
“Aku mau pergi sebentar,” Mutiara bangun dari duduknya tapi Vin-vin langsung meraih tangannya.
“Mau kemana?”
“Ke ruang fotokopi, mumpung guru-guru lagi sibuk di ruang guru ngurusin Indah dan Dita. Kenapa? Kamu mau ikut?”
“Aku mau ke toilet.”
“Ya udah, ayuk sekalian.”
Vin-vin bangun dari duduknya dan mengikuti langkah Mutiara. Mereka hendak menuju ruang fotokopi, tapi berjalan memutar melewati toilet dulu untuk mengantar Vin-vin.
“Buruan sana, aku tunggu di sini,” ucap Mutia. Dia selalu mengingat titah Pak Ivan dan juga ucapan Axel. Entah kenapa dua orang lelaki yang saling bersaing itu sangat khawatir bakal terjadi sesuatu pada Vin-vin. Ya Mutiara akui Vin-vin memang sangat cantik, bagaimana tidak? Ayah Ibunya model, belum lagi garis keturunan ayahnya yang adalah seorang artis yang sudah pasti juga tampan.
“Kamu ke ruang fotokopi aja Mut, nanti kalau sudah selesai balik lewat sini, kalau misal aku selesai duluan nanti aku nyusul kamu ke ruang fotokopi,” usul Vin-vin.
Mutiara berpikir sebentar, “memangnya nggak apa-apa?” dia sedikit ragu.
“Nggak apa-apa, sudah sana! Aku udah kebelet nih!” Vin-vin mendorong bahu Mutia agar berjalan menjauh lalu dia sendiri masuk ke dalam toilet.
“Jangan kemana-mana sendirian ya!” teriak Mutiara namun tak mendapatkan jawaban dari Vin-vin, mungkin Vin-vin sudah mulai ritual bertapanya. Akhirnya Mutiara pun bergegas menuju ruang fotokopi dan berharap tak ada antrian sehingga dia bisa secepatnya menjemput Vin-vin.
“Heuhh.. leganya...” Vin-vin keluar dari toilet. Karena tak melihat Mutiara di depan toilet Vin-vin memutuskan untuk menyusul temannya itu ke ruang fotokopi. Namun saat dia berjalan baru beberapa langkah tiba-tiba ada suara yang memanggil namanya.
Vin-vin tahu suara siapa itu, dia sempat berpikir untuk pura-pura tak mendengar panggilan itu dan terus berjalan, namun langkahnya terhenti karena tangannya di raih.
“Vin, kamu nggak dengar Saya panggil?”
Vin-vin mendesah pelan dan akhirnya dia menoleh sambil memaksakan senyumnya, “Pak Daniel? Ada apa?”
__ADS_1
“Ada yang ingin Saya bicarakan,” ucap Daniel, dia terlihat bahagia dan puas karena beberapa hari ini sulit sekali baginya untuk berbicara empat mata dengan Vin-vin, pasti ada saja pengganggunya.
“Bicara masalah apa? Kalau soal les aku benar-benar nggak bisa,” jawab Vin-vin dengan jengah.
“Mungkin kalau kamu mendengarkan ucapan Saya, kamu bakal berubah pikiran dan mau ikut les dengan Saya,” Daniel tersenyum.
Vin-vin sebenarnya tak ingin tahu, namun Daniel mulai berbicara sendiri tanpa diminta.
“Bagaimana jika kamu ikut les dengan Saya, atau rahasia kamu dan Pak Ivan Saya bocorkan ke Bapak Kepala Sekolah. Dan kalau sampai Pak Kepala Sekolah tahu, bisa-bisa Pak Ivan di pecat dari sekolah ini.” Daniel menatap Vin-vin sambil tersenyum smirk penuh kemenangan.
“Memangnya ada rahasia apa antara aku dan Pak Ivan?” Vin-vin mencoba berbicara dengan nada datar. Bisa saja Pak Daniel tak tahu apa-apa, tapi dia hanya menerka-nerka karena berpapasan dengan Pak Ivan kemarin di cafe D’Best.
Daniel terkekeh, “Saya bukan orang bodoh Vin! Melihat kalian berdua kemarin, Saya yakin kalian ada sesuatu. Saya bisa cari tahu secepatnya kalau kamu mau, dan Saya yakin hasilnya persis seperti yang ada dalam pikiran Saya.”
“Bu... bukannya Pak Daniel sendiri juga punya masalah serius? Bagaimana dengan Dita dan Indah?!”
“Itu semua biar jadi masalah Saya Vin, kamu nggak usah memikirkannya. Yang perlu kamu pikirkan adalah...” Daniel berjalan mendekati Vin-vin yang juga berjalan mundur mencoba menjauhinya.
Vin-vin menelan ludah mencoba menutupi rasa gugupnya. “Ba... bagaimana caranya...?” tanyanya lirih. Dia merasa cemas dan was-was.
“Banyak cara...” Daniel tersenyum sambil mengelus dagunya. “Saya akan beritahu kamu satu persatu asal kamu menuruti semua perintah Saya, bagaimana?”
“Vin!”
Vin-vin menoleh dan mendesah lega saat melihat Axel datang mendekat.
“Pelajaran sudah mulai balik kelas sana!” titah Axel dengan tegas.
Tanpa menunggu dua kali, Vin-vin langsung menurut dan berlari menuju kelasnya. Entah apa yang Axel bicarakan dengan Pak Daniel, namun Vin-vin bisa melihat dari ujung matanya, Axel membicarakan sesuatu dengan sikap yang nampak sekali tak suka dengan Pak Daniel.
__ADS_1
.
Vin-vin mengikuti pelajaran dengan perasaan tak karu-karuan. Dia sangat khawatir jika Pak Daniel akan mencari tahu ada hubungan apa antara dirinya dan Pak Ivan. Dan jika dia tahu lalu membocorkannya ke pihak Sekolah? Bisa-bisa Pak Ivan di pecat. Bagaimana mungkin Vin-vin tega melihat kekasih hatinya terpuruk karena di pecat dari pekerjaannya?
“Vin,” bisik Mutia yang entah sejak kapan sudah duduk di sampingnya, Vin-vin terlalu larut dalam pikirannya sendiri hingga tak sadar yang terjadi di sekitarnya.
“Hmm?”
“Tadi kamu di cari Axel, waktu aku susul kamu ke toilet aku malah ketemu dia dan katanya kamu sudah balik kelas.”
“Iya, tadi aku sudah ketemu sama Axel,” Vin-vin mengingat Axel dan Pak Daniel lagi.
“Oh iya, kamu tahu yang terjadi pada Indah dan Dita?”
Vin-vin menoleh, “Gimana mereka?” tanyanya antusias.
“Kata Pak Daniel, Indah dan Dita hanya ke Ge-er an, Pak Daniel itu hanya bersikap ramah saja tapi mereka berdua menganggap Pak Daniel suka pada mereka.”
“Omong kosong! Nggak mungkin lah!” teriak Vin-vin lirih, karena di depan ada guru yang sedang menulis di papan tulis.
“Indah dan Dita itu bukan cewek cupu, mereka berdua kan lumayan populer juga, banyak yang suka. Masa mereka nggak bisa membedakan sikap ramah tamah dari Pak Daniel. Indah kan malah bilang kalau mereka berdua sudah jadian?!”
“Iya, kayaknya Pak Daniel perlu di selidiki deh, herannya kok semua guru percaya begitu saja!”
“Kita sebagai murid dan teman dari Indah dan Dita nggak boleh tinggal diam. Kamu punya nomor HP Indah dan Dita? Aku minta dong!”
“Nanti aku tanya Sisca, dia kan sekelas dengan Indah.”
Vin-vin tersenyum sambil mengacungkan jempolnya. Lalu dia mulai mencatat pelajaran yang sudah di tulis guru di papan tulis, masalah ancaman dari Pak Daniel, Vin-vin akan membicarakan dengan Pak Ivan saja nanti. Dia nggak mau mengambil keputusan sendiri takut Pak Ivan marah, apalagi Pak Ivan tampak sekali tak menyukai Pak Daniel.
__ADS_1
Vin-vin secara sembunyi-sembunyi mengambil ponselnya dan mengirim chat pada Pak Ivan agar hari ini mereka tak usah pulang bersama, Vin-vin akan ikut Axel. Ini adalah cara yang dia bisa agar Pak Daniel tidak lagi curiga dan mengambil kesempatan untuk menyudutkan dirinya lagi
Mungkin Vin-vin akan datang ke apartemen Pak Ivan sore harinya untuk membicarakan tentang ancaman Pak Daniel.