
Vin-vin berjalan lunglai menuju kelasnya, setelah kepergian Ivan dan Rissa.
Entah kemana mereka pergi, Vin-vin tak tahu. Jarinya begitu tak sabar untuk menekan panggilan telpon, tapi dia tahu, Ivan pasti sedang sibuk berbicara dengan Rissa. Tapi Vin-vin sangat penasaran. Di pandangi nya nomer Ivan di layar ponselnya, jari telunjuknya pun sudah bersiap di dekat tombol panggilan, namun Vin-vin masih menunggu, entah menunggu apa.
"Vin!"
Suara panggilan dari Mutiara membangunkan Vin-vin dari lamaunan.
Vin-vin yang dari tadi menunduk karena terus menerus memperhatikan layar ponselnya, sekarang mendongak, menatap Mutia yaang berlari kecil ke arahnya.
"Vin! tadi aku denger, Teman-teman pada ngomongin Pak Ivan, katanya pacar Pak Ivan datang?" cerocos Mutia, penasaran.
"Rissa," gumam Vin-vin. "Nggak tau tuh, dia punya rencana apa," Vin-vin menyugar poninya, tampak sekali jika dia sedang gugup.
"Ada yang bilang, dia hamil! hamil anak Pak Ivan dan Pak Ivan nggak mau tanggung jawab!" bisik Mutia sambil mendekatkan tangan dan bibirnya ke telinga Vin-vin.
Vin-vin tersenyum smirk, "itu nggak mungkin! Rissa pasti hanya berbohong!" geramnya.
Vin-vin paling tau, jika Ivan bukan lelaki murahan yang gampang bercinta dengan wanita.
Buktinya, Vin-vin seringkali menggodanya, namun Ivan tetap bertahan dan tak goyah sedikitpun. Ivan beda! dia lelaki pilihan Vin-vin, tak mungkin salah!
"Tapi kamu tetap harus hati-hati, Vin! aku takut jika itu semua benar, kamu jadi stres nantinya! kamu harus mempersiapkan hati dari sekarang, jika ternyata-"
"Berisik banget, Lo! ah!" Ketus Vin-vin sambil berlari meninggalkan Mutia yang tampak terkejut karena bentakan Vin-vin barusan.
Vin-vin tak bisa berbohong, walaupun wajahnya tampak tenang, namun hatinya tidak demikian. Dia percaya pada Ivan, namun entah kenapa hatinya tetap merasa gundah.
Vin-vin yang tadinya berjalan menuju kelasnya, berputar arah menuju kantin.
"Aku butuh coklat!" gumamnya.
...****************...
"Apa sih mau Lo, Ris!" Ivan menghentakkan tangan Rissa. Mereka berdua sudah berada di taman yang tak jauh dari sekolah.
Sekarang Ivan nampak berkacak pinggang sambil menatap Rissa yang terlihat tenang dan senang. Dasar psycho!
__ADS_1
"Apa maksud Lo dengan bilang kalau Lo hamil! Lo gila, ya?!" bentak Ivan lagi. Menurutnya, sungguh tak pantas hal seperti itu di buat bahan candaan.
"Gue memang hamil, kok." Risa kembali merogoh tas tangannya dan mengeluarkan sebuah benda pipih berwarna putih.
Lalu Rissa menunjukkan dua garis merah yang menghiasi benda tersebut.
"See! Gue nggak bohong!"
Ivan melirik benda tadi, dia tak terkejut karena dia tahu wanita seperti apa Rissa itu. Yang membuat dia tak habis pikir adalah, kenapa Rissa berani memfitnah dia.
"Siapa laki-laki yang habis tidur denganmu!" ucap Ivan ketus sambil melipat kedua tangannya di dada.
"Kamu, siapa lagi?" Rissa tersenyum sambil mengerlingkan matanya.
"Jangan ngelawak!"
"Lo, nggak inget? kita dulu sering melakukannya kan? hahaha... Lo kira gue Rina, terus Lo tidur sama gue! hahaha... lucu banget!" Rissa terpingkal pingkal sambil mengangkat tangannya, menghapus air yang sedikit keluar di ujung matanya.
Rahang Ivan mengeras.
"Sering? nggak usah halu, Lo!"
"Ngomong-ngomong, gimana reaksi pacar ingusan Lo itu, kalau dia tau, pacarnya pernah tidur dan menghabiskan malam yang panas dengan gue..." bisik Risa sambil tersenyum smirk.
Tangan Ivan mengepal, rahangnya mengeras dan otot-otot di pelipisnya menyembul. Ivan benar-benar sekuat tenaga menahan tangannya supaya tidak memukul Rissa.
"Lo, tau? sampai sekarang belum ada satu cowok pun yang bisa menandingi kehebatan Lo pas di ranjang, gue ingin ngerasain nya lagi, Van..." Rissa mengelus lengan kekar Ivan dengan manja.
"Gue siap, kapanpun Lo mau," bisiknya lagi.
"Rissa!" Ivan sudah mengangkat tangannya yang mengepal. Dia hampir saja kehilangan kendali untuk memukul wanita gila yang ada di depannya ini.
"Lo, nggak usah munafik! Lo juga suka kan? Lo puas kan! Rinna mana mungkin bisa mengimbangi kemampuan Lo! dia itu lemah! gampang sakit! kalaupun kalian jadi menikah, Gue yakin, Lo langsung selingkuh atau minta cerai!" teriak Rissa.
"Jaga mulut Lo!" Ivan melotot marah sambil mengacungkan jari telunjuknya.
"Jangan sebut nama Rina dengan mulut kotor bau sampah itu!"
__ADS_1
"Ini terakhir kalinya, Lo bikin masalah, kalau sampai terulang lagi, Gue nggak akan tinggal diam!"
"Terus gimana nasib anak ini? dia butuh Lo!" teriak Rissa saat Ivan mulai berjalan menjauhinya.
"Minta tanggung jawab sama bapaknya!" ketus Ivan.
"Lo Bapaknya!"
"Jangan ngimpi!"
"Van!" Rissa berlari mengejar Ivan dan berhasil meraih tangannya.
"Van... please! bantu gue, yah..." Risa menggenggam jemari Ivan dan mendekatkan ke dadanya.
Namun dengan cepat, Ivan menarik tangannya. Dia jijik bersentuhan dengan wanita ini.
"Buat apa, gue bantu orang yang bikin susah hidup gue!" geramnya, sambil berlalu meninggalkan Rissa.
"Van! "
"Ivan! "
"Ivan Xander!"
Teriakan Rissa tak diindahkan Ivan, dia terus berjalan menjauhinya.
"Awas Lo, ya, mungkin hati lo kuat dan nggak terpengaruh dengan akting gue, tapi kita lihat saja, apa bocah ingusan itu sekuat LO!"
Rissa tersenyum lalu mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.
"Halo?"
"Halo, Dan... Lo di mana?"
"Kita ketemu di tempat biasa, bisa? gue mau ngobrol sama Lo, sama mau minta nomer HP bocah ingusan pacar Ivan itu."
"Rencana pertama gagal, percuma Lo pakai air kencing istri Lo buat bikin tespek ini bergaris dua! akh! gue sebel! gue butuh senang-senang sebentar. Lo bisa kan?"
__ADS_1
Rissa tertawa lantang, "Oke, Gue langsung otewe..."
#bersambung...