Oh My Teacher

Oh My Teacher
Menjenguk Amanda


__ADS_3

"Kak Amanda yang kemarin dulu aku datang di nikahannya?" Vin-vin terbangun dari tidur annya karena berita yang di sampaikan Ivan lewat telpon genggamnya.


"Dia kecelakaan? terus sekarang bagaimana kondisinya?"


"Kata Dion dia masih koma di ICU, ini kita mau jenguk," Ivan memandang pantulan dirinya di cermin. Dia sudah berpenampilan rapih, mengenakan celana panjang jeans dan kaos polo warna hitam. Sebentar lagi dia akan menemui Dion daan berangkat ke rumah sakit untuk melihat kondisi teman SMA nya.


"Aku ikut ya?!"


"Katanya kamu masih ingin tidur."


"Nggak! pokoknya aku mau ikut," Vin-vin melempar selimutnya dan segera bangun.


"Tunggu ya, aku mandi dulu..."


"Ck! kelamaan lah Vin. Sudahlah nggak usah ikut," Ivan merapihkan poninya yang sedikit berantakan.


"Sepuluh menit! kasih aku waktu sepuluh menit! pliss," pinta Vin-vin memohon.


Ivan menghela napas, "ya sudah, sepuluh menit lagi aku berangkat jemput kamu."


"Makasih sayang, aku mandi dulu.." Dengan cepat Vin-vin menutup sambungan telponnya dan berlari menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.


Sedangkan Ivan hanya bisa menghela napas dan bersabar dengan omelan Dion nanti.


...***...


"Permisi... " Ivan menegetuk pintu rumah Vin-vin beberpa kali.


"Kemana semua orang?" gumam Ivan.


Rumah Vin-vin tampak sepi pagi ini. Apa mungkin mereka semua belum bangun?


Ivan melirik jam tangannya, "padahal sudah hampir jam 10 pagi."


Ceklek.


Pintu rumah Vin-vin terbuka dan munculah seorang anak kecil berwajah tampan persis seperti Om Aldrich - Papi Vin-vin.


Ivan langsung mengambil kesimpulan jika anak ini adalah Devano, adik Vin-vin yang pernah Vin-vin ceritakan dulu.


"Om siapa? mau apa?" tanyanya ketus.


"Vin-vin ada? Saya Ivan," jawab Ivan mencoba tenang walau sebenarnya hatinya meronta karena kesal di panggil 'Om' oleh calon adik ipar.

__ADS_1


Pantas saja Dion selalu kesal saat di panggil Om, ternyata rasanya benar-benar bikin sesak.


"Kak Vin-vin! ada yang nyari nih!" teriak Devano sambil berjalan masuk dengan cuek. Dia meninggalkan Ivan begitu saja di ambang pintu tanpa mempersilahkan dia untuk masuk terlebih dahulu. Ivan pun hanya bisa diam mematung tak berani masuk.


Tak lama terdengar suara langkah kaki setengah berlari turun dari lantai dua.


"Sebentar Pak," Vin-vin berhenti sejenak di depan rak sepatu dan mengambil sepasang sneakers putih kesayangannya dan lagi-lagi dia memakainya dengan terburu-buru hingga hampir saja terjatuh. Untunglah Ivan dengan sigap memegang bahunya.


"Sabar dong Vin, pelan-pelan aja," bisik Ivan.


Vin-vin langsung nyengir, "hehehe.. iya maaf Pak."


"De' kakak pergi dulu ya. Kalau Papi atau mamah nanya, bilang jenguk teman di rumah sakit!" Vin-vin berteriak keras sebelum keluar dari rumahnya. Tanpa menunggu jawaban dari adik semata wayangnya, Vin-vin langsung menutup pintu dan masuk ke dalam mobil mungil Ivan yang terparkir tepat di depan pintu pagar rumahnya.


Melihat tingkah pacar imutnya ini, Ivan hanya bisa menggelengkan kepalanya.


Setelah berkendara kurang lebih limabelas menit, sampailah mereka ke rumah sakit yang di tuju. Ivan langsung memarkirkan mobilnya. Dia sedikit terburu-buru karena Dion sudah ngomel karena menunggu terlalu lama.


"Om Dion di mana?" tanya Vin-vin sambil membuka pintu mobil Ivan.


"Dia sudah menunggu di lobi," jawab Ivan sambil mengecek chat yang dikirim Dion beberapa saat lalu.


"Pak... tunggu sebentar ya di lobi, aku pengen pipis.." pinta Vin-vin memelas. Dia sudah menahannya sejak keluar dari rumah tapi tak berani bilang karena sudah membuat Pak Ivan menunggu terlalu lama.


"Vin..." Ivan mendesah, "ya udah aku tunggu di lobi ya. Jangan lama-lama takut jam besuk nya habis."


"Yon!" Ivan berseru memanggil sahabatnya yang tampak berjalan mondar mandir dengan tampang kusut di lobi.


"Ya Tuhan, akhirnya Lo datang juga! gua sampai lumutan nungguin!" kesal Dion.


"Sorry bro, ini bener kan rumah sakitnya?"


"Iya bener, gue udah cek kemarin," Dion pun langsung mengikuti langkah Ivan.


"Pak Ivan..." Vin-vin berlari mengejar Ivan dan Dion saat melihat mereka berjalan tak menunggu dirinya.


"Ya ampun gue lupa ajak anak gadis di sini..."


"Pak Ivan lupa ya sama aku," dengan napas tersengal, Vin-vin akhirnya bisa berada di dekat Ivan.


"Enggak lah sayang," jawab Ivan mencoba merayu pacar imutnya.


Melihat kedekatan mereka, Dion jadi senewen sendiri.

__ADS_1


Setelah bertanya pada seorang perawat, akhirnya Dion, Ivan dan Vin-vin sampai di ruang ICU. Tadinya mereka sedikit kebingungan, namun saat melihat seorang pria bule duduk di sebuah kursi di depan ruang ICU mereka yakin kalau sudah berjalan ke arah yang benar.


"Itu kan suaminya kak Amanda," bisik Vin-vin.


Ivan hanya mengangguk lalu berjalan mendekat ke arah pria bule yang tampak lesu. Wajahnya terlihat lelah dan ada lingkaran hitam mengelilingi matanya.


Karena sahabat Ivan dan Dion yang bernama Amanda masih terbaring di ruang ICU, mereka berdua harus bergantian masuk untuk menjenguk karena tak di perbolehkan terlalu banyak orang di dalam ruangan itu.


Setelah selesai mengunjungi Amanda yang ternyata masih tak sadarkan diri, Ivan dan Dion pun berpamitan. Mereka tak enak jika kedatangan mereka mengganggu. Suami Amanda sepertinya membutuhkan istirahat ekstra karena dia tampak sangat lemas dan cemas.


"Semoga Da-da cepat sembuh ya Chad, kami permisi dulu," ucap Ivan sambil menyalami suami Amanda yang tampak tersenyum.


Mereka bertiga pun mulai meninggalkan koridor ruang ICU.


"Kasihan banget Da-da.. kok bisa dia jadi begini.." ucap Dion lirih, dia pun tampak terpukul melihat kondisi sahabatnya itu.


"Iya, semoga dia cepat siuman ya. Kasihan Richard," ucap Ivan.


"Aamiin..." balas Vin-vin.


Ivan merangkul pundak Vin-vin, berharap kejadian itu tak akan menimpa mereka berdua.


"Ivan?"


Terdengar suara seorang wanita yang sangat Ivan kenal. Walaupun hampir dua tahun dia sudah tak pernah mendengar suara ini, Ivan tak akan lupa dengan pemilik suara ini.


"Ada yang manggil Pak I.."


Dengan cepat Ivan menarik Vin-vin, dia tak mau Vin-vin sampai melihat wanita yang sudah memanggil dirinya.


"Jangaan menoleh! terus jalan!" ucap Ivan tegas.


"Ivan! tunggu!"


"Lo buruan pulang! biar gue yang urus!" Dion mendorong Ivan dan Vin-vin agar berjalan cepat menuju pintu keluar.


"Thanks bro," Ivan langsung menarik Vin-vin agar berjalan lebih cepat.


"Kenapa sih pak?"


"Nggak ada apa-apa," jawab Ivan, enggan menjelaskan hingga membuat Vin-vin makin penasaran.


#bersambung.

__ADS_1


Hai gaes, kalian bisa baca kisah Richard dan Amanda di novel "touch me slowly" karya author Vanda Anastasia Adam.


Ceritanya sudah tamat gaes, jd g usah takut bakal di gantung pas lagi sayang2e.. 🤭


__ADS_2