Oh My Teacher

Oh My Teacher
Tepat waktu.


__ADS_3

Vin-vin memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas sekolah setelah Axel menutup sambungan telponnya.


"Siapa yang telpon?" tanya Ivan, dia baru saja sampai di pelataran cafe D'Best dan berhenti tepat di depan Vin-vin berdiri.


"Axel, dia tanya siapa yang mengantar aku pulang," Vin-vin menerima helm yang di berikan Ivan lalu memakainya.


"Lalu kamu jawab apa?"


"Ya jawab Pak Ivan yang antar lah, memangnya harus jawab apa?" Vin-vin langsung naik dan duduk di jok belakang motor Ivan.


"Ayo berangkat," sambungnya sambil melingkarkan tangannya di perut Ivan.


Ivan tersenyum, dia puas setelah mendengar jawaban Vin-vin. Sebelumnya Ivan merasa Axel adalah saingan yang berat karena dia ganteng, masih muda, pintar dan kaya pula. Tapi melihat Vin-vin yang tak memperdulikan semua itu, Ivan makin merasa tenang.


Konyol sekali Ivan yang sudah berusia 25 tahun merasa tersaingi oleh remaja berumur 17 tahun.


"Ayo berangkat Pak," Vin-vin mencubit perut Ivan, "kok malah ngelamun."


"Oh iya... maaf," Ivan terbangun dari lamunannya kemudian mulai memutar kontak motor sportnya. Dengan perlahan Ivan mulai menjalankan motor meninggalkan cafe.


"Kamu mau aku antar pulang langsung atau mau ke mana dulu?"


"Ihh kaya nggak biasanya aja, jelas ke apartemen Pak Ivan dulu lah," cebik Vin-vin.


"Aku nggak ada makanan, kulkas juga kosong. Mau beli makanan dulu atau nanti mau pesen aja?"


"Hmm... kebiasaan! pesen aja lah."


Ivan tersenyum lagi. Akhir-akhir ini dia merasa sangat bahagia bisa bersama Vin-vin. Rasanya perasaan hampa yang selama ini menaungi dirinya setelah kepergian Rina, mulai memudar.


Hatinya kini penuh kebahagiaan karena keberadaan Vin-vin.


"Maafkan aku Rina, karena bisa merasa bahagia setelah kepergiaanmu..." batinnya.


Tiba-tiba ingatannya terbang ke masa lalu, saat Rina meninggal dan semua orang menyalahkan dirinya atas kematian tunangannya itu.


Dada Ivan langsung terasa nyeri jika mengingat kejadian itu, perasaan bersalah kembali menghantui dirinya. Benarkah dia penyebab kepergian Rina? sampai sekarang pertanyaan itu terus menghantui dirinya membuatnya enggan untuk dekat dengan wanita lain setelah kepergian Rina.


Tapi kemunculan Vin-vin merubah segalanya, dia bisa kembali merasa bahagia, dan sedikit melupakan rasa bersalahnya.

__ADS_1


"Awas Pak Ivan!" Teriakan Vin-vin membuyarkan lamunan Ivan.


Spontan Ivan menginjak pedal Rem nya dan membelokkan motornya agar tak menabrak mobil yang tiba-tiba muncul dan menghalangi jalannya.


"Apa-apaan mereka! kenapa tiba-tiba pindah jalur!" kesal Ivan. Untung dia bisa mengendalikan motornya sehingga tak terjadi hal yang buruk.


Ternyata mobil yang tadi menghalangi laju motor Ivan ikut berhenti. Tiga orang berbadan kekar dengan lengan di penuhi tato, turun dan berjalan mendekat ke arah Ivan dan Vin-vin.


"Pak... kenapa orang-orang itu? apa mereka marah?" tanya Vin-vin lirih. Vin-vin tampak ketakutan, bagaimana tidak, tiba-tiba saja ada tiga orang seperti preman mendekati dirinya dan Pak Ivan.


"Seharusnya aku yang marah! mereka yang menghalangi jalan! kecuali memang niat mereka dari awal adalah kita." Ivan merasa ada yang tak beres. Apalagi sepertinya mereka sengaja menunggu di tempat sepi saat menghadang Ivan.


"Sial! aku keasyikan melamun sampai tak sadar sedang diikuti!"


Yang menjadi pertanyaan besar di hati Ivan adalah siapa orang-orang ini, lebih tepatnya siapa yang menyuruh mereka?


"Siapa kalian?!" tanya Ivan dengan suara yang tegas. Dia tak mau tampak resah agar para preman itu tak merasa menang. Walau sebenarnya hatinya sangat tak tenang. Mungkin kalau dua orang Ivan masih bisa melawan, ini ada tiga orang dan mereka semua tampak ahli dan suka melakukan kekerasan. Di tambah ada Vin-vin yang harus dia lindungi. Dan jika kemungkinan terburuk Ivan kalah, apa yang akan mereka lakukan pada Vin-vin?


"Vin..." bisik Ivan lirih.


"Kenapa Pak?" Vin-vin bersembunyi di balik tubuh Ivan, dia tampak sangat ketakutan.


"Aku nggak mau! aku nggak mau ninggalin pak Ivan!" tolak Vin-vin.


"Vin! sekali ini saja, tolong nurut dan cepat pergi, sejauh-jauhnya. Ke tempat ramai atau jika ada taksi langsung naik dan pulang!"


Vin-vin menggeleng keras. Mana mungkin dia meninggalkan kekasih yang paling dia cinta dalam kesulitan.


"Kayaknya bener ini orangnya," salah satu preman itu menyeringai.


"Yang cowok langsung hajar, kalau yang cewek biar gue yang amankan, hahaha..."


Ketiga preman itu tertawa gelak-gelak.


Ivan geram, jangan sampai preman-preman sialan ini menyentuh Vin-vin walaupun hanya seujung jari.


Ivan langsung pasang badan berdiri tepat di depan Vin-vin dan menyembunyikannya di belakang tubuhnya.


"Haaaahh!!!" ketiga preman itu berteriak kencang saat berlari menghampiri Ivan sambil melayangkan bogem mentah.

__ADS_1


"Cepat pergi Vin!" Dengan cepat Ivan mendorong Vin-vin agar menjauh agar dia bisa melawan serangan dari para preman tanpa khawatir Vin-vin akan terkena pukulan yang salah sasaran.


Ivan bisa menangkis serangan seorang preman sambil memukul salah satu preman lainnya, namun Ivan tak dapat mengelak dari serangan preman yang ke tiga, mereka sengaja menyerang secara bersamaan karena mereka tau Ivan bakal kewalahan melawan tiga orang sekaligus.


Perut Ivan menjadi sasaran bogem mentah, membuat Ivan terdorong kebelakang. Nyeri luar biasa di rasakan Ivan di ulu hatinya.


Lalu preman yang lain mengambil sebuah papan yang tergeletak di pinggir jalan dan memukul Ivan hingga papan itu terbelah menjadi dua.


"Pak Ivan!!" Vin-vin menangis sambil berlari mendekati Ivan, walaupun Ivan sudah menyuruh dia untuk lari sejauh-jauhnya tapi Vin-vin tak kuasa. Dia tak bisa meninggalkan Ivan di sana sendiri.


"Lo ikut gue aja," seringai si preman sambil menarik Vin-vin.


Ivan yang sudah kepayahan, melihat Vin-vin akan di bawa oleh salah satu preman itu langsung mencegahnya. Dia berusaha memukul tapi tenaganya sudah habis, akhirnya Ivan ambruk persis di depan Vin-vin.


'Tin! tin! tin!'


Segerombolan motor gede berhenti tepat di sebelah motor Ivan, dan pengemudinya langsung turun dan menyerang ketiga preman itu.


"Axel..." Vin-vin terkejut namun juga merasa lega karena Axel datang bersama teman-temannya dan menolong Ivan.


"Kamu nggak apa-apa Vin?" Axel mendekati Vin-vin lalu memeluknya.


"Nggak apa-apa tapi Pak Ivan..." Vin-vin terus menangis dalam pelukan Axel.


"Nggak apa-apa, kita bawa Pak Ivan ke rumah sakit setelah aku beresin preman-preman ini!" geram Axel.


"Vin-vin!"


Vin-vin dan Axel menoleh ke arah suara yang memanggil nama Vin-vin.


"Om Bobby!" Vin-vin tersenyum lega. Dia memang sempat menghubungi sahabat Papi nya yang seorang pengacara. Dan ternyata Om Bobby langsung tanggap dan datang secepat kilat membawa dua orang bodyguard.


Ternyata teman-teman Axel sangat bisa di andalkan, ketiga preman itu berhasil di lumpuhkan.


"Om... sepertinya Saya tahu siapa yang menyewa preman-preman ini untuk menyerang Pak Ivan dan Vin-vin," ucap Axel.


"Ok, kita bicarakan saja di kantor polisi."


Om Bobby menatap bodyguard nya, "bawa mereka bertiga!"

__ADS_1


"Siap bos!"


__ADS_2