Oh My Teacher

Oh My Teacher
Tentang Rina dan Rissa.


__ADS_3

Ivan melajukan motornya dengan santai, dia tak terburu-buru seperti tadi saat mengejar Vin-vin. Lagi pula dia sedang memboncengkan pacarnya, mana mungkin dia ngebut-ngebutan.


Vin-vin sepertinya masih marah, biasanya dia selalu memeluk perut Ivan saat membonceng tapi sekarang hal itu tidak dia lakukan sama sekali. Ivan maklum.


Mereka berdua tetap diam selama perjalanan, Ivan sudah mencoba mengajak Vin-vin bicara namun Vin-vin tetap diam tak mau menjawab. Akhirnya Ivan pun diam dan memutuskan untuk fokus dengan motornya.


Setelah melakukan perjalanan selama kurang lebih tiga puluh menit, sampailah mereka di salah satu kuburan mewah yang ada di kota ini.


Vin-vin masih tak mengerti kenapa Ivan membawanya ke kuburan alih-alih meminta maaf dan menjelaskan duduk permasalahannya.


"Ayo," ajak Ivan setelah turun dari motornya.


Dengan perlahan Vin-vin mengikuti langkah Ivan, dia berjalan persis di belakang Ivan.


Setelah melewati beberapa makam, Ivan berhenti dan berjongkok tepat di salah satu pusara yang terawat sangat baik.


Dengan wajah yang tampak sedih, Ivan menyentuh batu nisan pusara itu.


"Rina... lama tak bertemu..." ucap Ivan lirih.


Vin-vin terkejut, jadi Rina benar-benar sudah meninggal? lalu siapa wanita tadi?


Vin-vin mendekat dan berjongkok di sebelah Ivan. Masih tak percaya, Vin-vin menatap tulisan yang tertera di sana.


"Clarina Widya..." desis Vin-vin.


"Ya, ini adalah makam Rina." Ivan masi menatap pusara itu.


"Ma.. maaf.. maafkan aku yang nggak percaya sama Pak Ivan.. aku kira Pak Ivan bohong..." ucap Vin-vin terbata. Dia merasa bersalah.


"Aku yang salah karena nggak cerita semuanya sama kamu..." Ivan tertunduk.


"Cewek yang kamu lihat di bioskop tadi itu Clarissa, dia saudara kembar Rina..."


"Dia cewek yang sama dengan yang di Rumah sakit waktu itu?" tanya Vin-vin sambil menatap Ivan.

__ADS_1


"Ya."


"Kalau dia saudara Rina, kenap Pak Ivan seperti tak menyukainya? dia saudara kembar dari tunangan Pak Ivan kan? apakah hubungan kalian tidak baik? sampai Pak Ivan menjauhinya?" tanya Vin-vin, dia makin penasaran.


Ivan menganggukkan kepala, "Nggak tepat kalau aku menyalahkam Rissa atas kematian Rina, karena aku juga salah..." ucap Ivan lirih.


"Sebenarnya apa yang terjadi? tolong jelaskan!" pinta Vin-vin.


"Sebelumnya, aku juga nggak tahu kalau Rina punya saudara kembar. Mereka sama persis dan membuat aku selalu salah mengenali mereka. Sampai terjadi sebuah kesalahpahaman..."


Vin-vin menatap Ivan yang terus bercerita sambil menundukkan kepala.


"Aku mengira Rissa adalah Rina..." Ivan berhenti bercerita, dia menarik napas panjang dan menghembuskannya, dia tampak sangat sedih.


"Lalu?" tanya Vin-vin hati-hati.


Ivan mengangguk.


"Saat itu... aku sedang kurang sehat..." Ivan berdehem, "dan tanpa sadar... karena Rissa mengaku jika dirinya adalah Rina, kami... ya, sebagai pasangan kami melakukan sesuatu, dan tiba-tiba Rina muncul..." Ivan terbata.


"Rina marah padaku dan Rissa, aku berusaha menjelaskan tapi dia tak mau dengar.. saat dia berlari dengan cepat, ada mobil melintas dan menabraknya. Dia... meninggal saat itu," Ivan memejamkan matanya, tangannya mengepal, dia terlihat sangat putus asa.


"Kecelakaan itu bukan salah Pak Ivan..." bisik Vin-vin sambil mengelus pundak Ivan yang tampak terguncang.


"Itu semua salah Rissa! tega sekali dia ingin merebut tunangan dari saudara kembarnya sendiri!" geram Vin-vin.


"Yang paling membuatku marah adalah, Rissa sama sekali tak merasa bersalah. Dia malah mendekatiku dengan alasan harus bertanggung jawab karena kematian Rina, Rissa akan menggantikan Rina dan menikah denganku.. dan entah bagaimana keluarganya setuju. Aku sungguh tak percaya!"


"Rissa itu memang gila! bukannya sedih dengan kematian Saudaranya, dia malah merasa dapat kesempatan untuk mendekati Pak Ivan!"


Ivan memaksakan senyumnya, "Karena merasa percuma bicara dengan Rissa dan keluarganya yang menginginkan kami menikah, aku memutuskan untuk pergi dan menghilang dari mereka semua!" Ivan menepuk kedua kakinya lalu bangun dari duduknya.


"Sekarang kamu sudah tahu kan? aku nggak pernah bohong.. aku cuma nggak bilang tentang Rissa karena ku pikir Rissa itu bukan siapa-siapa dan nggak perlu untuk di ceritakan."


Vin-vin pun ikut bangun, "Maafkan aku yang sudah marah-marah..." Vin-vin menundukkan kepalanya karena merasa malu.

__ADS_1


"Lain kali jangan kabur sebelum jelas duduk perkaranya! ingat itu!" kesal Ivan sambil mencubit hidung mungil Vin-vin.


Vin-vin tersenyum sambil menatap pacar tampannya, tiba-tiba dia merentangkan tangan hendak memeluk Ivan.


Ivan mengelak, dia mundur beberapa langkah menghindari pelukan Vin-vin.


"Kenapa sih?!" kesal Vin-vin.


"Ngapain kamu mau peluk-peluk di kuburan?! nggak takut kesambet ya," ucap Ivan sambil ngeloyor pergi meninggalkan Vin-vin.


"Pak..." Vin-vin langsung mengejar pacarnya lalu menggandeng tangannya, "jahat ih! masa aku di tinggal sendiri," Vin-vin menggembungkan pipinya tanda dia sedang kesal.


"Habisnya kamu mau peluk-peluk aja, aku kan nggak enak sama Rina!"


"Emangnya Rina bisa lihat?" gumam Vin-vin masih kesal.


"Bisa dong, kamu nggak sadar tadi dia berdiri di sebelah kamu..."


"Pak!!!" Vin-vin kesal sambil memukul lengan Ivan. Dia pun menoleh ke belakang untuk melihat pusara Rina dan meyakinkan jika apa yang di katakan Ivan tak benar.


"Nggak ada apa-apa kok..." gumamnya ketakutan.


Ivan malah tertawa gelak-gelak, "Lagian percaya aja sih kamu," Ivan mengacak-acak pucuk kepala Vin-vin dengan gemas.


"Tuh kan... nyebelin banget! nggak tahu apa kalau aku takut," Vin-vin menoleh ke kanan dan kiri. Walaupun ini adalah salah satu kuburan mewah yang terawat sangat baik, sejuk dan asri, tapi tetap saja kuburan kan?


Apalagi saat ini kuburan itu sangat sepi, area beberapa hektare itu tak ada satupun manusia hidup berada di sana, hanya Vin-vin dan Ivan.


Walaupun hari masih cerah, tetap saja Vin-vin merasa takut.


Saat tiba-tiba merasakan angin dingin berhembus, Vin-vin langsung mencengkram tangan Ivan lebih erat.


"Siapa itu di sebelahmu?" gumam Ivan sambil nyengir.


"Aahh!! Pak Ivan!! nggak mau! nggak mau!!" teriak Vin-vin sambil memukul-mukul dada Ivan dan membenamkan wajahnya di sana.

__ADS_1


Ivan malah tertawa makin kencang.


__ADS_2