
"Pak Daniel! Anda sedang apa?!"
"Pak Ivan..." Vin-vin mendesah lega melihat Ivan mendekat. Dengan cepat dia mengibaskan tangan Daniel dan berlari ke arah Ivan.
"Oh, Pak Ivan... begini, Saya lihat nilai bahasa Inggris Vincia menurun, jadi Saya menawari dia untuk ikut les dengan Saya," jawab Daniel dengan santai sambil bangun dari duduknya dan mendekati Ivan.
"Tapi aku sudah ikut les kok di luar sekolah, di daftarin sama Papi," ucap Vin-vin sambil bersembunyi di belakang tubuh Ivan.
Ivan memicingkan matanya sambil menatap curiga pada rekan kerja barunya.
"Saya pikir Anda bekerja terlalu giat Pak Daniel, Anda baru satu hari bekerja, eh bukan..." Ivan menatap jam tangannya, "Anda baru bekerja tiga jam yang lalu, bagaimana anda bisa begitu perhatian dengan nilai Vincia di antara ratusan siswa yang lain?"
"Oh... itu karena..." Daniel menatap Vin-vin yang masih bersembunyi di belakang tubuh Ivan.
Dia tersenyum smirk dan Ivan tak suka.
'Teeeeet....'
"Ah, sudah bel masuk ternyata. Tak terasa ya waktu istirahat sudah habis. Vincia kembalilah ke kelas dan kalau kamu berubah pikiran, hubungi Saya atau langsung ke ruang guru Saya akan selalu siap kapanpun kamu butuhkan."
Vin-vin hanya diam sambil terus menatap Daniel dari balik tubuh Ivan.
"Baiklah, kalau begitu Saya permisi dulu Pak Ivan," Daniel menepuk pundak Ivan lalu berjalan menjauh.
Ivan hanya mengantar kepergian Daniel dengan lirikan sinis, lalu dia menepuk-nepuk pundaknya yang tadi di sentuh Daniel, berusaha menghilangkan jejak yang tidak di sukainya
"Vin!"
"Iya Pak?"
"Kamu harus hati-hati sama si kuda nil itu! jangan berani bertemu dia tanpa di temani. Kamu nggak boleh sendirian!" titah Ivan.
"Kenapa?"
"Kenapa?!" Ivan berbalik lalu menatap Vin-vin, "apa kamu nggak takut dia berbuat yang aneh-aneh padamu! lihat saja tadi, kalau aku nggak datang mungkin dia sudah memegang tanganmu!"
Vin-vin tersenyum di kulum.
"Pak Ivan cemburu ya??"
__ADS_1
"Ini bukan masalah cemburu atau tidak cemburu Vin-vin!!" ucap Ivan kesal.
"Pokoknya turuti kata-kata ku!"
"Vin, ayo balik kelas. Sudah bel masuk," panggil Mutia.
"Oh iya, oke." Vin-vin menatap Ivan yang masih tampak khawatir.
"Tenang aja Pak, aku bisa jaga diri kok."
Lalu Vin-vin berlari mendekati Mutiara dan mereka berdua pun buru-buru menuju kelas, takut guru mata pelajaran selanjutnya sudah hadir di kelas.
"Bisa jaga diri bagaimana! dasar bocah! selalu saja bikin khawatir!" gumam Ivan.
"Gue harus pantau si kuda nil itu, jangan sampai lolos dari pandangan!" Ivan kembali berjalan menuju aula sekolah tempat tujuannya tadi yang sempat tertunda karena bertemu Daniel dan Vin-vin.
***
"Pak Daniel, bagaimana kesan-kesan nya bekerja di sini?" Bu Yosephine berjalan mendekati meja kerja Daniel sambil tersenyum riang.
"Ya lumayan menyenangkan kok, murid-murid di sini baik-baik dan menurut dengan guru ya. Saya sangat beruntung."
"Ah.. Pak Daniel bisa aja, syukurlah kalau ngga ada murid yang bikin masalah. Pulang sekolah mau ke mana Pak? kita makan siang dulu yuk pulang sekolah nanti," ajak Bu Yosephine.
Merasa mendapatkan balasan dari Daniel, Bu Yosephine makin girang, dia melirik sekilas ke arah Ivan yang kebetulan memang sedang memperhatikan Daniel, dan Bu Yosephine pikir Pak Ivan sedang memperhatikan dirinya.
"Terserah Pak Daniel saja, kira-kira kita makan apa ya enaknya?" tanya Bu Yosephine tapi matanya terus memandang Ivan.
Ivan menarik napas lalu menggeleng pelan dan kembali sibuk berkutat dengan buku laporannya.
"Kita ke kafe deket-deket sini aja."
"Ok, nanti kita berangkat bareng ke kafe yang ada di ujung jalan itu."
"Siap," jawab Daniel sambil tersenyum membuat Bu Yosephine makin melonjak girang.
"Sepertinya Pak daniel juga menyukaiku, biarlah aku nggak jadi deketin Pak Ivan, toh Pak Daniel juga ganteng. Bye Pak Ivan... salahmu sendiri selalu jual mahal denganku! sekarang aku akan mendekati Pak Daniel aja dan melupakanmu!" batin Bu Yosephine sambil mengulum senyum penuh kebahagiaan.
***
__ADS_1
"Daniel! what's up bro!" seorang lelaki bertato di sepanjang lengan kirinya mendekati Daniel yang sedang duduk sendirian di meja bar. Mereka bersalaman dengan cara menempelkan tangan mereka yang mengepal.
"Sendirian aja Lo?!"
"Iya nih, gue boring banget! ada kejadian yang bikin gue jijik hari ini jadi gue harus minum ini biar bisa lupa." Daniel menunjukkan sekaleng bir bint*ng yang dari tadi di pegangnya.
"Kejadian apa yang bikin jijik?!" si lelaki bertato penasaran. "Lo nginjek t*i anjing?" lalu dia tertawa gelak-gelak.
"Injak t*i anjing lebih bagusan! gue tadi makan siang sama guru cewek! buset agresif banget! gue jadi geli!"
"Loh, hajar lah... bukannya Lo seneng sama cewek agresif."
"Gila! gue lihat-lihat lah.. dia lebih tua dari gue! perawan tua! kalau gue bukan orang baru, gue tolak ajakannya! sial banget gue di deketin guru tua itu!" Daniel menenggak bir nya hingga tandas.
Daniel teringat akan Vin-vin dan tersenyum.
"Vincia...." gumamnya. "Cantik banget..." ucapnya lagi sambil kembali teringat akan murid nya yang sangat imut dan menggemaskan itu.
Daniel langsung jatuh hati pada salah satu muridnya itu saat baru masuk ke dalam kelas XI IPS 4. Di antara semua muridnya hanya Vincia ini yang terlihat paling mencolok, paling cantik, paling sempurna.
Apalagi Daniel juga dengar kalau Vincia itu anak orang terkenal dan kaya.
"Vincia... Lo pasti jatuh ke pelukan gue!" gumamnya lagi sambil meremas kaleng bir nya yang sudah kosong hingga peyot.
Tiba-tiba Daniel teringat akan Ivan, dan dia langsung kesal. Apalagi tatapan Ivan padanya tadi adalah tatapan menantang, dia tampak marah karena Daniel memegang tangan Vincia.
"Huh! dia pasti juga mengincar Vincia! nggak bisa Van! Vincia bakal jadi milik gue! bagaimanapun caranya!"
"Kenapa Lo bro! dari tadi gumam-gumam sendiri!"
"Bete gue! ada cewek nggak sih!" Daniel celingukan mencari-cari sesuatu atau seseorang yang bisa di ajaknya kencan satu malam, untuk malam ini. Banyak cewek dengan baju minim nan seksi sedang berjoget-joget di dalam kerumunan di lantai dansa pub yang sangat ramai malam ini.
Daniel menemukan seorang cewek cantik berkulit eksotik dan berpakaian super minim sedang memperhatikannya, Daniel pun tersenyum sambil mengangkat kaleng bir yang baru di pesannya.
Si cewek berkulit eksotik yang mendapatkan senyum manis dari Daniel langsung ceria dan berjalan perlahan mendekati Daniel.
"Hai cantik... temani gue malam ini ya?"
"Okay..." jawabnya tanpa malu-malu, lalu dia duduk di pangkuan Daniel dan mulai menciumi Daniel dengan rakus.
__ADS_1
Cowok bertato yang dari tadi duduk di samping Daniel hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tertawa-tawa dan menghabiskan minolnya.
...----------------...