
"Vin, hari ini kamu pulang dengan Pak Ivan atau mau di jemput Papi Al?" tanya Axel.
Dia sedang berada di kelas Vin-vin saat jam istirahat kedua.
"Kenapa? kamu ada acara sepulang sekolah?"
Vin-vin menatap Axel penasaran.
"Iya, pulang sekolah nanti aku sama temen-temen moge mau jenguk teman di rumah sakit. Dia kecelakaan kemarin."
"Ooh .. oke, nggak masalah. Kalau Papi nggak bisa jemput aku bakal pulang sama Mutia."
"Kenapa nggak sama Pak Ivan! dia sudah malas antar kamu pulang?! nggak tanggung jawab banget sih jadi cowok!" Axel tampak kesal, dia merasa Ivan mulai tak perduli dengan Vin-vin. Padahal mereka kan baru saja jadian, masa sudah secepat itu merasa bosan?!
"Bukan..." Vin-vin celingukan dan mulai berbisik
"Sebenarnya kami lagi berhati-hati karena Pak Daniel..."
"Kenapa dengan orang itu?"
"Dia bilang, dia curiga kalau aku dan Pak Ivan ada sesuatu. Dia bahkan mengancam akan membocorkannya ke kepala sekolah jika aku menolak ikut les dengannya."
"Orang itu memang meresahkan! dia seperti punya niat terselubung padamu Vin, kamu harus hati-hati."
Vin-vin mengangguk, "Pak Ivan juga bilang begitu. Tadinya aku tak percaya, tapi lama-lama aku juga mulai merasa risih! dia selalu mencari cara untuk mendekatiku. Tadi saja dia menyuruhku membawa buku catatan ke ruang guru, untung Pak Ivan datang dan menolong."
"Dia melakukan hal yang kurang ajar padamu?" Axel tampak khawatir.
"Belum, eh nggak! jangan sampai! amit-amit!"
Axel menarik napas dan menghembuskannya dengan kencang. "Kalau ada apa-apa, kamu harus menghubungi aku! ingat itu!" Axel menepuk bahu Vin-vin lalu beranjak pergi untuk kembali ke kelasnya karena jam istirahat hampir berakhir.
***
"Xel! Lo jadi ikut jenguk si Tomi kan?"
Axel yang sedang melamun di atas motornya langsung tersentak kaget. Dia menoleh ke asal suara yang telah membangunkan lamunannya.
Ternyata teman-teman Moge nya sudah berkumpul di depan pintu parkir motor.
"Jadi lah! kita berlima aja nih?" Axel memakai helmnya lalu menyalakan motor untuk mendekati teman-temannya.
__ADS_1
"Iyalah, yang bisa pergi cuma segini, nggak apa-apa lah, dari pada nggak ada yang jenguk sama sekali. Sedih nanti si Tomi, hahaha..." ucap salah seorang teman Axel diikuti tawa tang lainnya.
"Tapi kita harus bawa sesuatu, nggak enak lah cuma datang dengan tangan kosong."
"Mau beli apa?" tanya yang lainnya.
"Beli roti aja di mini market di deket sekolah aja, yang ada di tikungan jalan itu "
"Pakai duit Lo ya bos, kita lagi nggak punya duit nih."
"Ada maunya aja panggil gue 'bos'!, anjir Lo!"
Teman-teman Axel langsung tertawa gelak-gelak. Ya mau bagaimana lagi, acara ini mendadak dan uang saku mereka sudah habis buat makan di kantin. Cuma Axel andalan mereka, karena Axel sangat loyal dan tak pernah kekurangan uang.
"Ayo berangkat!"
"Bentar dulu, gue mau telpon sebentar," Axel mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi Vin-vin. Dia takut tak ada yang mengantar Vin-vin pulang. Hatinya tak tenang jika belum tahu kabar darinya.
"Halo Vin? kamu pulang sama siapa?" tanya Axel saat telponnya di angkat oleh Vin-vin.
"Aku pulang sama Pak Ivan, ini sudah di jemput di cafe."
"Oh, baguslah. Hati-hati di jalan ya," setelah itu Axel menutup telponnya. Tadinya dia ingin menelpon Vin-vin agar hatinya lega, namun setelah tau Vin-vin pulang dengan Pak Ivan bukannya lega, Axel malah jadi gundah.
"Bos, berangkat sekarang?"
"Oh iya, ayo," Axel memakai helmnya dan memimpin teman-temannya untuk berangkat.
Saat sampai di tikungan jalan dan melihat mini market yang menjadi tujuannya dia pun menepi dan memarkirkan motor gedenya di pelataran diikuti teman-temannya.
"Kita mau beli apa bos?"
"Nggak tahu, kita lihat saja di dalam ada apaan," Axel berjalan masuk diikuti teman-temannya yang terus mengekor dengan setia.
"Bos, beli roti tawar aja? atau roti coklat?" seorang teman Axel meraih dua bungkus roti yang ada di rak pajang, dia bingung harus pilih yang mana di antara dua roti yang tampak sangat enak dan membuat perutnya keroncongan.
"Dua-duanya aja dari pada pusing," jawab Axel asal sambil mengamati rak minuman bersoda, dia haus dan ingin meminum sesuatu.
"Bos, beli minumnya juga? air mineral atau susu kotak?" teriaknya lagi.
"Hey, minum obat nggak boleh di campur susu tau!" jawab teman Axel yang lain.
__ADS_1
"Emang sehari selama duapuluh empat jam si Tomi makan obat mulu! kan bisa minum susunya pas dia nggak minum obat! be*o banget sih Lo!"
"Iya kalau si Tomi pinter! jangan-jangan dia minum obatnya sama susu gimana coba!"
"Ya apa kita beliin bir aja, biar lewat sekalian dia."
"Anjiir kejam banget Lo jadi temen!" lalu teman-teman Axel langsung tertawa gelak-gelak.
"Hey jangan berisik Lo pada! udah buruan pilih yang mana terus berangkat!" ingat Axel.
"Siap bos, tapi kita haus bos. Boleh lah minum colla dulu."
"Iya, buruan!"
Teman-teman Axel langsung bersorak girang lalu berebutan mengambil minuman bersoda yang tersedia di lemari pendingin, setelah itu mereka membawa semuanya ke kasir untuk di bayar oleh Axel.
Setelah semuanya di bayar, mereka berlima duduk di kursi yang ada di depan mini market untuk menghabiskan minuman mereka terlebih dahulu sebelum berangkat ke rumah sakit. Namun saat menikmati minuman, entah kenapa mata Axel terus memperhatikan tiga orang bertato yang sedang merokok di meja sebelah Axel dan teman-temannya berada.
Lamat-lamat Axel mendengar pembicaraan mereka.
"Lo sudah di hubungi belum sama Daniel?"
"Belum nih, ntar begitu dia telpon kita langsung berangkat ke lokasi."
"Oke lah!" jawab salah satu orang bertato sambil menganggukkan kepalanya.
"Inget ya, jangan sampai mampus! kata Daniel cukup nginep seminggu di rumah sakit!"
"Siap!" jawab yang lain. "Yang penting bayaran aman kan bos?"
"Tenang aja, Daniel bisa di percaya. Kalau dia lupa transfer, kita datangi aja rumahnya!"
Axel terdiam, apakah mungkin orang bernama Daniel itu gurunya? lalu siapa yang mau di hajar itu? mungkinkah Pak Ivan? ahh nggak mungkin kan?
Tapi Axel tetap gundah, dia nggak bisa tenang jika belum tahu kebenarannya.
"Bro, Lo pada mau nggak temenin gue dulu?" bisik Axel pada teman-temannya.
"Kenapa? ada apa?"
"Gue mau pastiin sesuatu, kalau misal benar kejadian, Lo pada bisa berantem nggak?"
__ADS_1
Mereka berempat saling pandang dengan bingung, tapi akhirnya tersenyum sambil menatap Axel.
"Kita siap bos!"