Oh My Teacher

Oh My Teacher
Tanda Cinta Mutia.


__ADS_3

"Vin-vin...."


"Ape Lo?!" jawab Mutiara dengan sedikit membentak. Dia dengan sigap menarik Vin-vin agar menjauh dari laki-laki yang baru saja menggodanya.


"Njiir... ngegas banget Lo! yang cantik aja kalem, yang buluk malah banyak tingkah!"


"Bilang apa Lo barusan! coba ulangi!" Mutia menggulung lengan bajunya yang sebenarnya tak akan bisa di gulung karena lengan bajunya tak panjang.


"Lo buluk! buluk banyak tingkah!" ucap si anak lelaki tadi sambil berlari menjauh, dia sepertinya lumayan takut pada gertakan Mutia.


"Heh, kalau berani sini Lo! dasar payah!"


"Sudah Mut..." Vin-vin menarik lengan Mutia agar dia berhenti marah-marah.


"Emosi gue! di bilang buluk sama dia! nggak tau apa, kalau berangkat sekolah aja gue dandannya sampai satu jam!"


Vin-vin terkekeh, "memangnya kalau dia beneran balik, kamu mau berantem sama dia?"


"Pastinya... nggak lah! gila aja, aku pasti langsung lari pontang panting hahaha..."


Vin-vin menggelengkan kepalanya.


"Hati-hati loh Mut."


"Iyalah..." jawab Mutia dengan ogah-ogahan.


Mutia memang memiliki sifat yang pemberani terlalu pemberani malah. Padahal sebenarnya dia merasa takut jika orang-orang yang dia marahi menyerang balik. Untunglah selama ini dia belum pernah mengalami hal itu. Sejauh ini semua lelaki genit yang suka menggoda itu selalu pergi saat dia bentak, tak ada yang emosi dan balik melakukan hal yang buruk pada Mutia.


"Kalian dari mana?"


Vin-vin dan Mutia serempak menoleh saat mendengar suara yang tak asing lagi, menyapa mereka.


"Perasaan tadi baru ke kantin, sudah laper lagi?" Axel tersenyum simpul.


"Bukan, kita di suruh ke perpustakaan ambil buku tau!" jawab Vin-vin.


Berbeda dengan Mutia, walaupun tadi dia sempat berteriak-teriak seperti orang kesetanan, saat bertemu Axel dia langsung diam dan menjaga sikapnya. Dia ingin terlihat manis dan imut di mata pujaan hatinya itu.


"Oh... kirain laper lagi dan diam-diam ke kantin pas jam pelajaran," jawab Axel sambil tertawa.


"Ya udah, aku balik ke kelas dulu," Axel menatap Vin-vin dan Mutia bergantian kemudian beranjak pergi sambil menepuk pundak Mutia.


Mutia yang mendapat tepukan lembut di bahunya langsung tersentak kaget, apalagi pujaan hatinya yang melakukannya.


Setelah yakin Axel sudah menjauh, Mutia langsung mencubit Vin-vin dan melonjak kegirangan.


"Iya iya... aku tau, udah lah..." Vin-vin tampak enggan menghadapi kegirangan Mutia dan berlalu pergi sambil geleng-geleng kepala.

__ADS_1


###


"Heh!"


Beberapa murid kelas XII yang sedang bergerombol di depan toilet pria memanggil Mutia, namun Mutia tak bergeming, dia tetap berjalan tak mempedulikan panggilan yang tak sopan itu.


"Heh! Lo budeg ya!" bentaknya karena kesal.


Dia sampai bangun dan mencengkram bahu Mutia.


"Aduuh... ada apaan nih!" Mutia terkejut saat bahunya tiba-tiba terasa nyeri.


"Gue panggil-panggil Lo dari tadi! nggak sopan banget sama kakak kelas!" ucap si lelaki berseragam OSIS, dia tampak kesal.


"Oh, Kakak panggil aku? maaf aku nggak tau." ucap Mutia dengan cuek, dia enggan berurusan dengan kakak kelas apalagi yang suka nongkrong di depan toilet, karena biasanya mereka adalah murid-murid badung.


"Lo kan yang sering jalan sama si cantik, siapa itu namanya?" salah satu murid lelaki yang tongkrong bertanya pada temannya yang lain.


"Vincia!" jawab cowok di sebelahnya dengan bersemangat.


"Oh iya..." lalu dia menoleh ke arah Mutia, "bilang sama Vincia dapat salam dari kak Joni."


gerombolan murid pria yang tak jelas itu tertawa terbahak-bahak.


"Joko kali!!! Joni? bhahahaha..." ucap salah satu murid yang tertawa tadi.


Mutia hanya ikut tersenyum garing melihat tingkah gerombolan murid yang tak jelas itu, mau kesal tapi kakak kelas, dia takut dibilang adik kelas yang songong.


"Eits! nanti dulu! kita belum selesai!" Si kakak kelas yang tadi mencengkram bahunya, kembali menarik Mutia.


"Buru-buru amat sih Lo!"


"Aku masih ada pelajaran kak, keburu gurunya datang ke kelas."


"Bolos aja sekalian, ikut kita nongkrong," seringainya.


Mutia mengangkat sebelah alisnya dan memandang dengan heran, "nongkrong? di toilet? maaf kak, aku biasa nongkrong di kafe," Mutia membalas dengan jengah dan berusaha melepaskan pergelangan tangannya yang masih di cengkram oleh si kakak kelas.


"Belagu banget Lo! bikin kesel aja!"


"Aahh!!" Mutia menjerit saat tangannya di pelintir.


"Sakit kan? bisa sok lagi nggak Lo!" si kaka kelas kembali menyeringai sambil memutar pergelangan lengan Mutia membuat Mutia makin kesakitan. Air matanya bahkan sudah menggenang dan hampir menetes karena menahan sakit akibat tangannya yang di plintir.


"Lagi apa kalian!" tiba-tiba Axel berlari mendekat. Saat melihat pergelangan tangan Mutia yang di pelintir dan terlihat kesakitan, Axel langsung mendorong si kakak kelas dan balik mencengkram tangannya supaya melepaskan Mutia.


"Heh! Lo ana kelas XI berani banget Lo ngelawan kakak kelas!" semua murid lelaki yang tadinya nongkrong di lantai langsung berdiri. Mereka tak terima temannya di permalukan oleh adik kelas.

__ADS_1


"Dia sakiti temen gue! masa gue diam!" Axel menarik Mutia agar berdiri di belakang tubuhnya.


"Kalau gitu, sekalian aja, Lo ngerasain yang di rasa temen cewek Lo!" mereka berlima langsung berjalan mendekati Axel sambil mengepalkan tangannya.


"Gi.. gimana nih Xel?" Mutia bersembunyi di punggung Axel, dia merasa ketakutan. Takut jika karena dirinya, Axel sampai terluka.


Padahal Mutia tadi sangat hati-hati saat bicara dengan kakak kelas, dia enggan memancing emosi mereka karena Mutia malas berurusan dengan kakak kelas yang tampak sangat badung itu


"Tenang aja Mut," ucap Axel lirih. "Kamu aman sama aku..."


Mutia terdiam, kakinya terasa meleleh mendengar ucapan Axel. Kalau bisa dia ingin mengalami ini setiap hari supaya Axel selalu ada untuk melindunginya.


Mutia merasa bagaikan seorang putri yang tengah di selamatkan oleh seorang pangeran.


Eh! tapi sekarang bukan saatnya untuk baper! karena mereka sedang berada dalam situasi yang mencekam.


"Ta... tapi mereka ada banyak..." ucap Mutia mengingatkan.


"Tenang aja, temen gue nggak kalah banyak," bisik Axel sambil mengedipkan sebelah matanya.


"Xel... ada apaan nih?!" Dino, salah satu pentolan kelas XII mendekat saat melihat Axel seperti akan di keroyok.


"Mereka ngerjain temen gue," jawab Axel santai. Padahal Dino adalah salah satu murid yang paling di takuti di sekolah. Selain ketua geng motor dia juga dianggap sebagai pimpinan anak-anak kelas XII.


Karena kemunculan Dino, gerombolan tadi langsung ciut, mereka semua menundukkan kepala takut berurusan dengan Dino


"Ngapain kalian? macem-macem sama temen gue sama aja kalian berani sama gue!" bentak Dino kasar. "Kalian sudah kelas XII kok masi sempat main-main kayak gini, nggak mau lulus Lo?!"


"Ma.. maaf bos, kita nggak tau kalau mereka..."


"Balik kelas sana! gue kepret juga nih!"


Bentakan Dino sukses membuat mereka berlima lari pontang panting ketakutan.


"Kak Dino..." panggil Mutia dengan mata berkilat gembira.


"Eh, Lo Mut? Lo nggak apa-apa?"


"Nggak apa-apa,makasih kak..." ucap Mutia riang sambil melemparkan tanda cinta dengan jari telunjuk dan jari manisnya.


Dino terkekeh lalu berjalan kembali menuju kelasnya.


Axel melirik Mutia yang masih melemparkan tanda cinta pada Dino, lalu dengan kesal dia memukul pelan tangan Mutia agar berhenti.


"Udah! orangnya juga sudah nggak lihat!" kesal nya kemudian berjalan meninggalkan Mutia.


Tak lama Axel berbalik dan menatap Mutia, "yang nolongin Lo itu gue bukan Dino!"

__ADS_1


"Oh... iya, Axel... Saranghae..." ucapnya lagi sambil melemparkan tanda cinta.


Tak di sangka Axel menangkapnya lalu memasukkannya ke dalam saku seragam OSIS nya. Dia tersenyum lalu berbalik pergi meninggalkan Mutia yang membatu di tempatnya berdiri.


__ADS_2