Oh My Teacher

Oh My Teacher
Ijin Papi.


__ADS_3

Vin-vin mematut dirinya di depan cermin besar yang ada di dalam kamarnya.


Dia memperhatikan gaun cantik yang menempel di tubuhnya, gaun dengan warna biru tua yang sangat kontras dengan kulit putih susunya, membuat Vin-vin nampak semakin berkilau. Di tambah bahunya yang terpampang sempurna karena gaun yang di kenakannya memang model bahu terbuka.


Vin-vin melengkapi penampilannya dengan sebuah kalung imitasi yang terbuat dari manik-manik berwarna senada dengan Gaunnya, dan hells berwarna hitam dengan tali pengikat dengan warna senada.


Dia tampak sangat cantik malam ini.


Vin-vin merasa puas dengan penampilannya.


"Tante Shanty memang yang terbaik," gumam Vin-vin yang merasa sangat puas dengan penampilannya.


Vin-vin tak memakai make up, hanya menyapukan bedak tipis-tipis dan lipstik warna soft agar dia terlihat segar. Dan itu sudah cukup membuatnya tampil sangat cantik dan imut.


Vin-vin menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya lalu dengan buru-buru menyambar tas kecil yang akan dia pakai dan dengan segera keluar dari kamarnya karena waktu sudah menunjukkan pukul tujuh tepat.


"Kenapa Pak Ivan belum datang ya? katanya dia akan datang jam tujuh," gumam Vin-vin bermonolog.


"Anak Papi mau ke mana? kok cantik banget."


Vin-vin terkejut mendengar suara Papi nya, lalu dengan segera dia mendekati Papi nya yang baru saja datang.


"Papi kok baru pulang? dari kemarin Vin-vin tungguin."


"Maaf sayang, ternyata pemotretannya nggak selesai sehari." Papi Aldrich memeluk putri cantiknya dengan penuh kasih sayang.


"Coba bilang sama Papi mau ke mana kok dandan cantik banget."


"Itu, Vin-vin mau kondangan Pi," jawab Vin-vin sedikit ragu. Dia takut Papi nya tak mengijinkan padahal dia sudah berdandan maksimal begini.


"Sama siapa? Axel?"


Vin-vin menggelengkan kepalanya."


"Terus sama siapa?" Papi mulai penasaran, wajahnya tampak serius.


"Mutiara?"


"Bukan Pi, tapi..."


"Permisi," terdengar suara dari halaman depan, dan Vin-vin paham betul suara itu.


"Itu orangnya datang, sebentar Pi." Vin-vin langsung berjalan menuju pintu utama untuk membukakan pintu.

__ADS_1


Mendengar ada tamu, Mama Luci yang tadinya berada di dapur pun berjalan mendekati suaminya yang ada di ruang TV, dia juga penasaran seperti apa sosok guru yang di sukai anak perempuannya.


"Siapa sih Ma?" tanya Papi Al makin penasaran.


"Kata Vin-vin dia menyukai guru olah raganya, Mama juga penasaran Pi," jawab Mama Luci sambil berbisik.


"Apa?! nggak! nggak boleh!" Papi langsung bergegas menyusul anak perempuannya yang berada di ruang tamu.


"Al... kalaupun tak setuju jangan dengan cara yang keras, kamu nggak mau kan di benci Vin-vin?" rayu Mama Luci.


Papi Al sedikit berpikir, "iya," jawabnya singkat sambil berjalan perlahan diikuti istrinya.


"Baru di tinggal duahari, aku sudah dapat kejutan! huft..." gerutu Papi Al, diikuti senyum istrinya.


"Aku juga sama kagetnya Al," jawab Mama Luci.


"Pakai sweater atau pasmina atau apapun untuk menutup bahumu! itu terlalu terbuka."


Terdengar suara seorang lelaki dengan tegas dari balik pintu.


Papi Al da Mama Luci saling berpandangan dan menahan senyum mendengar ucapan si lelaki yang belum mereka kenal itu.


"Kenapa sih? udah cantik begini harus di pakein sweater!" Vin-vin tampak merajuk tak senang.


"Iyalah! dasar orang tua! kuno!"


Dengan kesal Vin-vin berbalik hendak kmbali ke kamarnya untuk mengambil sweater seperti perintah Pak Ivan, guru pujaannya.


Saat Vin-vin berbalik, dia berpapasan dengan Mama dan Papinya.


"Eh, Mama.. Papi... ke-kenalkan ini Pak Ivan."


Ivan melangkah masuk saat mendengar ucapan Vin-vin karena dia masih berada di ambang pintu. Saat melihat kedua orang tua Vin-vin, dia tersenyum sambil mengulurkan tangannya.


"Perkenalkan, saya Ivan."


Papi Al tersenyum lalu membalas uluran tangan Ivan, "Saya Aldrich Papi nya Vin-vin, dan ini Mama nya Vin-vin," Papi Al pun memperkenalkan istrinya pada Ivan.


Vin-vin tertegun dengan sikap Papi nya yang angat ramah pada Pak Ivan.


Kenapa sikapnya berbeda seratus delapan puluh derajat jika di bandingkan kepada Axel?


"Saya ingin mengajak Vin-vin ke acara resepsi pernikahan teman saya Om, saya janji sebelum jam sembilan saya sudah mengantar Vin-vin pulang." Ucap Ivan dengan sangat sopan.

__ADS_1


"Oh begitu, acaranya di mana? oh iya, ayo duduk dulu sambil nunggu Vin-vin siap-siap." Papi Al mempersilahkan Ivan untuk duduk, dan Ivan pun menurut.


"Vin? kenapa masih bengong di situ, katanya kamu mau ganti baju? nanti kalian terlambat loh."


"Bukan ganti baju, cuma pakai sweater," Lalu Vin-vin bergegas berlari menuju kamarnya.


Vin-vin membuka lemari bajunya, dan mulai mencari sweater nya yang berwarna hitam. Sweater dengan lengan yang sepanjang siku dan panjang hanya sebatas dada. cukup untuk menutup bahunya, bukan tubuhnya.


Setelah menemukan sweater yang di carinya, dengan cepat Vin-vin memakainya lalu berlari keluar dari kamarnya.


Dia takut Pak Ivan dan Papi nya akan bicara ngalor ngidul tak jelas.


Vin-vin sendiri masih sangat heran dengan sikap Papinya malam ini, karena sebelumnya Papi nya tak pernah se-ramah ini pada teman lelaki yang datang ke rumahnya.


"Pak Ivan, ayo berangkat!" Vin-vin berteriak dengan kencang.


Ivan yang sempat terkejut langsung memandang Vin-vin dan tersenyum puas karena Vin-vin sudah menurut dan menutup bahunya yang sangat terbuka tadi.


"Kalau begitu, saya permisi dulu Om dan Tante. Saya janji memulangkan Vin-vin sebelum jam 9," ucap Ivan berpamitan sambil bangun dari duduknya.


"Kalian naik apa?" Tanya Papi Al.


"Naik motor Pi," jawab Vin-vin cepat.


"Pakai gaun begitu naik motor? apa nggak susah? kalau mau pakai mobil Papi aja."


"Nggak Om, saya bawa mobil kok," jawab Ivan.


Vin-vin menatap guru tampannya, benarkah Pak Ivan membawa mobil? memangnya dia punya mobil? selama ini kan dia selalu memakai motor.


"Okelah kalau naik mobil nggak masalah, hati-hati ya di jalan. Jangan pulang terlalu malam."


"Baik Om, permisi."


"Vin-vin berangkat dulu ya Pi, Mah," ucap Vin-vin riang, dia tak bisa menutupi perasaan bahagianya karena Papinya bersikap sangat baik pada Pak Ivan, sangat di luar ekspektasi. Tadinya dia pikir Papi akan marah atau paling tidak ketus pada Pak Ivan.


"Jaga sikap Vin!" ingat Mama Luci.


"Iya Ma..." Vin-vin membalas sambil berlalu, sedikit cuek karena dia sudah tak sabar ingin pergi dengan guru tampannya.


Vin-vin sangat terpana dengan penampilan guru tampannya itu malam ini, karena dia terlihat begitu tampan memakai setelan jas warna biru tua hampir mirp dengan gaunnya. Padahal mereka tak janjian sebelumnya, sepertinya mereka berdua memang mempunyai ikatan batin yang kuat.


Mungkin ini yang namanya jodoh.

__ADS_1


Vin-vin terkikik sendiri.


__ADS_2