
"Apa?! Axel sama Pak Ivan lagi tanding basket?" Vin-vin langsung bangun dari duduknya dan berlari menuju lapangan basket diikuti Mutiara.
Vin-vin penasaran, kenapa Pak Ivan dan Axel sampai melakukan itu? ada apa gerangan?
Sesampainya di lapangan basket, Vin-vin terkejut karena pinggiran lapangan sudah penuh murid-murid yang berdesakan menonton Pak Ivan dan Axel.
Seluruh murid di sekolah ini berdiri memutar mengitari lapangan basket, membuat Vin-vin tak dapat melihat apa yang terjadi di tengah lapangan.
"Gila! penuh banget! apa mereka pada nggak ke kantin buat makan?" keluh Vin-vin.
"Guru paling ganteng dan murid paling ganteng di sekolah lagi tanding basket, nggak mungkin nggak di tonton! jarang-jarang ini!" jawab Mutiara.
"Iya si..." gumam Vin-vin, "aku juga ingin lihat Pak Ivan main basket, pasti keren banget."
"Kalau aku cuma pengen lihat Axel..." gumam Mutiara sambil berusaha masuk ke dalam kerumunan demi bisa melihat pertandingan basket dua makhluk keren di sekolah.
Akhirnya dengan susah payah, Mutiara dan Vin-vin bisa menerobos masuk dan melihat Axel dan Pak Ivan.
Mutiara dan Vin-vin otomatis menganga melihat pemandangan indah di tengah lapangan basket.
Axel mengenakan kaos olahraga yang sudah basah kuyup dan lengannya di gulung hingga pangkal lengan, begitupun Pak Ivan yang tak kalah berkeringat.
"Kenapa bermain basket hanya berdua? bukannya satu tim itu 5 orang ya?!" tanya Vin-vin entah pada siapa, mungkin pada dirinya sendiri?
Untungnya, murid lelaki yang berdiri di sampingnya menjawab, "sebelumnya mereka bermain 3 on 3, tapi pemain lain sudah nggak kuat, mereka kelelahan dan akhirnya mundur. Entah kenapa Pak Ivan dan Axel tak mau berhenti bermain."
"Iya, bukannya sekarang sudah masuk jam istirahat ya?" Vin-vin melirik jam tangannya.
Vin-vin kembali menatap Pak Ivan dan Axel yang masih bermain basket. Mereka berdua tampak kelelahan, keringat membanjiri tubuh mereka bahkan rambut mereka basah kuyup seperti habis keramas.
Mereka sudah tampak lelah, namun entah kenapa belum juga mau berhenti bermain? apa yang sebenarnya terjadi?
Vin-vin melihat wajah Axel yang mulai kemerahan, tanda dia sudah sangat lelah. Bisa-bisa Axel pingsan.
Vin-vin paham betul, kulit putih Axel jika sudah berubah kemerahan seperti itu, itu berarti dia sudah tak vit lagi, dia bisa saja pingsan karena kelelahan.
Vin-vin harus menghentikan pertandingan ini.
Vin-vin berlari ke tengah lapangan dan merebut bola yang sedari tadi di driblle bolak balik oleh Axel dan Pak Ivan.
Kedua orang yang terlalu asyik bermain itu terkejut saat tiba-tiba Vin-vin muncul dan menginterupsi permainan mereka.
__ADS_1
"Sudah cukup main basketnya!"
"Vin-vin! jangan ganggu!" ketus Axel, dia terlihat kesal.
"Xel! kamu udah capek! kulit kamu sudah merah-merah begini! kamu mau berhenti main kalau sudah jatuh pingsan?" bentak Vin-vin sambil menatap tajam ke arah Axel.
"Tapi aku harus memenangkan pertandingan ini..."
"Nggak ada yang lebih penting dari pada kesehatanmu sendiri! ini cuma permainan!" Vin-vin melempar bola basket yang di pegangnya keluar lapangan, lalu menarik tangan Axel agar berjalan mengikutinya.
"Berarti permainan ini, Saya yang menang!" ucap Pak Ivan tiba-tiba membuat Axel menghentikan langkahnya.
"Pak!" Vin-vin menoleh ke arah Pak Ivan, kesal karena dia malah membuat Axel tak mau istirahat.
"Kamu, kalau mau ajak bertanding sama Saya seharian penuh pun bakal Saya ikutin Xel! paham maksud Saya kan?! Saya bukan orang yang gampang di ancam oleh anak ingusan macam kamu."
"Kali ini Saya ngaku kalah, tapi lain kali Saya pasti menang!" geram Axel.
Pak Ivan tersenyum miring, "tidak akan ada lain kali."
"Kalian ini ngomongin apa sih?! Sudah lah! ayo ganti baju mu! Basah semua ini..." Vin-vin menarik tangan Axel agar mengikutinya.
"Pak Ivan juga, buruan ganti baju, takut masuk angin! main basket juga jangan lupa waktu dong!"
"Sial!" geramnya lirih. Lalu dia pun ikut berjalan pergi menjauhi lapangan menuju ruang guru untuk mengambil baju ganti.
Saat dua pemain basket yang mereka tonton pergi, sontak semua murid pun membubarkan diri. Kantin yang tadinya sepi langsung ramai oleh murid-murid yang berebutan untuk makan karena jam istirahat hampir habis gara-gara mereka asyik nonton pertandingan basket barusan.
"Aku bisa sendiri! kamu makan aja sana, waktu istirahat sudah mau abis," Axel menarik tangannya dari genggaman Vin-vin dan berjalan cepat di depan.
"Kamu kenapa si Xel?" Vin-vin terus mengekori Axel yang tampak marah-marah sendiri.
"Ngomong dong! cerita sama aku! jangan diem aja tapi marah-marah."
Axel berhenti dan menatap Vin-vin yang sudah berdiri tepat di sampingnya.
"Nggak apa-apa, lupakan saja!"
Vin-vin cemberut.
"Oke, kalo gitu buruan ganti baju lalu kita ke kantin. Aku sudah lapar nih..." Vin-vin mengelus perutnya sambil memandangi Axel dengan tatapan memelas.
__ADS_1
"Aku mau mandi, pasti akan lama. Kamu ke kantin aja sama Mutiara." Lalu Axel masuk ke dalam toilet meninggalkan Vin-vin yang mematung di luar pintu toilet sambil manyun.
Akhirnya Vin-vin memutuskan pergi ke kantin, membeli beberapa roti dan dua cup pop mi untuk dirinya dan Axel. Setelah itu dia kembali ke tempat dia meninggalkan Axel. dan menunggunya di pintu keluar.
Dan saat Axel keluar, sontak dia terkejut karena mendapati Vin-vin masih berdiri di luar dan tangannya penuh dengan makanan.
"Kita makan di bawah pohon jambu itu yuk," ajak Vin-vin sambil menunjukkan dua cup pop mi.
Axel menghela napas, dia memang nggak akan pernah bisa marah pada gadis imut ini.
Dan kenapa dia harus marah? bukankah pertandingan tadi dia sendiri yang minta? Vin-vin bahkan tak tahu apapun tentang itu.
"Ayo deh."
"Yes!" Vin-vin melonjak gembira.
"Sini aku bawain, banyak banget sih makanan yang kamu beli..."
"Kamu kan habis bertanding basket, pasti banyak menguras tenaga, jadi butuh asupan makanan yang banyak juga kan?"
Axel tersenyum sambil merangkul pundak Vin-vin. Lalu mereka berdua duduk di bawah pohon jambu air beralaskan koran bekas dan memakan makanan yang sudah di beli Vin-vin tadi.
"Kita seperti sedang piknik ya Xel?"
Axel tertawa sambil melahap pop mi nya yang sudah terlanjur lembek dan dingin karena tak langsung di makan tadi.
.
Tanpa mereka sadari dari kejauhan Pak Ivan memperhatikan Vin-vin dengan kesal. Apalagi saat melihat dia tertawa lepas bersama Axel.
"Sial! kenapa juga gue jadi panas gini lihat mereka berdua seakrab itu!"
"Akh..." Ivan merasakan nyeri di kakinya, tadi dia terlalu memforsir kakinya untuk bertanding melawan Axel hingga sakit karena cidera di kakinya terasa kembali.
Untung saja tadi Vin-vin datang dan menghentikan pertandingan, kalau tidak, Ivan pasti sudah kalah.
Ivan berbalik sambil berjalan terpincang-pincang menuju ruang guru.
Axelio Pratama.
__ADS_1
Ivan Xanders