
"Mut... pliss... bilang sama Axel kita mau kerja kelompok! pliss!!" Vin-vin mengusap-usap kedua tangannya untuk memohon pada sahabat baiknya itu.
"Ck! ada apaan lagi sih Vin? kamu mau ngapain?" Mutiara terlihat jengah dengan permintaan Vin-vin. Dia tak suka jika harus membohongi lelaki pujaannya itu.
"Aku mau ke apartemen Pak Ivan, mau lihat kondisinya.. plis Mut.. kali ini aja."
"Tadi kamu sudah telpon Pak Ivan nya?"
"Sudah, tapi nggak di angkat. Aku khawatir banget. Ya Mut, tolongin aku..."
Mutiara menarik napas lalu menghembuskannya dengan keras. "Iya lah!"
"Eeemmuut.... makasih banget ya..." Vin-vin langsung memeluk sahabatnya yang terlihat cemberut.
Vin-vin mengambil ponselnya lalu mengirim chat pada Axel bahwa dia akan pulang sekolah dengan Mutiara, karena tadi sewaktu istirahat ke dua, Axel berjanji akan mengantarnya pulang.
Dia tak mau membuat Axel marah karena lagi-lagi harus mengingkari janji.
Semua ini gara-gara Pak Ivan yang tidak menceritakan kalau dirinya sedang sakit, dan sulit untuk di hubungi.
'Axel.. maaf, nanti aku pulang sama Emmutt aja, ternyata ada tugas kelompok. Aku mau ke rumahnya.' Tulis Vin-vin.
'Hmmm, ya... 😔' jawab Axel singkat.
"Gimana reaksi Axel?" tanya Mutia sambil melirik ponsel Vin-vin, ingin mengintip.
"Dia bilang 'iya', berarti sudah fix ya," Vin-vin tersenyum senang.
"Di mana sih apartemen Pak Ivan?" tanya Mutia.
"Kamu nggak perlu anterin aku ke tempat Pak Ivan, anterin ke mini market yang di lewati kamu aja. Turunin aku di situ nanti aku belanja dulu baru naik taksi ke tempat Pak Ivan."
"Huft!!" Mutiara mendengus keras.
"Jangan marah-marah dong Emmuut sayang, nanti aku traktir deh.. kamu mau apa? es boba? thaitea?"
"Boba aja..." gumam Mutia. "Yang jumbo!"
"Siap bos..." ucap Vin-vin sambil nyengir.
Vin-vin menatap ponselnya dengan perasaan khawatir. Tadi dia berusaha menelpon Pak Ivan, tapi tak di angkat. Chatting nya juga hanya centang satu. Ada apa gerangan? apakah sakitnya parah? dia sakit apa sampai harus minum obat pereda sakit dan ponselnya di matikan?
Karena terus memikirkan guru pujaannya itu, Vin-vin tak bisa konsentrasi belajar. Untunglah tinggal 2 jam lagi sampai bel pulang sekolah berbunyi. Vin-vin akan mencoba bersabar sambil berusaha mengikuti pelajaran dengan baik.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Vin-vin dengan cepat menarik tangan Mutiara untuk bergegas keluar dari kelas dan pulang. Mutiara sampai terseret-seret oleh tarikan Vin-vin.
"Sabar kali Vin..." gerutunya.
"Aku sudah nggak bisa sabar lagi Mut! ayo buruan!!!"
Vin-vin langsung duduk di jok belakang motor Mutia walaupun Mutia belum menyalakan motornya sama sekali.
"Ni anak!!!" Mutiara tampak kesal dan gemas dengan tingkah Vin-vin. Ya dia tahu Vin-vin sedang jatuh cinta, tapi dia tak menyangka Vin-vin bisa sangat serius seperti ini.
"Ulang tahunku yang ke tujuh belas nanti, aku mau minta Papi belikan motor! biar aku nggak repot," gumam Vin-vin.
"Iya, biar aku juga nggak repot harus bohong terus sama Axel!" gerutu Mutia.
Vin-vin mencibir.
__ADS_1
.
"Kamu serius mau turun di sini?" Mutiara tampak khawatir pada temannya yang satu ini karena minta di turunkan di sebuah minimarket.
"Iya, nggak apa-apa."
"Nggak deh! aku nggak tega! aku anterin aja ke tempat Pak Ivan!"
"Tapi aku mau belanja dulu."
"Aku tungguin! udah sana buruan! dari pada ada apa-apa, aku juga yang kena omel sama semua orang."
"Ya sudah kalau kamu memaksa, aku cuma sebentar. Lima menit!" Setelah bicara, Vin-vin langsung berlari masuk ke dalam minimarket dan tak lama dia sudah muncul kembali.
"Ayo," ucapnya sambil naik ke motor Mutia.
Setelah menunjukkan arah apartemen Pak Ivan, Mutia langsung melajukan motor nya dan menurunkan Vin-vin tepat di depan pintu utama lobi apartemen.
"Bener ini tempatnya?" tanya Mutiara.
"Iya," Vin-vin turun dari motor Mutia.
"Makasih ya Mut... i love u muaahh..."
"Ihh.. gelai ah!" Mutiara menjauh, "terus nanti pulangnya gimana? di anter Pak Ivan?"
"Kalau dia beneran sakit, aku bisa pulang naik taksi. Udah tenang aja Mut.. aku kan sudah besar, bukan anak kecil..."
"Cih..." Mutia berdecih lalu melajukan motornya meninggalkan Vin-vin.
Setelah melihat kepergian sahabatnya, Vin-vin langsung berbalik dan masuk ke dalam apartemen gurunya, dia masuk ke dalam lift dan naik ke lantai di mana ruangan Pak Ivan berada. Namun saat sampai di sana, dan mengetuk pintu berulang kali, pintu apartemen Pak Ivan tak kunjung terbuka.
Akhirnya karena bingung, Vin-vin terduduk di depan pintu apartemen gurunya itu. Yang bisa dia lakukan hanya menunggu.
Menunggu sampai Pak Ivan muncul.
...***...
"Vin! Vin-vin..."
Vin-vin mengucek matanya, dia sempat terlelap saat menunggu Pak Ivan yang tak kunjung datang.
"Pak ... Pak Ivan dari mana?" Vin-vin langsung bangun dari duduknya dan menatap tajam ke arah Pak Ivan.
"Saya.. baru dari klinik," ucap Ivan sambil membuka pintu ruang apartemennya dan masuk.
Vin-vin pun mengikutinya dari belakang.
"Kok di telpon nggak bisa?"
"HP saya low batt.. belum bisa di charge dari tadi masih di jalan," Ivan mengeluarkan ponselnya lalu menancapkan charger dan mulai mengisi daya ponselnya.
"Kenapa kamu ke sini? bukannya kamu pulang sama Axel?" Ivan duduk di sofa sambil memijat kakinya yang masih merasa sedikit nyari.
"Aku khawatir!! Pak Ivan d telpon nggak bisa! di chat nggak di baca!" Vin-vin langsung menjatuhkan pantat nya di sofa tepat d sebelah Ivan.
"Di tambah aku denger dari Bu Yosephine kalau Pak Ivan sakit!"
"Saya nggak apa-apa."
__ADS_1
"Nggak apa-apa gimana!? kenapa Pak Ivan bisa jujur sama Bu Yosephine tapi nggak mau jujur sama aku!" Vin-vin kesal, dia sampai memukul lengan Ivan.
Ivan menangkap tangan Vin-vin dan menatap wajah mungil yang ada di sampingnya itu. Wajah Vin-vin memerah, air matanya bahkan tampak menggenang dan hampir jatuh.
"Kenapa kok nangis?"
"Siapa yang nangis? aku kecewa! kecewa sama Pak Ivan karena nggak jujur sama aku!" Vin-vin mencoba menarik tangannya yang di cengkram Ivan.
Namun Pak Ivan malah menariknya dengan kuat membuat Vin-vin tertarik dan tubuh mereka saling bertubrukan, dan tiba-tiba saja Ivan melingkarkan tangannya di pundak Vin-vin.
"Maaf... aku bukannya nggak mau jujur, aku cuma malu..." bisik Pak Ivan di telinga Vin-vin.
"Malu kenapa?" tanya Vin-vin, suaranya begitu lirih. Entah kenapa dia tak bisa bicara dengan lantang, mungkin karena jantungnya berdebar begitu kencang akibat pelukan Pak Ivan yang sangat tiba-tiba ini.
"Malu... karena kaki ku nyeri hanya karena bertanding basket dengan Axel, penyakit lamaku kambuh, aku merasa lebih lemah dari Axel dan aku nggak suka..." gumam Pak Ivan sambil menenggelamkan wajahnya di pundak Vin-vin.
"Bagiku... Pak Ivan tetap yang terbaik! aku nggak peduli yang lainnya!"
"Aku takut, kamu menyesal nantinya..."
"Nggak!" Vin-vin melepaskan pelukan Ivan dan menatap wajah tampannya. "Aku nggak akan menyesal!"
Ivan tersenyum sambil memandangi wajah cantik Vin-vin, Vin-vin pun tersenyum sambil memandangi bibir ****i guru pujaannya.
Vin-vin menelan ludah karena keinginannya begitu besar untuk merasakan bibir itu, dia ingin merasakan 'first kiss' nya sekarang juga dan sepertinya ini saat yang tepat.
Vin-vin memejamkan matanya dan mulai memanyunkan bibirnya, meminta di cium.
Berharap Pak Ivan akan memberinya pengalaman pertama yang indah dan berkesan.
"Adduuhh!!!" tiba-tiba bibir manyun Vin-vin di cubit oleh Pak Ivan.
"Ngapain bibir kamu manyun-manyunin gitu!" ucap Pak Ivan sambil tergelak.
"Pak Ivan iihh... nggak romantis!" wajah Vin-vin langsung memerah karena malu.
Ivan tersenyum lagi sambil membelai rambut lembut Vin-vin, "aku nggak mau mencium anak di bawah umur," ucapnya.
"Berarti nanti pas aku ulang tahun aku boleh minta hadiahku ya? Pak Ivan harus kasih loh!"
"Apa memangnya?"
"First kiss," Vin-vin memanyunkan bibirnya lagi.
"Nggak!" Ivan langsung bangun dari duduknya berusaha menjauhi Vin-vin.
"To-tolong buatkan aku makanan... aku lapar," ucapnya sambil berjalan menuju lemari pakaian dan mencari kaos oblongnya, tiba-tiba dia merasa panas dan gerah.
"Hmmm.... dasar..." Vin-vin mengulum senyum saat melihat wajah guru pujaannya memerah.
"Mau makan apa sayang?" tanya Vin-vin manja.
"Terserah! dan jangan panggil 'sayang'!" ketus Pak Ivan.
"Baiklah, kalau gitu 'honey'?"
"Nggak!!!"
Vin-vin menutup mulutnya berusaha menahan tawa, Pak Ivan sangat lucu saat salah tingkah.
__ADS_1