
"Kamu nggak apa-apa di kafe sendiri, Papah mu nggak ada loh." Dari dalam mobil, Papi Al mengingatkan Vin-vin.
Vin-vin tersenyum, "Nggak apa-apa Pi, tadi Papa bilang jam sembilan sudah ke kafe. Nanti aku bisa pulang sama Papa."
Aldrich menganggukkan kepalanya tanda mngerti.
"Kalau begitu Papi pulang dulu, kalau ada apa-apa, telpon Papi ya!"
"Memangnya bakal ada apa Papi...??" Vin-vin mulai gemas dengan Papi nya yang selalu over protective kepadanya.
Aldrich mengangkat kedua bahunya, "Siapa tahu ada insiden seperti waktu itu, bukankah orang yang di tangkap waktu itu oleh Bobby adalah orang yang sama yang bikin keributan di toilet kan?"
Vin-vin menganggukkan kepalanya. Dia teringat kejadian beberapa waktu lalu saat Daniel masih bebas berkeliaran, namun sekarang bukankah dia ada di penjara? insiden macam itu pasti tak akan terulang lagi dan tak akan pernah ada lagi.
"Ingat!" Aldrich mengacungkan jari telunjukknya, "kalau orang itu muncul lagi, kamu harus segera telpon Papi! atau minta tolong sama karyawan-karyawan Papa kamu! jangan mencoba melawan apapun seorang diri!" Papi Al mulai mewanti-wanti.
"Iya Papi... lagian si Kuda nil itu kan ada d penjara, jadi Papi nggak perlu kawatir berlebihan."
Aldrich hendak berbicara lagi namun segera dia urungkan, anak perempuannya ini memang terlalu polos dan tidak memahami jika dunia ini begitu kejam pada orang-orang yang lemah.
"Ya sudah, Papi pergi dulu," setelah berpamitan, Aldrich langsung melajukan mobilnya dan meninggalkan Vin-vin seorang diri di pelataran kafe milik chef Kevin.
Vin-vin tersenyum senang melihat kepergian Papinya yang sangat cerewet. lalu dengan riang dia berbalik dan berjalan masuk ke dalam kafe yang saat itu lumayan ramai.
"Vin-vin!"
Vin-vin menoleh ke asal suara yang memanggilnya, dia menghentikan langkahnya dan tersenyum pada salah satu karyawan Papa nya.
"Thank you my Lord, you datang..." ucap waitres yang bernama Selly. Logat bicaranya memang suka di campur-campur ikut-ikutan seperti seleb yang baru-baru ini terkenal karena gaya bicaranya yang lucu.
"Ada apa memangnya?"
"Cfef Kevin nggak ada, dan kafe nya ramai. Kami butuh bantuan. Asisten Chef kewalahan di kitchen, You harus bantu dia."
"Oke," Vin-vin menganggukkan kepalanya lalu berjalan cepat menuju dapur untuk menemui Kyky, asisten chef Papanya.
__ADS_1
Saat masuk ke dapur, Vin-vin langsung mengambil apron warna putih yang terlipat rapi di sebuah loker dan memakainya dengan cepat, "Ada yang bisa di bantu?"
"Vin-vin! Alhamdulillah... untung Lo datang, gue hampir saja mau telpon Chef Kevin," Kyky nampak hampir menangis saat melihat kedatangan Vin-vin.
Vin-vin tersenyum, "Baru kayak gini aja sudah kewalahan," sambungnya sambil menggelengkan kepala.
"Bagaimana nggak kewalahan, dari jam 4 sore tamu terus menerus datang, sambung menyambung menjadi satu itulah Indonesia... lah gue malah nyanyi," Kyky menepuk jidatnya sendiri.
Vin-vin malah terkekeh mendengar celotehan Kyky.
"Heh, Lo pikir gue komika yang lagi ngelawak? gue lagi stres Vin! stres!" Kyky mengangkat kedua tangannya hampir menjambak rambutnya sendiri.
"Eh, tanganmu nggak steril nanti kalau kena rambut!" Ingat Vin-vin, lalu dia mulai mengecek kertas pesanan yang ada di daftar tunggu dan belum di buat oleh Kyky.
"Banyak juga nih," gumam Vin-vin.
"Ember...!!! Lo kira dari tadi gue ngomong ampe berbusa itu lagi ngelawak," ucap Kyky setengah berteriak, dia kesal dengan anak bos nya yang malah terus tersenyum di atas penderitaannya.
"Kalau di teriakin, ini masakan nggak akan mateng Ky. Buruan mulai," perintah Vin-vin.
Vin-vin memang masi terbilang sangat muda, usianya baru tujuh belas tahun, tapi soal kemampuan memasak dia tak bisa di sepelekan. Kemampuannya sehebat Papah nya sang Chef artis. Makanya Kyky merasa sangat tertolong walaupun Chef Kevin tidak ada di tempat namun ada Vin-vin yang menggantikan beliau.
Dengan cekatan Vin-vin mulai memasak menu-menu yang ada di daftar tunggu dengan bantuan Kyky. Vin-vin begitu lihai, bakat memasak Papahnya benar-benar mengalir dalam dirinya.
Tak menunggu waktu lama, Kyky membunyikan lonceng tanda masakannya sudah matang. Mendengar lonceng berbunyi, Selly dengan segera mendekat dan mengambil makanan yang siap di antarkan.
"Wah keren, langsung matang semua," takjubnya.
"Belum semua, baru separuh," jawab Vin-vin tanpa memandang Selly. Dia fokus dengan wajan penggorengan yang aa di depannya.
"You emang keren! penerus chef Kevin bukan kaleng-kaleng."
"Sudah-sudah jangan ganggu konsentrasi Vin-vin, sana antar makanannya cepat!" Kyky mengibaskan tangannya untuk mengusir Selly agar segera pergi dan nggak mengajak Vin-vin ngobrol.
"Huh! bilang aja you mau istirahat! segala pakai alasan nggak mau Vin-vin di ganggu."
__ADS_1
"Ember! gue emang pengen istirahat bentar. Belum makan gua dari siang! tau nggak Lo!"
"Masa?? Bodo!" Lalu dengan cepat Selly pergi meninggalkan Kyky sambil terkekeh.
Akhirnya, waktu menunjukkan pukul delapan lewat tigapuluh menit, kafe pun perlahan-lahan mulai berkurang pengunjungnya hingga Vin-vin bisa melepaskan pekerjaannya di dapur dan menyerahkannya sepenuhnya pada Kyky.
"Kamu sudah makan, Ky?" tanya Vin-vin sambil menenggak segelas air mineral.
"Sudah Vin, berkat Lo."
"Bagus deh, aku mau duduk-duduk di depan sambil nunggu Papah datang," ucap Vin-vin sambil mengambil ponselnya. Dia ingin memeriksa apakah ada pesan masuk dari Pak Ivan.
Saat melihat sebuah pesan, senyum Vin-vin langsung mengembang.
"Gila! I kesel gila sama cewek satu itu!" Tiba-tiba Selly mendekat sambil menggerutu.
"You tau nggak Vin, ada cewek gila di depan. Cerewet nya bukan main, bicaranya juga kasar. Muka nya emang cantik tapi nggak ada attitude sama sekali!"
"Sabar sist, namanya juga manusia, sifatnya kan macam-macam," Vin-vin masih sibuk dengan ponselnya, dia ingin membalas pesan yang di kirimkan oleh pacar tampannya.
"You nggak tahu sih, I males kalau sampai ketemu lagi sama dia."
"Memang dia ngapain?" tanya Vin-vin, tapi matanya masih asyik menatap layar ponselnya dan membaca chat dari Pak Ivan.
"Dia komplain karena steik nya kurang asin! kan tinggal di tambah garam aja beres kan? di meja juga kita sediakan botol kecil berisi garam, memang kita kan sengaja masaknya nggak terlalu asin karena ingin mengurangi garam, dia nggak tahu kali mengkonsumsi terlalu banyak garam itu nggak baik untuk kesehatan!" ucap Selly panjang lebar.
"Biarin aja lah, kalau kita masukin hati, bisa gila sendiri," akhirnya Vin-vin selesai membalas pesan dari Ivan. Dia pun memasukkan ponselnya ke dalam saku celananya.
"Itu kan masakan You, masakan yang sudah terakreditasi A oleh Chef Kevin. Kok bisa ada oran bilang nggak enak.."
"Oh, jadi steik nggak enak tadi itu masakan Lo!"
Teriakan wanita yang sangat lantang itu membuat Vin-vin mengangkat kepalanya yang dari tadi meunduk karena asyik dengan ponselnya.
Walaupun tidak terlalu sering mendengar suara barusan, namun Vin-vin tahu benar suara siapa itu.
__ADS_1
"Rissa..."