Oh My Teacher

Oh My Teacher
Bertemu.


__ADS_3

"Dan! bangun! buruan!" Rissa mendorong Daniel yang masih terlelap. Dia seperti seonggok mayat yang tak bergerak walaupun tubuhnya di dorong-dorong dengan kencang oleh Rissa.


"Gila! Lo tidur apa mati, sih! nggak bangun sama sekali!" gerutu Rissa.


Akhirnya, karena merasa putus asa, Rissa memutuskan untuk meninggalkan Daniel begitu saja.


Rissa harus buru-buru menemui Ivan. Kesempatan emas ini, tidak boleh di lewatkan begitu saja.


Tapi, apa gerangan yang membuat Ivan tiba-tiba ingin menemuinya?


Rissa tersenyum, "Pasti si bocah ingusan itu marah dan memutuskan hubungan dengannya, dan akhirnya Ivan memilih gue! emang sudah seharusnya begitu! gue sudah setia menunggumu selama bertahun-tahun, Van!" gumam Rissa. Senyumnya mengembang lebar menandakan dia sangat bahagia.


Jantung Rissa berdebar-debar saking bahagianya. Karena saking terburu-buru, Rissa sampai menjatuhkan tas tangannya sewaktu akan keluar dari kamar hotel dan suara berisik itu sontak membuat Daniel terbangun dari tidurnya.


Daniel membuka mata dan melihat Rissa sudah berpakaian lengkap dan full makeup, dia pun mendudukkan tubuhnya dan menatap Rissa.


"Mau ke mana, Lo?" tanyanya.


Rissa menoleh, "Sudah bangun, Lo? gue pikir mati," ketusnya.


"Gue mau ketemu Ivan," lanjut Rissa sambil tersenyum bahagia.


"Ada apaan? tumben Ivan mau ketemuan," Daniel tampak tak senang mendengar ucapan Rissa.


Rissa mengangkat kedua bahunya, "mungkin dia mau nikahin gue," senyumnya mengembang sempurna.


Rissa duduk di sebuah kursi dan mulai memakai high heels nya. "Si bocah ingusan itu pasti marah, dan minta putus..." Rissa menutup mulutnya dengan tangan, mencoba menutupi senyum nya yang tak juga mau menghilang.


"Gue bakal jadian sama Ivan kali ini, pasti!" pekik Rissa kegirangan.


Daniel mengernyit, dia tak senang dengan keadaan yang terjadi sekarang. Jika benar Ivan berpaling pada Rissa, Daniel akan kehilangan kesenangannya menikmati tubuh Rissa. Dan dia tak ingin itu terjadi.


"Jangan yakin dulu, emangnya Ivan bisa di dapatkan semudah itu? jangan-jangan dia punya rencana untuk menyakiti, Lo!" ingat Daniel.


Rissa menoleh, dan menatap Daniel.


"Ivan? punya rencana buat menyakiti gue? nggak mungkin, lah. Ivan nggak pernah tega buat menyakiti orang, termasuk gue!" Rissa bangun dari duduknya karena dia sudah selesai mengenakan sepasang sepatu ber gak tinggi nan indah di kakinya.


"Lo nggak usah deh nakut-nakutin gue, nggak ngaruh gue!" Rissa tersenyum lagi dan sedikit menggerak-gerakkan tubuhnya layaknya orang berjoget.

__ADS_1


Rissa benar-benar kegirangan bakal bertemu Ivan, apalagi Ivan menelponnya dan meminta bertemu secara langsung.


"Gue, pergi dulu. Bye..." Rissa menggerakkan jari-jarinya lalu bergegas keluar dari kamar hotel.


"Rissa! tunggu!" Daniel makin kalang kabut karena di tinggal begitu saja, buru-buru dia berlari mengejar Rissa, namun sayang dia belum memakai pakaiannya.


Daniel segera berbalik dan mencari pakaiannya yang teronggok di lantai.


"Mana boxer gue! mana!" geramnya karena tak menemukan pakaian dalamnya.


Setelah menemukan semua pakaiannya, Daniel dengan cepat memakainya dan berlari mengejar Rissa. Namun sayang, Rissa sudah menghilang. Dia pasti sudah masuk ke dalam Lift.


"Sial! kenapa gue nggak tanya, mereka mau ketemuan di mana? sial! sial! sial!!!" Daniel menjambak rambutnya sendiri dengan frustasi.


***


"Kriing!!!!"


Ivan menatap ponselnya yang terus menerus berdering, dia berdecak kesal saat membaca nama penelpon yang tertera di layar ponselnya itu.


"Halo, Yon. Gue sibuk nih! ntar aja deh!" kesal Ivan.


"Nggak usah, gue bisa sendiri," jawab Ivan singkat.


"Gue yang nggak bisa! gue takut Lo berbuat yang nggak-nggak!"


Ivan tersenyum smirk, "Memangnya gue mau berbuat apa! Lo nyepelein gue, ya! udah dulu!" Ivan menutup panggilan telponnya sambil tersenyum.


"Dulu gue memang selalu sembunyi dari Rissa, gue malas berurusan sama dia. Tapi sekarang, gue harus bisa buat Rissa pergi sejauh-jauhnya dan nggak ganggu lagi hidup gue! demi Vin-vin..." gumam Ivan.


Ivan benar-benar tak mau kehilangan Vin-vin. Salahnya memang, karena sudah tak jujur pada kekasihnya itu. Tapi siapa sih, orang yang bisa menceritakan kebobrokan nya sendiri? apalagi Ivan sendiri pun jijik dan berusaha melupakannya.


Ivan menatap arloji yang melingkar di tangannya, dan mendesah. Dia menoleh ke kanan dan kiri namun belum juga menemukan keberadaan Rissa.


"Di mana dia! Minta ketemu di restoran hotel, tapi nggak muncul-muncul!" gerutu Ivan.


'Ting' pintu Lift terbuka, tepat saat Ivan secara tidak langsung menoleh.


Di lihatnya Rissa keluar dari dalam Lift. Rissa mengenakan dress ketat yang super mini, di padukan high heels yang super tinggi.

__ADS_1


Ivan mendengus melihat penampilan Rissa yang sedikit berantakan. Apalagi tali bra nya sedikit menyembul tanda dia memakainya dengan tergesa-gesa. Lalu Rissa juga hanya mengenakan satu buah anting di telinganya.


"Habis chek in dia?! konyol sekali!" geram Ivan.


"Ivaaan..." pekik Rissa sambil berlari kecil menuju meja Ivan.


"Lo nunggu lama? nggak kan? sorry ya, gue tadi lagi tidur..." tanpa di persilahkan, Rissa langsung duduk di kursi yang ada di sebelah Ivan.


Rissa mengulurkan tangannya dan merangkul lengan Ivan lalu menyandarkan kepalanya di bahu Ivan.


"Gue kangen banget sama Lo, Van..." gumamnya.


Ivan mengerutkan hidungnya saat mencium bau alkohol dari mulut Rissa.


"Lo, habis minum, ya?" tanyanya sambil berusaha menyingkirkan kepala Rissa dari bahunya.


"Gue minum sedikit... gue nggak bisa tidur kalau nggak minum... kecuali kalau tidur sama Lo, gue nggak perlu minum..." Rissa menggigit bibir bawahnya sambil menatap Ivan, tatapan penuh hasrat yang membuat Ivan bergidik ngeri.


"Gue mau bicara! jadi tolong, duduk yang benar!" Ivan mendorong kepala Rissa karena kesal.


"Ih! kasar banget sih, tapi gue suka.. gue suka yang kasar kasar..."


Ivan memutar bola matanya dengan jengah. Rasanya benar-benar muak berada di dekat Rissa, ingin rasanya Ivan mendaratkan bogem mentah di wajah menyebalkan itu, sayangnya Rissa adalah perempuan, jika lelaki, urusan ini pasti sudah selesai dengan perkelahian. Yang bisa di lakukan Ivan saat ini hanyalah bersabar.


Satu-satunya rencana yang ada di kepala Ivan hanyalah melaporkan kebobrokan Rissa pada orang tuanya, supaya mereka menjauhkan Rissa darinya. Karena selama ini, orang tua Rissa mengira, Rissa sama baiknya dengan Rina, makanya mereka menginginkan Rissa menggantikan Rina dan menikahi Ivan. Mereka semua sudah tertipu.


'Klik!'


Ivan melirik ponselnya karena ada sebuah pesan masuk.


"Dari Daniel?" gumamnya lirih.


Apalagi ini! geramnya.


#bersambung...


hay gaes.. mampir yuk, ke sebelah...


__ADS_1


__ADS_2