NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
29


__ADS_3

Vandam menunggu Arga yang sedang bertemu klien dengan perasaan gelisah. Baru saja Ia ditelepon oleh anak buahnya yang Ia tugaskan untuk menjaga Nilam, Ia khawatir dengan keadaan Nilam mengingat saat ini Nilam sedang mengandung anaknya.


Vandan merasa lega setelah melihat Arga keluar dari ruangan.


"Ada apa dengan wajah gelisahmu?" tanya Arga.


"Tuan kalau boleh saya..." ucapan Vandam terhenti saat Arga menganggukan kepalanya.


"Aku mengerti, pulanglah." kata Arga yang langsung membuat Vandam tersenyum.


"Terima kasih Tuan, terima kasih."


Arga menghela nafas panjang, "Kau harus berhasil membawa gadis itu kesini." kata Arga.


Vandam mengangguk, "Baiklah Tuan, terima kasih banyak."


Vandam bersiap pergi meninggalkan Arga. Ia harus pulang ke kampung saat ini agar bisa memastikan keadaan Nilam baik baik saja.


Sementara itu dirumah Nilam, semua orang tampak menatap kaki Nilam yang sudah penuh banyak darah juga jeritan kesakitan Nilam.


"Aku hanya menendang perutnya, kenapa ada banyak darah yang keluar." heran Anjani.


"Tolong kak, rasanya sakit sekali." keluh Nilam menatap Riki berharap Riki bisa menolongnya.


"Jangan bawa kerumah sakit, nanti kita bisa ditangkap karena menyiksa dia." Marni memperingatkan.


"Tapi keadaannya sudah parah Bu." kata Riki melihat wajah Nilam semakin pucat.


"Biarkan saja dia, nanti juga sembuh sendiri." kata Marni lalu keluar dari kamar Nilam disusul oleh Anjani.


Sekali lagi Nilam memohon pada Riki agar menolongnya, "Kak, tolong aku. Perutku sangat sakit." ucap Nilam dengan suara lemah.


Riki terlihat bingung, harus menolong Nilam atau tidak. Ia ingin membawa Nilam kerumah sakit namun Ia tidak memiliki uang untuk membayar biaya rumah sakit.


Nilam akhirnya pingsan karena tak tahan merasakan rasa sakit yang sangat luar biasa. Riki yang panik mau tak mau mengendong Nilam membawa gadis itu keluar kamar.


"Ku bilang jangan bawa kemana mana!" sentak Marni.


"Keadaanya sangat memprihatinkan Bu, aku takut terjadi sesuatu. Kalian dirumah saja biar aku yang bawa Nilam pergi." kata Riki segera keluar dari rumah.


"Sial, ponselku tertinggal, bagaimana aku bisa memesan taksi." umpat Riki ingin kembali masuk namun langkahnya terhenti saat seorang pria menghadang jalannnya.


"Mau tumpangan?" tawar pria itu.


"Siapa kau?"

__ADS_1


"Aku seorang kurir, kebetulan baru saja mengirim daerah sini, jika mau bisa ku antarkan." tawar pria itu.


Tanpa berpikir lagi, Riki mengiyakan tawaran pria itu. Ia segera masuk ke mobil pria itu yang terparkir tak jauh dari rumahnya.


"Apa dia tidur?" tanya Pria itu melihat mata Nilam terpejam.


Riki menggelengkan kepalanya, "Dia pingsan."


Pria itu menatap Nilam lebih dalam hingga Ia melihat ada banyak darah keluar dari balik rok sekolah yang dipakai Nilam, "Sial!" umpat pria itu karena tahu apa yang terjadi dengan Nilam.


"Ada apa?"


"Tidak apa apa, aku hanya penasaran kenapa ada banyak darah mengalir dari dalam roknya?" tanya Pria itu mempercepat laju mobilnya agar segera sampai di klinik terdekat.


"Adik ku sedang datang bulan jadi banyak darah yang keluar."


Pria itu tersenyum sinis tanpa disadari oleh Riki, "Dasar bodoh, bagaimana mungkin datang bulan dengan darah sebanyak itu!" batinnya.


Mereka sampai ke klinik, Riki segera membawa masuk Nilam, "Tolong adik ku!" pinta Riki pada para suster yang berjaga.


Para suster itu tampak terkejut melihat keadaan Nilan yang mengenaskan, "Dia jatuh." kata Riki tak ingin semua orang curiga namun tetap saja para suster itu lebih pintar. Luka lebam di pipi Nilam sudah dipastikan jika itu kekerasan bukan hanya karena jatuh.


Riki menunggu diluar setelah Dokter masuk ke dalam ruangan pemeriksaan. Seorang suster tampak berjalan menghampiri Riki, "Silahkan bayar dulu biaya administrasinya agar pasien bisa ditangani lebih lanjut." kata suster itu.


Riki mengangguk paham, Ia berjalan pelan menuju bagian administrasi sambil berpikir dari mana Ia mendapatkan uang untuk membayar biaya ini.


"Sudah dibayar pak, baru saja."


Riki tentu saja terkejut dengan ucapan bagian administrasi itu.


"Siapa yang membayar?"


"Seorang pria tapi beliau enggan menyebutkan namanya."


"Baik terima kasih." kata Riki berjalan meninggalkan tempat itu dan berpikir siapa yang sudah membayar semua biaya diklinik ini.


"Apa kurir tadi? Ah rasanya tidak mungkin karena dia hanya seorang kurir dan kenapa pula dia harus membayar." Gumam Riki lalu kembali duduk didepan ruangan Nilam.


Dirumah, Marni dan Anjani terlihat bersantai duduk sambil menonton televisi, seolah tidak terjadi apapun dirumah itu.


"Apa kita harus memiliki sandi untuk melihat isi dari kartu ini?" tanya Marni memperlihatkan kartu debit milik Nilam yang masih Ia bawa.


"Tentu saja Bu dan hanya Nilam yang tahu berapa sandinya." balas Anjani.


Marni berdecak, "Anak itu pasti tidak mau memberitahu berapa sandinya, aku sangat yakin didalam sini ada uang yang banyak."

__ADS_1


Anjani mengangguk setuju, "Benar Bu, jika tidak mungkin Nilam sudah membiarkan kita melihat saldonya."


Marni melempar kartu Atm dimeja karena kesal, "Apa Riki sudah mengirim pesan?"


"Belum, kalaupun sudah mengirim pesan aku juga tidak mau membalas karena dia sudah berani membawa Nilam kerumah sakit."


Marni mengangguk, "Benar, kau harus jadi wanita tegas agar lain kali Riki bisa memikirkan perasaanmu." kata Marni.


"Sudahlah Bu, dari pada kita kesal memikirkan ini bagaimana jika kita keluar membeli makanan." ajak Anjani.


"Aku tidak punya uang karena Nilam tidak jualan beberapa hari ini." keluh Marni.


Anjani mengeluarkan uang 50ribuan dalam kantongnya, "Aku mendapatkan di tas Nilam." katanya dengan senyuman licik.


Marni ikut tersenyum, "Apa masih ada lagi?"


"Tidak ada Bu, hanya ini yang tersisa di tasnya."


Marni berdecak, "Ya sudah, uang 50 ribu juga sudah cukup untuk membeli makan siang."


Anjani mengangguk setuju, keduanya pun keluar dari rumah dengan perasaan bahagia tanpa ada rasa menyesal dan khawatir akan keadaan Nilam.


Dan diklinik, Riki masih menunggu diluar ruangan hingga dokter yang memeriksa Nilam keluar dari ruangan.


"Apa anda suaminya?" tanya Dokter menatap Riki penuh curiga.


"Bukan, saya kakaknya. Adik saya masih sekolah jadi belum memiliki suami." jelas Riki.


"Pasti karena pergaulan bebas." gumam Dokter itu membuat Riki keheranan tak mengerti apa maksud dari ucapan Dokter itu.


"Bagaimana keadaan adik saya Dok? apa luka serius?"


"Ya ada banyak luka lebam diseluruh tubuhnya, apa dia baru saja berkelahi?" tanya Dokter itu lagi yang membuat Riki sedikit gugup.


"Saya tidak tahu."


Dokter itu menghela nafas panjang, "Dan pasien mengalami keguguran, harus segera dilakukan kuretase."


Riki menatap ke arah Dokter itu dengan tatapan tak percaya, "Keguguran? Nilam hamil?"


Dokter itu mengangguk, "Ya pasien sempat hamil namun karena usia kandungan masih muda jadi sangat rentan hingga akhirnya keguguran." jelas Dokter itu lalu pergi meninggalkan Riki yang masih terlihat shock.


"Bagaimana bisa ini terjadi?" gumam Riki lalu tersungkur dilantai sambil meremasi kepalanya yang mendadak berdenyut sakit.


BERSAMBUNG...

__ADS_1


Jgn lupa like vote dan komenn yaaa


__ADS_2