
Dion membawa sahabatnya yang sudah mabuk berat dengan mobilnya. Sedangkan mobil Ivan, dia biarkan saja di parkiran cafe. Besok pagi saat Ivan sudah sadar dia bisa mengambilnya sendiri.
“Gila Lo bro, mabuk cuma gara-gara bocah ingusan itu...” ucap Dion sambil tersenyum mengejek, dia memapah temannya sampai ke dalam kamar apartemennya lalu menghempaskan begitu saja tubuh berat itu di atas ranjang singel milik Ivan.
“Emang sih gue akui, dia cantik banget. Imut, gue juga nggak bakal nolak kalau di sukai cewek semanis itu. Ternyata Lo juga cowok normal macam gue, gue kira Lo nggak normal soalnya dari dulu nggak pernah bisa jatuh cinta selain sama Clarina.” Dion terus saja bicara sendiri karena temannya sudah setengah tak sadar.
"Gue yang lagi stres, butuh temen curhat malah Lo yang mabuk. Gimana sih Lo bro!”
Dion melihat temannya sambil mendengus, lalu meninggalkannya begitu saja, karena sepertinya Ivan sudah lelap tertidur, percuma juga kalau dia bicara panjang lebar.
***
“Loh, Vin? Minggu-minggu mau ke mana?” Mama Luci melihat anak gadisnya sudah berdandan cantik dan bersiap-siap untuk pergi.
“Mau shoping sama Mutiara Mah,” jawab Vin-vin. Dia bohong, sebenarnya dia ingin menemui Pak Ivan. Semalam dia tak bisa tidur karena menunggu telepon darinya namun tak kunjung ada. Padahal Vin-vin sudah minta untuk video call saat Pak Ivan sudah sampai di rumah, tapi sampai dini hari Pak Ivan tak juga menelpon. Jangan-jangan dia tak pulang semalaman.
Vin-vin yang merasa khawatir, akhirnya memutuskan untuk datang ke apartemen Ivan walaupun harus berbohong pada Mama nya.
Mama Luci menatap anak gadisnya dari atas kepala sampai ujung kakinya, “cantik banget... mau shoping sama Mutiara atau sama Pak Ivan nih?”
Vin-vin langsung merona, “Ihh.. Mama apaan sih?”
Mama Luci tersenyum, “yang penting selalu hati-hati ya sayang,” pintanya.
“Iya Ma, Vin-vin berangkat dulu. Oh iya Papi di mana?’
“Papi lagi lari pagi sama Devan. Nggak tahu tuh belum balik dari tadi.”
“Ya udah, tolong pamitin ke Papi ya Ma, Vin-vin berangkat.”
“Kamu naik apa sayang?”
“Naik taksi Ma, itu sudah datang. Dah Mama..” Vin-vin langsung berlari masuk ke dalam taksi online yang sudah dipesan sebelumnya.
__ADS_1
Selama perjalanan Vin-vin terus menghubungi Pak Ivan namun ponselnya tak aktif. Vin-vin jadi merasa semakin khawatir.
“Cepat sedikit ya Pak,” pinta Vin-vin pada si sopir taksi, dia ingin cepat sampai di apartemen gurunya dan melihat keadaannya. Jangan-jangan kakinya sakit lagi dan dia tak bisa berjalan. Atau dia terjatuh di kamar mandi saat kakinya terasa sakit lalu pingsan.
Vin-vin semakin takut karena pikirannya sendiri yang mulai ngelantur.
Tangannya bahkan sampai gemetar. Dia sungguh takut jika sampai terjadi sesuatu pada guru tersayangnya.
Setelah taksi berhenti di depan apartemen, Vin-vin langsung berlari menuju lift dan naik ke lantai tempat kamar Pak Ivan berada. Setelah sampai di depan pintu, Vin-vin mulai mengetuk dengan keras. Namun tak juga ada jawaban.
Saat tak sengaja tangannya memutar kenop pintu, ternyata pintu kamar Pak Ivan langsung terbuka. Walaupun sedikit terkejut, tapi Vin-vin tetap masuk ke dalam dengan perlahan.
“Uhh, bau apa ini!” Vin-vin menutup hidungnya karena mencium bau tak sedap yang sangat menyengat.
Dia segera membuka lebar jendela apartemen, agar bau tak sedap ini segera keluar.
Vin-vin menatap gurunya yang masih lelap tertidur di ranjangnya, persis seperti orang mati, tak bergerak.
“Kenapa dia mabuk sampai seperti ini? Memangnya punya masalah apa?” gumam Vin-vin.
“Pak.. Pak Ivan...” panggilnya sambil menepuk pundak Ivan beberapa kali. Namun Ivan masih diam tak bergerak.
“Pak...” Vin-vin sedikit khawatir, dia mendekatkan jarinya di ujung hidung Ivan, “bernapas kok, nggak mati...” gumamnya lagi sambil merasa lega.
Vin-vin celingukan mencari sesuatu yang berbau tajam untuk membangunkan gurunya yang tidur bagaikan orang mati itu. Akhirnya dia melihat sebotol kecil minyak kayu putih lalu buru-buru mengambilnya dan mengoleskannya di ujung hidung guru kesayangannya.
“Uhh...” Rintih Pak Ivan.
Vin-vin tersenyum lega karena akhirnya Pak Ivan bergerak bahkan bersuara.
“Pak.. bangun, mau aku bikinin sup panas biar enakan?” tanya Vin-vin sambil mendekatkan dirinya ke arah Ivan yang masih berbaring.
Set! Tanpa Vin-vin duga, Pak Ivan malah menariknya dan mendekapnya dengan erat.
__ADS_1
“Ri... na...” desis Ivan lirih.
“Aku bukan Rina!” Vin-vin berusaha melepaskan dirinya dari dekapan Pak Ivan.
“Rina... aku kangen....” Ivan masih bergumam pelan sambil menyebutkan nama mantan tunangannya dan itu membuat Vin-vin makin kesal.
Vin-vin berusaha melepaskan diri sambil mendorong dada Ivan, namun tenaga Ivan begitu besar.
Dia bahkan menarik Vin-vin makin erat dan sekarang posisi Vin-vin berada di bawah tubuh Ivan, Ivan menguncinya membuatnya tak bisa bergerak.
“Rina...” Ivan tampaknya masih belum sadar, dia menciumi leher Vin-vin sambil menyebut nama mantan tunangannya.
Vin-vin makin emosi, dia berusaha memukul punggung Ivan, bahkan berusaha mendorong wajah tampan itu agar menjauh dari lehernya, namun Ivan malah mencengkram lengan Vin-vin dan menguncinya hingga Vin-vin tak bisa lagi memukuli Ivan.
Ivan yang masih belum sadar, mulai menciumi pipi Vin-vin dan lama-lama dia mengecup bibir mungil Vin-vin. Untuk sesaat Vin-vin terlena, namun dia sadar jika Pak Ivan melakukan semua ini bukan dengan dirinya namun dengan mantan tunangannya.
Dengan kesal Vin-vin menggigit bibir Ivan yang terus berusaha mencium bibirnya.
Ivan terkejut karena merasakan bibirnya yang sakit, bahkan memerah dan sedikit mengeluarkan darah. Dia terdiam sambil menatap Vin-vin.
“Sudah sadar!!!” bentak Vin-vin kesal.
“Vin... ke-kenapa kamu...”
“Pak Ivan yang kenapa? Kenapa sampai mabuk seperti ini? Kangen sama mantan?!” teriak Vin-vin kalap. Dia kesal, amat sangat kesal. Vin-vin menginginkan ciuman pertama yang berkesan namun apa yang dia dapat? Ciuman pertamanya bukan untuk dirinya, karena pria yang menciumnya sedang memikirkan wanita lain. Vin-vin merasa sangat marah.
“Nggak.. bukan begitu...” Ivan gugup, dia mengusap bibirnya yang sedikit berdarah karena gigitan Vin-vin.
“Maafkan... aku... Vin...” Ivan terlihat sangat menyesal. “Ke-kenapa aku bisa begini...” Ivan menjambak rambutnya sendiri, frustasi.
Vin-vin menatap Ivan dengan perasaan yang sangat kecewa, sampai tak terasa air matanya menetes dengan deras.
“Aku.. aku ngapain kamu? Aku nggak macem-macem kan?” Ivan kalut, dia takut jika saat tak sadar dia melakukan sesuatu pada Vin-vin.
__ADS_1
“Pak Ivan sudah mengambil ciuman pertamaku dengan kasar!" Vin-vin mengusap air matanya. “Dan yang paling menyakitkan adalah, Pak Ivan membayangkan wanita lain saat menciumku! Aku benci kamu! Aku benci!!!” Vin-vin mendorong Ivan hingga dia terjatuh dari ranjang, setelah itu Vin-vin berlari keluar dari kamar Ivan sambil menangis tersedu-sedu.