Oh My Teacher

Oh My Teacher
mimpi buruk.


__ADS_3

"Sejak kapan kamu suka nonton pertandingan olah raga?" Axel menyilangkan tangannya di dada sambil menatap Mutia yang tertunduk sambil bersandar pada dinding.


"Aku nggak suka, aku cuma temani Vin-vin, aku juga nggak tahu kalau Pak Ivan ajak Om Dion dan buat kita jadi seperti double Date."


"Ya kalau kamu suka, aku bisa ajak kamu nonton kapan-kapan," ucap Axel sambil memperhatikan wajah Mutia yang terus menunduk.


"Aku lebih suka nonton film horor, tolong jangan ajak aku nonton pertandingan olahraga lagi, aku trauma!"


Axel terkekeh, "kenapa trauma?"


"Takut diisengin lagi dan di kenalin sama Om Om."


Axel tertawa makin lebar, "makanya kalau pergi sama aku aja jadinya aman."


"Siapa bilang..." Mutia sengaja tak melanjutkan kata-katanya, sehingga membuat Axel penasaran.


"Maksudnya?"


"Siapa tahu kamu ngajakin aku buat kenalin cewek baru kamu, itu malah lebih bikin trauma..." gumam Mutia tapi Axel masih bisa mendengarnya dengan jelas.


Axel terdiam sambil terus menatap wajah Mutia yang masih tertunduk. Entah sejak kapan dia merasa ada sesuatu yang berbeda di harinya saat menatap wajah Mutia.


Suara cemprengnya yang sangat keras saat memarahi cowok-cowok yang menggoda Vin-vin selalu terngiang-ngiang di telinganya. Setiap waktu tanpa Axel sadari, dia selalu mencari tahu keberadaan Mutia. Saat melihat Vin-vin tapi tak ada dirinya pun dia menjadi penasaran.


Axel belum begitu yakin dengan perasaannya saat ini, namun saat melihat foto Mutia bersama lelaki yang tidak dia kenal, foto dengan senyum mengembang dan tampak bahagia, hati Axel berdebar. Dia merasa takut, takut Mutia juga akan meninggalkannya dan menyukai orang lain seperti Vin-vin.


Tapi mungkinkah ini perasaan suka? atau hanya pelarian karena Vin-vin memilih orang lain dari pada dirinya.


"Mut..." Axel meraih tangan Mutia dan menggenggamnya erat.


Saking terkejutnya, mata Mutia sampai terbelalak. Demi apa coba, cowok yang selama ini bertahta di hatinya, sekarang sedang menggenggam tangannya.


"Aku..." Axel terbata.

__ADS_1


"Aku nggak tahu apa yang sedang aku rasakan sekarang, aku nggak tahu perasaan ini benar atau hanya peralihan karena ditinggalkan Vin-vin. Kamu tahu kan, aku sudah bersama Vin-vin sejak kami umur 6 tahun sampai perasaan suka ku hanya di anggap sebagai perasaan sayang antar saudara atau teman oleh Vin-vin, aku terjebak dalam friend zone," Axel mengeratkan genggaman tangannya.


Mutia menatap Axel dengan mulut menganga tak percaya.


"Kamu... mau menungguku? menunggu sampai aku yakin dan nggak akan mengecewakan kamu... aku nggak mau kamu menjauh dariku."


Mutia yang masih tampak terkejut hanya bisa menganggukkan kepalanya beberapa kali, persis seperti burung pelatuk yang sedang membuat sarang di batang pohon.


"Jangan pergi-pergi tanpa sepengetahuanku, jangan jalan dengan cowok lain..."


Mutia menggelengkan kepalanya, dia masih tak percaya jika semua ini terjadi pada dirinya. Axel, lelaki yang dia dambakan selama ini sedang berdiri di depannya sambil menggenggam erat tangannya dan bilang agar dia menunggu sampai dia yakin dengan perasaannya.


"Menunggu seratus tahun pun, aku rela..." jawab Mutia terbata.


Axel tersenyum, "Nggak akan sampai selama itu lah Mut..." dia mengelus pucuk kepala Mutia dan mengacak-acak rambut halus Mutia yang tertata rapih sebelumnya.


Dan Itu sukses membuat kaki Mutia gemetar dan terasa lemas. Mutiara berharap saat seperti ini nggak akan berakhir terlalu cepat.


Saat sedang menikmati momen terindah dalam hidupnya, tiba-tiba Om Dion muncul dan tanpa permisi lewat di antara Axel dan Mutia membuat Axel dengan terpaksa menarik tangannya yang sedang asik bertengger di kepala Mutia.


"Asik.. bentar lagi makan-makan nih," Vin-vin tersenyum lebar sambil mengikuti langkah Dion .


"Maafin temen Saya, dia jomblo akut jadi sensi sama pasangan baru..." ucap Ivan sambil menepuk bahu Axel kemudian berlalu pergi mengikuti langkah Vin-vin.



...****************...


"Ivan, kau pasti bisa menjadi guru olah raga, aku yakin sekali. Walaupun harapan mu untuk menjadi atlet pupus bukan berarti hidupmu berhenti sampai di sini. Kamu bisa menjadi guru, melatih bibit-bibit baru untuk menjadi atlet basket yang hebat seperti dirimu." Seorang wanita cantik berambut panjang dan berwarna kecoklatan, berdiri tepat di depan Ivan yang sedang duduk merenung tak bersemangat di sebuah bangku taman.


"Benarkah?" Ivan menatap wanita cantik itu sambil mencoba tersenyum. Cedera kaki nya bertambah parah sehingga dia diistirahatkan dari tim basketnya, dan nampaknya akan sulit baginya untuk kembali bergabung dengan tim nya.


"Tentu saja!" wanita cantik itu menangkup kedua pipi Ivan dan mendekatkan wajahnya hingga kedua hidung mereka saling bersentuhan.

__ADS_1


"Dan aku akan selalu berada di sisi mu, apapun yang terjadi," lalu dengan lembut wanita itu mencium bibir Ivan.


"Rina..." gumam Ivan sambil membalas ciuman kekasihnya itu.


'KRIIIIIIIIIIING!!!!!'


Ivan terkejut karena suara telpon berdering, mimpinya tentang mantan tunangannya langsung buyar. Keringat dingin mengucur begitu deras di pelipisnya karena mimpi barusan. Jantungnya bahkan masih berdebar hebat karena mimpinya terasa begitu nyata.


"Ha... halo..."


"Kenapa Lo! kok gelagepan begitu! lagi nanggung ya sama si imut?" kelakar Dion dari sebrang telpon.


"Ada apaan sih Yon, Lo ganggu gue!" Ivan mengacak-acak rambutnya hingga kusut. Dia sangat kesal dengan sahabatnya itu yang sudah membuat mood nya makin buruk.


"Mana si Vin-vin? penasaran gue, lagi ngapain sih kalian?"


Ivan tak melihat wajah Dion tapi dia bisa tahu bahwa Dion sedang tersenyum lebar di sebrang telpon.


"Jangan gila! Lo pikir gue kaya si sinting Daniel!" kesal Ivan, dia bangun dari kasur empuknya dan berjalan perlahan menuju dapur untuk mengambil air minum, kerongkongannya terasa sangat kering.


"Hahaha... gue pikir Lo bakal macam-macam sama si imut."


"Nggak akan pernah sampai waktunya nanti! bisa-bisa gue di keroyok Axel dan kedua bokap Vin-vin," Ivan meneguk air nya hingga tandas.


Setelah menyapu sisa air yang ada di bibirnya dengan tangan kanannya,dia kembali berkata, "ada urusan apa Lo ganggu gue pagi-pagi di hari libur begini? mau ngajak nongkrong? gue lagi nggak mood nih. Gue mau seharian di rumah aja."


Ivan mengambil selembar roti tawar dari meja makan dan melahapnya.


"Astaga! gue hampir lupa mau kasih berita penting!"


"Berita apa?"


"Da-da! Amanda! dia kecelakaan dan sampai sekarang masih koma di ICU! niatnya gue mau ajak Lo buat nengokin dia, tapi kalau Lo lagi nggak mood ya..."

__ADS_1


"Kapan kita pergi?"


__ADS_2