
Sebelum pulang, Vin-vin mampir ke toilet untuk menyapukan bedak tabur tipis-tipis di wajahnya.
Dia ada janji bertemu dengan Pak Ivan sang pujaan hati, jadi dia harus sedikit berdandan.
Entah kenapa Vin-vin merasa dia harus berdandan, padahal sebelumnya dia tak pernah melakukannya. Mungkin itu semua karena Rissa. Karena Rissa selalu tampil full make up dan dia tampak sangat flawless dan cantik, sangat berbanding terbalik dengan wajah Vin-vin yang sangat polos tanpa make up.
"Apa aku juga pakai eyeliner ya biar mataku tambah besar? besok saat shopping dengan Mama aku harus minta peralatan make up, biar aku bisa lebih cantik..." gumam Vin-vin sambil menatap pantulan wajahnya di cermin.
"Hadeehh... siapa ini yang bilang mau pakai make up biar tambah cantik? Lo menyakiti hati gue dan murid-murid cewek yang lain tau nggak?!" tiba-tiba seorang murid wanita muncul dan mendekati Vin-vin yang tengah asyik bercermin.
"Hai Mel, kok belum pulang?" sapa Vin-vin pada teman sekelasnya itu.
"Kamu punya eyeliner dan maskara nggak?" sambungnya sambil tetap fokus melihat pantulan wajahnya di cermin.
"Vin-vin... ngapain Lo pakai make up?! tanpa make up aja semua cowok di sekolah ini udah klepek-klepek kok," lanjutnya.
"Aku nggak mau semua cowok itu, aku cuma mau satu orang aja yang klepek-klepek..." Vin-vin tersenyum sambil menjulurkan lidahnya.
Melsa tampak manyun sambil mendekati Vin-vin, dia mengeluarkan sebuah pouch dari dalam tasnya.
"Cowok yang Lo taksir pasti buta! cewek cantik begini kok dia nggak klepek-klepek," ucapnya sambil mengeluarkan eyeliner dan maskara dari dalam pouch tadi.
Vin-vin tersenyum saat menerimanya, "Ngomong-ngomong cara pakainya gimana?"
"Hadeuh!" Melsa menepuk jidatnya.
"Sini, gue aja!" Melsa mendekati Vin-vin lalu mulai fokus melukis garis mata Vin-vin dengan eyeliner miliknya, setelah itu dia menjepit bulu nata Vin-vin kemudian memakai kan maskara.
Bulu mata Vin-vin yang memang sudah tebal dan panjang pun makin menawan karena maskara tadi.
Melsa menatap hasil karyanya dengan bangga, "Ih gue gemes, pakai eyeshadow sama blush on sekalian ya," tanpa menunggu jawaban dari yang empunya wajah, Melsa langsung beraksi.
.
"Vin-vin kemana sih?" gerutu Ivan sambil menatap arloji yang melingkar di tangannya.
__ADS_1
Biasanya sebelum dia datang, Vin-vin pasti sudah berada di pelataran kafe, tapi kali ini dia belum muncul juga padahal Ivan sudah sampai lebih dari sepuluh menit yang lalu.
Ivan mengambil ponselnya dan mencoba menelpon Vin-vin kembali, barusan dia chat tapi belum di baca sama sekali jadi sekarang dia putuskan untuk menelpon saja.
"Halo? Vin? kamu di mana?" ucap Ivan saat panggilan telponnya di angkat.
"Iya Pak, maaf, ini aku lagi otewe ke kafe. Tunggu ya, bentar lagi..." Vin-vin tampak terburu-buru, terlihat dari suaranya.
"Sekarang kamu di mana? biar Saya jemput saja," Ivan mengambil kontak motor gedenya dari saku celana sambil berjalan menuju motor yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Saya sudah dekat kok, ini sudah sampai perempatan... nah ini sudah sampai..." ucap Vin-vin sambil ngos-ngosan.
Dia sekarang sudah berdiri tepat di depan Ivan dan mereka bertatapan cukup lama.
Ivan terdiam menatap wajah Vin-vin yang tampak tak seperti biasa.
"Pak?"
"Pak!"
"Kenapa sih?" tanya Vin-vin sambil menahan senyum.
"Pak Ivan terpesona ya? aku cantik kan?" Vin-vin kembali tersenyum sambil mengedipkan matanya beberapa kali
Ivan mendekati Vin-vin, tangan kanannya pun menjulur dan mendarat perlahan di pipi mulus Vin-vin yang berwarna sedikit peach.
Vin-vin tersenyum makin lebar, nampaknya make up yang dia gunakan berhasil menghipnotis Pak Ivan dan membuatnya tercengang.
"Plok," Ivan menepuk pipi Vin-vin dengan perlahan beberapa kali.
"Apaan sih Pak!" Vin-vin menepis tangan Ivan yang tak mau berhenti menepuk-nepuk pipinya.
"Cuci muka sanah! buang semua make up yang menempel di wajahmu itu! jelek tau! kayak ondel-ondel!" celetuk Ivan.
"Apaan sih! cantik gini kok! Pak Ivan nggak tahu ya, berapa lama aku berdandan! mana mata perih kena eyeliner pula! jahat banget sih, nggak menghargai jerih payahku!" Vin-vin cemberut sambil melipat tangannya di dada.
__ADS_1
"Makanya Saya bilang, hapus saja! kamu nggak perlu pakai makeup cuma untuk menarik perhatian Saya, Saya nggak perlu itu."
Melihat Vin-vin makin cemberut, Ivan pun melanjutkan ucapannya, "Kamu sudah cantik apa adanya Vin, nggak perlu pakai make up segala, yang ada kecantikan alami kamu hilang."
Vin-vin menatap Ivan dengan tatapan puppy eye.
"Tapi bo'ong..." lanjut Ivan sambil tergelak.
"Pak Ivan!!!" Vin-vin langsung emosi dan menghujamkan tinjunya di dada bidang Ivan.
"Aku pulang aja! ngga mau pergi sama Pak Ivan!" karena kesal, Vin-vin langsung berbalik dan berjalan meninggalkan Ivan. Namun dengan cepat Ivan menarik tangan Vin-vin dan memeluknya.
"Maaf sayang, cuma bercanda. Kamu cantik banget kok, tapi aku nggak suka make up kamu itu. Belum cocok lah wajah imut kamu di bubuhi make up menor gitu. Aku nggak suka," ucap Ivan lirih.
"Bener nih? aku sudah cantik tanpa make up?" lirih Vin-vin.
"Seratus persen! nggak perlu make up itu, jadi hapus saja ya."
Vin-vin melepaskan lengan Ivan yang melingkar di bahunya, "Aku ke toilet dulu..." ucapnya sambil berlalu meninggalkan Ivan.
Ivan tersenyum sambil menatap Vin-vin yang berjalan menjauh. Hampir saja jantungnya berhenti berdetak saat melihat wajah Vin-vin yang sangat cantik barusan.
Sambil menghela napas, Ivan mengelus dadanya yang masih berdebar-debar.
"Bisa khilaf gue kalau lihat Vin-vin pakai make up lagi, bahaya... bahaya..." gumamnya.
Setelah menunggu sekitar lima menit, akhirnya Vin-vin muncul dengan wajah segar tanpa make up. Dia tersenyum riang sambil berlari mendekat ke arah pacar tampannya.
"Vin... vin... lihat kamu tersenyum aja jantungku langsung lari maraton, apalagi pakai make up! dasar bocah!" gumam Ivan.
"Pak Ivan bilang apa?" tanya Vin-vin sambil memakai helm couple yang mereka beli beberapa waktu yang lalu.
"Enggak.. Saya nggak ngomong apa-apa kok," Ivan berusaha menutupi rasa gugupnya, "ayo naik," ajaknya sambil menaiki motor gede warna hijaunya.
"Memangnya kita mau ke mana?" Vin-vin menurut dan sudah duduk cantik di jok belakang.
__ADS_1
"Kencan dong," jawab Ivan sambil tancap gas, membuat Vin-vin tersentak kaget dan spontan memeluk perut guru tampannya itu.