Oh My Teacher

Oh My Teacher
Janji?


__ADS_3

"Pak Ivan?"


Ivan terbangun dari lamunanya dan menatap Bu Yosephine yang ternyata sudah berdiri di sebelah meja kerjanya.


"Oh, Bu Yosephine... ada apa?"


"Wanita tadi, beneran tunangan Pak Ivan?" bisik Bu Yosephine.


Ivan tampak terdiam sejenak.


"Ehm! maaf, bukannya Saya penasaran dengan urusan pribadi Pak Ivan..." Bu Yosephine mengangkat tangannya untuk menutup bibirnya.


Ivan tersenyum, "Bukan, kok. Dia bukan tunangan Saya. Saya memang punya tunangan tapi dia sudah meninggal," jawab Ivan.


Bu Yosephine menganga, dia benar-benar terkejut dengan pernyataan Ivan.


"Maafkan Saya, Pak," sesalnya.


Ivan tersenyum, "Tidak apa-apa," jawabnya sambil bangun dari duduknya.


"Lalu, siapa pacar Pak Ivan sekarang?" cecar Bu Yosephine, dia masih penasaran, lebih tepatnya ngarep. karena usahanya mendekati Daniel gagal, dia kembali ingin mendekati Ivan.


"Maaf, Bu, Saya harus ngajar," buru-buru Ivan berjalan menjauhi Bu Yosephine.


"Oh iya, nanti kita ngobrol lagi ya, Pak," seru Bu Yosephine sambil melambaikan tangannya.


Ivan tak menjawab, dia terus berjalan menuju kelas yang sedang menunggunya untuk memulai pelajaran Olah Raga.


Saat sedang berada di lapangan basket bersama anak muridnya, Ivan melihat Vin-vin keluar dari kantin. Ivan sempat menatap nya dan Vin-vin pun melakukan hal yang sama. Mereka berdua saling tatap untuk waktu yang sangat lama, hingga...


"Pak Ivan! awas!" teriakan para murid, menyadarkan Ivan dan secara reflek, Ivan menangkis bola yang terlempar ke arahnya.


Ivan mendesah lega, namun tangannya langsung nyut-nyutan karena terkena bola basket yang lumayan keras.


"Pak Ivan nggak apa-apa?" tanya seorang murid sambil mendekati Ivan.


"Nggak apa-apa, ayo kita lanjutkan!" Ivan berlari ke tengah lapangan sambil mendrible bola basket. Sedang Vin-vin masih terdiam di tempatnya, menatap sang guru pujaannya.


"Dari mana, Lo?" ketus Mutiara saat melihat Vin-vin masuk ke dalam kelas. Sepertinya dia masih marah karena Vin-vin sempat membentak nya tadi.


"Dari kantin," jawab Vin-vin sambil duduk dan mengambil buku catatan dari dalam tasnya.

__ADS_1


"Bolos pelajaran pertama cuma ke kantin doang? belom sarapan?"


"Sudah sarapan, sarapan gondok!" ketus Vin-vin.


Mutia tampak kesal, dia pun komat kamit tanpa suara sambil kembali fokus ke buku pelajaran nya.


'Klik.'


Buru-burru Vin-vin mengambil ponselnya, sebelum guru mata pelajaran masuk ke kelas, dan dia melihat pesan dari Ivan muncul di sana.


'Pulang sekolah, ke kafe d'best. Aku tunggu.'


Vin-vin tersenyum, lalu membalas dengan cepat chat dari Ivan.


***


Bell pulang sekolah berbunyi, dan dengan segera Vin-vin berlari keluar kelas. Dia hendak menemui Ivan, sudah banyak sekali pertanyaan di dalam otaknya. Dia benar-benar penasaran dan ingin segera tahu kebenarannya.


"Vin!" teriakan Axel menghentikan langkah Vin-vin.


"Mau kemana?"


"Mau pulang lah, kemana lagi?"


"Nggak perlu, aku mau mampir dulu sebentar." Vin-vin berusaha menarik kembali tangannya, namun pegangan Axel begitu erat.


"Kamu mau ketemu Pak Ivan, kan? biar aku antar!" Axel tak mau di tolak, dia terus berjalan sambil menarik tangan Vin-vin agar mengikutinya.


"Apaan, sih, Xel!" kesal Vin-vin, namun Axel tak peduli.


Axel mengantar Vin-vin ke kafe D'Best dan seperti yang dia duga, guru olah raganya, sudah menunggu di sana.


Axel memarkir motornya lalu turun dan mendekati Ivan.


Dia menatap tajam sang guru olah raga itu.


"Dengar ya, Pak Ivan! Kalau Lo macam-macam sama Vin-vin, gue nggak akan tinggal diam!" geram Axel sambil mengacungkan jari telunjuknya.


"Axel!" Vin-vin terkejut melihat Axel yang berani mengancam Ivan.


"Kalau sampai kabar cewe itu hamil, benar. Gue bakal lapor sama Om Al! biar hubungan kalian di tentang!" ancam Axel.

__ADS_1


"Axel!" teriak Vin-vin marah.


Dengan tenang, Ivan menurunkan jari telunjuk Axel yang mengacung ke arahnya.


"Dia hamil... tapi bukan anak gue!" ucap Ivan, datar.


"Lalu anak siapa?!" tanya Axel penasaran.


"Bukan urusan gue!" jawab Ivan, ketus.


"Sorry, gue ada perlu sama Vin-vin," Ivan menarik Vin-vin ke arahnya dan mengajaknya naik ke motor Ivan.


Lalu Ivan menjalankan motornya dengan kecepatan penuh hingga membuat Vin-vin tersentak kaget dan dengan cepat berpegangan pada perut Ivan.


Ivan memacu motornya dengan cepat dan


membawa Vin-vin ke apartemen nya. Dan saat mereka berdua masuk ke dalam ruang mungil itu, tiba-tiba Ivan menarik Vin-vin dan mulai menciumnya.


"Pak..." Vin-vin terkejut, namun dia tetap menerima ciuman dari Ivan, bahkan membalas ciuman itu. Bibir mereka saling bertaut hingga lidah mereka saling bergulung.


"Vin..." desah Ivan setelah melepaskan ciumannya.


"Hmm...?"


Ivan menangkup pipi chubby Vin-vin dengan kedua tangannya. Sambil menatap Vin-vin dengan lekat, Ivan berbisik, "Jangan percaya dengan ucapan orang lain apalagi jika itu keluar dari mulut Rissa, plis!"


Vin-vin mengangguk sambil menatap netra hitam Ivan.


"Aku cuma percaya sama kamu," jawab Vin-vin sambil memeluk Ivan.


"Terima kasih, sayang..." Ivan memeluk Vin-vin dan membenamkan wajahnya di leher jenjang Vin-vin.


Vin-vin menepuk-nepuk punggung Ivan sambil tersenyum.


"Aku hanya akan percaya dengan apa yang Pak Ivan ucapkan. Tapi janji, jangan ada yang di sembunyikan dari aku," pinta Vin-vin.


Ivan mengeratkan pelukannya sambil memejamkan matanya, "janji..." lirihnya.


Namun dalam hati Ivan berharap, rahasia busuk yang dia pendam selama ini tak akan pernah di ketahui Vin-vin.


Rahasia yang membuatnya jijik bahkan pada dirinya sendiri.

__ADS_1


#bersambung...


__ADS_2