
Vin-vin memandangi unit apartemen yang di tinggali Ivan. Dari luar tadi gedung bertingkat itu nampak nyaman dan asri.
"Pak Ivan tinggal sendirian?" tanya Vin-vin saat Ivan mulai memutar kenop pintu ruang apartemennya.
"Iya, kenapa?"
"Eh.. hehe.. nggak apa-apa." Vin-vin merasa sedikit gugup sebenarnya.
Dia nggak berpikir sebelumnya kalau Pak Ivan tinggal sendirian, berarti mereka hanya berduaan dong?
Tapi Pak Ivan bukan lelaki macam itu kan?
Ivan memandang Vin-vin, sepertinya dia sadar pada apa yang sedang berkelebat di kepala murid nya itu.
"Buang pikiran-pikiran anehmu itu! Saya bukan lelaki murahan." Akhirnya pintu ruang apartemennya terbuka.
"Ayo masuk, atau kamu mau pulang saja? Saya bisa panggilkan taksi."
"Kan aku belum mulai masak juga." Vin-vin langsung menerobos masuk melewati Ivan yang masih berdiri di ambang pintu.
Ivan hanya tersenyum, dia pun mengikuti Vin-vin tanpa menutup pintu ruang apartemennya. Ivan sengaja membiarkannya terbuka, agar Vin-vin merasa nyaman.
Vin-vin berhenti sejenak sambil memandangi ruang pribadi gurunya itu, "Pak Ivan rapih juga, ku pikir Pak Ivan itu orangnya berantakan."
"Enak aja!" Ivan melepaskan jaketnya dan menggantungkannya di belakang pintu.
"Pantry ada di sebelah kananmu, saya mau ganti baju dulu." Ucap Pak Ivan sambil berjalan menuju kamar tidurnya yang tak bersekat. Dia mengambil kaos dan sebuah celana cargonya lalu masuk ke dalam kamar mandi.
Vin-vin mengangguk sambil berjalan menuju pantry dan mulai menata bahan makanan yang di belinya di dalam kulkas milik Ivan.
"Pak Ivan mau makan apa? aku bikinin."
"Terserah." Jawab Ivan dari dalam toilet.
"Suka makanan spaghetti bolognese? aku bikinin itu aja ya yang cepet."
"Ya."
Dengan semangat 45 Vin-vin langsung meng-eksekusi spaghetti yang baru di belinya.
Dia langsung merebus air dalam panci dan memasukan segenggam pasta setelah airnya mendidih.
Ivan keluar dari kamar mandi dengan menggunakan kaos oblong warna biru tua. Tanpa sengaja dia memandangi Vin-vin yang sedang asyik berjibaku di mini pantry nya yang tak pernah terjamah sebelumnya.
Tanpa dia sadari bibirnya tersenyum.
"Sudah jadi?" tanyanya sambil mengampiri muridnya yang tampak sibuk.
"Belum, ni lagi rebus pasta dulu. Aku mau ungkep ayam juga, biar nanti bisa di taruh freezer lalu kalau Pak Ivan mau makan tinggal goreng aja jadi nggak repot.
__ADS_1
Itu ikan dan udang kalau Pak Ivan nggak bisa olah, cukup di cemplungin ke tepung bumbu lalu goreng, udah enak dan praktis. Tepung bumbu instannya aku taruh di sini ya." Vin-vin menunjukkan sebuah lemari kotak yang ada di atasnya.
Ivan menatap Vin-vin dengan takjub, "kamu sudah biasa ya kerja di dapur? aku pikir kamu anak manja yang sukanya cuma jalan-jalan sama dandan ala-ala artis Korea."
"Papahku itu chef terkenal, aku sudah biasa bantuin dia di dapur. Dan aku juga suka banget masak jadi ini bukan masalah." Vin-vin menoleh untuk menatap gurunya yang sedang berdiri di sampingnya.
"Hebat kan aku? pacarable banget kan? cantik, pinter masak, pinter ngurus rumah nggak manja dan yang paling penting jarang dandan jadi Pak Ivan nggak akan boros buat beliin aku skincare," ucap Vin-vin sambil nyengir kuda.
Ivan memutar bola matanya sambil terkekeh. Tanpa bicara apapun dia berjalan dan duduk di sofa.
"Ehh... di ajakin ngomong malah kabur!" Vin-vin pura-pura marah tapi senyum mengembang lebar di bibir mungilnya.
Tak berapa lama kemudian spaghetti buatan Vin-vin matang, dia pun meletakkannya di sebuah piring lebar berwarna putih.
Dia tersenyum puas dengan hasil masakannya.
"Pak Ivan pasti bakal takjub dan langsung jatuh cinta padaku..." gumam Vin-vin.
"Pak, ayo makan." Vin-vin pun mendekati gurunya yang tampak anteng di sofa.
"Pak?" Vin-vin menatap gurunya yang ternyata malah tertidur di sofa. Ponselnya bahkan ada di tangannya dan hampir terjatuh. Buru-buru Vin-vin meletakkan piring spaghetti nya di atas meja lalu mengambil ponsel milik Pak Ivan.
Saat tak sengaja memencet tombol power, muncullah gambar seorang wanita cantik di layarnya yang menyala.
Vin-vin terkejut, dia bahkan sempat terdiam membeku di tempatnya.
Vin-vin menarik napasnya berusaha menenangkan diri, lalu dengan perlahan dia meletakkan ponsel milik gurunya itu di atas meja.
Lalu Vin-vin bangun dari duduknya, kepalanya menoleh ke sana kesini mencari sesuatu.
Dan pandangannya terpaku pada sebuah pigura kecil yang ada di atas nakas di dekat ranjang Pak Ivan. Dengan perlahan Vin-vin mendekat dan melihat foto yang ada di sana.
"Wanita itu lagi..." gumamnya.
Kali ini Vin-vin jadi yakin kalau wanita itu adalah tunangan Pak Ivan, guru pujaannya, cinta pertamanya.
Semangat Vin-vin seketika menguap, tubuhnya terasa lemas dan tak bertenaga. Vin-vin ingin segera pulang dan menangis di kamarnya.
"Vin?" Panggilan Pak Ivan membuyarkan lamunan Vin-vin. Dengan segera dia berjalan mendekati Pak Ivan.
Senyum sengaja dia munculkan untuk menutupi ke gundahan hatinya.
"Pak Ivan... sudah bangun?" tanyanya.
"Maaf ya, saya ketiduran. Semalam saya nggak bisa tidur." Ucap Pak Ivan sambil mengusap-usap wajahnya yang masih tampak mengantuk.
"Pak Ivan mau aku buatin kopi?" tanya Vin-vin sambil berlalu menuju pantry. Dia tak mau wajah sendunya di lihat Pak Ivan.
"Boleh juga, makasih ya."
__ADS_1
"Ya..."
"Ini spaghetti nya? boleh saya makan?"
"Ya boleh lah, kan aku buat itu memang untuk di makan." Vin-vin muncul dari pantry sambil membawa secangkir kopi hitam lalu dia letakkan di atas meja persis di depan Pak Ivan.
"Kamu nggak makan?"
Vin-vin menggeleng, "sudah kenyang."
"Kenyang? makan apa? dari tadi kan kamu belum makan apa-apa." Pak Ivan mulai menyendok spaghetti dengan garpunya, lalu menyuapkannya ke dalam mulut.
"Enak?" tanya Vin-vin.
Pak Ivan manggut-manggut sambil tersenyum dan menatap Vin-vin, "enak banget!"
Vin-vin tersenyum sekejap, lalu wajahnya berubah sendu lagi.
Ivan nampaknya sadar, setelah menghabiskan makanannya dia menatap Vin-vin dan bertanya.
"Ada apa?"
"Hah? kenapa?"
"Ada apa? kenapa wajahmu berubah sedih begitu? perasaan dari tadi kamu ceria terus."
"Anu.. itu.. tentang ucapan Pak Ivan kemarin..."
"Ucapan yang mana?"
"Tentang... tunangan... apa benar Pak Ivan sudah bertunangan?" Vin-vin tertunduk tak berani menatap mata guru pujaannya. Tatapannya sibuk memandangi jari-jari nya yang tampak gemetar.
Ivan menghela napas, "Iya."
Vin-vin tersentak dan menatap Ivan, matanya bahkan membola. Dia masih tak bisa percaya.
"Sekitar dua tahun yang lalu, saya bertunangan. Namanya Clarina."
"Oh..." gumam Vin-vin, suaranya bahkan tak terdengar karena tercekat di tenggorokannya.
Matanya langsung terasa panas bahkan sudah ada air yang menggenang di sana.
"Tapi... Rina meninggal setahun yang lalu..." sambung Ivan.
"Apa?"
.
#Buat readers yg selalu, like komen dan kasi vote.. i lophe u sekebon duren .. muah muah... 😘😘😘😘
__ADS_1