Oh My Teacher

Oh My Teacher
godaan Vin-vin.


__ADS_3

'Tok! tok! tok!'


Suara ketukan pintu semakin keras membuat Ivan jengkel. Dia baru saja selesai mandi, masih berbalut handuk, belum memakai baju dan celana namun pintu apartemennya sudah di ketuk dengan begitu keras dan terlihat pelaku pengetukkan itu sangat tidak sabaran.


Ivan menatap jam di dinding yang sudah menunjukkan pukul lima sore dan mendengus kesal, "siapa sih!"


Ivan tak merasa punya janji dengan siapapun, Vin-vin juga bilang kalau hari ini mereka tak dapat bertemu karena dia ada acara keluarga dengan Papahnya yang seorang chef. Karena gabut tak ada kegiatan, akhirnya Ivan membuat janji dengan Dion untuk nongkrong sambil ngobrol-ngobrol di kafe. Sepertinya Ivan sudah lama tak bertemu sahabatnya itu karena beberapa hari ini sibuk dengan urusan sekolah terutama masalah Daniel waktu itu.


'Tok! tok! tok!'


Ketukan di pintu depan makin kencang, membuat Ivan bertambah kesal.


"Siapa sih!" kesalnya sambil membuka pintu.


"Ngapain aja sih! diketukin dari tadi nggak di buka-buka!" Begitu pintu di buka, Vin-vin langsung nyelonong masuk sambil ngedumel.


Ivan hanya menghela napas melihat kelakuan pacarnya.


"Ngapain ke sini?" ucapnya.


"Emangnya ketemu pacar sendiri nggak boleh!" Vin-vin duduk di sofa sambil menyandarkan punggungnya.


"Aku tuh, sudah bela-belain mampir dulu ke sini sebelum ke rumah Papah? demi apa coba? demi bisa ketemu pacar. Kok malah di tanya 'ngapain datang ke sini!',"


Ivan masih berdiri di ambang pintu sambil menatap pacarnya yang duduk sambil manyun. Bibirnya mengerucut dengan imut tapi dia tetap terlihat manis walaupun sedang marah-marah seperti ini.


"Cantik banget sih?" puji Ivan saat melihat penampilan Vin-vin yang sangat anggun.


Vin-vin mengenakan gaun model ballgown sepanjang lutut dengan bagian bawah yang bervolume bak seorang putri. Apalagi warna merah maroon nya sangat kontras dengan kulit Vin-vin yang seputih susu.


"Mau ketemu siapa pakai gaun sebagus itu? padahal kalau pergi denganku nggak pernah dandan se-cetar ini?!" Ivan mencebik sambil duduk di sebelah Vin-vin. Dia masih berbelit handuk, belum sempat memakai baju dan celana panjang.


"Aku mau makan malam sama Papah di hotel dan ketemu sama rekan-rekan bisnisnya. Jadi harus dandan maksimal seperti ini."


"Ngapain kamu ketemu rekan bisnis Papah mu? jangan-jangan kamu mau di jodohkan? seperti di cerita-cerita novel? di jodohkan demi kelancaran bisnis keluarga," Ivan menatap Vin-vin penuh selidik.


"Pak Ivan suka baca novel? aku nggak sangka," Vin-vin mengambil toples berisi kacang pistachio yang ada di atas meja.


"Nggak usah mengalihkan pembicaraan deh!"

__ADS_1


Vin-vin tertawa lirih, "nggak lah. Papah nggak mungkin begitu, kalau dia nekat, bakal berantem nanti sama Papi Al."


Ivan menarik napas dan menghembuskan dengan lega.


"Ih, Pak Ivan kok nggak pakai baju? untung yang datang aku, kalau Bu Yosephine bagaimana hayoo? apa mungkin Pak Ivan sengaja? ingin menarik perhatian cewek lain?!"


"Nggak mungkin lah, yang tahu tempat tinggalku itu cuma Dion dan kamu."


"Bu Yosephine?"


"Iya, aku juga heran, kok dia bisa tahu..." Ivan berpikir sejenak. Apakah tempat persembunyiannya ini begitu mudah di temukan? tapi selama ini dia belum pernah bertemu dengan orang-orang di masa lalunya, Orang-orang yang tidak ingin Ivan temui kalau bisa selamanya. Karena hanya akan membuka kembali luka masa lalunya yang sudah hampir dia lupakan.


"Eh.. kok malah ngelamun sih?" Vin-vin mencubit pelan lengan Ivan yang Atos berotot walaupun tampak kurus.


Ivan tersentak dan langsung bangun dari duduknya untuk menjauhi Vin-vin. Dia seperti terkena sengatan listrik saat jemari lentik Vin-vin menyentuh kulitnya yang telanjang dan setengah basah.


"Kenapa sih Pak? kok langsung menjauh?" Vin-vin menatap Ivan penuh tanda tanya.


"Eh? emm.. tiba-tiba aku merasa dingin. Aku mau ganti baju dulu," Ivan langsung berbalik dan buru-buru menuju lemari pakaiannya.


"Sial! dasar bocah!" gerutu Ivan kesal.


Berpacaran dengan murid sendiri, apalagi Vin-vin masih sangat muda dan polos membuat Ivan sangat berhati-hati. Sekuat tenaga dia selalu membatasi dirinya sendiri saat berdekatan dengan Vin-vin, Ivan takut hilang kendali.


"Pak..."


Ivan melonjak kaget, padahal dia sedang mengangkat sebelah kakinya karena sedang memakai celana panjang.


Karena kaget dengan panggilan Vin-vin, di tambah ternyata si bocah ini sudah berdiri di sebelahnya, membuat Ivan limbung dan hampir terjatuh. Untunglah Vin-vin langsung memegang bahunya.


Lagi-lagi sentuhan jemari lembut Vin-vin di bahu Ivan, membuat Ivan merinding.


"Pak Ivan kedinginan? kok kulitnya merinding?" entah bego atau polos, Vin-vin malah mengusap kulit punggung Ivan yang telanjang dengan tangannya, membuat Ivan makin susah payah menahan keinginannya untuk memeluk Vin-vin.


"Dasar bocah! awas jangan dekat-dekat!" kesal Ivan sambil mendorong tangan Vin-vin. Buru-buru dia menyelesaikan menggunakan celana jeans nya.


Lalu mengambil kaos dari dalam lemari dan memakainya.


Vin-vin tampak penasaran melihat kekasihnya berdandan lengkap bahkan sekarang dia sedang menyemprotkan parfum ke tubuhnya.

__ADS_1


"Mau ke mana sih?! kok pakai parfum segala?!"


"Aku mau jalan sama Dion."


"Ke mana?!"


"Ya... paling nongkrong di kafe, sambil ngobrol-ngobrol..."


"Nggak boleh!" Vin-vin mencengkram tangan Ivan.


"Pak Ivan nggak boleh ke mana-mana tanpa aku! nanti kalau ada cewek yang deket-deket gimana!"


"Jangan konyol! aku cuma mau nongkrong sama Dion bukan mau cari cewek lagi!" Ivan menepis tangan Vin-vin.


Vin-vin cemberut, dia kesal melihat kekasihnya akan pergi tanpa dirinya. Vin-vin ingin kemanapun Ivan pergi dia pun ikut.


"Aku nggak jadi makan malam sama Papah!" Vin-vin cemberut sambil bersidekap.


"Terus?"


"Aku mau ikut Pak Ivan aja!"


Ivan mendengus kesal lalu menatap wajah cantik Vin-vin yang sedang cemberut.


"Vin, aku aja percaya sama kamu, masa kamu nggak percaya sama aku?"


"Tapi kan memang yang punya perasaan suka itu cuma aku, makanya aku..."


"Siapa bilang?"


Vin-vin menatap Ivan.


"Aku juga suka dan sayang banget sama kamu..." ucap Ivan lirih sambil mengecup bibir mungil Vin-vin.


Vin-vin tersenyum bahagia, "kok cuma di kecup?" rengek Vin-vin manja.


"Nanti make up kamu luntur!" ucap Ivan kesal sambil berbalik untuk menjauhi Vin-vin. Berbahaya sekali kalau mereka terlalu dekat seperti ini, Ivan bisa hilang kendali nanti.


"Nggak apa-apa, nanti aku ke salon lagi..." Vin-vin menarik tangan Ivan, lalu melingkarkan tangannya di leher kekasihnya itu.

__ADS_1


Ivan terdiam sambil menatap Vin-vin yang juga sedang menatap dirinya sambil tersenyum-senyum.


"Kamu yang minta, jangan menyesal!" Ivan melingkarkan tangannya di pinggang Vin-vin lalu menariknya hingga tubuh mereka saling menempel. Kemudian dengan lembut Ivan mulai mengecup bibir mungil Vin-vin dan terus mengu**mnya.


__ADS_2