Oh My Teacher

Oh My Teacher
Ivan marah.


__ADS_3

Ivan melanjutkan perjalanan yang sempat tertunda karena Vin-vin merasa lelah.


Setelah minum es kelapa muda dan makan cemilan, Vin-vin tampak bersemangat kembali untuk melanjutkan perjalanan.


Ivan mengajak Vin-vin ke puncak dan menikmati pemandangan yang indah.


"Wah... lelahku terbayar lunas Pak, bagus banget di sini," Vin-vin menatap pohon-pohon yang menjulang tinggi. "Udaranya sejuk sekali."


Ivan tersenyum, dia mengeluarkan kamera analog yang dia bawa dalam tas ranselnya dan mulai mengambil gambar Vin-vin yang tengah berputar-putar mengitari pepohonan sambil tertawa riang.


Ivan melihat hasil jepretannya dan tersenyum puas, "cantik..." gumamnya sambil memandangi wajah Vin-vin di dalam layar kameranya.


"Pak Ivan foto aku?" tiba-tiba Vin-vin duduk di sebelah Ivan dan mengejutkannya.


Ivan menoleh dan menunjukkan hasil foto candidnya pada Vin-vin.


"Ihh... jelek ah..." Vin-vin cemberut, lagi- lagi dia menggembungkan pipinya. Dengan cepat Ivan mengambil momen itu dengan kameranya.


"Apaan sih... main jepret-jepret aja, aku kan belum siap," Vin-vin menangkup kedua pipinya dan Ivan lagi-lagi tanpa permisi mengambil gambarnya.



"Aahhh.... nggak mau, jelek!!!" teriak Vin-vin.


"Enggak kok, cantik banget ini." Ivan tersenyum.



"Jangan di hapus, bagus kok," ucap Ivan.


"Foto berdua dong," pinta Vin-vin, Ivan pun mengabulkan permintaan pacar kecilnya itu.


Setelah puas berfoto-foto, Ivan duduk di atas tanah berumput sambil bersandar pada sebuah pohon yang sangat besar. Di sampingnya Vin-vin pun melakukan hal yang sama. Hingga dia terkantuk-kantuk karena udara yang sejuk dan segar walaupun waktu menunjuk pukul satu siang yang berarti matahari sedang terik-teriknya menyinari bumi.


"Pak..."


"Hmm?"


"Aku jadi ngantuk," ucap Vin-vin sambil menguap.


"Sama."


"Kita tidur dulu?" Vin-vin menoleh ke arah Ivan dengan mata terbelalak.


"Ya sudah tidurlah dulu," jawab Ivan sambil menyilangkan kedua tangannya di dada dan mulai memejamkan matanya.


"Di mana? di sini?"

__ADS_1


"Iyalah, memang mau di mana lagi?"


"Di sekitar sini emang nggak ada penginapan gitu buat istirahat, aku yang bayar deh kalau Pak Ivan nggak mau..."


Pletak!


Ivan menjitak kepala Vin-vin, membuat gadis manis itu mengaduh kesakitan sambil memegangi kepalanya.


"Saya nggak mau ngajakin kamu ke penginapan bukan karena Saya nggak punya uang!" kesal Ivan.


"Memangnya kamu nggak takut Saya berubah jadi serigala dan menerkam kamu!"


Vin-vin terkikik, "nggak lah. Aku yakin Pak Ivan bisa menahan diri. Aku percaya sama Pak Ivan."


Ivan melirik sinis ke arah Vin-vin, batinnya benar-benar kesal pada gadis manis yang satu ini. Nggak tahu apa dia, kalau selama ini Ivan sudah mati-matian menahan diri. Bukannya membantu Ivan dengan cara menjaga dirinya sendiri malah menawarkan hal yang tidak-tidak.


"Aku tetap laki-laki Vin! jangan kelewatan kamu..." gumam Ivan kesal.


"Lho, Pak Ivan mau ke mana?" Vin-vin bingung saat melihat Ivan bangkit dari duduknya.


"Ayo kita cari kafe atau restoran, aku lapar." Ajaknya sambil berjalan meninggalkan Vin-vin.


"Tungguin doong...." Vin-vin pun berlari mengejar Ivan.


.


Vin-vin sangat bahagia bisa jalan-jalan dengan gurunya yang sekarang sudah resmi menjadi pacarnya. Rasanya masih seperti mimpi.


Vin-vin ingat beberapa waktu lalu masih mengejar-ngejar hati sang guru tampan, dan sekarang guru tampan itu sudah menjadi miliknya.


Vin-vin tersenyum puas sambil melingkarkan tangannya di lengan kekar sang guru.


"Apaan sih Vin, malu banyak orang," Ivan berusaha menarik lengannya.


"Sama pacar sendiri inih, tuh lihat malah ada yang lebih parah," Vin-vin menunjuk sepasang kekasih yang sedang duduk sambil berpelukan yang ada di sebrang kursi mereka.


Ivan mencubit pipi chubby Vin-vin dengan gemas. "Apa jadinya kalau cewek kaya kamu pacaran dengan cowok nggak bener, habis kamu Vin!"


"Makanya Pak Ivan jangan pernah tinggalin aku ya," Vin-vin menatap Ivan lekat.


Ivan mendesah, "kita lihat saja nanti..."


"Kok jawabannya gitu!" Vin-vin memukul pundak Ivan berkali-kali. Dia kesal.


Ivan hanya tergelak.


"Yuk pulang," ajak Ivan sambil menggenggam tangan Vin-vin.

__ADS_1


"Masih ingin berlama-lama sama Pak Ivan..." Vin-vin menyandarkan kepalanya di bahu tegap Ivan.


"Perjalanan kita panjang loh Vin, kalau nggak pulang dari sekarang, aku nggak bisa santai bawa motornya. Kita nggak bisa berhenti dan istirahat nanti."


Vin-vin mendesah namun akhirnya mengangguk tanda mengerti.


"Sebentar, aku ke toilet dulu. Setelah itu kita pulang."


Vin-vin mengangguk sambil menyedot es kopinya lagi hingga habis.


Saat Ivan sudah pergi jauh dan tak tampak lagi, tiba-tiba ada dua orang lelaki datang mendekat dan duduk di samping Vin-vin.


Mereka berdua duduk di sisi kanan dan kiri Vin-vin, membuat Vin-vin merasa seperti terkurung.


"Halo cantik, sendirian aja?" tanya salah satu lelaki yang berumur lebih tua, perutnya buncit dengan kumis tipis di atas bibir dan rambut yang hampir botak. Dia mencolek lengan Vin-vin.


"Om lagi pada ngapain duduk di sini?! itu tempat pacar ku!" bentak Vin-vin sambil menarik tangannya agar terhindar dari colekan si Om-om ganjen.


"Kan pacar kamu sudah pergi, biar Om temani ya. Kamu pasti capek, Om punya Vila loh di sini. Ada kolam renangnya. Yuk kita santai dulu sambil berenang," si Om ganjen tiba-tiba menarik tangan kanan Vin-vin dan memaksanya agar mengikutinya.


"Nggak! aku nggak mau!"


"Nggak apa-apa, kita nggak gigit kok, cuma bikin kamu enak dan santai..." ucap lelaki yang lain sambil menarik lengan kiri Vin-vin.


Dua orang lelaki bertubuh lumayan berisi menarik Vin-vin, sekeras apapun usaha Vin-vin untuk melepaskan diri jadi sia-sia saja. Tubuh Vin-vin terlalu mungil dan tak bertenaga.


"Pak Ivaaan!!!" teriak Vin-vin sekencang-kencangnya.


Ivan yang kebetulan sudah keluar dari toilet terkejut saat mendengar teriakan Vin-vin. Saat pandangan matanya melihat Vin-vin yang sedang ditarik paksa oleh dua orang lelaki tak di kenal, Ivan langsung emosi.


Ivan menyambar botol minuman yang ada di dekatnya dan tanpa ba bi bu dia berlari mendekati Vin-vin dan langsung memukul botol kaca tadi ke kepala salah satu lelaki yang tengah menarik tangan Vin-vin.


Lelaki tadi langsung melepas cengkraman tangannya dari Vin-vin karena sekarang tangannya tengah memegangi kepala yang mulai mengucurkan darah segar.


"Apa-apaan Lo!" si Om botak langsung melayangkan tinjunya ke arah Ivan. Dengan gesit Ivan mengelak bahkan dia sempat melayangkan tinjunya ke dagu si Om botak hingga dia terpelanting ke belakang.


"Berani ganggu cewek gua, gua bunuh Lo!" bentak Ivan sambil menginjak dada si Om botak yang terbaring di lantai.


"So... sorry bro, gue kira dia datang sendiri..." ucap si Om tampak ketakutan.


"Mata Lo!!!" Ivan geram sambil kembali menginjak dada si Om lebih keras, membuatnya merintih kesakitan.


"Pak.. Pak Ivan, sudah... jangan di lanjutin lagi..." Vin-vin tampak sangat ketakutan, dia berusaha menarik Ivan agar menjauh dan melepaskan kakinya di dada lelaki yang sudah nampak kesakitan.


"Kamu nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa kok, ayo pulang," Vin-vin sangat khawatir melihat raut wajah Ivan yang sudah berubah menjadi merah padam karena marah, rahangnya pun tampak mengeras dan tangannya terus mengepal.

__ADS_1


Ini pertama kalinya Vin-vin melihat Ivan begitu menakutkan.


__ADS_2