
Ivan duduk di meja kerjanya, sambil merasakan nyeri yang makin parah di lututnya.
"Shtttt... kenapa tiba-tiba terasa nyeri sekali..." gumam Ivan.
Padahal setelah jam istirahat nanti, dia masih punya tugas mengajar satu kelas lagi.
Ivan mencari cream gosok di dalam tas nya dan mencoba mengoleskannya di lututnya yang terasa nyeri.
Ivan sudah lama tak merasakan nyeri seperti ini, masa hanya bermain melawan Axel, penyakitnya kambuh lagi?
Tapi memang Ivan akui, tadi dia berusaha terlalu keras dengan kakinya. Bagaimana tidak, dia bermain 3 on 3, lalu setengah main, dua pemainnya tumbang karena kelelahan, alhasil dia sendirian dan sudah pasti sangat kelelahan.
"Pulang sekolah nanti, ada baiknya aku mampir ke klinik dulu..." gumam Ivan.
'Klik. Klik.'
Tiba-tiba ada pesan dari 'si bocah'. Itu adalah sebutan untuk Vin-vin di ponselnya.
'Pak, nanti pulang bareng ya. Aku tunggu di kafe biasa.'
Ivan mendesah, "ku pikir dia mau pulang dengan Axel," gumamnya bermonolog.
'Pak?' pesan dari Vin-vin lagi.
Ivan sengaja tak membalas pesan itu, dia sedikit kesal pada anak muridnya gara-gara kejadian tadi.
'Sudah di baca kok nggak di balas?'
'Kenapa kamu nggak pulang sama Axel aja?'
'Kenapa? Pak Ivan marah gara-gara kejadian tadi di lapangan?'
'Nggak! hari ini saya ada keperluan. Kamu pulang sama Axel aja.'
Ivan enggan mengatakan bahwa dirinya mau mampir ke klinik untuk memeriksakan kakinya yang terasa nyeri.
Ivan gengsi jika Vin-vin tahu.
'Ya udah.'
Ivan membalik ponselnya setengah membanting. Dia bohong saat bilang nggak marah, sebenarnya hatinya sedikit panas, namun dia enggan mengakuinya.
'Teeet!'
Bunyi bel tanda istirahat telah berakhir, Ivan buru-buru menuju lapangan basket intuk mengajar kelas XI IPS 2 yang ada jadwal pelajaran olah raga.
__ADS_1
Saat hendak beranjak dari duduknya, tiba-tiba lututnya kembali terasa nyeri yang amat sangat, membuat Ivan kembali terduduk.
"Pak Ivan! Pak Ivan kenapa?" tiba-tiba Bu Yosephine mendekat, dia terkejut saat mendengar hentakan keras dari Ivan sewaktu dia jatuh terduduk di kursinya.
"Oh.. Sa-saya nggak apa-apa kok Bu," jawab Ivan. Namun wajahnya tak bisa menipu, dia terlihat pucat.
"Tapi Pak Ivan pucat sekali loh? apa Pak Ivan sakit?"
"Nanti Saya mampir ke UKS sebentar minta obat pereda sakit..."
"Biar Saya minta kan ke UKS, Pak Ivan tunggu dulu ya."
"Nggak usah Bu, jangan..." ucapan Ivan tak di dengar Bu Yosephine karena dia sudah berlari keluar dari ruang guru.
Tak lama kemudian, Bu Yosephine muncul sambil membawa obat pereda nyeri dan sebotol air mineral. Dengan segera dia menyerahkan semuanya kepada Pak Ivan yang masih terduduk.
"Ini Pak, silahkan di minum "
"Maaf Bu, Saya jadi merepotkan," Ivan mengambil obat dan menelannya lalu meminum air yang tadi di berikan oleh Bu Yosephine.
"Nggak.. nggak repot kok Pak," Bu Yosephine tampak malu-malu.
"Saya masih ada jadwal mengajar Bu, Saya permisi dulu." Setelah merasa sedikit lebih baik, Ivan pun berpamitan.
"Apa perlu Saya bantu jalan ke lapangan basket?" Bu Yosephine berusaha meraih lengan Ivan dan berusaha menuntunnya.
Ivan kaget dan sedikit mengelak, "Saya baik-baik saja Bu, maaf Saya harus segera ke lapangan." Sambil berusaha menahan nyeri yang masih sedikit terasa, Ivan memaksakan langkahnya dengan cepat.
Bu Yosephine memang sangat baik dan sudah membantunya, tapi entah kenapa Ivan tetap tak bisa menyukai guru wanita satu itu. Mungkin karena hatinya sudah terpaut pada Vin-vin.
.
Dengan susah payah, Ivan berhasil menyelesaikan tugas mengajarnya. Walaupun dia lebih banyak duduk sambil memperhatikan anak muridnya melakukan perintahnya. Sebenarnya ini bukan gayanya, namun bagaimana lagi dia sedang tidak dalam kondisi fit saat ini.
Untungnya hari ini Ivan hanya punya jadwal mengajar dua kelas, sehingga setelah menyelesaikan tanggung jawabnya, dia minta ijin kepada kepala Sekolah untuk pulang lebih awal untuk memeriksakan kesehatannya.
Setelah mendapatkan ijin dari Bapak Kepala Sekolah, Ivan langsung tancap gas menuju klinik yang sudah lumayan lama tak dia datangi, klinik langganannya dulu saat pertama kali mendapatkan cidera ini.
...***...
"Axel, pulang sekolah aku ikut kamu ya..." ucap Vin-vin saat istirahat ke dua, di kantin sekolah.
Axel mengangguk sambil meminum es jeruk nya, "tumben minta pulang sama aku... memang biasanya selama aku nggak antar jemput kamu sama siapa? nggak mungkin Papi Al kan?
Vin-vin tersenyum, "aku..."
__ADS_1
"Nggak usah di jawab!" Axel mengangkat tangannya mencoba menghentikan ucapan Vin-vin. "Aku sudah tahu, dan nggak kepengen dengar dari mulutmu."
Vin-vin mengerucutkan bibirnya.
"Kalau Axel nggak bisa, aku anterin aja Vin," sela Mutiara.
"Aku bisa kok Mut, makasih ya... kasihan kamu kalau anter Vin-vin, rumahmu kan nggak searah." Axel tersenyum manis pada Mutiara dan itu berhasil membuat Mutiara meleyot.
Senyum Axel benar-benar membuat Mutiara terhipnotis.
"Nggak apa-apa kok, nggak masalah buat ku," jawab Mutiara sambil mengulum senyum.
Melihat dua sahabatnya jadi begitu akrab, Vin-vin tersenyum senang. Dia benar-benar berharap, suatu hari nanti Axel dan Mutiara jadian. Mereka sangat cocok, dan yang paling penting Vin-vin merestui mereka berdua.
"Kalian berdua cocok banget deh," cetus Vin-vin. Dan tentu saja membuat Mutiara langsung terbatuk-batuk karena tersedak.
"Lah Mut, biasa aja kali! nggak usah pakai keselek gini." Vin-vin menepuk-nepuk punggung sahabatnya.
Mutiara mendelik ke arah Vin-vin sambil mencubit lengannya, membuat Vin-vin mengaduh kesakitan.
Untungnya Axel nggak begitu mendengarkan ucapan Vin-vin, dia masih sibuk memakan bakso pedasnya.
"Tadi Bu Yosephine ambil obat pereda nyeri buat apa? Bu Yosephine sakit?"
Vin-vin menoleh ke asal suara yang ada di belakangnya, dan dilihatnya Bu Yosephine dan dokter UKS, mereka sedang makan di meja yang letaknya persis di belakang Vin-vin.
"Bukan buat Saya, tapi buat Pak Ivan."
Vin-vin terkejut mendengar ucapan Bu Yosephine.
Benarkah Pak Ivan sakit? tapi kenapa tadi dia tidak bilang saat mereka berkirim chat?
"Perhatian banget sih sama Pak Ivan?" goda dokter UKS sambil menyenggol lengan Bu Yosephine.
"Nggak lah, biasa aja "
"Biasa gimana? tadi aja kelihatan cemas banget. Saya doakan, kali ini Bu Yosephine berjodoh dengan Pak Ivan ya."
"Aamiin... Aamiin..." Jawab Bu Yosephine dengan penuh kekhusyukan.
'Brak!' Vin-vin menggebrak meja nya dengan kesal, membuat hampir seluruh orang yang ada di kantin menatapnya bingung.
Vin-vin tak peduli, dia langsung bangun dari duduknya, mengambil ponselnya dan berjalan keluar kantin sambil mencoba menghubungi guru kesayangannya.
Dia kesal, karena Bu Yosephine tahu hal yang dia tak tahu! Pak Ivan sakit? bagaimana mungkin dia tak di beri tahu!!
__ADS_1