Oh My Teacher

Oh My Teacher
Ulah konyol Vin-vin


__ADS_3

"Kamu bisa nggak sih nurut dulu..." Ivan mencengkram kedua bahu Vin-vin. Dia bingung harus bagaimana lagi.


"Kenapa sih? kok aku harus sembunyi? Pak Ivan malu kalau ketahuan lagi berduaan sama aku?!" Vin-vin makin cemberut.


"Biar aja dia tahu, toh bulan depan juga kita resmi pacaran!"


"Vin... bagaimanapun kita itu guru dan murid, walaupun kita memang nggak ngapa-ngapain tetap saja Bu Yosephine pasti mikir yang nggak-nggak," Ivan berusaha menjelaskan dengan penuh kesabaran.


"Kan kalau dia tahu, dia jadi berhenti deketin Pak Ivan!" Vin-vin masih tak mau mengalah.


Ivan menarik napas dalam-dalam, susah memang bicara dengan bocah, harus banyak sabar.


"Bagaimana misal tanpa sengaja Bu Yosephine keceplosan di sekolah, Kepala sekolah dengar akhirnya Saya di pindah atau bahkan di keluarkan gara-gara ketahuan berduaan dengan murid di bawah umur. Kamu mau begitu?"


Vin-vin terdiam memikirkan kata-kata guru pujaannya. Tentu saja Vin-vin tak mau kalau sampai Pak Ivan di pindahkan, mereka akan semakin sulit untuk bertemu.


Akhirnya sambil menarik napas panjang, Vin-vin menurut.


"Aku harus sembunyi di mana?" gumam nya.


Ivan berpikir sambil melihat sekeliling ruang apartemen nya yang tak bersekat itu.


"Di mana ya? Oh di ranjang saja! tutupi badan kamu pakai selimut."


Vin-vin mendengus lalu berjalan gontai menuju ranjang ukuran single milik Pak Ivan.


Setelah melihat Vin-vin sudah berbaring dan menutupi seluruh badannya dengan selimut, barulah Ivan membuka pintu apartemennya.


"Loh, Bu Yosephine? ada apa ya malam-malam ke sini?" dia berpura-pura terkejut.


"Ahh Pak Ivan bener ada di rumah ternyata, ini loh Saya barusan lewat sekitar sini beli roti terus inget Pak Ivan tinggal di sekitar sini jadi Saya mampir," Bu Yosephine menunjukkan sekantong plastik berisi beberapa roti dengan merk terkenal.


"Ooh.. begitu, tapi kok Bu Yosephine tahu Saya tinggal di sini?" ucap Ivan bingung sambil menggaruk kepalanya.


"Sepertinya Saya nggak pernah kasih tahu alamat rumah Saya."


"Oh.. anu itu, Saya tahu dari Pak Anis." Bu Yosephine tampak gugup. Padahal sebenarnya dia bertanya pada staf TU, makanya dia tahu alamat tempat tinggal Pak Ivan.


"Saya boleh masuk? nggak sopan kan ya ngajak tamu ngobrol di depan pintu," Bu Yosephine tampak ingin menerobos masuk, padahal Ivan sengaja berdiri tepat di tengah ambang pintu untuk menutup jalan masuk.


"Maaf Bu, sudah malam. Saya juga tinggal sendiri di sini," Ivan berusaha mencegah Bu Yosephine untuk masuk.


"Sebentar aja Pak, Saya minta minum. Haus sekali..." Bu Yosephine mendorong lengan Ivan yang menghalanginya, dan akhirnya dia bisa menerobos masuk ke dalam ruangan Ivan.


Ivan mendesah pasrah, dia sungguh tak percaya jika rekan kerjanya begitu nekat.


"Wah... ruangan Pak Ivan rapih sekali ya?" Bu Yosephine menghambur masuk dan mulai berkeliling mengitari sofa.

__ADS_1


"Hmm... wangi apa ini?" dia mengendus-endus dan berjalan menuju mini pantry.


"Pak Ivan baru selesai masak?" tanya nya saat melihat dua mangkuk cream soup tersedia di atas meja kecil di dapur. "Baunya wangi, rasanya pasti enak, boleh Saya cicipi?" Bu Yosephine mengambil sendok dan mengambil satu suap cream soup itu dan melahabnya.


"Wah.. enak sekali, boleh ya Saya di bagi resep nya lain kali."


"Eh, tapi kok ada dua mangkok?" Bu Yosephine terus berceloteh sambil berkeliling ruang apartemen Ivan.


Ivan mengusap wajahnya, frustasi. Bagaimana caranya dia mengusir wanita ini secepatnya.


"Pak Ivan sedang menunggu seseorang?" tanya Bu Yosephine.


"Sebenarnya Saya sedang..."


"Ehmm....." Vin-vin sengaja mendesah dari balik selimut sambil bergerak-gerak.


Bu Yosephine tampak terkejut, matanya bahkan terbelalak hampir melompat keluar.


Dia menatap Ivan seolah bertanya 'ada siapa di rumah ini?' tanpa suara.


Ivan menelan ludah nya gugup, kenapa sih bocah bau kencur itu harus pakai acara mendesah-desah! bikin runyam ini urusan!


Bu Yosephine melirik rak sepatu dan melihat ada sebuah high heels warna hitam teronggok di sana. Itu pasti milik wanita kan? nggak mungkin Pak Ivan memakai high heels.


Seketika Bu Yosephine tersadar, dia bahkan menutup mulutnya yang menganga lebar. Dia tak menyangka jika guru yang menjadi idolanya itu, yang dia harapkan akan menjadi pasangan nya mempunyai kehidupan malam yang liar.


Bahkan ada seorang wanita sedang berada di ranjangnya.


"Bu.. ini bukan..." Ivan berusaha menjelaskan, tapi Bu Yosephine sudah berlari secepat kilat.


"Terima kasih rotinya..." ucap Ivan akhirnya walaupun dia tahu Bu Yosephine tak akan mendengarnya.


Tapi mungkin ada baiknya juga, kalau dia mengira Ivan lelaki brengsek, mungkin Bu Yosephine akan berhenti mengejar-ngejar Ivan. Ivan bisa bernapas lega.


Ivan menutup pintu apartemennya sambil terkekeh


karena teringat ekspresi wajah Bu Yosephine yang sangat kaget.


Lalu dia berjalan menuju ranjang dan duduk di pinggiran.


Dia membuka selimut dan melihat Vin-vin yang sedang memejamkan mata sambil menahan senyum.


"Dasar usil!" gemasnya sambil mencubit ujung hidung murid nakalnya itu.


"Aahh... sakit Pak..." Vin-vin mengaduh kesakitan.


"Siapa suruh bikin ide konyol begitu!"

__ADS_1


"Kan jadi dia cepat pergi! coba kalau aku nggak pura-pura begitu, dia pasti masih di sini, ngabisin soup aku!" Vin-vin mencibir.


"Ya sudah, tapi ide kamu emang benar-benar hebat, bikin Bu Yosephine langsung pucat dan lari secepat kilat." Ivan terkekeh mengingat kejadian tadi.


"Eh, sudah jam sembilan kurang seperempat loh, buruan makan cream soup nya, lalu saya antar kamu pulang. Takut kemalaman nanti."


"Hmmm... bopong..." ucap Vin-vin manja sambil merentangkan kedua tangannya.


"Apaan sih!" Ivan menepisnya dan buru-buru beranjak dari ranjang dan menjauh. Bisa bahaya nanti kalau terlalu lama ngobrol di atas ranjang. Vin-vin emang kadang nggak memikirkan perasaan Ivan sebagai lelaki dewasa.


"Kenapa sih Pak Ivan?" Vin-vin bangun sambil cemberut.


"Sudah sini buruan makan!" Ivan mengambil semangkok cream soup yang masih utuh dan meletakkannya di atas meja di ruang tengah tempatnya menonton TV, sedangkan satu mangkok yang tadi sudah di cicipi oleh Bu Yosephine dia tinggalkan begitu saja di dapur.


Dengan enggan Vin-vin bangun dan duduk di sebelah Ivan lalu mulai memakan soup buatannya.


"Pak Ivan nggak makan?"


"Saya masih kenyang."


"Yah.. aku masak sia-sia dong!"


"Ya enggak lah, itu Bu Yosephine kan ikut makan," jawab Ivan sambil mengulum senyum.


"Hih! sebel banget aku kalau ingat dia asal makan aja!" geram Vin-vin.


Lalu dia mengambil sesendok soup dan mendekatkan ke mulut Ivan.


"Cicipi satu suap aja, biar aku seneng."


Ivan menatap Vin-vin, setelah mendesah akhirnya dia membuka mulutnya dan menerima satu suapan soup itu.


"Enak?" tanya Vin-vin.


Ivan mengangguk sambil tersenyum, apalagi dia melihat ada setetes cream soup parkir di dagu Vin-vin.


"Makannya jangan berantakan gini dong, kaya anak kecil..." ucapnya sambil mengusap dagu Vin-vin dengan ibu jarinya.


Vin-vin terkesiap sambil menatap Ivan dengan lekat. Mereka bertatapan lumayan lama dan tanpa sadar wajah mereka semakin dekat.


'Klang klong klang klong!'


Ivan langsung bangkit dari duduknya, "su-sudah jam 9 ayo buruan pulang!" ucapnya sedikit gagap.


"Bunyi apa sih? ganggu aja!" kesal Vin-vin sambil bangun dari duduknya. Hampir saja mereka berciuman tadi.


"Saya pasang alarm biar nggak lupa waktu," ucap Ivan sambil menyambar jaket dan kunci mobil.

__ADS_1


"Ayo!" ucapnya lagi sambil berjalan mendahului Vin-vin keluar dari apartemennya.


Dia takut Vin-vin sadar kalau wajahnya memerah karena kejadian barusan.


__ADS_2