Oh My Teacher

Oh My Teacher
Pertandingan penentu.


__ADS_3

"Pagi Pak Ivan."


Ivan tersenyum mendapatkan sapaan selamat pagi dari Pak Anis. Dia baru saja tiba di sekolah dan langsung menuju ruang guru.


Setelah mengantar Vin-vin semalam, dia tak bisa tidur hingga dini hari.


Ivan pun merasa heran, kenapa setelah mengenal bocah bau kencur itu dia sering mengalami insomnia. Sepertinya ada yang salah.


Mungkin hubungan mereka yang salah, guru dan murid memang lebih baik tak ada hubungan spesial macam ini.


Hati kecil Ivan pun sebenarnya sedikit menolak hubungan nya dengan salah satu murid yang baru di kenal nya. Namun pesona Vin-vin sungguh membuatnya hilang kendali. Semalam contoh paling nyata, hampir saja Ivan mengecup bibir mungil itu. Bibir itu begitu menggemaskan dan menggoda.


Ivan menyangga kepalanya dengan tangan sambil merutuki isi kepalanya yang kotor.


Ini anak masih di bawah umur loh! 17 tahun pun belum. Bagaimana mungkin Ivan bisa punya pikiran sampai sejauh ini.


"Aku harus mencari kesibukan setelah pulang kerja, kalau tidak bisa-bisa aku nggak bisa lepas dari bocah itu. Ya! aku harus punya alasan untuk menolaknya..." gumam Ivan pada dirinya sendiri.


"Pagi Bu Yosephine..."


Sapaan Pak Anis mengejutkan Ivan, dia secara spontan mengangkat kepalanya yang dari tadi tertunduk. Tanpa sengaja tatapannya beradu dengan Bu Yosephine.


Ivan tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Bu Yosephine pun melakukan hal yang sama, lalu dia buru-buru duduk di kursi nya dan mulai menyibukkan diri dengan beberapa kertas dan buku.


Ivan sedikit heran dengan perubahan sikap dari Bu Yosephine, biasanya dia begitu antusias dan agresif saat melihat dirinya, namun kali ini tidak.


Ada apa gerangan? mungkin ini ada hubungannya dengan kejadian semalam.


Ivan berusaha menyembunyikan senyumnya lalu berpura-pura sibuk dengan pekerjaannya.


'Ada gunanya juga ide konyol Vin-vin, paling tidak aku jadi nyaman berada di ruang guru ini,' batin nya.


*


Jam pelajaran pertama untuk kelas XI IPA 2 adalah Basket.


Semua murid baik putra dan putri berkumpul di lapangan basket.


Ivan yang sudah standby di lapangan basket sedikit terkejut saat melihat Axel muncul.


Axel tampak sangat menonjol di antara teman-teman sekelasnya, bukan hanya teman satu kelas mungkin di seluruh sekolah ini.

__ADS_1


Wajah bule dan tinggi badannya yang sangat menjulang membuatnya terlihat sangat mencolok.


Semua murid putri bahkan tak malu untuk menunjukkan kekagumannya, mereka tersenyum bahkan menatap Axel sangat lama.


Mungkin Axel sudah terbiasa mendapatkan perhatian lebih seperti ini, hingga dia tampak tetap cool dan calm.


Mungkin ada yang salah di kepala Vin-vin! untuk anak seumuran dia, bukankah Axel adalah lelaki impian? tapi kenapa dia malah lebih menyukai guru nya yang lebih tua ini?


"Saya mau, 10 murid putra, bertanding basket. Saya ingin tahu sejauh mana kemampuan kalian dalam permainan ini," ucap Pak Ivan sambil mendrible bola basket dan berjalan ke tengah lapangan.


Ada 10 murid putra bangun dari duduk mereka, termasuk Axel.


Tinggi badan Axel sangat cocok untuk menjadi pemain basket. Ivan ingin melihat kemampuannya. Jika Axel mampu, dia ingin mengajak nya berlatih siapa tahu dia mau konsisten di olah raga ini dan menjadi atlet basket. Impian yang dulu pernah hampir dia raih sebelum cidera parah.


Sesuai dugaan, Axel sangat hebat. Beberapa kali dia melakukan shooting dan tepat sasaran! masuk ke dalam keranjang dan tak pernah meleset.


Axel bahkan bisa melakukan dunk (memasukan bola ke dalam keranjang dari jarak yang sangat dekat hingga menyentuh ring) dengan sangat keren. Semua murid putri bahkan bertepuk tangan dan bersorak penuh kekaguman.


Bukan hanya murid putri, murid putra pun ikut bersorak riuh. Axel memang sangat keren dan luar biasa, Ivan pun kagum padanya.


Dengan semua kelebihan ini, bagaimana mungkin Vin-vin tidak menyukainya.


Ivan memijat keningnya sendiri, 'kenapa gue selalu menghubung-hubungkan Axel dan Vin-vin! kok gue jadi insecure gini!' batin Ivan.


"Pak Ivan awas!"


Sontak seluruh murid putri bertepuk tangan dan bersorak sorai.


Ivan memandangi anak muridnya yang sedang bertanding di tengah lapangan basket, satu persatu.


"Siapa yang tangannya kepleset dan melempar bola ke arah Saya?" tanyanya.


"Maaf Pak, Saya nggak sengaja," ucap Axel sambil maju mendekati Ivan.


Tinggi badan mereka bahkan hampir sama saat berdiri berhadapan begini, padahal Axel baru 17 tahun dan masih bisa bertambah tinggi lagi. Berarti Ivan kalah tinggi dong dengannya.


Secara umur Ivan sudah 25 tahun, dan sudah tak bisa bertambah tinggi lagi. Padahal tinggi badan Ivan saja sudah 180 cm, bagaimana dengan Axel nanti saat seumur dia.


Axel berdiri tepat di depan guru olahraganya, mata mereka beradu.


"Saya ingin bertanding 3 on 3 dengan Pak Ivan, apa Pak Ivan mau?" tanya Axel lirih, lebih seperti desisan.


Ivan balik menatap mata Axel, "boleh saja."

__ADS_1


"Yang menang... bisa mendapatkan Vin-vin."


Pak Ivan tampak terkejut, "Vin-vin bukan barang yang bisa dengan gampangnya kamu atur-atur harus bersama siapa!" balas Pak Ivan, tatapannya makin tajam ke arah Axel.


Tentu saja dia tak terima jika Vin-vin di bawa-bawa.


"Kenapa? Pak Ivan takut kalah?" tanya Axel sambil menaikkan sebelah alisnya dan tersenyum miring.


Ivan terdiam.


"Huh! ternyata Pak Ivan tidak sehebat itu! Vin-vin memang terlalu polos, menyukai orang yang bahkan nggak mau memperjuangkan dirinya."


"Hey!" Pak Ivan melempar bola yang dari tadi di pegangnya ke arah Axel.


Walaupun sedikit terlambat, namun Axel berhasil menangkap bola yang di lemparkan oleh gurunya itu.


"Siapa takut! ayo mulai!" jawab Pak Ivan.


...----------------...


Vin-vin menatap kosong ke arah buku tulisnya yang berada di atas meja. Sesekali dia mencoret-coret buku itu bahkan menggambar sosok yang sangat dia rindukan, ya siapa lagi kalau bukan Pak Ivan guru tersayangnya.


Vin-vin beberapa kali tampak tersenyum sendiri membayangkan kejadian semalam.


Padahal sedikit lagi dia bisa merasakan yang first kiss. Gara-gara alarm itu, semuanya gagal.


"Aku bakal minta di ulang tahun ke tujuh belas ku!" gumamnya sambil tersenyum-senyum, bahagia.


"Ohh.. Pak Ivan..."


"Vin!"


Teriakan Mutiara langsung membuyarkan lamunan Vin-vin.


"Apaan si Mut! ganggu aja orang lagi heppy!" Vin-vin cemberut, saat sahabatnya itu berlari mendekatinya dan duduk di sampingnya.


"Itu Vin, di lapangan basket..." ucapan Mutiara terpotong-potong akibat dari deru napasnya yang ngos-ngosan.


"Ada apa di lapangan basket?"


"Ada Axel lagi main basket,"


"Ck! kayak yang nggak pernah liat Axel main basket aja sih! heboh banget." Vin-vin merebahkan kepalanya di atas meja.

__ADS_1


"Tapi dia lagi tanding melawan Pak Ivan..."


"Apa?!"


__ADS_2