
"Jadi selama ini Pak Ivan membohongi aku!" teriak Vin-vin penuh emosi. Bagaimana tidak, Ivan bilang kalau tunangannya itu sudah meninggal dua tahun yang lalu, tapi nyatanya dia masih segar bugar berdiri di depannya. Walaupun wanita ini mengubah penampilannya dengan berambut ikal dan berwarna merah, tapi Vin-vin tak bisa di bohongi, ini wanita sama yang ada di foto itu.
"Bukan seperti itu Vin!" Ivan berusaha menenangkan Vin-vin. Dia tak meyangka akan bertemu dengan Rissa di sini.
"Lalu dia itu apa?! hantu!!"
"Bukan Vin, dengarkan aku dulu..."
"Sekali berbohong, kamu pasti akan kembali berbohong! aku benci sama Pak Ivan!" Vin-vin tak mau mendengarkan penjelasan Ivan. Dia bahkan menepis tangan Ivan yang sejak tadi memegangi lengannya.
Sejak kemarin Vin-vin sudah menahan diri, karena kebungkaman Ivan. Ivan tak berusaha menjelaskan kejadian kemarin, bahkan setelah minta maaf pun dia tak mengungkit masalah yang sudah membuat Vin-vin senewen. Vin-vin sudah cukup bersabar sebelumnya, namun sekarang dia sudah tak bisa lagi menahannya. Apalagi dia sampai tahu sendiri jika wanita itu adalah tunangan Ivan. Kenapa Pak Ivan diam saja selama ini dan bahkan berbohong pada Vin-vin? dia bahkan mengatakan jika tunangannya sudah meninggal. Tak bisa di percaya, ternyata Ivan sangat jahat.
Vin-vin berlari meninggalkan Ivan, dia berlari secepatnya keluar dari bioskop dan mencari taksi untuknya agar bisa pulang secepatnya. Namun nahas, tak ada satupun taksi yang menunggu di depan bioskop. Takut Ivan akan segera menyusulnya, Vin-vin menghentikan angkutan kota yang melintas dan dengan segera menaikinya, padahal dia sama sekali tak tahu akan kemana tujuan angkutan yang dia naiki ini.
Ivan melihat kepergian Vin-vin, Ivan pun bergegas untuk mengejarnya namun dengan cepat tangannya di raih oleh Rissa.
"Van, gue mau ngomong sesuatu," pinta Rissa sambil mencengkram erat pergelangan tangan Ivan.
"Gue nggak perduli, ngomong aja sama tembok," kesal Ivan sambil menepis tangan Rissa.
"Lo nggak ada rasa bersalahnya sama sekali ya?! padahal yang membuat Rina meninggal itu Lo!" bentak Rissa saat Ivan hampir sampai di pintu keluar.
Teriakan Rissa barusan sukses membuat Ivan menghentikkan langkahnya. Dengan tangan mengepal, dia menoleh ke arah Rissa.
Sambil mencoba menenangkan emosinya yang hampir meluap, Ivan berjalan mendekati wanita cantik itu.
"Walaupun wajah kalian sama persis, sampai mati gue nggak akan pernah jatuh cinta sama Lo! camkan itu! jadi berhenti ganggu hidup gue!" geram Ivan sambil menatap tajam pada Rissa.
"Dan satu lagi, Rina meninggal karena kecelakaan dan kecelakaan itu sebenarnya bukan karena gue tapi karena Lo!" teriak Ivan.
"Rina pasti juga ingin melihat gue dan Lo bahagia..." gumam Rissa.
__ADS_1
"Itu kan harapan Lo!!" takut jika emosinya akan semakin memuncak, Ivan bergegas pergi. Dia tak mau berlama-lama di dekat Rissa. Dia harus segera mengejar Vin-vin dan menjelaskan semuanya agar tak ada lagi salah paham.
"Kan kalau Lo cerita bisa meminimalkan masalah yang mungkin bakal muncul nantinya."
Tiba-tiba ucapan Dion semalam terniang-ngiang di telinga Ivan.
"Sial! ternyata Dion ada benernya!" geram Ivan.
Ivan berlari untuk mengejar Vin-vin namun sayang Vin-vin sudah naik ke dalam angkutan kota. Ivan makin kalut.
Dia berlari hendak mengejar angkutan kota yang membawa Vin-vin, namun sayang sudah terlambat. Ivan tak bisa berlari lebih cepat lagi.
"Warna merah nomer 3! warna merah nomer 3..." Ivan terus mengulang untuk mengingat mobil angkutan yang membawa Vin-vin sambil berlari secepatnya menuju area parkir motor di bioskop.
Setelah menemukan motor sport nya, Ivan langsung memacu nya dengan cepat, untuk mengejar Vin-vin.
"Warna merah nomer tiga! di mana dia!" gumam Ivan sambil menjalankan motornya. Dia menengok ke kanan kiri mencari-cari keberadaan angkutan umum itu.
Ivan benar-benar tak memperdulikaan keselamatannya sendiri, yang ada di pikirannya hanya Vin-vin. Dia tak mau kehilangan Vin-vin. Baru kali ini Ivan melihat Vin-vin begitu marah. Ivan harus segera menjelaskan semuanya.
"Vin!" teriak Ivan. Dia menjejeri angkutan umum yang membawa Vin-vin. Namun Vin-vin berpura-pura tak mendengar, dia tetap diam di dalam kendaraan itu.
"Vin! berhenti dulu! dengerin aku!" Teriakan Ivan tak menggoyahkaan Vin-vin sama sekali. Dia tetap diam tak meminta sopir angkutan itu untuk berhenti.
"Itu orang manggil siapa sih! bahaya kali ngejar angkutan umum begitu!" ucapan salah satu penumpang angkutan umum pada teman yang duduk di sebelahnya.
Vin-vin menundukkan kepala. Dia tahu apa yang di lakukan Ivan sangat berbahaya, tapi dia tak mau bicara dengannya sekarang. Vin-vin akan diam, sampai Ivan lelah dan pergi.
Dia tak mungkin akan melakukan hal-hal yang berbahaya kan?
"Vincia!" teriak Ivan lagi.
__ADS_1
Kesal karena tak juga di perdulikan, sedangkan angkutan umum itu juga tak mau berhenti, Ivan memacu motornya lebih kencang untuk mendahului angkutan dan secara tiba-tiba dia menghalanginya. Ivan menghentikan motornya melintang di depan angkutan itu, membuat sangat sopir terkejut dan mengerem mendadak.
"Lo gila ya! kalau sampai ketabrak gimana gobl**!!" Teriak supir angkutan umum dengan emosi.
Ivan tak perduli, dia terus berjalan masuk ke dalam angkutan dan menarik tangan Vin-vin agar keluar.
"Nggak! aku nggak mau!" tolak Vin-vin sambil menarik tangannya kembali.
Ivan tak bicara, yang dia lakukan hanya kembali menarik tangan Vin-vin dan mengajaknya keluar.
"Nggak!"
"Bang! dia nggak mau itu!" seru salah seorang penumpang laki-laki yang mengenakan seragam SMA.
Ivan tetap diam, dia mencoba menarik Vin-vin lagi.
"Bang!" si penumpang SMA itu mencengkram lengan Ivan dan berusaha menghentikannya.
"Lo nggak usah ikut campur!" teriak Ivan, lalu dia memandang Vin-vin lagi.
"Turun! sebelum aku nekat Vin!"
Vin-vin menghela napas dana akhirnya menurut, dia pun bangun dari duduknya dan mengikuti Ivan.
"Mba! aku laporin polisi aja ya!" teriak si murid SMA dari dalam angkot.
"Jangan! nggak usah!" ucap Vin-vin, tentu saja bagaimana pun marahnya, Vin-vin nggak mau kekasihnya berurusan dengan polisi.
Ivan naik ke atas motornya lalu menyuruh Vin-vin untuk duduk di belakangnya.
"Ma.. mau ke mana?"
__ADS_1
"Nanti juga tahu," ucap Ivan sambil memakaikan helm Vin-vin, mengunci kaitnya biar Vin-vin aman dan nyaman.