
Vin-vin terbangun di pagi hari dengan mood yang kurang baik. Ya, sejak memutuskan menghindari Ivan untuk waktu yang lama atau mungkin selamanya, Vin-vin jadi sering uring-uringan.
Dia sendiri pun bingung dengan hatinya. Dia masih menginginkan Ivan, masih menyayangi guru olah raganya yang tampan itu, namun dia juga marah dan kesal padanya.
"Arghh!!" geram Vin-vin sambil mengacak-acak rambutnya yang kusut karena baru bangun tidur.
'Tok. Tok. Tok.'
"Masuk," ucap Vin-vin saat mendengar pintu kamarnya di ketuk.
Setelah pintu kamarnya terbuka, muncullah seorang lelaki paruh baya bertubuh tinggi dan sangat atletis walaupun dirinya sudah tak muda lagi. Ya, siapa lagi jika bukan ayahnya, Kevin.
Kevin menatap anak gadisnya sambil mengerutkan alis.
"Kenapa? mau di cancel?" tanyanya.
"Nggak," sembur Vin-vin tegas.
"Bener? nggak nyesel?" tanya Papa Kevin menggoda anak gadisnya yang sudah beranjak dewasa ini.
"Nggak."
Kevin menghela napas sambil tersenyum, "memangnya kamu sudah nggak suka sama Ivan?" tanya nya sambil berjalan perlahan dan duduk di tepi ranjang.
"..." Vin-vin hanya terdiam sambil terus menunduk.
"Jangan mengambil keputusan saat hati lagi emosi dan kepala lagi panas," ucap Kevin lembut sambil mengelus pucuk kepala Vin-vin.
"Vin-vin bingung, Pah... sepertinya Vin-vin benci Pak Ivan, tapi di saat yang sama Vin-vin juga masih sayang..."
Vin-vin menghela napas.
"Biarlah, biar waktu yang menunjukkan jalan, biar waktu yang menyembuhkan luka. Siapa tau setelah menjauh, Vin-vin makin mengerti perasaan Vin-vin ke Pak Ivan bagaimana."
"Kalau ternyata kamu masih sayang, terus pengen sama Ivan lagi tapi Ivan nya sudah punya pasangan lain, bagaimana?"
Vin-vin menatap Papahnya, "Papah! jangan gitu dong..." rengeknya manja.
__ADS_1
"Lho, Papah cuma kasih tau kemungkinan yang bakal terjadi, kok. Kamu siap nggak?" Kevin terkekeh melihat respon anaknya yang gugup.
Vin-vin terdiam, mencoba meresapi ucapan Papahnya.
"Kalau jodoh, mau berpisah sejauh apa pasti akan bertemu lagi. Tapi kalau nggak jodoh, mau sedekat apapun ya nggak akan berjodoh," ucap Vin-vin.
"Yakin?"
"Yakin!" jawab Vin-vin tegas.
"Oke! konsekuensinya kamu tanggung sendiri ya?" Lagi-lagi Papah Kevin tersenyum menggoda anaknya. Diapun beranjak dari duduknya dan berjalan menuju pintu keluar.
"Buruan mandi, kita harus berangkat sekarang," sambungnya sambil menatap arloji mahal yang melingkari pergelangan tangannya.
"Iya, Pah."
***
"Kamu tunggu sebentar ya, biar Papah chek in dulu," Kevin meletakkan kopernya di sebelah Vin-vin yang sedang duduk di area tunggu bandara.
"Oh ya, Aldrich nggak bakal datang, katanya dia dan Mama kamu bakal nyusul ke Singapore besok sekalian liburan. Jadi, kamu nggak usah nungguin mereka."
Vin-vin melihat kepergian Papanya dan menghela napas, entah untuk yang keberapa kalinya.
Dia memandang sekitar, tanpa tujuan apa-apa. Dia juga tak berharap Ivan bakal datang menemuinya. Dia pasti masih sibuk dengan Rissa kan?
Lagi-lagi Vin-vin menghela napas, "udah mau pergi masih aja mikirin orang itu!" gumamnya kesal pada dirinya sendiri.
"Vin!"
Vin-vin tersentak mendengar suara yang sangat dia kenal ini. suara berat dan dalam yang begitu merdu dan sangat dia rindu.
Jantung Vin-vin berdebar kencang. Dan bukannya menoleh ke asal suara yang memanggilnya, Vin-vin malah menundukkan kepalanya makin dalam. Dia juga sengaja menggeraikan rambutnya agar menutupi wajahnya. Vin-vin berusaha sembunyi, lebih tepatnya menyembunyikan wajahnya agar tak di kenali oleh pria yang memanggilnya barusan.
"Vin..."
Demi apa, Ivan sudah berlutut tepat di depan Vin-vin, tangannya bahkan sudah mendarat di samping tubuh Vin-vin, tepat di sandaran kursi. Dia mengurung Vin-vin dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Kenapa kamu nekat pergi ninggalin aku?" tanyanya lirih.
Vin-vin makin menunduk, tak menjawab.
"Vin, kamu boleh marah. Pukul saja aku, tapi jangan pergi," pinta Ivan.
"Rissa sudah tak akan mengganggu kita lagi, aku jamin itu. Kamu tenang saja dan tetap di sini, ya?"
"Masalahnya bukan Rissa! masalahnya itu, kamu!" geram Vin-vin menahan marah karena Ivan masih juga belum mengerti.
"Iya, maaf. Aku salah, aku nggak jujur. Aku juga ingin bilang semuanya, Vin. Tapi aku takut, aku malu. Itu bukanlah hal yang pantas untuk di ceritakan." Ivan bicara dengan selembut mungkin, berusaha melunakan hati Vin-vin yang seperti batu.
"Pliss, Vin..." Ivan meraih jemari Vin-vin dan meremas nya lembut kemudiaan menciumi nya. Dia benar-benar tak mau kehilangan kekasih kecilnya ini.
"Aku harus bagaimana supaya kamu mau maafin aku? aku nggak mau kehilangan kamu, sayang..."
Vin-vin menelan ludah mendengar ucapan lembut Ivan. Bohong jika hatinya tak bergetar, ucapan Ivan begitu lembut dan membuatnya meleleh seperti mentega yang di panaskan.
"Jangan pergi, ya? tetap di sini. Setelah lulus SMA, aku akan langsung melamar kamu. kita bakal bersama dan tak akan ada yang bisa memisahkan lagi..." janji Ivan.
Vin-vin masih diam, sekarang dia bingung dengan keputusannya. Apakah dia akan melanjutkan rencananya? ataukah akan mengurungkannya begitu saja demi Ivan?
Tapi, Vin-vin masih merasa kesal. Dan dia tak suka perasaan ini.
"Kita akan lihat, seberapa besar kesungguhan Pak Ivan di saat kita terpisah jauh." Vin-vin bangkit dari duduknya.
"Maaf, aku masih kesal dan marah! aku belum bisa menerima permintaan maaf dari Pak Ivan. Untuk saat ini, aku lebih baik menyendiri dan nggak bertemu dulu denganmu!" Vin-vin menarik kopernya dan berjalan menjauhi Ivan yang masih berlutut di dekat kursi yang tadi dia duduki.
"Apa kamu sudah nggak ada rasa sayang lagi ke aku? kamu benar-benar mau mengakhiri hubungan yang sudah susah payah kita jalin ini?" tanya Ivan lumayan keras.
Vin-vin tak menjawab, dia pun tak menoleh sama sekali dan terus berjalan menuju area gate.
"Vin! Vincia!" Teriak Ivan makin keras. Namun Vin-vin tak bergeming dan tetap berjalan meninggalkannya.
"Aku akan menunggu! sampai kapanpun! aku bakal tungguin kamu Vincia!"
Vin-vin memejamkan matanya dan terus berjalan, meninggalkan Ivan dan semuanya.
__ADS_1
#bersambung...