
"Daniel melakukan itu?" Ivan menatap Vin-vin dengan tatapan menyelidik.
"Lalu dia ngapain lagi?"
"Selain kasih bocoran kuis, dia juga kasih aku coklat. Tapi sudah ku tolak, habisnya coklatnya sudah nggak terbungkus plastik, seperti sudah sengaja di buka," Vin-vin menjilati es krim nya.
Ivan dan Vin-vin sedang duduk santai di sofa ruang TV di apartemen Ivan. Sepulang sekolah Vin-vin langsung minta Ivan untuk pulang bersama, mereka pun janjian bertemu di kafe d'best dan Ivan menjemputnya di sana lalu membawa Vin-vin ke apartemen nya.
"Makin kelihatan maksud jeleknya!" geram Ivan.
"Guru nggak seharusnya membocorkan jawaban demi kepentingan pribadi! dia harus di laporkan! tapi masih kurang bukti..."
"Memang ada kepentingan pribadi apa? apa hubungannya kepentingan pribadi dengan kasih jawaban kuis?" Vin-vin menatap Ivan dengan tatapan puppy eyes.
Ivan menarik napas dalam sambil melirik sinis ke arah pacar kecilnya.
"Dia memberi kamu jawaban kuis untuk mengambil hati mu Vin, dia berharap kamu jadi senang dan menuruti keinginannya!"
"Masa aku bisa di sogok dengan jawaban kuis? konyol sekali!" Vin-vin mencibir.
"Memangnya kamu maunya di sogok pakai apa?" Ivan mengambil selembar tissue dan membersihkan ujung bibir Vin-vin yang ada noda es krim.
"Pakai kalung emas ini dong..." jawabnya ceria sambil menunjukkan kalung pemberian Ivan.
Ivan menonyor bibir mungil Vin-vin dengan tissue tadi, "dasar cewek matre!"
Vin-vin tertawa.
"Pak Ivan, nanti malam ke kafe Papah Kevin ya," pinta Vin-vin.
"Ngapain?"
"Biar kita bisa ketemu, soalnya nanti malam aku mau bantu-bantu di sana."
Ivan mendengus, sebenarnya dia tak suka jika Vin-vin ada di kafe chef Kevin, banyak pria yang bakal melirik pasti, dan Ivan tak suka.
"Jangan pakai baju yang terlalu ketat!" titah Ivan.
"Iyalah.. lagian nggak ada yang berani macam-macam, kan ada Papah."
Lagi-lagi Ivan hanya bisa mendengus. Justru Ivan lebih memilih ada yang macam-macam supaya dia punya alasan untuk menonjok mereka, susah kalau cowok-cowok hidung belang itu hanya diam dan mengkhayalkan pacar kecilnya di dalam hati karena Ivan tak punya alasan untuk menghajar mereka yang memandangi Vin-vin.
"Aku akan ke sana dengan Dion," jawab Ivan ketus.
"Sip... aku tunggu loh ya, jangan bohong."
"Memangnya kapan Saya pernah bohong?"
Vin-vin berpikir sejenak, "nggak pernah ya?" tanyanya balik.
Ivan gemas dan mencubit pipi chubby Vin-vin.
***
"Tumben Lo ngajakin gue ke sini," Dion duduk di sebuah kursi yang berada tepat di depan Ivan.
__ADS_1
Tepat pukul 7 malam, mereka berdua bertemu di kafe chef Kevin.
"Cewek gue yang minta," Ivan menyeruput capuccino nya.
"Weish... udah diakui nih?!" Dion langsung penasaran.
Ivan hanya tersenyum simpul.
"Mana si Vin-vin?" Dion celingukan ingin melihat pacar temannya.
"Lagi sibuk, Lo mau pesen apa?"
"Gue mau..."
"Om Dion sudah datang?"
Dion otomatis menoleh ke arah Vin-vin, dengan wajah cemberut.
"Jangan panggil Om dong, panggil abang atau kakak atau oppa..."
Vin-vin tergelak, "oppa? hahaha..."
"Ketawanya biasa aja bisa nggak? ngejek banget sih kayaknya!"
"Kalau Pak Ivan masih bisa di panggil oppa, kalau Om Dion ya nggak cocok lah! oppa korea itu kulitnya putih, rambutnya keren, hidungnya mancung..."
"Main fisik ini ceritanya?!" Dion makin senewen.
Vin-vin langsung menutup mulutnya, "maaf deh Om, nggak sengaja. Mau pesen apa? aku traktir deh buat permintaan maaf."
"Lha gitu gue demen," Dion langsung membuka buku menu.
Vin-vin cemberut sambil melirik Dion, "ngelunjak..." gerutunya lirih.
"Oh ya minumnya, sparkling blue..."
"Baik Tuan, tunggu sebentar pesanan akan Saya buatkan." Vin-vin berjalan mundur perlahan sambil membungkuk penuh hormat lalu berlalu menuju dapur.
Ivan hanya menggelengkan kepala melihat tingkah dua orang yang tiba-tiba terlihat akrab itu.
"Lo kok bisa sih bro, dapetin cewek se-imut itu? gue jadi iri sama Lo!"
"Ya gimana ya, pesona gue emang nggak bisa gue tutupi."
"Njiir.. pede banget Lo!"
Ivan tergelak.
"Lho, Pak Ivan ya?"
Ivan menoleh dan terkejut saat melihat orang yang menyapanya.
"Pak Daniel? kenapa ada di sini?"
"Kita di luar sekolah, mending nggak usah terlalu formal ya, panggil nama aja," tanpa di persilahkan, Danil menarik kursi yang ada di sebelah Ivan dan mendudukinya.
__ADS_1
Daniel menatap Dion dan tersenyum sambil mengulurkan tangannya, "gue Daniel, rekan kerja Ivan di sekolah."
"Gue Dion," jawab Dion singkat.
Dion adalah orang yang suka bergaul dan menambah teman tapi dengan sikap Daniel yang tanpa permisi mengganggu waktu santainya dengan Ivan, Dion jadi sedikit kesal.
"Lo sering ke sini Van?" tanya Daniel membuka percakapan.
"Ya lumayan, dari jaman kuliah sampai sekarang."
"Wah... ternyata Lo udah langganan di sini. Gue malah baru tahu tempat nongkrong ini," Daniel membuka buku menu dan mulai memilih-milih makanan.
"Lo tahu, kafe ini milik chef artis yang terkenal itu loh!" bisik Daniel.
Ivan hanya mengangguk.
"Dan katanya, dia itu ayahnya Vincia. Lo tahu kan Vincia murid paling cantik di sekolah," sambungnya.
Ivan dan Dion saling melirik.
"Vin..." Dion hampir saja memberi tahu kepada Daniel kalau Vin-vin adalah kekasih Ivan, tapi dengan cepat Ivan memberi isyarat agar dia diam.
"Om Dion... ini steik nya..." Vin-vin terkejut saat melihat Daniel duduk di dekat Ivan.
"Loh, Pak Daniel?"
"Vincia? wah Saya nggak sangka bisa bertemu di dini, sepertinya kita berjodoh."
Dion melotot sambil melirik Ivan tapi Ivan tetap diam.
"Emmm... Pak Daniel mau pesen sesuatu?" tanya Vin-vin ragu.
"Saya mau spaghetti aglio e olio... dan minumnya capuccino."
"Baik," Vin-vin hendak melangkah pergi saat tiba-tiba tangan Daniel meraih tangannya hingga membuat dia berhenti.
"Kamu kerja di sini Vin?"
Tangan Ivan mengepal, untung Vin-vin langsung menepis tangan Daniel.
"Aku cuma bantu-bantu Papah di sini."
"Papah kamu chef Kevin?" Daniel terbelalak, acting! sebelumnya dia memang sudah tau kalau Vin-vin adalah anak dari chef Kevin.
"Pantesan kamu cantik banget," Daniel masih berusaha merayu muridnya.
"Vin, ada apa?" Kevin yang dari tadi memperhatikan putrinya, langsung mendekat waktu melihat Daniel yang berusaha meraih tangannya.
Daniel yang melihat kedatangan Kevin langsung berdiri dari duduknya dan berusaha menyalami artis terkenal itu.
"Saya Daniel, guru favorit Vincia di sekolah chef ."
Ivan, Dion dan Vin-vin saling melirik.
Cari perhatian sekali orang satu ini!
__ADS_1
"Oh, silahkan menikmati makanannya Pak Daniel, semoga berkenan. Ayo Vin," Kevin pun menggiring putrinya untuk kembali ke dapur.
Dengan senyum lebar, Daniel duduk di kursinya. Dia merasa puas karena berhasil berkenalan dengan ayah dari Vincia, murid cantik yang sedang dia incar.