
Axel terus berlari kecil meninggalkan Vin-vin yang masih terdiam di tempatnya berdiri.
Axel merasa kesal, karena saat Vin-vin bersamanya pun, hanya Pak Ivan yang ada di kepalanya.
Axel merasa dia lah yang lebih pantas mendampingi Vin-vin. Bukankah mereka sudah bersama sejak masih duduk di bangku TK. Mungkinkah keberadaan Axel selama ini memang tak pernah di anggap oleh Vin-vin?
Axel merasa kecewa dan sedih, karena dia memang benar-benar menyukai Vin-vin.
'Bruk!'
"Aduh..." Mutiara jatuh terduduk, dia mengusap-usap pantatnya yang sedikit terasa sakit.
"Eh, Mut... maaf. Aku nggak sengaja." Axel langsung membantu Mutiara untuk berdiri, mereka tak sengaja bertabrakan tadi.
"Terburu-buru amat, mau ke mana si?" tanya Mutiara sambil berdiri dengan bantuan tangan Axel.
Saat tangan mereka bersentuhan, jantung Mutiara langsung berdebar-debar tak karuan. Dia merasa seperti tokoh putri yang sedang di bantu seorang pangeran dalam sebuah cerita dongeng.
"Oh.. eng-enggak kok Nggak kemana-kemana," jawab Axel gugup
"Lho Vin-vin mana? apa kamu belum nemuin dia?" Mutiara celingukan.
"Sudah kok," jawab Axel singkat.
"Terus... mana?"
"Di kantin."
"Kok kalian nggak barengan?"
Axel diam sebentar sebelum menjawab, "dia sedang sibuk."
Mutiara menatap Axel penasaran. Ada apa gerangan antara Axel dan Vin-vin? sebelumnya Axel selalu berada di dekat Vin-vin, tak mau berpisah walaupun barang sekejap. Apalagi setelah kejadian kemarin.
"Ada apa?"
Axel menunduk, "sekarang Vin-vin... sibuk dengan Pak Ivan..." lalu menggaruk kepalanya.
"Aku pikir selama ini kami punya rasa yang sama, ternyata cuma aku sendiri..." lalu Axel memaksakan senyum nya pada Mutiara.
"Ya... aku sudah tau juga sebenarnya, tapi aku pura-pura tak sadar tentang itu. Memang selama ini Vin-vin hanya mengganggap ku sebagai teman." Axel menghela napas.
Mutiara yang selama ini sangat menyukai Axel diam-diam jadi ikut merasa sedih. Melihat wajah Axel yang biasa tersenyum ceria kini berubah sedih, membuat hatinya ikut sakit.
Tapi mau bagaimana lagi, dari awal Vin-vin memang tak pernah menganggap Axel lebih dari sekedar teman. Mutiara tahu itu, namun nampaknya Axel berharap terlalu tinggi.
"Sabar ya Xel, nanti pasti kamu bakal dapat gantinya. Kamu pasti bakal ketemu cewek yang akan jatuh cinta padamu." Mutiara mencoba menenangkan Axel.
"Entahlah Mut, aku nggak tahu..." desah Axel sambil tersenyum.
"Kamu susul gih dia di kantin, aku mau balik ke kelas." Axel menepuk pundak Mutiara lalu pergi meninggalkannya.
Mutiara hanya tersenyum kecut sambil melihat kepergian Axel.
__ADS_1
"Seandainya ada sedikit aja aku di hatimu Xel, aku pasti seneng banget..." gumamnya lirih.
Setelah melihat Axel sudah sangat jauh, Mutiara langsung berbalik untuk pergi ke kantin menemui Vin-vin. Namun baru beberapa langkah, mereka berdua sudah bertemu.
"Vin!" panggil Mutiara.
Vin-vin tersenyum lalu berjalan mendekati Mutiara, "kamu mau ke mana?" tanyanya.
"Mau ke kantin jemput kamu."
"Kok tau aku di kantin?"
"Tadi Axel yang bilang.."
"Mana dia? mana si Axel?" Vin-vin celingukan mencari keberadaan temannya.
"Sudah balik ke kelasnya."
Vin-vin langsung cemberut, "dia aneh banget deh! nggak ada angin, nggak ada hujan tiba-tiba marah-marah. Aku jadi heran."
"Itu cemburu namanya Vin!"
"Cemburu? kenapa? kenapa harus cemburu?"
Mutiara menepuk keningnya, "karena kamu terlalu sibuk dengan Pak Ivan! padahal Axel di dekatmu! dia juga butuh di perhatikan kali!"
"Tapi dia kan bukan pacar aku? nanti aku kasih perhatian dia salah sangka dan mengharapkan lebih lagi bagaimana?"
"Ini kadi kesempatanmu Mut, buat dia jadi lebih dekat lagi denganmu," bisik Vin-vin.
"A... ap.. apa... apa maksudnya..." Mutiara langsung gagap.
Vin-vin tersenyum sambil mengedipkan sebelah matanya, laku berjalan mendahului Mutiara.
"Vin! tunggu..." Mutiara mengejar Vin-vin dan meraih lengannya.
"Kamu jangan bilang ke Axel ya, please!!" pintanya.
"Kenapa?"
"Aku nggak mau, Axel marah lalu menjauhi ku."
"Kenapa Axel harus marah?"
"Pokoknya aku nggak mau Axel tau tentang perasaanku."
"Kalau kamu diem aja, gimana Axel bisa tahu lalu gimana kalian bisa jadi makin dekat?"
"Ya aku kan nggak kaya kamu, cakep. Gampang aja dapetin hati orang yang di sukai!" Mutiara manyun.
"Emang ada yang bilang kamu jelek? siapa? bilang sama aku! biar ku hajar!" Vin-vin berkacak pinggang dan berpura-pura marah
"Nggak ada yang bilang, aku cuma tahu diri! puas! puas!" kesal Mutiara.
__ADS_1
Mendengar kekesalan teman nya, Vin-vin malah tertawa terbahak-bahak.
...***...
Ivan duduk di meja kerjanya, semua pekerjaannya sudah selesai namun jam pulang sekolah masih lama. Dan itu membuatnya resah.
Dia khawatir Bu Yosephine datang dan mulai mengganggunya lagi.
Sebenarnya tak ada yang salah dengan Bu Yosephine, wajahnya lumayan cantik walaupun memang dia sudah cukup umur tapi entah kenapa Ivan tak menyukai sifat agresifnya.
Tapi, Vin-vin juga sangat agresif, namun entah kenapa Ivan lebih menyukai keagresifan Vin-vin. Menurutnya Vin-vin sangat lucu, polos, dan manis.
Ivan mengusap wajahnya dengan kasar, mengingat ucapannya sendiri di halaman belakang sekolah tadi.
Secara implisit dia menyatakan akan menerima Vin-vin sebulan lagi, setelah dia berumur 17 tahun.
Kenapa dia harus mengatakan itu tadi, "bodoh!" gerutunya pelan sambil memukul kepalanya sendiri.
Dalam hati sebenarnya Ivan masih belum yakin, apakah dia sudah bisa membuka hatinya kembali untuk cinta yang baru?
Cinta? mungkin itu terlalu cepat. Tentu saja ini bukan cinta. Vin-vin saja baru akan berumur 17 tahun, tahu apa dia tentang cinta? Tentu saja perasaannya hanya main-main.
Ivan menjambaki rambut tebalnya, tiba-tiba kepalanya terasa pusing karena memikirkan anak muridnya yang satu itu.
"Kenapa aku harus bilang seperti itu!" ucapnya berulang kali sambil kembali menjambaki rambut.
'Klik. klik.'
Ivan mengambil ponselnya dan membuka pesan yang masuk.
'Pak Ivan, nanti pulang bareng lagi ya.'
Melihat pesan yang masuk, Ivan langsung tersenyum.
'Nggak bisa.'
balasnya dengan cepat.
'kenapa?'
'Takut ada yang lihat, bahaya.'
Ivan tak takut sebenarnya, tapi dia hanya khawatir dengan masa depan anak muridnya itu. Ivan tak mau kalau sampai ada hal-hal yang tidak diinginkan terjadi menimpa muridnya itu.
'Ya udah, aku tunggu di cafe d'best lagi. Dah.'
"Anak ini!!" geram Pak Ivan, murid perempuannya yang satu ini memang lain dari pada yang lain. Membuat kepala Ivan pusing tujuh keliling.
Saat Ivan hendak membalas lagi chat dari Vin-vin tiba-tiba Bu Yosephine mendekat dengan wajah cerah dan senyum sumringah.
"Pak Ivan...." panggilnya dengan suara yang super merdu.
Ivan menarik napas sambil memijat keningnya, pusing!!!
__ADS_1