
'Kriing... Kriing..'
Ivan bangun dari tidurnya saat mendengar telponnya berdering. Saking terkejut dan terburu-buru, Ivan sampai jatuh dari ranjang.
"Aduuh..." Ivan mengusap kepalanya yang terasa sedikit sakit, untuk nggak sampai benjol.
"Halo? Dion?"
"Ternyata Lo nungguin telpon dari gue ya," walaupun Ivan tak melihat wajah Dion, dia bisa tahu jika Dion menyeringai di sebrang sana.
"Please Yon, jangan bikin gue penasaran!" Ivan memegangi pelipisnya yang terasa berdenyut-denyut. Entah karena kejedot barusan atau karena kelaparan. Sekarang sudah jam sepuluh malam sedangkan terakhir dia makan adalah jam 9 pagi sebelum berangkat menengok Amanda, itupun hanya makan selembar roti tawar.
Niat Ivan awalnya sepulang dari menjenguk Amanda dia akan makan dengan Vin-vin, tapi ternyata ada kejadian yang tak mengenakan karena secara tak sengaja Ivan bertemu dengan Rissa, orang yang selama ini dia jauhi.
Pertemuan tak sengaja itu membuat Ivan jadi tak napsu makan dan yang paling mengesalkan adalah Vin-vin jadi ngambek dan marah padanya.
Tak pernah sebelumnya, lebih dari dua jam Vin-vin tak menghubungi dirinya, namun hari ini Vin-vin belum menghubunginya sama sekali sampai malam. Sepertinya dia benar-benar marah pada Ivan.
"Rissa masih sama seperti dulu, dia bener-bener terobsesi sama Lo, Van!"
"Dia bukan terobsesi dia itu psycho!" kesal Ivan.
"Tapi Lo nggak kasih tahu tempat tinggal gue yang sekarang kan? Lo nggak cerita apa-apa ke dia kan?"
"Gila kali gue kalau sampai ngomong ke dia! Lo pikir sahabat macam apa gue ini?!" kesal Dion.
"Sorry bro, gue cuma masih shock. Sudah lebih dari setengah tahun gue nggak ketemu dia, gue pikir dia sudah nggak nyari gue lagi, ternyata masih sama aja..."
"Tapi Lo tetep harus hati-hati Van, dia makin gila! tadi aja dia teriak-teriak di dalam rumah sakit sampai security datang. Gilanya lagi dia nggak mau diam! bener-bener nggak tahu malu. Kok bisa ya, saudara kembar tapi sikapnya bertolak belakang begitu."
"Semoga aja dia nggak ketemu sekolah tempat kerja gue sekarang," gumam Ivan.
"Lo sudah kasih tahu Vin-vin?"
"Tentang apa?"
"Tentang si psycho Rissa lah! Emangnya Lo nggak pengen cerita tentang dia?"
"Gue dan Rissa nggak ada cerita, ngapain Vin-vin tahu!"
Dion menganggukkan kepalanya, "Kan kalau Lo cerita bisa meminimalkan masalah yang mungkin bakal muncul nantinya."
"Asal gue nggak ketemu Rissa, nggak akan ada masalah!" Ivan tampak sangat yakin saat mengatakannya, tapi dia tahu hatinya tak seyakin itu.
"Terserah Lo bro, gue ngantuk nih. Udah dulu ya," Dion pun menutup sambungan telponnya.
__ADS_1
Setelah melemparkan ponselnya ke ujung ranjang dan berniat melanjutkan tidur, perut Ivan malah berbunyi sangat keras. Dia sangat kelaparan tapi tak ada makanan di kulkasnya.
"Gue pesan nasi goreng aja pake Ko-Jek," kembali Ivan mengambil ponselnya dan mulai memesan makanan lewat aplikasi pemesanan online.
...***...
Pagi ini Ivan berangkat ke Sekolah dengan perasaan was-was. Semalaman dia tak bisa tertidur. Ivan sampai meggunakan masker medis untuk menutupi wajahnya, dan juga menggunakan topi baseball warna hitam.
Setelah sampai di sekolah, Ivan berusaha mencari Vin-vin. Tadi pagi sebelum berangkat, dia sempat menelpon Vin-vin namun tak di angkat, pesan yang dia kirim pun hanya di baca tak di balas. Sepertinya Vin-vin benar-benar marah.
Saat melihat seorang gadis yang sangat cantik yang dia cari-cari keberadaannya sejak tadi berjalan sendirian di koridor sekolah, Ivan langsung berlari kecil untuk mmendekat.
"Vin!" panggilnya lirih.
Namun Vin-vin tetap berjalan, dia tak menggubris panggilan Ivan sama sekali.
"Vin, tolong jangan ngambek lagi."
"Jangan ngomong sama aku di sekolah! katanya Pak Ivan takut hubungan kita ketahuan sama pihak sekolah!" ucap Vin-vin ketus.
"Ya tapi kamu jangan ngambek begini dong! kemarin seharian nggak telpon Saya, hari ini telpon dan chat Saya nggak di balas."
"Kenapa Pak Ivan nggak telpon atau chat nya itu kemarin sih! kan aku ngambeknya kemarin," kesal Vin-vin.
"Berarti sekarang sudah nggak ngabek dong?"
"Vi..." saat akan memanggil Vin-vin kembali, tiba-tiba koridor Sekolah menjadi ramai, banyak murid yang mulai berdatangan sehingga Ivan mengurungkan niatnya untuk memanggil Vin-vin.
'Kriing...' telpon Vin-vin berdering. Saat melihat nama yang tertera di layar, Vin-vin mendesah lalu menoleh ke arah Ivan yang terdiam di belakangnya.
Ivan memberi isyarat agar Vin-vin mengangkat telponnya, Vin-vin pun dengan ogah-ogahan mengangkat telpon darinya.
"Saya harus bagaimana supaya kamu nggak ngambek lagi?"
"Tau ah!" nada suara Vin-vin masih judes.
"Pulang Sekolah jalan-jalan? atau mau nonton?"
Vin-vin menggigit bibir bawahnya, mencoba menahan seyum yang hampir mengembang di bibirnya. Dia memang tak bisa marah dan ngambek terlalu lama dengan kekasih tampannya itu.
"Ya udah, nonton. Tapi bagaimana nnti kalau ada yang lihat?"
"Tenang saja, aku sudah pakai masker dan topi."
"Oh, jadi dari awal sudah punya rencana ya, makanya pakai masker dan topi?"
__ADS_1
"Iya dong! demi kamu," dusta Ivan, dia memakai semua itu sebenarnya agar dia merasa aman dari Rissa, namun jika kebohongannya membuat Vin-vin lebih senang biarkan saja Vin-vin menganggapnya seperti itu.
"Maafkan aku ya Vin," batin Ivan.
Setelah sepulang sekolah, seperti biasa, Ivan menunggu Vin-vin di pelataran kafe D'Best. Sesuai janji, Ivan akan mengajak Vin-vin untuk menonton film di Bioskop. Vin-vin bilang dia ingin nonton film Spider-Man terbaru.
Akhirnya sampailah mereka di bioskop yang di tuju, Vin-vin menutup seragamnya dengan sweater sedang Ivan tetap memakai kemeja lengan panjang yang di gulung hingga siku.
Ivan sudah menawarkan Vin-vin untuk berganti baju, namun Vin-vin tak mau.
"Kamu tunggu di sini ya, biar Saya beli tiket."
"Okey," Vin-vin mengangkat jempolnya tanda setuju.
"Oh iya, aku beli popcorn dan colla ya Pak."
"Ya, " Ivan pun melanjutkan langkahnua menuju counter penjual tiket masuk. Sedangkan Vin-vin pergi ke counter snack yang berada tak jauh dari tempat penjualan tiket.
"Popcorn karamel yang large 1, colla 2," ucap Vin-vin pada penjaga counter snack.
"Siap kaka," penjaga counter dengan sigap mengambil pesanan Vin-vin.
"Gue mau popcorn barbekyu 1," Tiba-tiba ada seorang wanita cantik menerobos antrian dan mendorong Vin-vin agar menjauh dari meja pemesanan.
"Sabar dong! antri!" Vin-vin menatap wanita itu dengan kesal. Dia terkejut saat melihat wajahnya karena terasa tak asing, tapi dia pernah melihatnya di mana?
"Kenapa Lo! baru pernah lihat cewek cantik ya?! " bentaknya.
Vin-vin memutar bola matanya dengan jengah, setelah mendapatkan makanannya Vin-vin langsung meninggalkan wanita tak punya attitude tadi.
"Sudah Vin?" tanya Ivan yang berjalan mendekati Vin-vin.
"Loh, Pak Ivan sudah?"
"Sudah dong, yuk masuk," ajak Ivan Ivan sambil meraih tangan Vin-vin.
"Lo sudah punya pacar baru? pantesan kemarin Lo cuekin gue!"
Ivan dan Vin-vin serempak menoleh.
"Cewek Lo murid SMA?! gila Lo ya? putus dari gue langsung cari yang muda-muda!" si wanita yang tadi meenyerobot antrian itu memandang Vin-vin dari atas sampai bawah dengan tatapan mencemooh.
Vin-vin tiba-tiba saja teringat dengan wajah wanita itu. Wajah itu dia lihat di kamar Ivan, di dalam bingkai foto yang tersimpan rapih di sisi ranjangnya.
"Dia Rina?" tanya Vin-vin sambil menatap Ivan yang nampak pucat.
__ADS_1
"Jadi selama ini Pak Ivan membohongi aku?!"