Oh My Teacher

Oh My Teacher
Ingin menikah secepatnya.


__ADS_3

"Barang-barang kamu cuma ini aja, Van?" tanya Mama Luci sambil memasukkan pakaian Ivan kedalam paperbag.


"Iya, Ma," Ivan menurunkan kakinya secara perlahan. Kini dia duduk di ranjangnya sambil memperhatikan Mama Luci yang sedang sibuk beberes.


"Om Aldrich sama Vin-vin kemana, Ma?" tanyanya, karena sejak bangun tidur, Ivan hanya melihat Mama Luci yang sibuk berbernah.


"Mereka sedang cari sarapan," jawab Mama Luci sambil terus beberes.


"Mama, nggak ikut sarapan?" Ivan berusaha menggerakkan kakinya perlahan.


"Auch! ternyata sakit juga," gumamnya.


"Jangan di paksakan, tadi Vin-vin bilang akan membawakan kruk."


"Wah, terimakasih, Ma..." ucap Ivan.


"Oiya, selama kamu belum bisa menggerakkan kaki dengan leluasa, sebaiknya kamu tinggal di rumah kami..."


"Hah? eh, maaf, gimana Ma? Saya takut salah dengar..." Dengan wajah bahagia yang tak bisa di tutupi lagi, Ivan menatap Mama Luci sambil tersenyum lebar.


"Biasa aja mukanya, nggak usah lebar gitu senyumnya!" Tiba-tiba pintu terbuka dan Papi Al muncul, dan di belakangnya Vin-vin mengikuti sambil membawa sepasang kruk.


"Ini kruknya, di coba dulu, Pak..." Vin-vin mendekati Ivan sambil menyerahkan sepasang kruk padanya.


Ivan yang mendengar ucapan Vin-vin hanya menatapnya dengan mata sedikit melebar.


"Masa di depan Mama sama Papi, kamu manggil aku 'pak'," bisik Ivan pada Vin-vin.


"Terus aku harus manggil apa dong?" jawab Vin-vin.


"Panggil apa gitu, 'sayang' juga nggak apa-apa, kan?" usul Ivan sambil tersenyum tipis.


Vin-vin mencibir dan di balas senyum lebar oleh Ivan.


Ivan benar-benar merasa bahagia, ternyata rencana Mutia luar biasa sukses. Ivan harus mentraktir Mutia makan sepuasnya.


Ivan menatap kedua orang tua Vin-vin, lalu menatap wajah manis kekasihnya dan akhirnya membulatkan tekad agar kebahagiaan ini berlangsung selamanya tidak hanya sementara.


Takut, Vin-vin akan merubah keputusannya karena Vin-vin masih tergolong gadis yang labil, Ivan mendekati kedua orang tua Vin-vin yang sedang ngobrol di sofa.


Dengan susah payah, menggunakan kruk yang tak pernah dia pakai sebelumnya, dia berjalan menghadap kedua orang tua gadis pujannya itu.


"Ma, Pi... Ivan mohon restunya karena Ivan ingin secepatnya menikahi Vin-vin."


"Pak!" Vin-vin terkejut, diapun berjalan mendekati Ivan yang sedang berdiri kaku dengan di bantu kruknya.


"Ngomong apa sih! lagi sakit juga!" gerutu Vin-vin.


"Aku takut, kamu berubah lagi! aku nggak mau kehilangan kamu lagi!" ucap Ivan tegas.


Wajah Vin-vin seketika merona, dia tak bisa berkata-kata.


"Kapan?" tanya Papi Al.


"Eh? kenapa Om? eh, Pi?"


"Kapan, rencana pernikahannya? kamu harus pikirkan dengan matang!" ucap Papi.


"Akan lebih baik, nunggu kaki kamu sudah sembuh. Nggak nyaman kalau harus berada di pelaminan tapi masih pakai kruk," lanjut Mama Luci.


"Ma? Pi?" Vin-vin terkejut dengan jawaban to the point kedua orang tuanya. Mereka berdua seakan-akan memang menunggu ucapan lamaran keluar dari mulut Ivan.

__ADS_1


Tak hanya Vin-vin, Ivan pun tak kalah terkejutnya. Dia tak menyangka kedua orang tua Vin-vin akan langsung menyetujuinya begitu saja. Ivan serasa sedang berada di jalan tol, bebas hambatan.


"Menikah saja, kalau dengan Ivan, Papi setuju. Supaya kamu juga menetap di sini, di dekat Papi sama Mama mu, nggak bolak balik ke luar negri!" ucap Papi Al.


"Iya, Vin. Kalau sudah nikah sama Ivan, Mama jadi tenang. Ada yang jagain kamu. Ivan juga sudah punya kafe dan restoran, kamu bisa bantuin dia. Nggak ada yang lebih nyaman selain bekerja bersama pasangan kan?"


"Bener Ma!" seru Ivan setuju.


"Saya pasti akan buat Vin-vin bahagia!" lanjut Ivan dengan semangat.


"Awas aja kalau berani macam-macam sama Vin-vin, Om yang langsung hajar kamu!" ingat Papi Al.


"Nggak, Pi! Saya nggak akan macam-macam."


Vin-vin menghela napas sambil melirik Ivan. Dia kesal karena Ivan mengambil keputusan terlalu cepat tanpa berdiskusi dengan dirinya. Vin-vin kan masih punya banyak list yang harus dia lakukan mumpung masih muda.


Vin-vin bukan gadis tujuh belas tahun yang polos dan selalu ingin bersama kekasihnya seperti dulu. Sekarang dia sudah tau dunia yang begitu luas dan ingin berprtualang serta bersenang-senang sepuasnya sebelum terikat dengan urusan rumah tangga.


"Ya, semua sudah beres, ayo kita pulang," seru Mama sambil berdiri dari duduknya diikuti Papi yang menjinjing beberapa tas berisi pakaian Ivan.


"Baik Ma," Ivan tampak sangat senang, wajahnya terus terusan berseri karena semuanya berjalan sangat lancar.


"Vin, bantu aku dong..." pinta Ivan manja sambil menatap Vin-vin penuh permohonan.


Vin-vin hanya melirik nya lalu berjalan mendahului.


"Eh, ni anak, ngambek kayaknya..." gumam Ivan sambil terkekeh.


***


"Ini kamar tamu ada di lantai satu, jadi Ivan tak perlu bersusah payah naik turun tangga," ucap Mama Luci sambil membantu Papi Al meletakkan barang-barang Ivan.


"Terima kasih, Ma, Pi..." Ivan menghela napas sambil duduk di tepi ranjang. Dia sangat kelelahan. Ternyata berjalan menggunakan kruk tidak semudah yang dia kira.


"Iya Pi..." jawab Vin-vin sambil menghela napas.


Ivan tersenyum melihat wajah kekasihnya yang tampak kesal.


"Vin... sini, duduk sini," ucap Ivan sambil menepuk pinggiran ranjang, tepat di sampingnya.


"Ngapain?!" ketus Vin-vin sambil melipat tangan di dada, dia masih berdiri mematung di ambang pintu.


"Aku mau ngomong," jawab Ivan dengan sabar.


"Tinggal ngomong aja, aku juga denger kok," tolak Vin-vin.


Ivan menghela napas, "masa ngomong jauh-jauhan gitu.. sini," Ivan kembali menepuk pinggiran ranjang.


Sambil menghembuskan napas kasar, Vin-vin berjalan mendekat dan duduk di samping Ivan. Tangannya masih di lipat di depan dada.


"Kamu marah?" tanya Ivan dengan lembut sambil meraih jemari Vin-vin.


"Iya lah! menikah itu bukan masalah sepele! harus dipikirkan masak-masak. Menikah kan hanya satu kali seumur hidup!" sentak Vin-vin.


"Aku mau tanya, memangnya kamu nggak pengen nikah sama aku?"


"A-... ya pengen tapi kan..."


"Tapi apa?"


"Aku masih pengen jalan-jalan, ke luar Negri, ke tempat-tempat yang belum pernah aku datangi..."

__ADS_1


"Kan, kita bisa pergi berdua? lebih asik kan dari pada sendiri?"


"Terus, Kafe gimana?"


"Nggak ada aku juga kafe bisa terus berjalan, nggak masalah..." Ivan menarik tangan Vin-vin dan menciumnya dengan lembut.


"Aku nggak mau kehilangan kamu lagi, Vin. Mau kemana pun, aku akan ikut..."


"Setelah menikah, aku nggak mau di larang-larang!"


"Ya kalau setelah menikah kamu mau kencan sama cowok lain, jelas aku larang lah!" kesal Ivan.


"Memangnya aku gila membiarkan istriku pergi sama lelaki lain!"


Vin-vin terdiam, mendengar ucapan 'istriku' dari mulut Ivan benar-benar membuat jantungnya berdebar kencang.


"Aku... masih kekanak-kanakan.. apa Pak Ivan bisa bersabar dengan sikapku ini...?" tanya Vin-vin lirih sambil menundukkan kepalanya.


"Aku sudah berlatih sejak umurmu masih enam belas tahun, apa kamu lupa?"


Vin-vin mengerucutkan bibirnya, "itu kan waktu aku masih kecil..."


"Memangnya sekarang berbeda? sama aja deh," Ivan terkekeh.


"Beda lah, Pak Ivan aja yang nggak tau!"


"Bedanya?"


"Rahasia!" jawab Vin-vin singkat.


Ivan meraih jari Vin-vin dan mengarahkannya agar wajah mereka berdua berhadapan.


"Jangan main rahasia sama suami sendiri..." gumamnya.


"Belum sah jadi suami kan?"


"Hmmm, bahaya kalau bikin suami ngambek loh... nanti kamu bisa-bisa cuma tiduran di ranjang selama seminggu karena kecapean..." gumam Ivan sambil mendekatkan bibirnya ke bibir Vin-vin.


"Masa sih? nggak percaya..." balas Vin-vin sambil mulai membuka mulutnya sedikit untuk menerima ciuman dari Ivan.


"Nanti... buktikan sendiri..." lalu Ivan mengecup bibir Vin-vin dan kemudian meluma*nya dengan lembut.


Tak di sangka, Vin-vin membalas ciuman Ivan hingga membuat Ivan membuncah karena bahagia.


Dengan cepat, Ivan mengangkat tubuh Vin-vin dan mendudukan nya di pangkuan tanpa melepaskan tautan bibir mereka.


Sekarang Vin-vin duduk di pangkuan Ivan sambil berhadapan, dan dengan berani Vin-vin melingkarkan tangannya di leher Ivan, membuat Ivan melonjak kegirangan.


Ciuman mereka semakin dalam dan semakin panas, Vin-vin bahkan menggerakan lidahnya untuk menjelajah semakin dalam bahkan menggelitiki lidah Ivan.


Karena dorongan dari Vin-vin, tubuh Ivan pun jatuh ke belakang dan sekarang Vin-vin berada di atas tubuhnya.


Saat Ivan sedang menikmati cumbuan Vin-vin, tiba-tiba saja Vin-vin melepaskan ciumannya dan menatap Ivan yang masih berharap permainan ini belum berakhir.


"Vin...?"


"Aku sudah berubah, kan?" ucap Vin-vin sambil menatap Ivan, dia menyangga tubuhnya dengan kedua tangan hingga mereka bisa bertatapan.


"Lagi..." pinta Ivan untuk melanjutkan kegiatan panas mereka.


"Nggak, takut kamu nggak bisa nahan diri," lalu Vin-vin bangun dan meninggalkan Ivan yang masih bengong dengan posisi berbaring telentang di kasur.

__ADS_1


"Vin... ada yang bangun..." gumam Ivan nelangsa.


__ADS_2