
"Halo Van, gimana? Lo datang kan? gue jemput ya?"
"Nggak usah Yon, kita ketemu aja di sana. Gue mau jemput seseorang dulu." Jawab Ivan sambil mencari-cari kontak mobilnya di laci nakas dekat ranjang.
Sudah lama Ivan tak memakai mobilnya, dia lebih suka mengendarai motor karena lebih cepat dan praktis. Tapi masa iya malam-malam ajak anak gadis ke acara resepsi memakai motor, kasihan Vin-vin.
Ivan terkekeh sendiri mendapati dia begitu serius memikirkan Vin-vin.
"Halo! halo! Van?"
"Iya kenapa?"
"Lo mau jemput siapa? emang Lo sudah punya gebetan baru?"
Ivan memutar bola matanya dengan jengah, Dion memang super kepo melebihi tetangga julid di perumahan.
"Ya... bisa jadi," jawab ivan mengambang.
"Siapa nih? gue jadi penasaran. Nanti kita ketemuan di tempat parkir dulu ya. Kalau Lo udah nyampe telpon gue! jangan masuk duluan."
"Iya, iya cerewet banget sih Lo!"
"Tapi seriusan nih, gue penasaran banget..."
Tut!
Ivan langsung mematikan ponselnya. Dion kalau dilayani bakal nggak kelar-kelar ngobrolnya, bisa-bisa Ivan terlambat menjemput Vin-vin.
Ivan melirik arloji yang melingkari lengannya dan berdecak sebal, "sudah jam 7 lagi!" dengan cepat Ivan keluar dari unit apartemen nya, sedikit berlari menuju lift dan memencet tombol B1, menuju basement.
Setelah sampai di basement, Ivan berjalan menuju mobil mungil warna merah yang terparkir tepat di sebelah motor sportnya.
Saat memasukan kontak mobilnya, Ivan sedikit was-was sebenarnya. Dia takut jika mobil yang sudah lama tak di pakai ini mogok dan tak mau berjalan normal, walaupun Ivan tak pernah absen untuk memanasinya setiap pagi.
Saat mesin mobilnya menyala, Ivan bisa bernapas dengan lega, lalu dengan segera dia meluncur untuk menjemput murid cerewetnya.
.
Tok. Tok. tok.
"Permisi," ucap Ivan saat berada di ambang pintu rumah murid wanitanya itu.
Dan dalam hitungan detik, Vin-vin muncul.
Vin-vin tampil dengan gaun warna biru tua yang sangat cantik, kulitnya yang putih tampak semakin berkilau karena warna gaunnya. Tapi gaun ini terlalu se*y, bahunya bahkan terpampang sempurna tak di tutupi apapun! Ivan jadi kesal karenanya.
"Pakai sweater atau pasmina atau apapun untuk menutup bahumu! itu terlalu terbuka!"
Ivan berusaha keras untuk tetap menjaga rona wajahnya agar tak memerah karena kecantikan anak muridnya. Vin-vin benar-benar cantik.
Aahh.. Ivan bisa gila rasanya.
"Kenapa sih! sudah cantik begini kok!"
__ADS_1
Bibir Vin-vin mengerucut membuat wajahnya semakin imut dan menggemaskan.
"Kalau nggak mau ya sudah nggak usah ikut!" Ivan benar-benar kesal. Kenapa sih anak muridnya bisa begini cantik dan menggemaskan.
Dan yang paling membuat Ivan senang adalah, walaupun merajuk, Vin-vin selalu menuruti perintahnya. Membuat Ivan makin tak bisa mengabaikan muridnya yang satu itu.
Benarkah hanya karena itu? atau mungkin Ivan juga mulai menyukainya? siapa sih yang bisa menolak pesona dari gadis secantik Vin-vin? untunglah Ivan bisa mengontrol dirinya.
"Pakai sabuk pengaman!" Titah Ivan.
Vin-vin mengangguk sambil mengancingkan seatbeltnya, dia terus tersenyum dengan riang.
"Kenapa senyum-senyum terus?"
Vin-vin menoleh sambil memamerkan gigi putihnya yang rapih.
"Aku merasa sangat senang, Papi itu biasanya selalu ketus pada teman lelaki yang datang ke rumah, tapi tadi Papi ramah banget sama Pak Ivan. Aku jadi penasaran tapi seneng juga sih. Berarti Papi merestui kita."
Ivan terkekeh, "Memangnya kita ada hubungan apa sampai Papi mu harus ketus padaku." Ivan memutar setir mobilnya, wajahnya sedikit menoleh untuk melihat spion yang ada di samping kanannya, namun sebenarnya dia hanya ingin menyembunyikan senyum yang timbul karena ucapan Vin-vin.
Vin-vin mencibir, "kan satu bulan lagi lounchingnya." Vin-vin melipat tangannya di dada.
"Lounching apaan?" Ivan berdehem.
"Memangnya kalau Axel ke rumah, Papi kamu nggak suka?" tanya Ivan sambil terus menatap lurus ke depan tanpa menoleh ke arah Vin-vin.
"Dari TK, Papi nggak pernah menyukai Axel."
"Kenapa?"
Ivan manggut-manggut, namun masih berusaha menahan senyum yang hampir mengembang di bibirnya.
"Papi kamu ramah banget kok," ucapnya lagi.
"Beruntunglah Pak Ivan yang di perlakukan beda sama Papi."
"Hmmm..."
"Ngomong-ngomong, kita nggak janjian tapi baju kita samaan loh Pak. Ini juga sebuah pertanda kan?"
"Pertanda apa?"
"Pertanda kalau kita itu berjodoh," jawab Vin-vin sambil nyengir.
Ivan hanya terkekeh mendengar celotehan muridnya itu.
"Kok malah ketawa? Aamin-in dong!" Vin mencubit pelan lengan guru tampannya, gemas.
"Ahh! aduduh..."
"Bilang Amin dulu!"
"Iya-iya, Aamiin..."
__ADS_1
Barulah Vin-vin melepas cubitan tangannya dan tersenyum puas.
"Dasar cewek egois!" gumam Ivan.
"Ingat ya Pak Ivan, di sana nanti kenalkan aku sebagai pacar!"
"Nggak mau ah, bohong itu dosa!" sergah ivan sambil terkekeh lagi.
Vin-vin mendengus kesal dengan jawaban gurunya itu.
"Bikin aku seneng sekali saja, apa susahnya sih!" gerutu Vin-vin. Lagi-lagi bibirnya mengerucut, menggemaskan.
Coba Vin-vin seumuran Ivan, mungkin Ivan nggak akan bisa mengendalikan dirinya untuk mencium bibir mungil itu.
Sayang sungguh sayang, Vin-vin masih di bawah umur.
Ivan terkesiap, apa yang baru saja dia pikirkan! gila!
Ivan menggelengkan kepalanya berulang kali mencoba membuang semua pikiran kotor yang singgah di kepalanya.
Dia harus ingat! dia guru dan Vin-vin muridnya.
Vin-vin bukan Clarina! bukan tunangannya yang bisa dia cium sesuka hatinya.
"Pak... Pak Ivan?" Vin-vin meanggoyang-goyang bahu gurunya yang tampak terdiam karena melamun.
"I-iya, kenapa?"
"Kita sudah sampai kan? ayo turun."
"Oh.. i-iya." Ivan mengumpat dalam hati, kenapa bisa otaknya jadi mesum begini! ini nggak boleh di teruskan! Ivan harus bisa menahan diri.
"Pernikahan Amanda dan Richard," ucap Vin-vin saat melewati salah satu karangan bunga yang sangat indah.
"Teman Pak Ivan yang namanya Amanda atau Richard?" tanya Vin-vin sambil meraih lengan Ivan. Dia berjalan persis di samping Ivan sambil mengaitkan tangannya di lengan guru tampannya, mereka tampak seperti pasangan, bukan lagi guru dan murid.
"Eh, apa? kenapa?" Ivan merutuk dalam hati, karena jantungnya langsung berdebar begitu cepat saat Vin-vin menggadeng lengannya.
Semua ini gara-gara gaun sialan yang membuat Vin-vin tampak sangat cantik.
"Ihh... di ajak ngobrol kok melamun terus! aku tanya teman SMA Pak Ivan itu yang mana? Amanda atau Richard?"
"Da-da," jawab Ivan asal. Dia merasa takut suaranya bergetar saat keluar dari rongga mulutnya.
"Da-da? siapa Da-da?"
"Amanda, maksudku Amanda."
"Ohh.. nanti jangan lupa kenalkan aku dengannya ya." Vin-vin mengeratkan genggaman tangannya.
"I.. iya, tapi tunggu sebentar, aku mau ke toilet dulu." Ivan langsung melepaskan tangan Vin-vin yang terus melingkar erat di lengannya, lalu bergegas dengan tergesa-gesa menuju toilet.
"Aku tunggu di sini ya Pak, jangan lama-lama," ucap Vin-vin mengingatkan.
__ADS_1
"Ya," jawab Ivan sambil terus berlalu.