
"Kalian berdua itu tujuan ke sekolah mau apa? mau belajar atau berantem!" Bu Yosephine menyilangkan kedua tangannya di dada sambil menatap dua murid yang kedapatan berkelahi di lapangan basket.
Dua murid perempuan itu tak berani mengangkat kepalanya, mereka berdua berdiri di depan bu Yosephine sambil menundukkan kepala.
Dengan rambut acak-acakan dan pakaian yang compang camping karena sobek di beberapa bagian, mereka terus bungkam. Merasa malu karena menjadi tontonan di ruang guru.
Setelah mendapat laporan dari Bu Yosephine, Pak Heru selaku guru Bimbingan Konseling langsung datang ke ruang guru untuk menemui dua murid yang bermasalah itu.
Ruang guru pun jadi ramai, semua guru yang hendak pergi ke kelas untuk mengajar mengurungkan niat mereka sebentar sekedar untuk mencari tahu apa yang membuat dua pelajar wanita ini sampai berani berkelahi di lingkungan sekolah.
Pak Ivan yang kebetulan baru selesai mengajar dan masuk ke dalam ruang guru sempat kaget, saat melihat pakaian dua siswinya yang sedikit robek dan ada bagian yang terbuka, buru-buru dia mengambil baju olah raga yang tak terpakai dalam lokernya dan langsung dia berikan pada dua siswinya.
"Cepat pakai kaos ini!" titahnya.
Dua murid itu menurut, mereka langsung memakai kaos yang di berikan Pak Ivan tanpa melepas baju OSIS yang sudah compang-camping.
"Coba ceritakan pada Saya, apa yang membuat kalian sampai adu jotos kayak preman jalanan seperti ini!" tanya Pak Heru.
Mereka berdua tetap bungkam.
"Nggak ada yang mau bicara?!" suara Pak Heru semakin meninggi.
"Itu..." salah seorang murid hendak bicara namun langsung bungkam saat dia melirik ke arah Daniel.
"Kalau nggak ada yang bicara, Saya skors kalian 10 hari!" suara Pak Heru makin menggelegar.
"Itu gara-gara Indah Pak, dia merebut Pak Daniel dari Saya," jawab salah satu murid.
"Bukan Pak! Saya memang sudah jadian sama Pak Daniel sebelum si Dita ini! dia yang merebut Pak Daniel!"
Setelah mendengar ucapan dua siswi itu, seluruh guru di ruangan langsung menatap Daniel penuh selidik.
Daniel bangun dari duduknya, wajahnya nampak kebingungan. Apalagi mendapatkan tatapan dari semua guru.
"Waduh... sepertinya ada yang harus di luruskan di sini," ucap Daniel sambil berjalan mendekati Pak Heru.
"Saya sebagai guru, nggak mungkin lah Saya pacari murid sendiri." Daniel menoleh dan menatap dua siswi itu, "sepertinya mereka begitu memuja Saya sampai beranggapan kebaikan Saya sebagai rasa cinta," Daniel kembali menatap Pak Heru, "maafkan Saya Pak, lain kali Saya akan membuat jarak dengan para murid supaya mereka tidak salah paham."
Pak Heru mengangguk, "kalian sudah dengar? Saya nggak mau kejadian seperti ini terulang lagi. Kali ini kalian Saya maafkan..."
"Tapi Pak, Saya dan Pak Daniel sudah..."
"Indah, maafkan Saya ya. Saya harap kamu dan Dita tidak salah paham lagi. Saya perhatian hanya sebatas guru pada muridnya!" Daniel memotong ucapan Indah, dan berkata dengan tegas agar Indah paham.
__ADS_1
Indah tampak syok, dia langsung diam dan menundukkan kepalanya, begitu pula Dita.
Akhirnya mereka berdua diijinkan untuk pulang walaupun jam pelajaran belum berakhir.
"Ya ampun, anak-anak jaman sekarang..." Daniel menggelengkan kepala sambil memijat keningnya.
"Memangnya Saya memperlakukan mereka bagaimana ya? sampai mereka berpikir sudah berpacaran dengan Saya? Saya jadi bingung," lanjutnya.
"Pak Daniel baik banget sih, ramah ke semua murid murah senyum juga, jadi murid-murid suka dan akhirnya salah paham," ucap Bu Yosephine diikuti tawa lirihnya.
"Waduh... berarti Saya yang salah ya?" Daniel menatap Pak Heru.
"Maafkan Saya Pak, mulai hari ini Saya akan mengubah sikap Saya pada anak-anak. Mungkin sedikit dingin seperti Pak Ivan malah lebih baik ya?" ucap Daniel sambil melirik Ivan yang sedang duduk di meja kerjanya.
"Ya jangan gitu dong, kan Pak Daniel guru favorit di sini," Bu Yosephine berusaha membela lelaki pujaannya.
Pak Heru tampak berpikir, "baiklah Pak Daniel, tapi Saya harap keramahan Pak Daniel tidak membawa kehebohan seperti hari ini ya," ucapnya sambil tersenyum.
Dan ruangan pun ramai dengan suara tawa para guru, kecuali Ivan yang tetap diam tak berekspresi.
Dia bukan kesal karena di bilang guru dingin oleh Daniel, tapi dia merasa curiga. Mana mungkin dua muridnya bisa berantem seheboh itu hanya karena merasa Ge-er? pasti ada yang berbohong di sini.
Ivan terus menatap Daniel, memperhatikan gerak geriknya, sampai pandangan matanya bertemu dengan tatapan mata Axel.
Axel paham, dengan perlahan dia berjalan menuju meja kerja Ivan, melewati kerumunan guru yang masih asyik bercerita bersama Daniel.
"Ada apa?" tanya Axel, padat dan singkat tanpa basa basi. Kalau Ivan bukan gurunya, Axel tentu enggan mendekatinya karena bagaimanapun dia sudah merebut Vin-vin dari sisinya.
"Tolong, jaga Vin-vin ya. Tetap berada di dekatnya saat di sekolah," bisik Ivan.
"Aku sudah melakukannya hampir sepuluh tahun! jadi nggak perlu di suruh juga aku sudah tahu," jawab Axel sedikit ketus.
Axel memang belum sepenuhnya mengikhlaskan Vin-vin pada Ivan.
Ivan mengangguk, dia memahami jika Axel tak akan beramah tamah dengannya karena dia sudah merebut Vin-vin darinya.
Tapi menurut Ivan, Vin-vin akan lebih aman berada di dekat Axel dari pada dibiarkan sendiri dan memberikan peluang untuk Daniel mendekat.
Axel keluar dari ruang guru, dan berjalan kembali menuju kelasnya, namun dia putuskan untuk mengambil jalan memutar melewati kelas Vin-vin. Dia ingin melihat wajah kekasih hatinya yang bukan miliknya. (duh sedih banget si Xel.. 😞)
Saat melewati kelas Vin-vin, Axel mengintip sebentar lewat jendela, namun dia tak melihat keberadaan Vin-vin di dalam sana. Tapi dia sedikit lega karena dia juga tak melihat keberadaan Mutia, pasti mereka pergi berdua.
Axel mengambil ponselnya hendak menelpon Vin-vin, ruang guru masih ramai, Axel yakin belum ada guru yang masuk ke kelasnya sehingga dia putuskan untuk menghubungi Vin-vin terlebih dahulu.
__ADS_1
'Tuut.. tuut...tuut."
Panggilannya tak di angkat.
Axel langsung menelpon Mutia, dan tak lama Mutia langsung mengangkatnya.
"Hallo Mut, kamu di mana? Vin-vin sama kamu?"
"Nggak Xel, aku di ruang fotokopi, tadi waktu aku mau kesini, dia bilang mau ke toilet. Ada apa?"
"Ya udah," Axel langsung menutup ponselnya dan berjalan sedikit cepat menuju toilet wanita.
"Sial! gara-gara Pak Ivan aku jadi parno! bawaannya takut Vin-vin kenapa-kenapa melulu!" gerutu Axel lirih.
Dan benar saja, dari kejauhan Axel sudah melihat Vin-vin sedang berdiri di luar toilet dan di depannya ada sosok yang sangat di benci Ivan, ya siapa lagi kalau bukan Daniel.
Axel mendesah kesal, karena tingkah semua guru lelaki di sekolah ini.
"Kenapa sih mereka semua selalu mendekati Vin-vin ku!" Axel pun berlari mendekati Vin-vin.
"Vin!" teriaknya.
Vin-vin menoleh dan wajahnya berubah lega saat melihat Axel mendekat.
"Pelajaran sudah mau mulai, kok masih berdiri di sini? balik kelas sana!"
"I.. iya, aku permisi dulu Pak Daniel."
"Iya Vin, pikirkan lagi saran Saya ya?" ucap Daniel sambil tersenyum smirk.
Vin-vin hanya diam lalu berjalan meninggalkan Axel bersama Daniel.
Setelah Vin-vin jauh, Axel memandang Daniel sambil menyilangkan tangan di dada.
"Saya harap Pak Daniel menjauh dari Vin-vin!" ucapnya tegas.
"Lho, kenapa? kamu tidak sopan sekali bicara seperti itu pada guru," Daniel tersenyum dengan omongan ketus Axel.
"Indah dan Dita itu bukan cewek bego yang gampang ke-Geeran karena sikap ramah Pak Daniel. Jadi Saya tahu kalau yang diucapkan Pak Daniel di ruang guru pasti bohong!" Axel menatap Daniel dengan tajam.
"Jangan macam-macam dengan Vin-vin atau Anda akan menyesal!" ancamnya sambil berjalan menjauhi Daniel.
Baru beberapa langkah Axel melangkah, dia berbalik kembali dan menatap Daniel, "FYI... Saya nggak anggap Anda sebagai guru di sini, karena Pak Daniel hanya magang tiga bulan." Setelah itu Axel kembali melanjutkan perjalanannya dan meninggalkan Daniel yang tampak emosi karena ucapannya.
__ADS_1