NILAM & VANDAM

NILAM & VANDAM
54


__ADS_3

Vandam baru saja mendapatkan telepon dari Nisa jika Nilam sudah berangkat dengan Fandi. Vandam memang meminta Nisa untuk membantunya karena Ia yakin jika Fandi memiliki niat tidak baik pada Nilam.


Dan Nisa bekerja sangat baik, memberikan infomasi tepat waktu serta memasang alat pelacak yang Ia berikan tadi pagi. Vandam meminta Nisa memasang alat pelacak itu di dalam tas Nilam dan sekarang Vandam bisa mengetahui lokasi Nilam.


Vandam memasukan ponselnya ke dalam kantong celananya, setelah itu Ia bergegas keluar dari club. Melajukan mobilnya menuju bioskop tempat Nilam berada.


Namun ditengah perjalanan, ada gerombolan pria bermotor menghadangi jalan Vandam. tadinya Vandam pikir gerombolan pemotor itu adalah anak nakal yang suka balap liar namun ternyata pemotor itu memang sengaja menghalangi jalan Vandam.


Vandam menghentikan mobilnya, Ia tak keluar dari mobil hingga salah satu pria mengetuk kaca mobil, memintanya untuk keluar.


Vandam menghitung dari dalam mobil, ada 10 pria berbadan kekar, Ia pasti akan kalah jika melawan mereka.


Vandam mencoba tak mengubris semua pria itu, meminta mereka minggir namun tetap saja mereka tidak mau pergi dan malah mengancam akan merusak mobil Vandam jika tidak keluar.


Dengan perasaan kesal dan marah, Vandam akhirnya keluar dari mobil, tak lupa Ia membawa pistol yang disembunyikan dibalik baju.


"Ada apa ini?" tanya Vandam pura pura tidak tahu meskipun Ia bisa menebak jika mereka adalah anak buah Brama.


"Nggak usah banyak bacot Lo!" kata salah satu pria langsung memberikan bogeman pada Vandam. Beruntung Vandam bisa menangkis dan melawan pria itu hingga tersungkur.


Satu lawan satu bisa Vandam hadapi hingga akhirnya mereka mencoba mengeroyok Vandam, 5 orang sekaligus membuat Vandam kewalahan dan hampir kalah.


Dorrr... Terpaksa Vandam melepaskan tembakan ke arah kaki para musuhnya hingga mereka jatuh satu persatu.


"Sial!" umpatan terdengar dari mulut musuh Vandam.


"Singkirin motor kalian atau ku tembak mati kalian!" teriak Vandam dengan suara lantang membuat para pria pemontor itu bangun dengan menyeret kakinya lalu menyingkirkan motor yang menghalangi jalan Vandam.


Vandam segera memasuki mobilnya, melajukan mobilnya dengan tangan gemetar karena banyaknya luka ditangan dan wajah pun babak belur.


"Sial, aku akan membalas mereka!" umpat Vandam.


Sesampainya di bioskop, Vandam menjadi pusat perhatian karena tak merawat lukanya lebih dulu. Ia memasuki bioskop dengan keadaan babak belur.

__ADS_1


Vandam tidak mengubris pandangan orang orang, Ia berjalan menuju tempat film diputar.


"Sesi film sudah habis, mereka sudah pulang." kata penjaga membuat Vandam berdecak kesal.


Tanpa mengatakan apapun lagi, Vandam keluar dari bioskop, Ia memasuki mobilnya. Mengambil ponselnya dan ingin melihat lokasi Nilam melalui alat pelacak yang ada ditas Nilam namun sayangnya baterai ponsel Vandam habis, ponsel mati tidak bisa digunakan.


"Sial!" umpat Vandam akhirnya mencharger ponselnya sebentar.


Menunggu ponselnya terisi, Vandam mengambil alkohol untuk disiramkan pada lukanya agar darah berhenti keluar.


"Aku akan membalas perbuatan mereka!" ucap Vandam berkali kali.


Ponsel sudah terisi, meskipun belum penuh namun setidaknya bisa di nyalakan. Baru ingin melacak lokasi Nilam, Vandam malah mendapatkan telepon dari anak buahnya yang berada di club.


"Tempat kita diserang bos, banyak pelanggan yang kabur karena penyerangan ini."


"Sial, apa kalian kalah?"


"Tidak bos, kami sudah berhasil mengusir mereka hanya saja keadaan club hancur, banyak barang yang rusak." lapor anak buah Vandam.


Vandam mengepalkan tangannya, Brama memang sudah kelewatan. Brama bahkan mengibarkan bendera perang padahal selama ini Vandam selalu bersikap baik pada saingan bisnisnya itu karena Vandam tidak ingin memiliki musuh namun Brama yang memulai lebih dulu. Kini Ia sudah memikirkan rencana untuk membalas perbuatan Brama, Ia akan menghancurkan Brama.


Vandam akhirnya bisa melacak lokasi Nilam yang tertunda dan betapa terkejutnya Vandam jika Nilam berada di dalam hotel.


"Sial, aku terlambat!" umpat Vandam segera melajukan mobilnya menuju hotel.


Dengan modal foto jempretan Nisa yang sempat dikirimkan padanya petang tadi, Vandam menanyakan nomor kamar pada receptionis, awalnya mereka tidak memberitahu nomor kamar hotelnya namun setelah Vandam memberikan uang yang lumayan banyak, mereka akhirnya memberikan nomor kamar hotel yang dipesan oleh Fandi.


Vandam berlari sekencang mungkin menuju kamar yang dipesan Fandi, Ia berharap tidak terlambat menyelamatkan Nilam karena receptionis mengatakan jika Fandi dan Nilam baru saja memasuki kamar.


"Tolong lepaskan aku!" rintih Nilam saat Fandi berusaha melucuti bajunya.


Entah obat apa yang Randi berikan padanya, Nilam merasa lemas dan tak berdaya namun Ia masih sadar hanya saja tidak memiliki kekuatan untuk melawan.

__ADS_1


"Tentu, lihatlah ini, aku sedang melepaskan semua bajumu. Kita akan bersenang senang dan aku akan pergi." kata Fandi lalu tertawa.


Mata Fandi menatap kagum saat berhasil melucuti semua pakaian yang dikenakan Nilam, melihat tubuh polos Nilam yang sedikit berisi namun masih sangat kencang.


"Kau lihat, juniorku sudah tak sabar ingin masuk ke sarangmu tapi aku masih ingin bermain main sebentar." kata Fandi dan Nilam hanya bisa menangis, memohon agar Fandi tak melakukan itu.


Fandi mulai bermain main, menyentuh area sensitif Nilam menggunakan tangannya, Ia memasukan jarinya ke dalam sarang Nilam lalu terkejut, "Kau sudah tidak perawan?" suara Fandi terdengar kecewa.


"Aku pikir kau gadis baik baik ternyata kau sama saja."


"Lepaskan aku, carilah gadis lain yang masih perawan." pinta Nilam dengan suara sangat pelan namun masih bisa didengar oleh Fandi.


Fandi malah tertawa, "Tidak semudah itu baby, setidaknya aku ingin menikmati tubuh gadis yang ku kagumi selama ini."


Fandi akhirnya memulai permaiananya, namun baru ingin mencium bibir Nilam, pintu kamar tiba tiba terbuka, mengejutkan Fandi.


"Sialan, siapa yang berani mengangg-" ucapan Fandi terhenti saat melihat Vandam yang masuk ke kamarnya dalam keadaan babak belur dan Vandam menatap ke arahnya emosi.


Vandam melihat tubuh telanjang Nilam membuat emosinya semakin naik. Ia mengambil pistolnya lalu menembakan tepat dikedua kaki Fandi.


Setelah Fandi jatuh, Vandam menendangi Fandi hingga babak belur.


"Kau pikir, kau siapa bisa menyentuh dan melihat gadisku seperti itu!" umpat Vandam tak henti hentinya menendangi Fandi hingga Fandi tak sadarkan diri.


Vandam mengambil ponselnya untuk menghubungi anak buahnya, "Datanglah ke lokasi yang ku kirim. Ada orang yang harus kau bereskan." kata Vandam lalu mengakhiri panggilan.


Dengan dada sesak, Vandam mengambil baju Nilam yang berserakan dilantai. Vandam memakaikan baju Nilam satu persatu.


Melihat Nilam menangis, Vandam hanya diam saja, Ia tidak mengeluarkan sepatah katapun karena saat ini hatinya juga sakit.


"Maaf, maafkan aku." ucap Nilam dengan suara lemah dan kesadaran yang mulai hilang.


Nilam akhirnya pingsan dipelukan Vandam.

__ADS_1


Bersambung...


Jangan lupa like vote dan komeennn


__ADS_2