Oh My Teacher

Oh My Teacher
Masa lalu yang mengganggu.


__ADS_3

Dengan tergesa-gesa Ivan menjalankan mobilnya, menjauh dari rumah sakit tempat dia menjenguk Amanda.


Jantungnya masih berdebar kencang karena secara tak sengaja dia bertemu dengan seseorang yang selama ini menjadi alasan dia untuk menjauh dari semua orang yang dia kenal.


"Kenapa sih Pak? siapa tadi yang panggil? kenalan Pak Ivan? kok nggak di samperin?"


Ivan tetap diam, dia tak menjawab sama sekali rentetan pertanyaan yang di ajukan Vin-vin. Dia terlalu sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Pak? Pak? Pak Ivan!" karena pertanyaannya tak juga mendapat jawaban, Vin-vin menggoyang-goyang bahu Ivan dan bicara lebih keras.


"Eh? iya, apa? ada apa?"


"Ih.. Pak Ivan lagi kenapa sih?! kok dari tadi bengong terus!" kesal Vin-vin.


"Nggak... aku nggak kenapa kenapa kok. Kita sudah sampai di rumah, turunlah," Ivan menepikan mobilnya dan berhenti tepat di seberang rumah Vin-vin.


"Kok langsung pulang? kita nggak jalan-jalan dulu kemana gitu..." Vin-vin masih kekeh duduk di dalam mobil Ivan dan enggan keluar. Sekarang adalah hari libur, dan mereka berdua sedang jalan. Sayang banget kan kalau langsung pulang begitu saja padahal hari masih panjang.


"Aku sedikit nggak enak badan, kita jalan-jalan lain kali aja ya," pinta Ivan.


"Beneran lagi nggak enak badan? atau sudah malas jalan sama aku?" Vin-vin cemberut, bibirnya langsung mengerucut tanda dia sedang kesal.


"Tolong Vin! kali ini saja, kamu nurut nggak usah ngebantah!" ucap Ivan dengan suara yang sedikit keras.


Vin-vin tampak terkejut, baru kali ini pacarnya bicara dengan nada yang kasar padanya.


"Sorry... tadi kan aku sudah bilang nggak enak badan," Ivan memalingkan wajahnya dari Vin-vin, dia tak tahan dengan pandangan mata Vin-vin yang tampak sangat intens padanya.


"Pak Ivan bukan nggak enak badan! tapi ada yang sedang di sembunyikan dari aku!" Vin-vin keluar dari mobil dan membanting pintunya dengan keras sebelum berjalan menjauh meninggalkan Ivan.


"*****!" Ivan memukul stir mobilnya dengan kesal. "Semua ini gara-gara dia!"


Ivan mengambil ponselnya yang tergeletak di atas dashboard dan segera menelpon Dion, namun saat dering pertama berbunyi dia langsung menatikan ponselnya.

__ADS_1


"Mending gue chat aja," Ivan memutuskan untuk mengirim pesan pada Dion dari pada menelpon.


'Gimana?' tulisnya, singkat tanpa basa basi.


Sudah di baca tapi tak ada balasan.


Karena sepertinya Dion tak akan membalas pesannya untuk saat ini, Ivan memutuskan untuk kembali ke apartemen nya.


Selama perjalanan, hatinya sungguh tak tenang. Mimpi semalam mungkin memang sebuah pertanda, namun Ivan tak peka.


Seharusnya dia lebih berhati-hati setelah mendapatkan mimpi tentang Rina. Rina pasti mencoba memperingatkan Ivan lewat mimpi.


"Kenapa gue nggak waspada! padahal sudah mimpi tentang Rina semalam!" Ivan kesal, beberapa kali dia memukul setir mobilnya.


Setelah sampai di apartemen nya, dengan segera Ivan memarkir mobil di basement dan langsung masuk ke dalam lift untuk menuju kamarnya.


Hari ini dia tak akan keluar dari kamar apartemen nya dulu.


...***...


"Ris! sudahlah! biarkan Ivan hidup bebas. Kenapa sih Lo selalu menyusahkan Ivan!" bentak Dion sambil mencengkram kedua bahu wanita cantik itu.


"Gue nggak akan biarkan! Ivan harus jadi milik gue! Rina sudah nggak ada, gue yang harus menggantikan posisi dia! gue mau Ivan Lo jangan halangin!" wanita cantik itu berteriak emosi, teriakannya sangat keras dan sangat memekikkan telinga.


"Sadar Ris! Rissa! kita ada di rumah sakit! Lo harus jaga sikap Lo!" Dion mencoba menenangkan tantrum Rissa yang makin menjadi-jadi. Kali ini Rissa sampai memukuli dada Dion dan menendang kakinya. Dengan terpaksa Dion harus memeluknya dengan erat, memegangi tangan Rissa dengan erat agar dia berhenti meronta-ronta.


Keributan yang terjadi di lobi rumah sakit itu menarik perhatian banyak orang. Orang-orang yang sedang duduk di kursi tunggu yaang ada di lobi bahkan sampai berbisik-bisik, mereka kesal dengan teriakan yang keluar dari mulut Rissa.


Dion hampir menyerah saat tak juga bisa menenangkan tantrum Rissa, untunglah dua orang security rumah sakit mendekat dan membantu Dion menengkan Rissa.


Namun bukan Rissa namanya jika dia langsung menurut perintah orang, dia malah berteriak makin kencang hingga membuat salah satu security itu membekap mulutnya.


"Mohon jangan berteriak di area rumah sakit! Anda mengganggu pasien yang sedang beristirahat!" ucap si security.

__ADS_1


"Apa urusan gue! gue nggak peduli! lepasin gue! LEPASS!!!"


Karena meronta makin kencang, akhirnya Dion dan si security melepaskan Rissa, dan dengan cepat Rissa berlari keluar dari lobi untuk mengejar Ivan. Namun sayang Ivan sudah pergi jauh dengan mobilnya.


"Arrgghhhh!!! awas Lo Van! gue bakal cari Lo sampai dapat!" geramnya.


"Maafkan teman Saya Pak," Dion berulangkali menundukkan kepala untuk meminta maaf karena perbuatan Rissa membuat heboh lobi Rumah Sakit yang tadinya sangat lengang.


"Tolong Pak, temannya di beri tahu agar bisa menjaga sikap di rumah sakit. Kalau mau teriak-teriak pergi saja ke lapangan atau hutan atau tempat karaoke!" Pak Security tak dapat menutupi kekesalannya.


"Maaf Pak," hanya itu yang bisa Dion ucapkan sambil kembali membungkuk dan bergegas mencari Rissa. Dia takut Rissa benar-benar mengejar Ivan.


"Semoga Ivan bisa meloloskan diri dari Rissa," gumam Dion sambil harap-harap cemas.


Saat melihat Rissa marah-marah sendiri di area parkir, Dion baru bisa menghela napas dengan lega.


"Mending gue juga kabur dari pada nanti di berondongi pertanyaan oleh Rissa," dengan perlahan Dion berbalik dan meninggalkan area parkir.


"Dion!"


Dion terhenyak saat mendengar namanya di panggil, secara spontan dia menghentikan langkahnya namun tak lama dia langsung berjalan dengan cepat, dia ingin menghindar.


"Dion!" Rissa berlari mengejar Dion dan langsung berdiri menghalangi langkah Dion.


"Di mana Ivan tinggal sekarang? Lo bilang dia di luar negri! Lo bohong ya sama gue!" teriak Rissa.


"Ssttt!!" Dion meletakkan telunjuknya di depan mulut, "Lo bisa nggak sih, ngomong lebih pelan! Lo kaya lagi di hutan aja!"


"Gue nggak perduli! buru bilang Ivan ada di mana?!"


"Gue nggak tau!" Dion berlalu meninggalkan Rissa.


"Lo tau! Lo pasti tau! Lo jangan sembunyikan temen Lo itu! dia harus tanggung jawab atas kematian Rina!"

__ADS_1


"Denger ya Ris!" Dion menatap tajam mata Rissa, jari telunjuknya bahkan mengacung tepat di hidung Rissa. "Kematian Rina, nggak sepenuhnya salah Ivan! Lo juga ada andil di dalamnya? Tanggung jawab seperti apa yang Lo inginkan?! Ivan nikahin Lo?! jangan harap! mimpi aja Lo!" Setelah puas memarahi Rissa, Dion langsung berjalan menjauh meninggalkan Rissa yang masih membatu di tempatnya berdiri.


__ADS_2