
"Gimana nih, Van!" Dion berdiri tepat di sebelah Ivan. Mereka berdua menatap ke dalam ruang ICU tempat Rissa di rawat melalui dinding kaca pembatas.
Ivan menarik napas dalam, sambil masih melipat kedua tangannya di dada.
"Sopan nggak sih, kita tinggalin dia begitu saja?" bisik Ivan.
Dion tak menjawab, dia hanya menggaruk garuk kepalanya yang tidak gatal.
Kemarin, Rissa terjatuh dan menggelundung dari lantai dua. Kepalanya menghantam ujung tangga dan banyak mengeluarkan darah. Tampaknya Rissa gegar otak hingga tak sadarkan diri hingga hari ini.
Ivan dan Dion, yang tadinya akan pulang, sontak mengurungkan niat mereka dan langsung menemani orang tua Rissa di Rumah Sakit.
Ivan mengira, Rissa bakal sadar dan dia akan kembali untuk menemui Vin-vin, namun nyatanya Rissa belum sadar juga hingga sekarang. Ivan jadi serba salah.
"Kalian sudah makan?" tanya Mommy Rissa yang tiba-tiba muncul.
"Sudah Mom," jawab Dion.
"Bagaimana Rissa, Mom?" tanya Ivan penasaran.
Mommy menggelengkan kepalanya, "kata dokter, ada pembuluh darah yang pecah di sekitar tulang tengkorak bagian dalam..." Mommy menarik napas panjang.
"Kemungkinan terburuk adalah kerusakan otak permanen-" Mommy menutup wajahnya dengan kedua tangan dan mencoba menahan isak tangisnya.
"Mommy sudah kehilangan Rina, dan sekarang Rissa pun sedang berada di ambang kematian... Mommy.. nggak sanggup, Van..." lirihnya.
Ivan mendekat dan memeluk Mommy, mencoba menenangkan Mommy yang tampak sangat menderita dan sedih.
"Kita doakan yang terbaik untuk Rissa, Mom..." ucap Ivan.
Mommy hanya mengangguk sambil terus terisak.
Ivan melirik Dion, dan di balas dengan senyum kecut oleh Dion. Dion menaikkan kedua alisnya seolah berkata, "mau bagaimana lagi?"
Kriiing....
Tiba-tiba ponsel Ivan berbunyi, Ivan pun pamit untuk memgangkat telpon dan berjalan menjauh dari ruang tunggu.
"Mutia?" gumam Ivan saat membaca nama yang muncul di layar ponselnya.
__ADS_1
"Halo Mu-"
"Halo? Pak Ivan lagi di mana sih! Vin-vin mau pergi ke Singapore, Bapak tau nggak?!" cerocos Mutia, memotong ucapan Ivan.
"Hah? apa?" ucapan Mutia yang tiba-tiba, belum bisa di cerna oleh Ivan.
"Maksudnya gimana, Mut?" ulangnya.
"Vin-vin mau pindah sekolah ke Singapore! hari ini hari terakhirnya, besok dia sudah berangkat! Pak Ivan mau membiarkan Vin-vin pergi begitu saja? ada apa sih dengan kalian berdua? kok Vin-vin sampai nekat pergi kayak gini? kalau ada masalah tuh, cepet di selesaikan biar nggak berbuntut panjang..."
Ivan mematikan ponselnya saat Mutia masih nyerocos panjang lebar.
"Vin-vin mau pergi? dia mau pindah sekolah?" gumam Ivan masih tak percaya.
Ternyata kemarahan Vin-vin tak main-main. Dia sampai memutuskan untuk meninggalkan Ivan tanpa berpamitan.
Ivan mengtupkan giginya, tangannya pun mengepal. Lalu dengan cepat dia berlari menuju ruang ICU untuk menemui Mommy dan Dion.
"Telpon dari siapa?" tanya Dion penasaran karena dia melihat raut wajah Ivan yang tampak aneh.
"Yon, gue harus pulang! secepatnya!" ucap Ivan.
Lalu Ivan mengambil jaketnya yang tergeletak di kursi tunggu dan buru-buru memakainya.
"Apa nggak bisa besok saja, Van. Siapa tau Rissa sadar sebentar lagi," pinta Mommy.
"Maaf Mom, ini sangat penting. Nanti kalau urusan Ivan sudah selesai, Ivan bakal ke sini lagi, menjenguk Rissa." Tanpa menunggu jawaban dari Mommy, Ivan langsung berlari menuju pintu keluar Rumah sakit, diikuti Dion yang masih kebingungan dan tak mengerti.
"Hey! biar gue yang bawa mobil!" Dion menghentikan Ivan yang hendak duduk di kursi kemudi dan mengambil alih kursi tersebut.
"Lo kelihatan nggak fokus! gue nggak bisa ngebiarin Lo bawa mobil! bahaya!"
"Tapi yang cepet ya, Yon! kita harus cepat!" Ivan langsung berlari menuju kursi penumpang yang ada di sebelah Dion dan mendudukinya.
"Ada apaan, sih?" tanya Dion bingung sambil mulai menyalakan mesin mobil.
"Vin-vin mau kabur ke Singapore demi menjauhi gue! nggak boleh Yon! nggak boleh terjadi! gue nggak mau kehilangan semua cewek yang gue sayang!" gumam Ivan setengah kalut.
Tanpa banyaak bertanya lagi, Dion langsung tancap gas.
__ADS_1
***
Ivan dan Dion, sampai di kota mereka malam hari, sudah pukul setengah sembilan malam dan Ivan tetap minta di antarkan ke rumah Vin-vin. Dia tak mau menunggu sampai besok hari karena takut tak ada kesempatan untuk bisa bertemu lagi dengan Vin-vin.
Dion pun menurut, dengan tenang dia membawa mobil dan mengantar Ivan sampai ke tempat yang dia tuju, walaupun sebenarnya dia sudah tak sanggup menahan lapar karena sejak pagi dia belum sempat makan dengan benar.
Beberapa kali di tengah perjalanan, Dion meminta rehat sebentar untuk membeli makan, namun Ivan tak mengijinkannya dan nekat akan membawa mobil sendiri jika Dion berhenti.
Dion memaklumi, jika temannya ini sedang kalut, makanya dia tak bisa marah ataupun kesal.
"Di sini ru-" belum selesai Dion bicara, Ivan sudah ngeloyor keluar dari mobil dan berlari kecil menuju gerbang rumah berlantai dua milik keluarga Vin-vin.
Dengan tak sabar, Ivan memencet tombol bel rumah Vin-vin. Dia menekannya berulang kali hingga seseorang membukakan pintu untuknya.
"Ada apa kemari?" tanya sosok yang muncul, membukakan pintu pagar untuk Ivan.
"Om... Saya mau ketemu Vin-vin..." pinta Ivan. Dia memohon dengan sungguh-sungguh pada Aldrich, walaupun dia bisa melihat mimik wajah Papi Vin-vin yang jelas sekali tampak marah padanya.
"Buat apa?!"
"Saya harus bicara dengan Vin-vin, Om!"
"Tekad Vin-vin sudah bulat! dia nggak akan mengurungkan niatnya!" ketus Aldrich.
"Izinkan Saya bicara sebentar, Om. Biar Saya bisa meyakinkan Vin-vin," balas Ivan tak mau kalah.
Aldrich terdiam sambil terus menatap Ivan.
Aldrich tau, jika Ivan sangat serius. Dia tidak main-main dan benar-benar menyayangi anak perempuannya. Tapi mengingat Vin-vin yang tampak terluka karena perbuatannya di masa lalu, entah kenapa Aldrich ikut kesal dan malas untuk memberikan restunya.
"Saya mohon, Om!"
"Vin-vin nggak di sini, dia menginap di rumah Bang Kevin! di sana juga, Lo nggak bakal bisa ketemu!" jawab Aldrich.
"Lalu bagaimana Saya bisa bertemu Vin-vin? Saya mohon Om, bantu Saya," pinta Ivan.
"Saya tau Saya salah, karena nggak jujur. Tapi bagaimana mungkin Saya bisa bercerita sesuatu yang benar-benar memalukan bagi Saya dan Saya ingin lupakan! Saya hanya ingin Vin-vin melihat Saya sebagai lelaki yang pantas untuknya, bukan lelaki menjijikan..." ungkap Ivan panjang lebar.
Aldrich hanya diam, dalam hati dia juga meng-iya-kan ucapan Ivan. Dia pun sama dengan Ivan saat mendekati Luci. Ya, walaupun Luci tau siapa dirinya, namun Aldrich tetap berusaha menjadi yang terbaik di mata wanita incarannya itu.
__ADS_1
"Besok, Jam 12, Vin-vin harus sudah chek in, jadi sebisa mungkin kau tunggu dia beberapa jam sebelumnya di Bandara." Lalu Aldrich masuk dan menutup pintu pagarnya dengan kencang.
"Baik, Om!"