
Tak menunggu jawaban Nilam, Vandam langsung mengandeng tangan Nìlam dan mengajaknya mendekati tempat penyewaan skyboat.
"Pilihlah salah satu yang ingin kau naiki." kata Vandam.
Nilam melihat beberapa sky boat yang berjejer dan pilihannya tertuju pada Sky boat warna merah muda.
"Pink?" Vandam terlihat ragu dengan pilihan Nilam.
Nilam mengangguk yang langsung terdengar helaan nafas Vandam, "Baiklah, kita akan naik itu."
Nilam langsung tersenyum senang membuat Vandam tak salah mengajak Nilam naik sky boat. Saat ini Vandam memang sedang ingin meluluhkan hati Nilam, Ia ingin mendapatkan hati Nilam agar gadis itu bisa luluh dan menikmati apapun yang Vandam lakukan pada Nilam.
"Peluk aku." pinta Vandam saat Nilam membonceng dibelakang.
Nilam awalnya ragu, namun akhirnya Ia memeluk Vandam dari belakang.
Sky boat segera melaju dengan kencang mengelilingi lautan.
"Berteriaklah jika kau ingin." kata Vandam.
Nilam akhirnya berteriak kencang, Ia hanya ingin melepaskan beban hidup menyakitkan yang Ia jalani selama ini.
Puas naik sky boat, kini keduanya duduk dipinggir pantai, bersantai disana.
"Apa menyenangkan naik sky boat?"
Nilam mengangguk, "Sudah lama aku ingin naik itu."
"Baiklah seharian ini kita akan naik sky boat." ajak Vandam.
"Tidak perlu lagi jika memang sudah lelah." kata Nilam merasa tak enak karena Vandam harus menyetir sky boatnya.
"Tidak masalah, asal bisa membuatmu senang." kata Vandam yang langsung membuat hati Nilam bergetar.
Cukup lama keduanya duduk, kini Vandam beranjak, "Ayo kita naik lagi."
Tanpa berpikir panjang, Nilam mengangguki ajakan Vandam.
Keduanya kembali menaiki sky boat dan Nilam kembali berteriak sekencang mungkin agar merasa lega.
Seharian ini Nilam merasa puas dan senang karena menaiki sky boat berkali kali dan malam harinya, Vandam mengajak Nilam dinner romantis dipinggir pantai.
Nilam terlihat kesulitan saat memotong steak karena Ia belum pernah makan steak sebelumnya. Vandam yang melihat pun segera membantu Nilam. Mengambil piring Nilam lalu memotong menjadi kecil kecil agar Nilam mudah untuk memakannya.
"Makanlah." kata Vandam kembali meletakan piring dimeja Nilam.
"Terimakasih kak." ucap Nilam segera menikmati steaknya.
Tidak ada obrolan apapun diantara mereka berdua. Keduanya fokus makan, hanya saja sesekali Nilam menatap ke arah Vandam dan memuji ketampanan Vandam dalam hatinya.
__ADS_1
"Sebenarnya dia pria tampan hanya saja dia sangat brengsek." batin Nilam.
Selesai makan malam, Vandam mengajak Nilam kembali ke villa.
Keduanya duduk dipinggir kolam renang, menikmati suasana malam yang semakin dingin.
Vandam terlihat sibuk dengan ponselnya dan tiba tiba Vandam mengulurkan ponselnya pada Nilam, "Berikan nomer ponselmu." pinta Vandam.
Nilam menggelengkan kepalanya, "Aku tidak mempunyai ponsel lagipula ibu tidak akan membiarkan aku memiliki ponsel." ungkap Nilam dengan jujur.
"Mungkin Ibu mu ingin kau fokus belajar."
Nilam tersenyum masam, "Ya, mungkin."
"Apa kau ingin memiliki ponsel?" tawar Vandam.
Nilam menggelengkan kepalanya, "Tidak,"
Vandam berdecak, "Lalu apa yang kau inginkan? Baju, tas atau sepatu?"
Lagi lagi Nilam menggelengkan kepalanya, "Tidak juga."
"Aneh." celetuk Vandam.
"Aneh bagaimana?" heran Nilam.
"Biasanya para gadis menyukai beli ini dan itu tapi kau ditawari malah tidak mau."
"Baiklah, kita akan pulang besok pagi. Tidurlah sekarang." pinta Vandam membuat Nilam keheranan.
Ya Nilam heran dengan Vandam malam ini karena sepertinya Vandam tidak akan melakukan sesuatu padanya. Sesuatu yang biasa Vandam lakukan.
"Tidur?" tanya Nilam masih tak percaya.
"Ya tidurlah, seharian ini kau pasti lelah karena bermain diluar jadi sekarang tidurlah." pinta Vandam.
Meskipun Nilam masih belum mempercayai ucapan Vandam, Nilam segera menuruti ucapan Vandam, Ia pun segera beranjak dari duduknya dan memasuki kamar lalu berbaring disana.
Tak berapa lama, Vandam ikut berbaring disampingnya. Jantung Nilam berdegup kencang, Ia sudah bersiap jika Vandam akan menyerangnya namun hingga beberapa menit, Nilam tidak merasakan pergerakan dari Vandam.
Vandam hanya memeluknya dari belakang tanpa melakukan apapun.
Hampir 30 menit Nilam berbaring namun masih juga belum bisa memejamkan mata padahal sudah terdengar suara dengkuran Vandam yang menandakan jika pria itu sudah terlelap.
Nilam mencoba memejamkan matanya, satu jam dua jam rasanya Ia sudah terlelap tapi kenyataannya Ia sama sekali belum tidur.
Ada sesuatu yang menganggunya hingga membuatnya tidak bisa tidur.
Tentang sikap Vandam. Ya pria itu mendadak menjadi baik dan tidak memaksa Nilam lagi membuat Nilam merasa ada yang aneh dengan Vandam.
__ADS_1
Nilam membalikan tubuhnya perlahan karena takut menganggu Vandam. Kini Ia bisa memandangi wajah Vandam yang terlelap.
Wajah tampan yang terlihat teduh menenangkan dan tanpa disadari Nilam tersenyum karenanya.
"Jika saja sejak awal dia bersikap baik seperti ini dan memperlakukan aku dengan baik mungkin aku akan jatuh cinta padamu tapi kenapa kau malah bersikap brengsek dan melecehkan aku?" batin Nilam yang langsung membuat hatinya sakit jika mengingat pertama kali Vandam memperkosanya.
"Kenapa tidak tidur?" tanya Vandam mengejutkan Nilam.
Nilam langsung saja gugup lalu memalingkan wajahnya, "Aku tiba tiba terbangun kak."
"Oh, mau ku buatkan susu hangat?"
"Susu?"
Vandam mengangguk, "Aku ingin membuat susu hangat, apa kau mau?"
Nilam mengangguk, Ia juga merasa tenggorokannya kering ingin minum sesuatu.
Vandam beranjak dari ranjang, keluar dari kamar dan kembali masuk membawa 2 gelas susu hangat.
"Terima kasih kak." ucap Nilam saat menerima segelas susunya.
Nilam dan Vandam meneguk habis segelas susunya dan Vandam kembali keluar untuk mengembalikan gelas yang sudah kosong kedapur.
Vandam kembali berbaring bersama Nilam. "Sekarang tidurlah." ucap Vandam lalu mengecup kening Nilam.
Sesaat Nilam terpaku dengan sikap Vandam yang berubah 180 derajat.
"Kenapa kau tiba tiba baik padaku?" tanya Nilam akhirnya tak ingin memendam rasa penasarannya.
"Kau merasa aku baik? Bukankah kemarin kau menyebutku pria brengsek?"
Nilam tertunduk, mendadak Ia merasa malu dengan apa yang Ia ucapkan padahal memang benar jika Vandam memang brengsek.
"Tidak, hari ini kau berbeda."
Vandam tersenyum, "Mungkin karena aku sudah jatuh cinta padamu."
Deg... degup jantung Nilam berubah kencang saat mendengar ucapan Vandam.
Selama ini memang banyak yang menyatakan cinta pada Nilam namun tidak ada yang bisa membuat jantung Nilam berdegup kencang seperti ini.
Vandam kembali tersenyum, "Sekarang tidurlah, mulai sekarang aku tidak akan memaksa apapun jika kau tidak ingin melakukannya." kata Vandam.
Ucapan Vandam membuat Nilam merasa aneh, Nilam justru tidak suka jika Vandam seperti ini. Ia tidak ingin luluh dengan ucapan Vandam, Ia ingin Vandam terus menjadi pria brengsek agar Ia bisa terus membenci pria yang sudah merenggut masa depannya itu.
"Apa yang terjadi?" tanya Vandam melihat Nilam hanya diam menatap ke arahnya.
Tanpa mengatakan apapun lagi, Nilam mendekatkan bibirnya ke bibir kenyal Vandam.
__ADS_1
Nilam mencium Vandam lebih dulu untuk pertama kalinya.
Bersambung...