
Brama keluar dari mobilnya, melihat Fandi sudah dikelilingi banyak orang seperti siap dihabisi oleh massa yang kesal karena ulah Fandi.
Tadi Fandi mengatakan dalam teleponnya jika Ia menabrak seorang pemulung paruh baya.
Fandi menggunakan motornya, membuat Brama marah karena sudah lama Brama tak mengizinkan Fandi menaiki motor dan malam ini Fandi melanggar.
"Jadi kau orangtua Fandi?" tanya seorang pria paruh baya yang terlihat emosi, "Anakmu sudah menabrak saudaraku!"
"Tenang pak, tenangkan dirimu, Saya akan bertanggung jawab penuh atas kecelakaan ini." kata Brama mencoba bersabar meskipun Ia menahan emosi sedari tadi.
"Tanggung jawab seperti apa? Saudaraku kini sudah kritis dirumah sakit, jika sampai meninggal, bagaimana nasib anak anaknya yang masih kecil?" teriak pria paruh baya tanpa takut dengan Brama meskipun melihat Brama memiliki banyak anak buah.
"Saya akan memberikan banyak uang pada kalian asal jangan lapor polisi!" hilang sudah kesabaran Brama.
"Kami ingin 1 milyar!"
"Apa kau gila? Kau ingin mati saja?" protes salah satu anak buah Brama tampak tak terima.
"Jika tidak mau, sebaiknya aku lapor polisi saja." ancam pria paruh baya itu.
Anak buah Brama baru ingin protes lagi namun ditahan oleh Brama,
"Uang 1 milyar sangat sedikit untuk kami jadi aku akan berikan." kata Brama membuat pria itu tersenyum senang.
"Tuan..." Anak buah Brama menatap Brama tak setuju.
"Bereskan seperti biasa." bisik Brama lalu menghampiri Fandi yang tengah duduk santai dimesin motornya yang jatuh dan rusak sambil memainkan ponselnya.
"Kau ini benar benar!" omel Brama.
"Sudah selesai kan? Aku bisa pergi sekarang?" tanya Fandi berdiri dengan santai seolah tak terjadi apapun.
"Dasar anak gila? Bagaimana bisa kau bersikap seperti ini setelah hampir membunuh orang!"
Fandi tersenyum tipis, "Bukankah Ayah juga seperti itu, membunuh orang dan masih menjalani hari dengan santai."
Brama mengepalkan tangannya mendengar ucapan Fandi, "Jika kau membuat masalah lagi, aku tidak akan membereskannya!" ancam Brama.
__ADS_1
"Baiklah, biarkan aku dipenjara." balas Fandi lalu pergi meninggalkan Brama dengan menaiki taksi yang Ia pesan.
Sebelum taksi melaju, Fandi membuka kaca pintu lalu mengatakan sesuatu pada anak buah Ayahnya, "Buang saja bangkai motornya, aku sudah tak memakainya lagi."
Setelah itu taksi melaju meninggalkan Brama dan anak buahnya.
Brama mengepalkan tangannya, Jika Fandi bukan anak satu satunya yang Ia punya mungkin Brama sudah membunuh anak pembawa masalah itu.
"Jadi bagaimana Tuan? Kita tidak bisa memberikan uang 1 milyar untuk orang tadi, mereka memeras kita!" kata salah satu anak buah Brama yang merasa tak terima.
Brama tersenyum, "Jika kau merasa mereka memeras kita, seharusnya kau tahu apa yang harus dilakukan."
Para anak buah Brama ikut tersenyum, mengerti apa maksud Brama.
"Baiklah Tuan, Kami akan segera membereskannya."
Brama kembali memasuki mobilnya sementara anak buahnya memasuki mobil lain dan mereka pergi ke rumah pria yang meminta uang pada Brama. Namun belum sampai dirumah pria tadi, mereka malah berpapasan ditengah jalan.
"Bukankah pria ini yang tadi ditabrak, kenapa aa disini? Bukankah seharusnya dia dirumah sakit?" tanya anak buah Brama dengan santai.
Kedua pria paruh baya itu terlihat pucat ketakutan, mereka seperti sudah ketahuan berbohong, "Begini, aku sudah mengatakan padanya agar dirumah sakit tapi dia tidak mau. Dirumah sakit biaya mahal, kami belum bisa bayar jika kalian belum memberikan uangnya." kata pria yang meminta uang pada Brama.
Kedua pria itu tersenyum senang dan langsung mengiyakan tanpa curiga.
Kedua pria itu duduk dijok tengah, sementara didepan dan paling belakang ada anak buah Brama yang lainnya.
Setelah mobil melaju, anak buah Brama menanyakan sesuatu yang membuat kedua pria itu terkejut, "Jadi sudah berapa lama kalian menipu?"
"Ka kami tidak menipu." balas salah satu pria itu mulai ketakutan.
"Kalian pikir kami tidak tahu? Dasar bodoh, kalian salah mencari mangsa." kata anak buah Brama lalu memberikan kode pada temannya yang ada dijok belakang untuk segera menghabisi kedua pria paruh baya itu dan sedetik kemudian, kedua pria paruh baya itu dicekik hingga tewas.
"Didepan ada jembatan, kita buang mayatnya disana."
Sopir Brama mengangguk dan langsung menghentikan mobilnya, mereka membuang mayat kedua pria paruh baya itu ke jembatan lalu segera pergi dari sana.
"Semua sudah beres Tuan dan aman, tidak ada cctv dilokasi." lapor anak buah pada Brama.
__ADS_1
"Bagus, aku akan mengirimkan bonus untuk kalian."
Para anak buah Brama tersenyum senang karena Brama selalu memberikan bonus yang lumayan jika mereka berhasil membunuh seseorang.
...****************...
Dikampus, Fandi baru saja keluar dari mobil, Ia berjalan menuju kelasnya dan melihat Nilam dari kejauhan.
Dengan senyum mengembang, Ia menghampiri gadis yang sudah lama Ia sukai itu.
"Pagi Cantik..." sapa Fandi yang langsung membuat pipi Nilam memerah malu, hal yang disukai Fandi dari Nilam. Tidak seperti gadis lain yang mencoba mendekatinya, Nilam justru sering menghindar meskipun Ia sudah memamerkan banyak harta yang Ia miliki namun Nilam sama sekali tidak tertarik.
"Mau langsung ke kelas? Enggak sarapan dulu dikantin?'' tawar Fandi yang langsung digelengi kepala oleh Nilam.
"Enggak, mau langsung ke kelas aja, lagian aku juga udah sarapan."
"Oke, kalau gitu bareng." kata Fandi, menghentikan langkah kaki Nilam.
"Jangan jalan bareng deh Fan, aku takut nanti dikira pacar kamu."
Fandi tersenyum, "Bagus dong, emang itu yang diharapkan."
Nilam kembali menggelengkan kepalanya, "Jangan ya Fan, aku nggak mau nyari musuh disini."
Fandi berdecak, "Jadi itu alasan kamu selalu nolak aku, takut sama semua cewek kampus yang suka sama aku?"tanya Fandi "Ya ampun Nilam, aku bisa jagain kamu dari mereka." tambah Fandi.
Wajah Nilam berubah dingin, "Mungkin itu salah satunya dan aku juga nggak ada perasaan sama kamu, maaf."
Fandi terlihat shock apalagi Nilam langsung pergi begitu saja membuat pria itu mengepalkan tangannya.
"Gue bakal hancurin elo!" batin Fandi lalu mengikuti Nilam dari belakang.
Sampai dikelas, suasana kelas sangat gaduh, mereka sedang membicarakan tentang dua pria yang tewas dijembatan dekat kampus mereka.
"Iya, dua bapak bapak tewas jatuh dijembatan tapi gue yakin itu dibunuh sih, kalau jatuh masa bisa barengan." kata salah satu teman Fandi saat Fandi bertanya.
Fandi terdiam, hingga temannya memberikan foto 2 pria itu barulah Ia sadar jika mengenali kedua pria yang tewas itu
__ADS_1
"Cara membereskan masalah tanpa mengeluarkan uang." batin Fandi lalu tersenyum karena tahu perbuatan siapa itu.
Bersambung...