta oleh seorang model.


"Aku menginginkan gadis itu, ya gadis itu." pinta Arga pada Vandam waktu itu.


Gadis yang tak lain adalah Sarah, jodoh Arga.


Bersambung...


Halooo semuanya...


Maafkan author ya selama beberapa hari ga update .


Mbak aku habis lahiran jadi riweuh bgt, sibuk trs smpe ga smpet nulis..


sekali.lagi maaf ya gaesss..


Nanti klo semua dah kelar, bakal lanjut lagihh wess...

__ADS_1


Terima kasih buat semua yang masih setia menunggu


__ADS_2