
"Permisi Tante, Vin-vin nya ada?"
Mama Luci yang sedang asyik menyirami bunga di teras depan langsung menoleh, "eh, Mutiara... Vin-vin ada di kamarnya tuh, masuk aja."
"Makasih Tante, Tante tambah cantik aja deh..." Mutia tersenyum sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
Mama Luci hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala dengan tingkah sahabat putrinya itu.
"Eh, ada si ganteng Devano..." Mutia terhenti di ruang tamu saat melihat anak lelaki berwajah rupawan yang persis sekali dengan ayahnya, dia sedang asyik dengan ponselnya sampai tak memperdulikan panggilan dari Mutia.
"Lagi apa sih ganteng? serius amat?"
Devano hanya melirik ke arah Mutia lalu melanjutkan kegiatannya lagi, dia kembali fokus pada ponselnya.
"Buset dah! masih bocah aja udah sok cool Lo!" kesal Mutia karena panggilannya tak di gubris adik dari sahabatnya itu.
"Kak Vin-vin ada di kamarnya," ucap Devan padat dan singkat. Lalu dia menggeser tubuhnya agar membelakangi Mutia, tanda dia tak mau di ganggu.
"Pacaran Lo ya! masih bocah aja udah main pacar-pacaran! lagi ngegombal pasti tuh, serius amat sama HP nya!" Mutia masih tak menyerah untuk menggoda Devan.
"Kak Vin-vin! ada kak Mutia nih! buruan turun! ganggu gua mulu dia!" teriak Devan mulai kesal dengan keusilan Mutia.
Mutiara malah terkekeh.
"Apa sih Mut! pagi-pagi gangguin Devan!" Vin-vin turun dari lantai dua rumahnya dengan sedikit berlari karena teriakan Devan. Dia memang sudah menunggu Mutia dari tadi di kamar. Bukannya ke kamar, Mutia malah nyangkut di ruang tamu godain adiknya.
"Gumush gua sama adek Lo!" Mutia meringis.
"Gedenya pasti ganteng banget dia..." bisiknya pada Vin-vin.
Vin-vin terkekeh, "yuk ah kita capcus!"
"Kakak mau ke mana?" tanya Devan saat melihat kakaknya sudah berdandan sangat cantik, yah walaupun hanya memakai t-shirt putih dan skinny jeans warna hitam, Vin-vin sudah terlihat begitu mempesona.
"Kakak mau nonton pertandingan basket di GOR," ucap Vin-vin sambil memakai sneakers warna putih.
"Yuk Mut, buruan," Vin-vin menarik Mutia keluar dari rumah.
"Iya.. iya! buru-buru amat Lo!"
"Mah, Vin-vin pergi dulu sama Eemmut ya," teriak Vin-vin saat keluar dari pintu utama.
"Iya, hati-hati ya," jawab Mama Luci dengan lembut.
__ADS_1
"Permisi Tante," pamit Mutia sambil tersenyum.
"Hati-hati ya Mut," Mama Luci menoleh ke arah Mutia.
"Siap Tante," setelah naik ke atas motor maticnya, Mutia langsung tancap gas karena Vin-vin sudah sangat tak sabar bertemu dengan kekasihnya. Ya siapa lagi kalau bukan Pak Ivan.
"Tumben lu ngajakin gua ketemu Pak Ivan," ucap Mutia dalam perjalanan.
"Soalnya Pak Ivan ajakin Om Dion, jadi aku juga ajakin kamu aja lah..."
"Om Dion itu siapa?"
"Sahabatnya Pak Ivan, mereka sudah akrab sejak SMA. Dia atlet basket loh Mut, sapa tau kamu mau kenalan..." Vin-vin tersenyum di kulum.
"Masa gua di kenalin sama Om Om!"
"Eh, dia kan seumuran Pak Ivan. Belom tua banget kok!"
"Ogah! Pak Ivan aja udah tua menurut gua!"
"Pak Ivan nggak tua! dia baru 25 tahun tau!' Vin-vin mulai merajuk karena kekasihnya di ejek sudah tua oleh Mutiara.
"Lah kita baru 17 gaes! 17!"
Bibir Vin-vin mengerucut, dia memilih diam dan enggan melanjutkan perdebatan dengan sahabatnya. Dia tak mau hari ini moodnya rusak gara-gara Mutia.
Vin-vin mulai celingukan mencari kekasihnya yang belum juga terlihat, padahal tadi dia telpon sudah sampai duluan.
Vin-vin mengambil ponselnya dan mulai menelpon Ivan namun tak juga mendapat jawaban.
"Pak Ivan di mana?" tanya Mutia sambil celingukan.
"Tau nih, katanya sudah sampai!" kesal Vin-vin sambil memencet-mencet layar ponselnya mencoba terus menghubungi Ivan.
"Eh, di sana ada apaan tuh? ramai banget. Kita samperin yuk," Mutia menarik lengan Vin-vin.
"Aku lagi nyari Pak Ivan! ngapain ke sana!" Vin-vin mulai bete. Tadi Mutia sudah mengejek kekasihnya, sekarang dia juga tampak tak peduli saat Vin-vin tak bisa menghubungi Ivan.
"Vin! itu... beneran Pak Ivan?!" teriak Mutia ,dari nada suaranya dia tampak shock.
Vin-vin menoleh lalu tersenyum saat melihat kekasihnya dari kejauhan. Ivan terlihat sangat tampan walau hanya memakai kaos dan celana jeans.
"Pak Ivan kok kelihatan beda dari biasanya..." gumam Mutia.
__ADS_1
"Emang biasanya dia gimana?"
"Biasanya dia kayak bapak-bapak, ini kok beda..." gumam Mutia yang masih tak percaya. Dia terlihat terpesona pada ketampanan Ivan.
"Itu telinganya di tindik?"
"Jaman kuliah dia sudah tindik telinga, tapi saat mengajar di sekolah, Antingnya dia lepas," Vin-vin berlari kecil untuk memeluk kekasihnya.
"Mut," Ivan tersenyum pada Mutia. Dia sedikit canggung karena ini pertama kalinya dia bertemu murid di luar sekolah dengan penampilan santai seperti ini.
"Pak..." balas Mutia, dia masih shock. Setelah mengejek Ivan seperti Bapak-bapak tadi, sekarang Mutia langsung menarik kata-katanya.
Kalau Pak Ivan bisa bertransformasi jadi sekeren ini, orang yang bernama Om Dion juga pasti tak kalah keren. Seharusnya tadi Mutia menurut saja saat akan di kenalkan dengan teman gurunya itu, bukannya mengejek. Jadi tengsin kan kalau mau nanyain yang namanya Om Dion.
"Om Dion mana?" tanya Vin-vin.
Binggo! Mutia tak perlu bertanya, Vin-vin sudah bertanya terlebih dahulu.
"Ada kok, itu dia."
Vin-vin dan Mutia serentak menoleh. Apalagi Mutia, dia begitu bersemangat dan penasaran dengan sosok yang bernama Dion ini. Apakah mungkin sama kerennya dengan Pak Ivan.
saat melihat sosok pria tinggi, berkulit kecoklatan dan berambut ikal dengan wajah yang biasa aja, Mutia langsung kecewa.
"Hmm... kalau yang ini sih memang Om Om!" gumam Mutia. Dia kecewa.
"Biasa aja kali mukanya Mut!" seloroh Vin-vin sambil menyenggol pundak Mutia.
"Halo Vin-vin, tambah cantik aja..." goda Dion.
"Halo Om... tambah putih aja... giginya..." Vin-vin langsung terkekeh.
"Hmm... ini anak! gue pites juga Lo!" kesal Dion dan sontak membuat Vin-vin tertawa terbahak-bahak.
"Ini siapa?" tanya Dion semanis mungkin saat melihat Mutia."
"Dia Mutiara, temen aku."
"Halo Mutiara..." sapa Dion semanis mungkin.
"Halo Om Dion," jawab Mutia sopan.
__ADS_1
"Jangan panggil Om dong, panggil oppa," Dion tersenyum manis sambil menunjukkan deretan giginya yang putih dan rapih.
Vin-vin tergelak saat melihat wajah Mutia yang makin shock.