
‘Klik. Klik.’
Ivan menatap ponselnya yang sedari tadi tergeletak di meja. Muncul nama ‘si bocah’ di sana, dan Ivan pun tersenyum.
Entah kenapa dia enggan mengganti nama Vin-vin di ponselnya. Lagian dia mau ganti dengan apa? ‘pacarku?’ sweetheart? Atau si manis? Si manis jembatan ancol kali. Ivan terkekeh sendiri.
Biarlah untuk saat ini dia tetap menamai Vin-vin dengan ‘si bocah’ di ponselnya. Untuk antisipasi juga agar tak terjadi hal yang tak diinginkan. Apalagi ponsel ini sering tergeletak di atas meja, kalau sampai muncul nama ‘Vin-vin’ saat dia telpon atau mengirim pesan dan bukan Ivan yang melihat pertama kali kan bahaya jadinya.
‘Hari ini aku pulang sama Axel ya Pak.’ Tulis Vin-vin.
‘Kenapa?’
‘Aku cuma nggak mau kalau sampai Pak Daniel lihat lagi. Bisa-bisa dia benar-benar mengira kita pacaran.’
‘Kamu nggak mau Daniel tau kalau kita pacaran? Kenapa? Kamu juga ingin pacaran sama dia?’
‘Apaan sih Pak!! Aku cuma nggak mau pak Ivan kena masalah gara-gara aku.’
‘Mau jadi masalah atau nggak, biar itu jadi urusan Saya! Kamu nggak usah khawatir, Saya bisa atasi!’
‘Iya Pak, aku percaya. Nanti sore aku ke apartemen ya.’
Ivan menatap layar ponselnya dengan wajah cemberut. Bukannya tadi dia bilang nggak masalah? Kenapa Vin-vin tetap bersikeras pulang dengan Axel! Entah kenapa kesal sekali rasanya.
Saat sedang memperhatikan ponselnya, Ivan melihat Daniel masuk ke ruang guru sambil membawa selembar kertas, sekilas Ivan melihat ada foto Axel di sana.
Ivan jadi penasaran apa yang sedang direncanakan oleh guru baru itu.
“Pak Daniel, ada perlu apa dengan data pribadi siswa ini?” tanya Bu Yosephine saat dia mendekati meja kerja Daniel.
Ivan bersyukur dengan ke-kepoan Bu Yosephine, baru kali ini dia menganggap rasa penasaran ibu-ibu itu sangat berguna baginya.
Ivan tinggal berkonsentrasi, memasang telinganya lebar-lebar untuk mendengarkan pembicaraan mereka berdua.
“Saya penasaran dengan Axel Bu, dia blasteran ya? Saya mau cek nilai Bahasa Inggrisnya selama ini. Sepertinya dia sedikit sombong karena pintar bahasa Inggris sehingga kurang konsentrasi saat pelajaran sedang berlangsung.” Daniel tampak sinis sambil memandangi foto Axel di catatan yang dia pegang.
“Bukan hanya di pelajaran Bahasa Inggris kok Pak, hampir di semua mata pelajaran Axel mendapat peringkat satu. Dia memang pintar,” Bu Yosephine tersenyum bangga.
“Tapi, bukannya Pak Daniel hanya mengajar di kelas IPS? Kelas IPA kan di pegang Pak Yuli?”
__ADS_1
“Oh iya ya...” Daniel tersenyum malu sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal,
“Sepertinya Saya terlalu bersemangat mengajar di sekolah ini, sampai-sampai ingin mengetahui semua kemampuan anak didik di Sekolah walaupun bukan Saya yang pegang.”
“Ahh.. Pak Daniel...” Bu Yosephine menepuk bahu Daniel karena gemas.
Ivan mendengus. Bukan karena alasan tak masuk akal dari Daniel tentang Axel tapi karena mendengar ucapan Bu Yosephine tentang kemampuan Axel. Dia baru tahu jika Axel adalah murid yang sangat pintar dalam semua mata pelajaran.
Dia sudah menganggap remeh saingan cintanya itu.
Ahh, tapi itu semua sudah tak ada artinya, toh Vin-vin lebih memilih dirinya daripada Axel.
Ivan melirik jam tangannya lalu bangun dari duduknya tak lupa menyambar jaket training yang terkulai di sandaran kursinya. Saatnya dia mengajar di kelas X, dia harus bergegas jangan sampai murid-muridnya menunggu.
“Pak Ivan!”
Langkah Ivan terhenti, dia pun menoleh untuk menatap Daniel yang barusan memanggil namanya.
“Ada apa Pak Daniel?”
Daniel bangun dari duduknya dan berjalan perlahan mendekati Ivan. Ruang guru saat ini sedang kosong karena jam pelajaran memang sudah dimulai lima menit yang lalu, sehingga membuat Daniel merasa leluasa untuk berbicara dengan Ivan.
“Lalu?”
“Sepertinya dia akan setuju ikut les Bahasa Inggris dengan Saya,” jawabnya dengan nada penuh kemenangan.
“Dan kenapa Saya harus tahu masalah itu? Itu bukan urusan Saya!” jawab Ivan dengan tegas.
“Ya... Saya hanya ingin berbagi informasi saja dengan anda Pak Ivan. Saya merasa sangat senang jadi ingin sekali Anda juga mengetahuinya.”
Ivan tersenyum smirk, “nikmati kebahagiaan semu anda Pak Daniel. Dan ingat, Saya memperhatikan Anda! Mungkin guru-guru lain bisa ditipu oleh mulut manis dan wajah tanpa dosa yang anda buat-buat tapi tidak untuk Saya! Terutama masalah Indah dan Dita nggak akan berakhir sampai disini bagi Saya, camkan itu!” Setelah itu Ivan berjalan menjauh, meninggalkan Daniel.
Tampak sekali Daniel berusaha keras menahan emosinya saat mendengar ucapan Ivan, namun otot-otot di pelipisnya yang menyembul tidak bisa berbohong.
“Kurang ajar Lo Van, lihat saja apa yang gue bakal lakuin ke Vincia! Lo bakal nangis darah nanti karena Lo sudah bikin masalah sama Gue!” geram Daniel.
###
Ivan berjalan mondar mandir di depan pintu apartemennya. Waktu sudah menunjukkan pukul tiga sore dan Vin-vin belum juga sampai. Padahal dia sudah chat setengah jam yang lalu bahwa dia akan datang ke apartemen Ivan namun sampai sekarang batang hidungnya belum nampak sama sekali.
__ADS_1
Ivan mendesah frustasi, lalu mengambil ponsel yang terselip di saku celana jeansnya. Buru-buru dia menyalakan ponsel berharap ada chat dari Vin-vin namun ternyata nihil. Akhirnya Ivan pun memencet nomer pacar kecilnya itu dan menelponnya.
“Halo...”
“Halo! Vin, kamu di mana? Apa perlu aku jemput?” tanya Ivan khawatir.
“Nggak perlu, aku sudah di belakang Pak Ivan...”
Ivan langsung membalikkan badannya dan menatap Vin-vin yang sedang menelponnya sambil tersenyum ceria.
“Ck!” Ivan berdecak kesal sambil memasukkan kembali ponselnya ke dalam saku celana.
“Kenapa sih? Kangen banget ya sama aku?” goda Vin-vin sambil mengedipkan sebelah matanya.
Ivan tak menjawab, dia malah bergegas masuk ke dalam apartemennya.
Vin-vin tersenyum makin lebar, lalu dengan langkah ceria dan sedikit melompat bahagia dia pun masuk mengikuti pacar tampannya.
“Kamu ikut les bahasa Inggris sama si Daniel?!”
“Eh?” Vin-vin terkejut karena tak ada angin dan tak ada hujan, tiba-tiba Pak Ivan bertanya tentang Daniel.
“Nanti dulu dong Pak, aku belum juga duduk nih,” Vin-vin melepaskan jaketnya lalu duduk di sofa empuk milik Ivan.
Ivan hanya bersedekap sambil terus menatap Vin-vin.
“Ih, Pak Ivan serem ih...”
“Cepat bilang Vin! Saya sedang nggak bercanda! Ini masalh serius!” ucap Ivan tegas.
“Saya nggak akan biarkan ya, kamu sampai ikut les sama si Daniel itu. Apalagi membayangkan kalian hanya berdua dalam satu ruangan! Daniel itu berbahaya! Saya sudah bilang berulang kali kalau dia itu berbahaya, kamu harus selalu waspada!” cerocos Ivan.
“Iya Pak, biar aku jelaskan dulu dong!” kesal Vin-vin.
“Sebenarnya tadi Pak Daniel mengancam akan membocorkan rahasia kita jika aku nggak mau ikut les dengannya,” jawab Vin-vin.
“Dasar manusia sampah!” geram Ivan.
“Makanya aku kesini mau membicarakan masalah itu dengan Pak Ivan.”
__ADS_1
"Nggak ada yang perlu dibicarakan! Sekali nggak! Tetap nggak!" Seru Ivan tak mau di bantah.