
"Ivan..." Seorang wanita yang sangat anggun, dengan sanggul kecil menghiasi rambutnya yang hampir seluruhnya berwarna putih, tersenyum lebar saat melihat kedatangan Ivan.
Dia berjalan menghampiri Ivan yang baru saja turun dari mobilnya, mereka berpelukan cukup lama untuk melepas rindu.
"Mom..." lirih Ivan sambil memeluk mantan calon ibu mertuanya itu.
"Kenapa kamu nggak pernah datang ke sini sih, sejak Rina meninggal..." tanya wanita tadi, suaranya terdengar sangat pilu.
"Maafkan Ivan, Mom.. Ivan sudah bekerja sekarang dan lumayan sibuk," jawab Ivan dengan sopan.
Lalu sambil bergandengan tangan, mereka berdua menasuki rumah.
"Mommy...! aku juga datang!" teriak Rissa sambil membuka pintu mobil.
Mommy hanya menoleh sesaat, lalu menatap Ivan, "kalian datang berdua?"
"Nggak, Mom. Ada Dion juga," jawab Ivan tepat dengan keluarnya Dion dari mobil.
Mommy menghela napas, lalu kembali melanjutkan langkah yang tadi sempat terhenti. Ivan pun mengikuti langkah Mommy dan memasuki rumah mewah dua lantai milik keluarga Rissa.
Rissa mendengus, kesal.
"Huh! memang! cuma Rina anak kesayangan Mommy! aku cuma anak tiri!" gerutu Rissa sambil membanting pintu mobil dan berjalan cepat menyusul Ivan.
Sedang Dion hanya mencibir dan menegekorinya dari belakang.
Rissa langsung menempelkan bokongnya di sofa tepat di sebelah Ivan lalu bergelanjut manja sambil memeluk lengan Ivan.
Ivan dengan segera menarik tangannya dan bergeser agar duduknya tak terlalu dekat dengan Rissa, namun bukan Rissa jika dia menurut dan menyerah. Rissa pun bergeser sehingga mereka berdua kembali berdempetan.
"Rissa!" geram Ivan lirih.
"Rissa! ganti bajumu dengan yang lebih sopan! dandananmu seperti wanita murahan!" Ucap Mommy penuh tekanan. Tampak sekali jika Mommy menahan malu dan marah.
Rissa menatap ibunya dengan kesal, lalu dia bangun dari duduknya dan mendengus keras.
"Di mata Mommy memang cuma Rina anak paling baik!" teriaknya sambil berlari ke lantai dua menuju kamarnya.
__ADS_1
Setelah Rissa pergi, Dion pun mengambil alih tempat di sebelah Ivan. Jaga-jaga agar Rissa tak kembali duduk di sana.
Mommy menggelengkan kepalanya pelan, "Mommy nggak tau harus bagaimana menghadapi Rissa yang egois..." keluh Mommy.
"Van... kamu beneran nggak bisa menerima Rissa? siapa tahu dengan menikah, dia bisa berubah."
"Mom..." Ivan menggenggam jemari wanita paruh baya itu, "maaf, Ivan benar-benar nggak bisa. Ivan nggak bisa menghadapi sikap Rissa," Ivan menghela napas.
"Maksud kedatangan Ivan kemari ini juga sebenarnya mau minta tolong sama Mommy, supaya Rissa tak mengganggu Ivan lagi. Ivan sudah punya calon Mom..."
"Mommy tau, Rissa nekat sekali. Dia bahkan menemui pacar Ivan dan bicara yang tidak-tidak."
Mommy menghela napas lagi, "Rissa terlalu di manja sama Papi nya jadi sifatnya sangat egois. Tapi Mommy yakin dia bisa berubah jika ada yang membimbingnya. Kamu beneran yakin sama pacar kamu? bukannya lebih baik kamu dengan Rissa saja karena keluarga kita sudah dekat. Rina juga pasti setuju dengan pernikahan kalian..."
Ivan menundukkan kepalanya sambil mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Selama ini, dia menutupi kejadian beberapa tahun yang lalu saat mereka di Villa. Namun sekarang saatnya Ivan membuka semuanya. Dia tak perduli lagi jika hubungannya dengan keluarga Rina rusak, karena sekarang dia hanya ingin bersama Vin-vin, bukan yang lain.
"Ivan yakin, Rina tak akan setuju dengan pernikahan Ivan dan Rissa, Mom.. karena sebenarnya, secara tidak langsung Rissa lah yang menyebabkan Rina meninggal, mungkin Ivan juga termasuk di dalamnya, tapi setelah Ivan mendapat bukti ini, Ivan jadi tau jika semuanya sudah di rencanakan oleh Rissa."
"Maksudnya bagaimana? Mommy nggak paham deh," tanya Mommy bingung.
Ivan menarik napas panjang sebelum mulai bercerita. Dia berusaha menjaga bicaranya agar tetap tenang dan tak emosi.
"Saat pagi harinya, Rina mengetahui itu dan dia marah. Dia berlari keluar dari Villa sambil menangis dan tepat saat itulah, Rina tertabrak mobil dan meninggal...
Ivan merasa sangat bersalah pada Rina, dan terus mengutuk diri sendiri! kenapa bisa Ivan tak sadar dan melakukan hal gila itu dengan Rissa!"
"Jika begitu! justru kalian berdua harus segera menikah karena kalian sudah berhubungan layaknya suami istri!" Suara Papi Rissa menggelegar, membuat Ivan terkejut dan menghentikan ceritanya.
Ivan menelan salivanya, dia tau Papi Rissa sangat keras dan dia juga sangat menyayangi dan memanjakan Rissa.
"Maaf, Om! tapi Ivan di jebak oleh Rissa. itu semua rencana Rissa. Saya benar-benar tak tahu apa-apa."
Ivan mengambil ponselnya dan mengaktifkan loud speaker agar Mommy dan Papi bisa mendengar rekaman suara Rissa.
"Gue penasaran, kok Ivan dulu bisa ngelakuin itu sama Lo?" terdengar suara lelaki yang asing di telinga kedua orang tua Rissa.
"Minuman dia, gue kasih obat perangsang. Yang super kuat... hahaha..." terdengar suara Rissa yang tertawa terbahak-bahak.
__ADS_1
"Nggak mungkin ada yang bisa mengelak dari pengaruh obat itu, walaupun orang alim sekalipun..."
Ivan mematikan rekaman suara tersebut, dan menghela napas.
"Mohon maaf, Mommy... Om, Rissa tidak seperti Rina, Rissa sangat licik dan Saya yakin Saya bukan lelaki pertama yang pernah tidur dengannya. Ini Saya katakan bukan karena Saya tidak mau bertanggungjawab, tapi memang seperti inilah kenyataannya."
Ya, Ivan yakin dia tidak mengambil keperawanan Rissa karena tidak ada noda darah di sprei saat itu.
"Rissa bukan anak seperti itu!" teriakan Ayah Rissa menggelegar memenuhi ruang tamu yang sangat luas itu.
Sepertinya Ayah Rissa tak terima jika anaknya adalah wanita murahan seperti yang Ivan maksudkan.
"Mohon maaf Om, jika Saya merusak Rissa, Saya akan bertanggung jawab. Tapi di sini, Rissa lah yang merusak hidup Saya, membuat Rina membenci Saya sebelum ajalnya, dan kalian menginginkan Saya menikahi Rissa? itu sungguh tidak masuk akal bagi Saya! karena Saya sangat membenci Rissa!" Ucap Ivan tegas. Nafasnya bahkan memburu karena emosi.
"Dan sekarang, Rissa kembali mengganggu hidup Saya! dia mempengaruhi pacar saya hingga hubungan kami merenggang! Saya sudah tidak bisa mentolerir lagi perbuatan Rissa. Jika Om dan Mommy tidak bertindak, Saya akan melaporkan Rissa ke polisi dengan bantuan rekaman ini!"
Dion, menepuk pelan bahu Ivan, mengingatkannya agar dia bisa menahan emosinya.
"Dari mana kamu dapat rekaman itu?!" pekik Rissa dari lantai dua rumahnya.
Ivan menatap Rissa dengan sinis, "Menurutmu? siapa orang yang selalu bersamamu akhir-akhir ini!"
"Daniel! dasar cowok nggak berguna!" geram Rissa.
"Benar yang Ivan bilang barusan!" Teriakan Papi kembali menggelegar, dia tampak tak terima jika anak kesayangannya ternyata psycho.
Rissa terdiam.
"Kamu bikin malu keluarga saja! kenapa kamu nggak bisa bersikap anggun seperti Rina! memalukan!" pekik Mommy yang tampak gemetar menahan marah dan malu.
"Ya! bagi Mommy, aku bukan siapa-siapa. Anak kesayangan Mommy ya cuma Rina!" teriak Rissa marah.
"Secepatnya, kamu balik ke Amerika! jangan pernah kembali ke sini! Papi malu punya anak seperti kamu!" teriak Papi.
Dion dan Ivan saling pandang, lalu secara perlahan mereka berdua bangun dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Mereka berdua tak mau ikut campur dengan urusan keluarga ini, walau sebenarnya Ivan lah yang menciptakan ke gegeran dalam keluarga Rissa.
"Ivan! jangan pergi! kita harus menikah!" teriak Rissa yang tak peduli dengan amarah kedua orang tuanya.
__ADS_1
Karena melihat Ivan bergegas pergi, Rissa pun berlari untuk menghentikannya. Namun naas, akibat kakinya yang masih setengah basah karena dia baru selesai mandi, tangga yang dipijak nya menjadi licin dan membuat Rissa terpelanting dan jatuh. Kepalanya menghantam pinggiran anak tangga yang lancip dan langsung membuat Rissa tak sadarkan diri saat tubuhnya menyentuh dasar lantai.
"Rissa!!!" teriakan Papi dan Mommy Rissa menggelegar membuat Dion dan Ivan menoleh kaget.