Oh My Teacher

Oh My Teacher
Tunjangan fantastis.


__ADS_3

"Dagingnya kurang nggak?" tanya Vin-vin pada kedua temannya yang sedang sibuk menata meja di halaman belakang rumah.


Malam ini mereka berencana untuk melakukan pesta barbekyu kecil-kecilan dan hanya mengundang Mutia dan Axel saja. Namun sudah hampir jam 7 malam, mereka berdua belum juga menunjukkan batang hidungnya.


"Cukup, tak apa kan masi ada sosis pula," ucap Ami sambil membantu Vin-vin yang sibuk membalikkan daging yang sedang di bakar.


"Kalau je ada Liam, pasti seru..." gumam Sofia sambil mengaduk-aduk saos barbekyu di mangkok kecil.


Vin-vin menghela napas mendengarkan celotehan Sofia.


"Susul saja sana, balik kau ke Singapore!"


"Tak payah lah sampai awak marah macam tu!"


"Enough!" sela Ami mencoba menghentikan pertengkaran Sofia dan Vin-vin.


"Jangan merusak masa ni, kita nak having fun, rights?"


Vin-vin dan Sofia diam, enggan menjawab.


"Persiapannya sudah selesai?" Tiba-tiba Mama Luci muncul dan mendekati Vin-vin.


"Sudah kok, Mah. Ini sebentar lagi matang. Mama ikut makan yuk?" ajak Vin-vin.


"Ck, nggak ah. Mama nggak mau ganggu waktu kalian bersenang-senang."


"Apaan si, Ma..." gerutu Vin-vin sambil mengerucutkan bibirnya.


"Sini Mama bantu bakarin, kamu ambil salad tuh di dapur, tadi mama sudah bikin."


"Oke!" Vin-vin memgacungkan jempolnya sambil tersenyum. Lalu dia berjalan dengan riang menuju dapur.


"Ah! Abang curang nih! jangan lewat situ dong!"


Vin-vin terdiam mendengarkan suara adiknya yang sepertinya asyik sekali bermain game.


Mungkinkah Devan sedang main game dengan Papi? tapi bukannya Papi belum pulang. Lalu siapa orang yang sedang bermain dengan Devan.


Dan apa tadi Devan bilang? abang? abang siapa?


Dengan penuh rasa penasaran, Vin-vin berjalan menuju ruang TV dan seketika langkahnya terhenti saat melihat orang yang sedang bermain PS dengan Devan.


"Pak... Pak Ivan?" gumamanya masih tak percaya.


"Eh, Vin? udah beres belum masaknya? aku sudah laper nih," ucap Ivan sambil mengelus perutnya.


"Se-sedang apa Pak Ivan disini?"


"Sedang main PS sama mau ikutan makan daging," jawab Ivan santai.


"Tapi... aku kan nggak undang..." gerutu Vin-vin.


"Masa mau ikut makan masakan calon istri sendiri harus pakai undangan..." balas Ivan sambil tersenyum smirk.

__ADS_1


"Iihhh geli! sana pergi jauh-jauh kalau mau pacaran!" seloroh Devan. Devan merasa geli dengan kata-kata mesra Ivan pada kakaknya, walaupun usianya sudah menginjak 13 tahun, dia masih gamam dan tak tertarik dengan hal-hal romantis.


"Geli, geli... padahal sendirinya udah pacaran..." canda Ivan sambil mengacak-acak rambut Devan.


"Ihh maaf ya, pacaran sama siapa?!" balas Devan sambil berusaha menjauhkan kepalanya dari jangkauan Ivan.


"Aira..."


"Iihhhg nggak lah! gila!"


Ivan tertawa gelak-gelak. Dia memang senang sekali menggoda dan menjodoh jodohkan Devan dengan Aira anak dari Kevin.


Vin-vin yang melihat situasi di depannya jadi merasa bingung dan aneh.


"Sejak kapan kalian jadi se-akrab ini?" tanyanya tak percaya.


Devan memandang Ivan, begitu pula Ivan.


"Sejak kapan ya, de?"


Devan hanya mengangkat kedua pundaknya lalu kembali fokus ke game nya.


"Aku lapar, Vin... minta makan..." ucap Ivan memelas sambil mengusap perutnya.


Vin-vin membuang napas dengan kasar lalu berjalan kembali menuju halaman belakang. Setelah itu, dia mengambil sebuah piring dan menambahkan beberapa daging dan sosis yang sudah di bakar ke atasnya.


"Loh, mau di bawa kemana itu makanan?" tanya Mama Luci.


"Nih!" Vin-vin meletakkan piring tadi ke depan Ivan, "kalau sudah selesai makan, langsung pulang!" ketusnya.


"Iya, yank..."


Vin-vin melotot kaget, sejak kapan Ivan memanggilnya dengan sebutan 'yank'?


Karena enggan berdebat, Vin-vin pun memutuskan untuk pergi dan kembali kepada teman-temannya.


*


"Aahhh kenyangnya..." seru Ami setelah acara makan-makan mereka selesai.


"Ternyata sudah jam 10 malam... pantas Saya rasa mengantuk sangat..." keluh Sofia.


"Ah, cakap saja awak tak mau cuci piring kotor," gerutu Ami.


Sofia yang tau niatnya ketahuan, hanya tersenyum malu.


"Sudah ayo buruan beberes nya biar cepet kelar," Vin-vin mengangkut piring-piring kotor dan membawanya ke dapur.


"Alamak! kenapa owner hansem ada di sini?!" pekik Ami.


Ivan yang kala itu sedang berada di dekat wastafel, tersenyum ramah. "Sini piring kotornya biar saya cuci, kalian istirahat saja," ucap Ivan sambil mengambil alih piring piring kotor dari tangan Ami.


"Uuuhhh so sweet lah, boyfriend awak! I jadi jealous!" goda Ami sambil menyenggol bahu Vin-vin.

__ADS_1


"Terimakasih owner hansem..." sambung Sofia yang terlihat bahagia. Dia memang sudah sangat mengantuk dan ingin tidur.


Setelah itu, Ami dan Sofia langsung ngacir ke kamar Vin-vin, takut kalau-kalau Ivan berubah pikiran dan batal membantu mencuci piring.


Vin-vin mendesah melihat tingkah dia temannya itu. Kesal sekali rasanya.


"Sudah Pak, biar aku saja," Vin-vin mendekati Ivan dan berdiri tepat di sampingnya lalu mendoring pelan bahu Ivan agak bergeser dan memberinya ruang untuk bisa mencuci piring.


"Nggak apa kok," Ivan berusaha menahan Vin-vin dengan bertahan di dekat wastafel.


"Kamu istirahat saja, pasti capek, kan?"


"Nggak! nggak usah lebay lah..." ketus Vin-vin.


Ivan pun tersenyum sambil mengaanggukan kepalanya, dia mengalah. Akhirnya dia bergeser namun tetap berdiri di samping Vin-vin sambil memandangi kekasih kecilnya yang kini sudah semakin dewasa dan cantik.


"Kamu... mau stay berapa lama? atau sudah nggak balik lagi ke Singapore?" tanya Ivan.


"Sekolahku sudah selesai. Entahlah aku belum tau mau ngapain..." jawab Vin-vin asal sambil mencuci piring.


"Bagaimana kalau kamu bekerja di cafe ku? mau ya?" pintar Ivan.


Vin-vin melirik Ivan sekilas, "Berani gaji berapa emangnya?"


"Gaji bisa di bicarakan, tapi tunjangan nya fantastis loh," ucap Ivan sambil tersenyum penuh makna.


"Tunjangan?"


"Iya. Kamu bakal dapat mobil, rumah dan suami ganteng."


"Hmmm!" Vin-vin memutar bola matanya, kesal.


"Aku serius, Vin... Aku ingin kita menikah secepatnya," Ivan meraih tangan Vin-vin yang masih basah.


"Tolong jangan menolak, aku nggak bisa lagi hidup jauh dari kamu..."


"Pak Ivan jadi aneh, ih! dulu nggak gini deh!" keluh Vin-vin sambil menarik tangannya.


"Dari dulu aku juga begini, tapi aku tahan karena kamu masih di bawah umur. Sekarang kita sudah sama-sama dewasa, nggak perlu lagi aku menahan diri untuk mengungkapkan perasaanku." Ivan menatap Vin-vin dengan lekat, lalu mulai mendekatkan wajahnya.


Wajah Ivan dan Vin-vin makin mendekat, bibir Ivan dengan perlahan tapi pasti, mulai mendekati bibir Vin-vin. Vin-vin bahkan tanpa sadar sudah membuka mulutnya untuk menerima ciuman dari Ivan.


Saat bibir mereka telah bertemu, dan Ivan hampir memulai ciuman panasnya...


"Ehem!!!"


Secara reflek Ivan menjauhkan bibir dan wajahnya, dan berpura-pura mengambil piring yang sudah di cuci dan meletakkannya di rak piring.


"Kalau nyuci, nyuci aja nggak usah pakai embel-embel!"


"Iya Om," jawab Ivan gugup.


Vin-vin hanya menundukkan kepala sambil berusaha menahan senyumnya. Dia pun kembali menyibukkan diri dengan cucian piringnya.

__ADS_1


__ADS_2