
"Traktir dong, Pak..."
Ivan tersentak saat lamunannya buyar karena Mutia tiba-tiba duduk di sampingnya.
"Ck! ganggu aja!" gerutunya, lalu mengambil sebatang rokok dari kotak rokok warna silver miliknya.
Tiba-tiba rokok yang sudah mendarat di bibir Ivan, di ambil dengan paksa dan di patahkan jadi dua.
"Ap-!"
"Kalau mau merokok, di toilet saja. Mengganggu kesehatan orang lain, tau nggak!" Axel duduk di sebelah Mutia setelah membuang rokok Ivan yang sebelumnya sudah dia patahkan.
"Dasar... bocah kurang ajar!" gumam Ivan, lalu memasukkan kembali kotak rokoknya ke dalam saku celana.
"Kamu mau makan apa, Xel?" tanya Mutia.
"Hotdog? kebab? atau burger?" lanjutnya.
"Aku burger aja, minumnya colla."
"Oke. Mas Toni, burger 2, colla 1, orange juice 1!" teriak Mutia pada salah satu karyawan kafe milik Ivan.
Ivan melirik sinis ke arah mantan muridnya itu, "kalian kalau kesini cuma bikin bangkrut aja! minta gratis terus!" gerundel Ivan, kesal.
"Pelit amat!" kesal Mutia.
"Inget ya, suatu saat nanti Pak Ivan pasti butuh bantuan ku! makanya nggak boleh pelit-pelit!"
Ivan terdiam dan berpikir sejenak, "bener juga, Mut! bantu gue Mut!"
"Bantu apa?"
"Bikin Vin-vin balik seperti dulu. Gue ngerasa ada yang aneh sama dia. Jelas jelas dia masih cinta tapi nggak mau ngakuin! malah terus terusan menghindar."
Mutia menganggukkan kepalanya beberapa kali.
"Oke, Pak. Nanti aku pikirkan caranya. Yang penting sekarang aku harus makan kenyang dulu biar dapat ide cemerlang."
__ADS_1
"Bisa aja, Lo... kulit kwaci!" geram Ivan. Dan sontak membuat Mutia dan Axel tertawa.
***
Vin-vin duduk termenung di ruang makan sambil menatap ke luar melalui pintu kaca.
Sesekali dia menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu meminum teh hangatnya dan kemudian kembali termenung.
Sang Ibu yang sedari tadi memperhatikan tingkah anak gadisnya itu, hanya bisa tersenyum. Akhirnya Mama Luci mendekat dan duduk di samping Vin-vin.
"Lagi mikirin apa sih? kayaknya berat banget..."
Vin-vin menoleh lalu tersenyum pada mamanya.
"Nggak, kok, Ma..."
"Nggak apa-apa, cerita aja sama Mama. Siapa tau Mama bisa bantu mikirnya. Dua kepala lebih baik dari pada satu kepala kan?"
Vin-vin terkekeh. Lalu terdiam dan mulai menunduk.
"Vin-vin bingung sama diri sendiri..." ucapnya, memulai berbicara.
Mama Luci tersenyum.
"Bukan hati kamu yang berhianat, tapi kamu nya sendiri yang nggak mau mengakui kalau selama ini kamu memang masih sayang sama Ivan."
"Tapi Ma... Pak Ivan sudah bohongi Vin-vin! apa gunanya sebuah hubungan yang nggak ada kejujuran di dalamnya! percuma. Kalau di lanjutkan, suatu saat pasti ada lagi yang Vin-vin nggak tau, muncul, dan membuat hubungan kami berantakan lagi."
Mama Luci menarik napas dalam, lalu menghembuskannya perlahan.
"Jangan menerka-nerka hal yang belum terjadi. Jangan ketakutan berlebihan untuk sesuatu yang belum kamu jalani. Karena apa? kamu nggak akan bisa melakukan apapun kalau selalu berpikir negatif. Akhirnya... kamu cuma bisa diam, marah lalu menyesal."
Mama Luci meraih jemari Vin-vin.
"Tidak ada sebuah hubungan yang mulus seperti jalan tol, sayang. Kalaupun ada, kalian pasti akan merasa bosan."
Vin-vin terdiam.
__ADS_1
"Jika suatu saat nanti, muncul hal baru yang membuat kamu marah atau kesal, bicarakan berdua, cari solusinya, selesaikan berdua, bukannya lari dan menghindar."
Vin-vin cemberut, dia merasa di sindir oleh Mamanya.
"Mama nggak tau yang aku rasain..."
Mama Luci terkekeh, "mana mungkin Mama nggak pernah ngerasain. Papa kamu seperti apa sebelum dengan Mama, masa kamu nggak ingat..." Mama Luci tersenyum sambil menatap langit biru di luar.
"Mama bahkan pernah pergi ke Jogja dengan Papi mu, demi mencari kebenaran. Mama nggak lari, nggak juga ninggalin Papi. Karena Mama tau, Mama sayang sama Papi walau bagaimanapun Papi mu itu di masa lalu. Karena Mama tau, masa depan Papi hanya satu, yaitu Mama."
"Dan Mama yakin seratus persen, Papi itu orang baik dan tulus dan mau berubah. Nah.. menurut Vin-vin... Ivan itu seperti apa?" Mama Luci menatap anak gadisnya sambil tersenyum.
"Menurut kamu... Ivan orangnya tulus nggak? sayang nggak sama kamu?"
Vin-vin menundukkan kepalanya lalu mengangguk.
"Sayang..." Mama Luci kembali meraih jemari Vin-vin.
"Kita nggak akan pernah bisa mengubah masa lalu, dan nggak bisa menyalahkan masa lalu. Tapi satu yang pasti, masa depan bisa di ubah. Semua itu tergantung diri kamu sendiri."
Air mata Vin-vin tiba-tiba menetes, dia merasa menyesal telah berbuat kasar pada Ivan yang selalu sabar menghadapi tingkahnya.
"Aku.. mau..."
Kriiing!!
Tiba-tiba ponsel Vin-vin berdering dan menginterupsi ucapan Vin-vin.
Vin-vin pun mengangkatnya setelah melihat nama Mutia tertera di layar.
"Halo Mut, ada apa?"
"Pak Ivan, Vin! Pak Ivan..." ucap Mutia yang tampak gugup.
"Pak Ivan kenapa?" tanya Vin-vin.
"Pak Ivan kecelakaan!"
__ADS_1
"Apa!!!"