Oh My Teacher

Oh My Teacher
Takdir akan menyatukan kami.


__ADS_3

Pagi-pagi pukul 6, Dion sudah standby di apartemen Ivan. Dari semalam Ivan sudah wanti-wanti agar Dion jangan sampai terlambat karena mereka benar-benar harus berangkat pagi agar tidak terjebak macet.


"Serius! gue masih bingung, kenapa Lo mau ketemu sama orang tua Rissa? bukannya terakhir kali kalian ketemu, ortu Rissa maksa Lo buat nikah sama Rissa supaya hubungan kekeluargaan tetap terjalin. Mereka kayaknya suka banget sama Lo, sampai nggak mau kehilangan Lo setelah Rina meninggal," Dion duduk di kursi makan sambil meminum kopi hitam dan makan selembar roti panggang.


"Mereka bukan menginginkan gue! Rissa yang memaksa mereka untuk meneruskan pertunangan menggantikan Rina!" ketus Ivan sambil berjalan ke arah Dion dan ikut menyeruput kopi hitam milik Dion.


"Ayo, berangkat!" lanjutnya sambil berjalan menuju pintu keluar.


"Eh, bentar!" Dion menenggak semua kopinya lalu berlari menyusul Ivan.


"Kita mampir jemput Rissa dulu?" tanya Dion saat sudah berjalan sejajar di sebelah Ivan.


Ivan hanya mengangguk sambil mengenakan topi baseball warna hitamnya.


"Memangnya dia ada di mana sekarang?"


"Hotel," jawab Ivan singkat.


Dion membelalakan matanya, sambil membuka mulutnya seolah berkata "what!!" namun tanpa suara.


"Kok, Lo tau?"


"Kemarin gue ketemuan di sana," jawab Ivan singkat sambil masuk ke dalam lift.


"Hah?!" Lagi-lagi Dion terkejut, "Lo... Lo, nggak ngapa-ngapain kan?"


"Lo pikir gue gila! Ayo buruan!"


Dion berlari kecil dan masuk ke dalam lift, sebelum pintu lift nya tertutup.


Di dalam lift, Ivan kembali membuka ponselnya untuk melihat apakah ada pesan dari Vin-vin, namun ternyata masih sama seperti kemarin. Vin-vin membaca semua pesan yang Ivan kirim, namun tak ada satupun yang di balas.


Ivan menghela napas panjang.


"Sepertinya, dia benar-benar marah," gumam Ivan bermonolog.


"Lo, yang bawa atau gue?" tanya Dion saat mereka berdua sudah tiba di parkiran basement.


"Gue dulu, nanti setengah perjalanan Lo yang gantiin. Ingat, kita berdua duduk di depan, biar Rissa di belakang!" titah Ivan dengan tegas. Tentu saja, dia nggak mau duduk bersebelahan dengan ulat gatal itu, membayangkannya saja, buku judulnya sudah merinding.


"Oke!" jawab Dion, "Oya, gue mau tanya sebenarnya... Rissa bikin masalah lagi ya?" tanya Dion hati-hati.


Ivan menghela napas sambil memutar kontak mobilnya, "Dia bilang ke Vin-vin tentang kejadian menjijikan itu..." jawab Ivan dengan lesu.


"What! dasar cewek gila! dia bener-bener ya? melakukan segala cara demi ngedapetin Lo, gue heran apa hebatnya sih Lo itu!? sampai dia tergila-gila kaya orang nggak waras!"

__ADS_1


Dion menggelengkan kepalanya, masih tak percaya. Mana ada sih, wanita yang sengaja membuka kebobrokan nya sendiri? Rissa memang cewek psycho.


"Gue ganteng lah, apalagi memangnya?" jawab Ivan asal sambil tersenyum smirk.


"Ebuset, dia kepedean! trus, Vin-vin gimana?"


Lagi-lagi Ivan menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan, "nggak tau gue! dia nggak mau angkat telpon dan nggak balas pesan gue," Ivan memutar setirnya dan memarkirkan mobilnya di area parkir sebuah Hotel.


"Dia masih shock mungkin, Lo harus kasih dia waktu untuk memenangkan diri, setelah itu Lo ajak dia ngobrol pelan-pelan."


Ivan mengangguk, "tapi yang paling penting sekarang adalah gue harus menyingkirkan Rissa sejauh-jauhnya supaya dia nggak ganggu gue dan Vin-vin lagi!" Ivan mengambil ponselnya dan menelpon Rissa.


"Gue sudah di parkiran, buruan!" ucapnya ketus lalu segera menutup panggilan telpon tanpa menunggu jawaban dari Rissa.


Tak lama kemudian, Rissa tampak berlari tergopoh-gopoh menuju mobil Ivan, resleting bajunya bahkan belum terkait sempurna membuat bahunya terbuka dan menunjukkan kemontokan dadanya.


"Astaga!" Dion menutup wajahnya dengan tangan dan melorot kan duduknya, dia malu dengan penampilan Rissa.


"Ivan? kok pagi banget, sih?" rengek Rissa manja. Lalu dia menatap Dion dan memicingkan matanya dengan sinis.


"Pindah Lo, ke belakang!" perintahnya.


Namun Dion tak bergeming, dia tetap di tempatnya dan tak memperdulikan kicauan Rissa.


"Lo aja yang di belakang!" ketus Dion dengan kesal. "Gue bakal gantian nyetir, kalau Lo yang di sini, jadi ribet!" Lalu Dion menutup matanya dengan topi dan pura-pura tertidur agar Rissa tak mengganggunya.


"Hih!" kesal Rissa sambil memukul pintu mobil, lalu dengan segera dia membuka pintu belakang dan duduk manis di sana, sendirian.


Setelah Rissa duduk, Ivan pun menyalakan mobilnya dan memulai perjalanan mereka.


***


"Kamu ada masalah apa? coba bilang pada kami!" ucap Papi Al. Semua orang sedang berada di ruang tamu rumah Kevin.


Aldrich kesal karena Vin-vin terus merengek minta pindah sekolah ke Singapore dan tak mau mengatakan alasan keinginannya itu, makanya dia membuat rapat mendadak ini bersama Kevin dan istrinya.


"Kamu di bully, di sekolah?" sambung Papah Kevin.


Vin-vin terdiam, dia duduk sambil terus menunduk.


Di depan Vin-vin tampak berjejer Mami Lyly, Mama Luci, Papi Aldrich dan Papa Kevin. Semua berkumpul karena penasaran dengan alasan Vin-vin karena ingin pindah sekolah secara mendadak.


"Bener? kamu di bully!" Papi Aldrich tampak marah, dia sampai bangun dari duduknya.


"Enggak, Pi! enggak!" sahut Vin-vin dengan cepat. "Vin-vin cuma bosan aja, pengen suasana baru..." lanjutnya lirih sambil kembali menunduk.

__ADS_1


"Kamu putus sama Ivan?" tanya Mama Luci tiba-tiba, membuat semua pasang mata yang ada di sebelahnya menoleh secara serempak.


"Betul? Ivan putusin kamu! kurang ajar betul dia! sudah di kasih restu malah main putus aja!" Papi Al tampak tak bisa lagi menahan emosinya, dia bahkan menarik lengan bajunya seakan ingin adu jotos.


"Bukan, Pi..."


"Kamu nggak usah belain dia! kalau memang dia salah, ya salah aja!" sembur Papi Aldrich.


Mama Luci tampak mengelus punggung tangan Papi Al agar dia tenang.


"Coba, ceritakan pada kami, siapa tau kami bisa kasih solusi dan kamu tetap di sini bersama kami," ucap Mama Luci dengan lembut.


"Pak Ivan... nggak jujur sama Vin-vin, Vin-vin benci itu!" ucap Vin-vin lirih masih dengan tertunduk.


"Dia bohong masalah apa?" kali ini Mami Lyly yang bertanya.


"Dia... dia pernah... pernah..." Vin-vin merasa canggung untuk bercerita.


"Nggak apa, Vin. Cerita saja. Kita semua di sini ada buat kamu. Nggak usah malu," ucap Papah Kevin menenangkan.


Vin-vin menarik napas dalam, dia dilema apakah harus bercerita atau tidak. Kalau dia cerita, nama baik Ivan di pertaruhkan di depan keempat orang tuanya. Tapi jika tidak cerita, hatinya terasa tak tenang.


"Dia... melakukan 'sesuatu' ke kamu?!" Tanya Kevin dengan hati-hati.


'Brak!' mendengar ucapan Kevin, Papi Al tampak naik pitam. Dia menggebrak meja, meluapkan kemarahan hingga napasnya memeburu.


"Benar begitu?!"


"Enggak Pi! bukan itu!"


Lagi-lagi Mama Luci mencoba menenangkan suaminya, dia memberikan segelas air agar Papi Aldrich bisa meredam emosinya.


"Bukan dengan Vin-vin, tapi dengan wanita lain. Vin-vin nggak sangka aja kalau Ivan ternyata lelaki seperti itu. Vin-vin merasa di bohongin. Padahal kalau dia jujur, Vin-vin nggak masalah kok, lagian itu cuma masa lalu," ucap Vin-vin lirih.


"Uhuk!" Aldrich tersedak air dan terbatuk-batuk. Dia memandangi istrinya dengan tatapan penuh makna.


"Vin-vin ingin menjauh untuk tahu, seberapa besar cinta Vin-vin ke Pak Ivan dan sebaliknya. Jika memang dia bukan jodoh Vin-vin, Vin-vin iklas melepasnya. Tapi kalau dia benar jodoh Vin-vin, takdir pasti akan membuka jalan untuk kami bersatu lagi."


Kevin menghela napas panjang, "Baiklah, Papah akan mengurus semuanya."


"Bang!" Aldrich terkejut dengan keputusan Kevin. "Serius Lo?"


"Singapore itu dekat kok, kalau kita rindu Vin-vin, kita bisa langsung ke sana dan bertemu dengannya!" Kevin bangun dari duduknya dan beranjak pergi diikuti Mami Lyly.


"Makasih Pah," ucap Vin-vin senang.

__ADS_1


__ADS_2