
"Now the day bleeds
into night fall
And you're not here
to get me through it all.
I let my guard down
and than you pulled the rug
I was getting kinda used to being someone you loved..."
Ivan terus bernyanyi sambil memetik gitarnya, pandangannya pun tertuju pada satu orang saja yaitu Vin-vin yang duduknya sedikit membelakanginya. Sepertinya Vin-vin sengaja karena dia gugup harus bertatapan dengan Ivan.
"Amboii.. suaranya merdu sangat, orangnya pun hansem sangat... sudah punya girlfriend belum ke?" celoteh Ami sambil menatap Ivan penuh kekaguman.
Entah kenapa, Vin-vin yang mendengarnya jadi kesal.
"Ami!" Sofia mencubit lengan Ami, "fokus! fokus! ingat tujuan kita!" bisiknya.
"Alamak! lupa saya!" Ami menepuk jidatnya.
"Di mana si Liam?"
Sofia mengedarkan pandangannya ke semua sudut kafe, dan akhirnya dia melihat sosok tampan mengenakan kaos polo warna dark grey. Sosok itu tersenyum saat melihat Sofia, dengan segera dia berjalan menuju meja Sofia cs.
"Itu dia!" Lagi-lagi Sofia mencubit lengan Ami, membuat Ami merasa kesal.
"Vin-vin."
Vin-vin yang tengah melamun pun terkejut saat namanya di panggil. Secara spontan dia menoleh dan melihat sosok pria dengan mata sipit dan hidung mancung persis seperti aktor Korea serta bertubuh atletis dan tinggi menjulang berada di sampingnya.
"Liam? kok kamu ada di sini?" kagetnya. Vin-vin tak menyangka, pria yang pernah menyatakan cinta padanya beberapa kali ini, muncul dan menyapanya.
"I rindu sangat kat awak, jadi I terbang dari Singapore supaya bisa jumpa awak," ucap Liam sambil duduk di samping Vin-vin.
"Awak tak rindu ke?"
Vin-vin hanya tersenyum, enggan menjawab.
Masa iya dia jawab tak rindu secara blak-blakan, kasian kan Liam sudah datang jauh-jauh tapi malah di buat kecewa.
Vin-vin menatap dua temannya yang langsung pura-pura cuek dan tak mau menatap Vin-vin. Kesal rasanya karena dua temannya ini berkomplot di belakangnya.
Vin-vin mengambil ponselnya dan mengetik sesuatu dan mengirimkannya pada kedua temannya itu.
'Penghianat!' tulisnya.
__ADS_1
Tapi kedua temannya tetap cuek.
"Macam mana lepas dia menyanyi, kita minta nomer telpon?" ucap Ami pada Sofia, mencoba mengacuhkan tatapan marah Vin-vin.
"can leh ( ya, tentu saja) I pun ingin punya kontak dia. Oh my God, hansem sangat lelaki tu, I fall in love ni..." Sofia pun berusaha mengacuhkan Vin-vin dan asyik berbicara dengan Ami.
Vin-vin makin emosi, rasanya kepalanya sudah mengeluarkan asap sekarang ini. Padahal dua orang itu, Ami dan Sofia, adalah yang paling tahu bahwa Vin-vin hanya menganggap Liam sebagai teman, namun mereka tak juga berhenti untuk mencomblangkan Liam dengannya.
"Vin..."
"Eh? ya? kenapa?"
"Tak apa, awak tampak cantik sangat..." puji Liam.
"Thankyou," jawab vin-vin sambil tersenyum dan menyesap minumannya. Aahh... Vin-vin ingin pergi dari sini sekarang juga. Rasanya sesak berada di kafe ini karena ada dua orang yang sangat ingin Vin-vin jauhi. Ya, tentu saja Ivan dan Liam.
"Ah, ada sesuatu di rambut awak," ucap Liam sambil mengangkat tangannya hendak menyentuh rambut hitam Vin-vin yang tergerai indah.
Vin-vin berusaha menghindar agar tangan Liam tak sampai menyentuh rambutnya, namun gerakannya kalah cepat dengan seseorang yang dengan cepat menghadang tangan Liam.
"Maaf, jangan sentuh pacar Saya!"
Vin-vin terkejut, begitu pula Liam.
Tanpa menoleh dan melihat siapa orang yang menangkis tangan Liam, Vin-vin sudah tau. Pasti Ivan lah orangnya.
Dan apa tadi dia bilang? pacar?
"Apa? cuba cakap sekali lagi? I salah dengar ke?" pinta Liam.
"Vin-vin adalah pacar Saya, lebih tepatnya she is my future bride. Jadi jangan berani mendekatinya!"
"What?!" pekik Ami dan Sofia berbarengan.
Sedangkan Liam tampak diam karena syok.
"Benar ke, Vin?"
Vin-vin tak berani menjawab.
"Pak cik, sepertinya Pak cik salah sangka..."
"Pak cik? pala Lu!" kesal Ivan.
"Pak!" Vin-vin menyela, karena melihat kemarahan di wajah Ivan. Dia tak mau Liam kenapa-kenapa karena dirinya.
Ivan yang tadinya tampak emosi langsung tenang, saat matanya bertatapan dengan Vin-vin. Senyum langsung tersungging di bibirnya.
"Aku kangen banget, Vin..." gumamnya.
__ADS_1
"Ke-kenapa... kenapa Pak Ivan ada di sini?" tanya Vin-vin gugup. Suaranya bahkan sedikit bergetar, mungkin di sebabkan oleh jantungnya yang berdebar sangat kencang.
Berdiri di dekat Ivan, menatap matanya yang sangat Vin-vin rindukan, sungguh membuat Vin-vin lemas dan hampir saja jatuh pingsan. Apalagi melihat senyumnya barusan.
Tak ada yang berbeda dari Ivan, dia tetap tampan seperti dulu. Hanya saja sekarang rambutnya lebih rapi karena di potong pendek dan ada sedikit bulu-bulu halus di sekitar pipi hingga dagunya. Ivan benar-benar tampak semakin sempurna dan maskulin di mata Vin-vin.
Ingin rasanya Vin-vin menyentuh bulu-bulu halus itu dan menggelitikinya.
Namun yang bisa Vin-vin lakukan sekarang hanya menelan ludahnya sendiri, dan menahan hasratnya itu.
"Kafe ini punyaku," jawab Ivan santai sambil tersenyum. Nampaknya dia sadar jika Vin-vin merasa gugup sekarang ini. Dan itu membuktikan, bahwa Vin-vin pun masih mencintainya seperti dulu. Ivan yakin itu.
"Sayang, banyak yang ingin aku ceritakan. Bisakah kita bicara sebentar," ucap Ivan sambil meraih jemari Vin-vin.
"What the hell is going on! siapa awak tiba-tiba muncul dan mengganggu!" Liam tampak marah dan menarik tangan Vin-vin agar lepas dari genggaman Ivan.
"Aku pacarnya! Lo budek apa bego!" ketus Ivan.
"Do not lie!" kesal Liam. Emosinya sudah memuncak sekarang, tangannya pun mengepal dan hampir saja di layangkan ke wajah Ivan.
"Liam! don't!" pekik Vin-vin mencoba menenangkan Liam.
"Liam.. calm down okey..." Ami dan Sofia pun mencoba menenangkan Liam.
"Yang emosi bukan cuma dia! gue juga emosi, tau!" tiba-tiba terdengar suara lantang seseorang dari arah pintu masuk kafe.
Vin-vin dengan cepat menoleh dan tersenyum lebar saat melihat dua sosok muncul disana.
"Mutia! Axel..." pekiknya sambil berlari memeluk dua sahabatnya itu.
"Apaan Lo! peluk-peluk! emangnya kita temen?!" ketus Mutia.
Vin-vin tak peduli, dia tetap memeluk Mutia dengan erat.
"Uhuk! mati gue! Vin!" pekik Mutia karena Vin-vin memeluknya dengan sangat erat.
"Kamu nggak peluk aku?" tanya Axel sambil menatap Vin-vin.
"Nggak lah, ntar Mutia cemburu..." gurau Vin-vin sambil melirik Mutia.
"Eh, ayo aku kenalin sama temen-temen ku yang dari Singapore," Vin-vin menarik tangan Mutia dan mengajaknya ke meja tempat Ami, Sofia dan Liam berada.
"Vin..." panggil Ivan yang tampak kesal karena di acuhkan. "Ayo kita bicara!" ucapnya sambil menarik tangan Vin-vin.
"Xel, tolong temani mereka dulu ya. Thanks."
"Okey, Bos."
"Ki-kita mau ke mana?" tanya Vin-vin saat Ivan menariknya dan berjalan menjauhi teman-temannya.
__ADS_1
"Ke ruang kerjaku!"